Review Awam Android One Nexian

Standard

Review awam kembali lagi!

Kali ini gw menerima kiriman Android One versi Nexian, dan ini review gw sesudah mencobanya selama hampir dua minggu. Sekali ini, seperti biasa dengen review2 gw, gw tegaskan lagi bahwa ini review AWAM. Jadi jangan harap selevel tabloid Pulsa, tabloid Nova, apalagi tabloid C&R. Tidak akan banyak teknis/spec yang dibahas, semua hanya dari pengalaman sebagai user awam. Jadi nanti jangan cerewet nanya yang susah2 yak? YAK!

Untuk mereview Android One, harus diingat price point-nya yang cukup terjangkau, sekitar Rp 1.4 juta (bahkan konon waktu preorder hanya Rp 990 ribu). Jadi kita tidak bisa membandingkan Android One dengan model flagship seperti Samsung Galaxy Note 4 atau Sony Xperia Z3 misalnya. Ini harus selalu diingat2 agar perbandingan menjadi manggis to manggis (kalo “apple to apple” terlalu londo ah).

Mari mulai….

Kembar Tiga Tidak Identik?

Mungkin pembaca sudah mengetahui bahwa Android One adalah project milik Google, tujuannya adalah pengadaan smartphone berbasis Android dengan harga terjangkau tetapi spec yang lumayan, dengan harapan lebih banyak orang Indonesia yang bisa menikmati pengalaman ber-smartphone berkualitas (tentunya sambil memperkuat dominasi melawan OS yang lain seperti iOS, BlackBerry, dan Windows Phone). Di Indonesia Android One diproduksi dengan spec sama oleh tiga brand: Mito, Evercoss, dan Nexian. Walaupun spec sama, ada perbedaan sedikit di casing.

20150329_163440

Itu bukan wallpaper aslinya yaaa….

Gw mendapatkan versi buatan Nexian warna hitam. Yang gw suka dari versi Nexian adalah casing belakang yang terasa seperti semi-karet (sebaliknya Mito memiliki versi plastik licin/glossy). Kenapa gw suka “rubbery feel” dari casing Nexian ini? Karena pegangannya jadi mantap, tidak licin. Selain itu, casing belakang tidak mudah kotor oleh sidik jari/tangan yang berminyak. Jadi plus poin di sini.

20150329_163501

Sayangnya, materi dari display depan Android One ini termasuk fingerprint magnet. Begitu digunakan sidik jari langsung mengotori layar dengan cepat. Gw baru merasakan bahwa ada perbedaan kualitas display. Galaxy Note 4 yang merupakan primary phone gw misalnya, tidak mudah menjebak sidik jari. Tapi ya itu, jangan dibandingkan sama flagship, apalagi Galaxy Note 4 menggunakan Gorilla Glass 4. Oh iya, di dalam package Nexian sudah diberikan lapisan pelindung gratis, hanya tidak gw gunakan karena gw memang tidak suka menambah lapisan apa2 ke hape.

Android One Nexian ini SANGAT nyaman di genggaman. Surprisingly, sebagai pengguna phablet Note 4 (dengan ukuran layar 5.7 inch), gw tidak merasa layar Android One yang 4.5 inch terlalu kecil. Gw mudah beradaptasi dengan layar Android One ini. Resolusi memang “hanya” 218 ppi, tetapi percayalah bahwa hasil gambar sudah cukup memuaskan (ya jangan ditaro di samping layar sAMOLED punya Note 4 yang punya 515 ppi tentunya).

OS Lollipop

Yang dijagokan dari Android One adalah jaminan bahwa OS di dalamnya selalu terbaru dari Google, dan jika ada update version maka handset Android One akan menerimanya duluan. Android One sudah membawa Lollipop, OS Android yang terbaru. Bagaimana rasanya?

Karena Android One datang dari Google, maka inilah experience OS Android yang murni (Samsung Galaxy misalnya, menggunakan skin dari Samsung yang namanya TouchWiz). Jadi terasa sangat simple, basic, dan luar biasa smooth, tidak ada lag sama sekali. OS Lollipop sendiri bagi saya tidak banyak yang berbeda. Beberapa yang saya perhatikan adalah: notifikasi yang muncul di lock screen, dan multiple apps bisa dilihat seperti susunan kartu (walaupun Note 4 yang masih memakai KitKat pun sudah punya efek yang sama).

Notifikasi di lock screen

Notifikasi di lock screen

Tampilan multiple apps. App bisa diclose dan dipilih di sini.

Tampilan multiple apps. App bisa diclose dan dipilih di sini.

Gw tidak banyak mengulik soal OS Lollipop, jadi mungkin banyak fitur baru yang gw tidak tahu.

Jeroan

Android One sudah menggunakan quad-core MediaTek Cortex 1.3 GHz, dengan RAM 1GB, dan memory internal 8GB. Selama gw pakai, semua terasa responsif dan cepat. Gw tidak merasakan lagging sama sekali, dan ini patut dicatat mengingat prosesor dan RAM yang sebenarnya bukan kelas mobil balap. Kudos untuk design internal Google. Oh iya, paket Nexian juga sudah memberikan SD Card 8GB gratis. Ini tentunya bonus yang menyenangkan.

Android One juga Dual-SIM. Jadi pas untuk kamu2 yang punya pacar banyak.

Baterai Android One sebesar 1700 mAH. Mungkin terkesan kecil, tetapi ingat bahwa layar yang hanya 4.5 inch dengan resolusi tidak tinggi artinya konsumsi energi juga tidak besar. Tetapi harus diakui performa baterai Android One sangat tidak impresif. Menurut saya bahkan cenderung sedang ke boros. Dengan pemakaian sering (internet dan social media), rata2 jika hape dalam keadaan full jam 6 pagi maka jam 2-3 siang sudah harus dicharge ulang.

Charger asli dari Nexian juga outputnya hanya 750 mAh, jadi kalo ngecharge terasa agak lama.

Dual SIM, bonus memory card 8GB

Dual SIM, bonus memory card 8GB

Penggunaan sehari2 yang “standar” sangat memuaskan. Untuk sekedar bermain FB, Twitter, Instagram, Ask.fm, aplikasi edit foto seperti Snapseed, PhotoGrid, dll., YouTube, chatting dan email terasa lancar tidak ada masalah. Oh iya, sekedar info, Android One BISA digunakan untuk bertelepon dan SMS-an. Speaker belakang cukup keras, walau terdengar “kering”. Ya udah lah ya, inget harganya juga cuy.

Biasanya kinerja prosesor dan RAM dites dengan bermain game. Gw pun menjajal Android One ini dengan Real Racing 3, game balap dengan gambar 3D yang seharus memberatkan hape. Bagaimana hasilnya? Satu kata….

GOKIL! MULUS KAYAK LAURA BASUKI!! Graphics balapan mulus banget, tidak nge-lag sama sekali. Gw jujur impressed banget dengan performa gaming hape dengan harga level ini. Salut sih. Beneran.

Real Racing 3 kenceng, tidak ada lag

Real Racing 3 kenceng, tidak ada lag

Kamera

Bagi banyak orang kamera termasuk salah satu fitur utama dari smartphone, tidak terkecuali untuk gw. Jadi bagaimana performa kamera Android One?

Singkat kata, gw hanya bisa bilang “sesuai harganya”. Kamera belakang ukuran 5 MP, relatif terasa pas2an hasilnya (mungkin karena gw udah kebiasaan dengan kamera monster Note 4). Tidak bisa dibilang fantastis, tapi tidak bisa dibilang ancur juga. Foto kondisi terang outdoor lumayan bagus, dan kondisi low-light sudah lah jangan terlalu diharapkan. Kecepatan shutter sangat terasa lambannya. Jadi hati2 kalo motret, sehabis men-tap shutter jangan buru2 menurunkan tangan karena perlu waktu sampai kameranya betul2 menjepret. Semakin gelap juga terasa semakin lamban. Oh well, sesuai dengan harganya lah ya.

Hasil kamera outdoor

Hasil kamera outdoor

hasil kameran indoor dengan cahaya cukup

hasil kameran indoor dengan cahaya cukup

Indoor dengan cahaya cukup

Indoor dengan cahaya cukup

Android One punya mode kamera efek kedalaman yang sudah built-in, meniru efek kamera lensa besar. Hasilnya lumayan, walau kadang harus dicoba beberapa kali baru sukses.

Efek "blur" di belakang ini adalah fitur built-in kamera Android One

Efek “blur” di belakang ini adalah fitur built-in kamera Android One

Nah, kalau kamera belakangnya bisa dibilang pas-pasan, kamera depannya justru lumayan banget untuk harganya. Kamera depan Android One sudah 2MP, mendekati banyak model flagship merek2 lain. Dan hasilnya juga sangat lumayan. Jadi buat kalian para psikopat narsis yang suka selfie, kamera depan Android One lumayan banget.

Hasil kamera selfie. Hasil bergantung tingkat ke-kece-an obyek juga tentunya :p

Hasil kamera selfie. Hasil bergantung tingkat ke-kece-an obyek juga tentunya :p

Kesimpulan

Android One (versi Nexian) besutan Google ini bener2 menunjukkan kualitas yang memuaskan untuk harganya. Bisa dibilang masuk kategori entry-level, Android One memiliki jeroan dan kinerja yang mungkin masih sepantar dengan model2 dari merek lain dengan harga 1-jutaan lebih mahal. Plus points untuk: OS Android terbaru yang sangat smooth, kinerja prosesor yang cukup kenceng, bahkan untuk game “berat” sekalipun.  Kalaupun ada “kelemahan”, baterai yang sedang cenderung boros, dan bagi kamu yang butuh kamera belakang level “kece pol paripurna” mungkin tidak akan terpuaskan. Tetapi kalau kamu tidak terlalu demanding terhadap kamera belakang, ya 5MP sudah cukup lah hanya untuk memfoto indomie goreng dan posting di Instagram. Jangan lupa kamera selfienya udah cukup bagus kualitasnya.

Faktor lain yang “Indonesia Bingit” mungkin gengsi, karena mereknya yang lokal (inget becandaan sadis “Nexiaaaan deh loe” dengan nada “Kaciaaaan deh loe” gak?) Tetapi kalo kamu tidak peduli gengsi merek, secara rasional maka spec dan kinerja Android One Nexian ini patut diperhitungkan.

Satu hal yang BELUM teruji adalah durability, seberapa awet dan bandel Android One ini untuk jangka pemakaian yang lama. Review ini ditulis sesudah penggunaan hanya 2 minggu. So we’ll see. Kalo tahu2 berasap saat gw sibuk ngejawab2in pertanyaan2 gak penting soal mantan di ask.fm, akan gw update di blog ini juga.

Sampai jumpa! Inget pertanyaan2 teknis terlalu detail gak akan dijawab. Google sendiri yak!

Sampai Review Awam selanjutnya!

The Heroes of Our Times

Standard

I love the movies. I do believe in their power beyond entertaining the audience. Movies capture stories that can excite us, inspire us, even depress us. Movies are also the reflection of our times. Sure, the movie industry is probably lopsided with Hollywood dominance and its American values export, yet you can’t deny that movies still affect how we view the world, and how we view the world also affect the movies.

I find the concept of “heroism” in movies particularly interesting. “Heroes” are enduring archetype, from Greek’s mythology to present day’s Katniss Everdeen. The Hero endures as long as civilization exists, at the same time its concept and personality changes over and over. Perhaps reflecting the changing times and values as well.

It all began this morning when I found myself wondering, who are the enduring (movie) heroes of present days?

I don’t know whether this is the age factor, but I feel like there were more enduring heroes back when I was teenager than now. By “enduring” I mean movie heroes that last for many years, even decades. It is not enough to have a single blockbuster movie. Enduring movies become role model, reference point, jokes, even fashion inspiration for years. I grew up with Indiana Jones, Star Wars, John McClane (Die Hard), Rocky, Rambo, Terminator, Ripley (Aliens).

(source: beyondthefilmblog.com)

(source: beyondthefilmblog.com)

They were hardass. They answered to call of duty, often times naively without questioning. They lived by the old code of honor, courage, and loyalty. If they cringed in pain it’s because a bullet just shredded their tissue and blood spilled out. They were smartasses, ready to crack a joke even as their lives hung by a thread. This is how they become immortals.

Perhaps, they became so because their world needed them so. Back then, we only knew a black & white world. We lived under the fear of nuclear war. The bad guys were easy back then, mostly state-backed (like the evil Soviet empire), or just money-driven robbers, some future homicidal robots, or gross, slimey aliens. World was simple. Evil was simple. My teenage world was simple. And heroism is simple.

Who are our enduring heroes today?

We could cite Jack Bauer, but that was a decade ago already. So was Jason Bourne. The Fast. & Furious bunch were perhaps the closest we could get. Taken’s Liam Neeson was also a badass, too bad the second and third installment effectively made him look like an idiot.

Today’s teens might say Katniss Everdeen. I don’t mind her. She kicks ass and shoots arrows. But boy does she “galau” too much. She is wallowing too much in her doubt and angst. Girl, do you want to have a boyfriend or save the USA? Sometimes I want to scream, “Bitch, your world would have been much better if you just picked up your bow NOW and SHOOT ASSES!”

(Source: playbuzz.com)

(Source: playbuzz.com)

And please don’t even mention Edward/Bella. These are the douche couple responsible for teenage marriage phenomenon, I’d say. Thank Zeus and Odin we are past them.

Perhaps Harry Potter was very near to joining the enduring heroes. Unfortunately, I’m not so much into wands, spells, or noseless weirdos. Those sorcerers and witches were in such a messed up world exactly because they never used good ol’ M4 Assault Rifle to settle things down. Oh, and Harry Potter was also having teen angst a bit too much.

Even my childhood Batman was different in these times. He is obviously better than the spelling bee’s Adam West, but you can’t help noticing Batman just broods too much. Dude, you are rich, handsome, got kickass car, and have a BUTLER and THE Morgan Freeman working for you. Why are you so sad all the time, man? And enough with that childhood trauma or the lengthy speech on morality and shit. If we want to be preached on life, we watch Oprah and Dr. Phil. We watch Batman because you kick ass.

When today’s heroes cringe and cry, it’s no longer because a bullet almost missed their spine. It’s because they are thinking of their boyfriends, their ethics, their identity crisis. They doubt their calling, their morale standards, their cause. For every 10 minutes of action, they put 30 minutes of contemplating, whining, and heart-pouring.

I wonder which one comes first. Are present days indeed more complicated for teens, and hence we have complicated, “galau” heroes? Or is it because we have complicated, confused heroes, we end up with “galau” teens who aspire to these characters? If John McClane ever caught his daughter reading/watching The Fault In Our Stars, he would kick her out of his house. (By the way, McClane’s daughther was as feisty as her dad in ‘Live Free or Die Hard’).

A strange coincident, a few days ago I was having a chat with a senior advertising guy who is also a good friend. He was complaining about today’s new professional breed who just couldn’t take the heat. Young first jobbers would quit after only working a few months because they couldn’t handle criticism or difficulties. My friend compared them with his generation where they would just suck it up for the first few years at work, earning their scars, and yet what didn’t kill them only made them stronger. He didn’t see it yet with today’s early 20s at work.

Maybe his story has a relation with the heroes of our times, I don’t know.

Katniss Everdeen, I give you one more chance to redeem yourself. And today’s young generation.

Jodoh Itu Mirip Wajah vs. Naik Motor Melawan Arah

Standard

Pagi2 di ask.fm, menerima pertanyaan dari seorang dedek2, “Percaya gak kalo jodoh itu bisa dilihat dari kemiripan wajah?”

Ampun dah.

Bagi saya, pertanyaan semacam ini bisa dikelompokkan dengan “Percaya kepribadian berdasarkan zodiak gak?”, atau “Percaya kepribadian berdasarkan golongan darah gak?”, dst, dst.

Mau tahu satu kata dari saya untuk semua pertanyaan seperti ini? “MALAS!!”

Ketika orang malas untuk berusaha mengenali orang lain, mengenali pribadinya yang unik, maka orang pun mencari jalan pintas. Gak mau repot, gak mau lama. Cukup bertanya zodiaknya apa, atau golongan darahnya apa. Kalo lagi nyari suami/istri, cukup mencocok2kan wajah. Itu pun modal ngeliat foto profile pic yang udah habis dipoles Camera360 atau Beauty Face.

Sudah lah bahwa “jodoh itu wajahnya mirip” dan konsep zodiak itu adalah kotoran banteng (terjemahin sendiri), tapi gw lebih mengkhawatirkan fenomena nyari jalan pintas ini, bahkan untuk urusan jodoh. Kita tidak ingin menjalani proses suka-dukanya mengenal orang lain, mengetahui harapan dan ketakutannya, menemukan sendiri hal yang dia suka/tidak suka, menemukan ketidak-cocokan di antara kita, merasakan berselisih pendapat, dan lain-lain. Cukup dengan mengetahui “Dia Capricorn”, atau “Dia golongan darah B”, dan kita merasa sudah mengenal seseorang.

Kenal ndasmu….

Kemalasan berusaha mengenal orang ini kemudian juga mengingatkan saya kepada kejengkelan saya kemarin melihat begitu banyak pemotor yang melawan arah dengan santainya.

Saya benar2 khawatir dengan fenomena naik motor melawan arah ini. Yang paling mendasar tentunya faktor keamanan. Dan yang selalu saya cemaskan adalah penyeberang jalan. Karena di Indonesia kita kalau menyeberang praktis melihat ke kanan dulu (arah datang kendaraan), dan tidak melihat ke kiri. Jadi motor yang melawan arah bisa tidak terlihat saat kita menyeberang jalan. Brengsek kan?

Tetapi ada masalah lain yang juga tidak kalah mengkhawatirkannya dari masalah penyeberang tertabrak. Dan ini ada hubungannya dengan “mencari jodoh berwajah mirip”, yaitu mentalitas “jalan pintas” (shortcut).

Naik motor melawan arah adalah bentuk ketidaksabaran menunggu/mengikuti rute yang benar. Pengen cepet? Ya melawan arah sajalah. Jarak dan waktu tempuh menjadi singkat, yang penting SAYA tiba di tujuan dengan cepat. Persetan keselamatan orang lain. Sama juga dengan kebiasaan menerabas lampu merah. Entah apa susahnya menunggu beberapa detik lagi sampai lampu hijau. Semua ini mirip kan dengan mengenal orang dari zodiak/golongan darah? Yang penting “cepat kenal”, gak pake lama bang!

Terus memang apa masalahnya dengan mental “jalan pintas” ini?

Well, tidakkah motivasi yang sama sebenarnya juga ada di belakang korupsi? Kita ingin cepat kaya, pamer mobil, rumah, batu akik motif Naga Main iPhone, tetapi gaji sebenarnya tidak mencukupi. Mau menunggu jalur karir resmi, ah lama. Ya sudah, daripada lama2 ya korupsi aja. Lebih cepat dan nyaman! Kekhawatiran saya adalah mental jalan pintas yang dibiarkan tumbuh di jalan raya bisa mendidik orang bahwa itu adalah hal yang wajar. Dan ini bisa merembet menjadi lebih besar – dari jalan raya, sampai ke kantor, bahkan sampai ke pemerintahan. Dari sekedar tidak sabar menunggu lampu hijau, akhirnya menjadi tidak sabar bekerja keras/menunggu hasil usaha yang halal. Dan ketika fenomena melawan arah tidak ditindak dan makin marak, semakin banyak orang merasa bahwa “mencari jalan pintas” itu dimaklumi dan dimaafkan. Kalau di jalan boleh, artinya di pekerjaan juga boleh, dan di tender triliunan dengan uang rakyat juga boleh….

Waktu saya mengeluhkan soal naik motor melawan arah/nerabas lampu merah di Twitter, bukannya saya mendapat dukungan, justru saya malah diminta memaklumi! Seseorang berkata, “Masalah itu rumit mas, kita semua kan dididik waktu adalah uang”. Seseorang lain lagi berkata, “Ada faktor lingkungan juga yang memaksa”. Keduanya bernada “minta pengertian”. Gw jadi tambah stres.

Kalau sampai perilaku sesederhana MENUNGGU LAMPU MERAH, atau berkendara TIDAK MELAWAN ARAH saja sudah dibilang “rumit”, ini sungguh menyedihkan. Beneran. Ini artinya sudah membuka celah untuk berargumen membela pelanggaran dasar. “Ngerti dong, ini kan macet banget! Saya juga harus nyampe kantor tepat waktu! Masak nerabas lampu merah/ngelawan arah aja gak bisa dingertiin sih?” Saya pun menolak jawaban “rumit” ini. Nggak! Taat lalu lintas itu gak rumit. Itu SEDERHANA. Gak usah dirumit2in. Saya masih bisa menerima argumen “rumit” kalau menyangkut mahasiswa miskin yang menggunakan software bajakan atau memfotocopy text book impor. Tetapi kalo sekedar nungguin lampu merah dan tidak melawan arah dirumit2in juga, ijinkan saya mengquote Ahok: “T*I!!!”

Tragedi lain dari perilaku jalan pintas ini adalah yang disebut Tragedy of The Commons (Google deh). Artinya, individu2 yang nyari “jalan pintas” ini mengira dirinya diuntungkan (advantaged) dari perilaku itu. Tetapi, ketika makin banyak individu yang melakukan hal itu, akhirnya malah terjadi chaos, dan SEMUAnya malah kena macet, dan semua orang berada di situasi lebih buruk dari sebelumnya.

Perhatikan bahwa mental jalan pintas ini begitu prevalen di mana2. Dari naik motor melawan arah, pengendara menerabas lampu merah, korupsi, sampai sekedar “beli follower” di social media. Bahkan kalau perlu masuk surga pun kita mencari jalan pintas. Semua tidak ingin mengikuti proses dan waktu yang seharusnya.

Mengapa begitu sulit bagi kita untuk sabar dan disiplin di jalan raya? Untuk sekedar menunggu lampu merah? Atau berkendara mengikuti arah semestinya? Sabar dan disiplin adalah values penting untuk kemajuan bangsa. Mengapa tidak diajarkan? Apakah ini kesalahan sistem pendidikan? Atau kesalahan orangtua? Saya juga tidak tahu jawabnya…Ada eksperimen psikologi terhadap anak2 kecil usia 7-9 di AS yang sangat menarik di tahun 60-an (Stanford Marshmallow Experiment) . Setiap anak ditempatkan di sebuah ruangan dengan meja dan piring berisi sepotong marshmallow atau kue. Si anak diberitahu bahwa dia boleh saja langsung memakan marshmallow/kue tersebut, TETAPI, jika dia mampu menunggu selama 15 menit saja tanpa menyentuh marshamallow/kue tersebut maka dia akan mendapat tambahan marshmallow/kue kedua. Tes ini menguji kemampuan anak menahan diri, bersabar menunda kenikmatan (delay gratification). Hasilnya: sebagian anak tidak tahan godaan, langsung memakan hidangan di meja, dan sebagian lain sukses bersabar menunggu (dengan cara yang lucu2 seperti menutup mata, dll).Tetapi bagian terpenting dari eksperimen ini justu datang puluhan tahun kemudian. Lebih dari 20 tahun kemudian, peneliti mengecek anak2 tadi untuk melihat bagaimana perkembangan akademis, karir, dan kesuksesan hidupnya secara umum.Hasilnya: Anak2 kecil yang mampu bersabar menahan diri untuk tidak segera memakan marshmallow/kue di eksperimen tadi belakangan memiliki nilai ujian nasional yang lebih tinggi, prestasi akademis keseluruhan yang lebih tinggi, bahkan berat badan (berdasar Body Mass Index) yang lebih ideal!! Orang tua dari anak2 yang mampu bersabar di eksperiman tersebut ketika disurvey juga menjelaskan anak2 mereka sebagai lebih kompeten, dibandingkan orang tua dari anak2 yang tidak sabaran.Dengan kata lain, kemampuan menahan diri, disiplin diri, dan bersabar bisa menjadi indikasi penting keberhasilan seseorang kelak. Hal ini penting sekali untuk orangtua dan cara membesarkan anak.Maka setiap pagi, ketika di jalan gw melihat puluhan orang dengan santai melawan arah atau menerabas lampu merah, gw hanya bisa bisa mengelus dada, “Mau jadi apa bangsa ini nanti?”

Polisi Tidur, Perang Nuklir, dan Credible Threat

Standard

Hari ini dihubungi oleh anak teman yang sedang mengerjakan project sekolah. Entah kenapa, dia memilih “polisi tidur” (speed bump) sebagai project. Dia menghubungi saya untuk mengetahui pendapat saya. Pertanyaan pertama adalah: “Setujukah dengan konsep polisi tidur?”

Pertanyaan ini sepele, tapi sebenarnya bisa dibahas panjang.

Dalam menilai sesuatu, entah barang atau tindakan, seringkali kita harus memulai dari tujuan (purpose) barang/tindakan tersebut. Apakah the real purpose dari polisi tidur? Polisi tidur itu tujuannya adalah MELAMBATKAN laju kendaraan di titik-titik yang rentan kecelakaan (misalnya sekolah, karena anak kecil suka lari menyeberang tanpa lihat kiri-kanan).

Jadi secara purpose, konsep polisi tidur itu masuk akal, di atas kertas. Dan gw mendukung saja, karena jika di dekat sekolahan maka keselamatan anak kecil adalah nomor satu.

Masalahnya ada di EKSEKUSI.

Dulu waktu gw kecil, seinget gw, polisi tidur selalu DICAT setrip2 putih. Jadi pengendara mobil/motor TAHU ada polisi tidur 20-30 meter sebelumnya, sehingga mereka mulai melambatkan mobil lebih dahulu. Pada saat mereka tiba di polisi tidur, kecepatan mereka sudah cukup lambat untuk menghindari guncangan terlalu parah.

Masalahnya sekarang polisi tidur dibangun seenak2 jidat warga, dan TIDAK DICAT. Baik siang atau malam seringkali pengemudi mobil tidak bisa melihat ada polisi tidur sampai sudah terlalu dekat untuk mengerem. Akibatnya? Mobil melabrak polisi tidur dengan kecepatan tinggi, shockbreaker cepat rusak, dan tetep aja orang yang menyeberang di balik polisi tidur tersebut masih berisiko tercium mobil. Worse, kalo polisi tidurnya lebay dan mobil berkecepatan tinggi, bisa2 mobil melompat dan menimpa mbok jamu tak bersalah. Atau kalo motor bisa terjungkal. Dan tetep menimpa si mbok jamu.

Polisi tidur bermanfaat BUKAN saat dilindas. Polisi tidur bermanfaat saat ia DILIHAT oleh pengendara jauh sebelum tiba. Tujuannya adalah “mengancam” pengemudi agar ia merubah kecepatannya. Untuk bisa menjadi ancaman yang kredibel, ia harus TERLIHAT. Kalo gak keliatan, ya gak jadi ancaman tho?

Jadi di sini ada purpose yang bubar karena eksekusi yang buruk. Purpose polisi tidur pada dasarnya baik. Tapi eksekusi yang buruk (tidak dicat strip2) membuatnya kurang efektif memenuhi tujuannya.

Gw jadi ingat film klasik “Dr. Strangelove”, yang mengambil setting perang dingin AS vs. Uni Soviet di mana perang nuklir adalah sebuah skenario yang nyata dapat terjadi. Dikisahkan seorang pilot pembom AS yang sakit jiwa memutuskan terbang sendiri membawa bom atom untuk dijatuhkan di Uni Soviet. Masalah timbul ketika AS menemukan bahwa Uni Soviet baru saja mengaktifkan “Doomsday Machine”, sebuah jaringan bom nuklir yang otomatis akan meledak jika Uni Soviet diserang dan akan menghancurkan kehidupan di seluruh permukaan bumi dengan radioaktifnya. Tujuan Doomsday Machine dibuat adalah agar AS mengurungkan niat menyerang Uni Soviet, karena akan menghancurkan seluruh planet. Karakter Dr. Strangelove mengomel karena Doomsday Machine tersebut TIDAK PERNAH diumumkan ke pihak AS, sehingga tidak berfungsi sebagaimana tujuannya diciptakan.

Sebuah mekanisme yang bersifat mengancam untuk mencegah pihak tertentu berbuat hal yang tidak diinginkan baru berguna jika ancamannya diketahui. Sama seperti polisi tidur di atas. Saat pengemudi bisa melihat polisi tidur tersebut dari jauh dengan jelas, maka dia seperti mendengar polisi tidur itu berkata “KALO ELU TETEP KENCENG, NGELEWATIN GW KEJEDOT KEPALA ELU KE ATEP MOBIL/KELEMPAR ELU DARI MOTOR!”. Tetapi jika polisi tidur itu tidak dicat sehingga tidak terlihat, sama seperti Doomsday Machine yang tidak diumumkan, maka “ancaman kredibel” ini tidak pernah sampai ke pihak yang ditujukan.

Itulah sebabnya kontrak bisnis/kerja ditulis dengan sejelas2nya dan harus dibaca. Karena dia berfungsi sebagai credible threat agar kedua belah pihak mengetahui apa yang terjadi jika kontrak dilanggar. Sebuah kontrak yang ditulis dengan jelas dan teliti bagaikan sebuah polisi tidur dengan cat strip2 putih yang jelas.

Mungkin prinsip yang sama bisa diterapkan kepada pasangan pacaran (HALAH BALIK2NYA KE SITU JUGA). Untuk mencegah pasangan selingkuh, maka harus ditetapkan “polisi tidur dengan cat yang jelas”, yaitu adanya credible threat, dan ini HARUS DIKOMUNIKASIKAN dengan jelas. Misalnya, “Kalau ketahuan kamu selingkuh, kupotong terongmu!” Dengan mengetahui dahulu konsekuensi sebuah tindakan (terong dipotong), maka semoga membuat pemilik terong mengurungkan niat untuk melanggar aturan. Masalahnya banyak relationship yang ada polisi tidur tetapi tanpa cat yang jelas. Jadi lagi asik2 ngebut, tiba2 terong terpotong. Padahal peristiwa bablas nabrak polisi tidur dan terong terpotong ini bisa dicegah sebelumnya.

Jadi, silahkan bikin polisi tidur, asal dicat yang jelas. Agar tidak ada mbok jamu ketimpa Scoopy, shockbreaker Avanza rusak, dan terong2 yang terpotong.

Perjalanan Ke Paris & Itali – Part 1

Standard

Mau cerita soal perjalanan ke Paris dan Itali selama 2 minggu di bulan Oktober-November 2014 kemarin. Udah sangat terlambat menulisnya karena kesibukan dan kemalasan, hahaha.

[PERINGATAN: Gw bukan travel blogger ya, jadi kalo berharap banyak tips2 biaya, pemesanan tiket, dll. bukan di sini tempatnya. Ini hanya sekedar cerita highlight hal-hal menarik yang gw lihat selama perjalanan]

Perjalanan ke Paris dan Itali ini tidak menggunakan travel agent, tetapi diatur sendiri oleh istri. Ini sebenarnya di luar comfort zone gw, soalnya gw orangnya males rempong. Kalau ingin traveling, rasanya pengen jadi turis standar aja. Bayar, terus tahu beres sampe ke tempat tujuan. Tetapi kali ini istri memaksa untuk mencoba jalan sendiri saja. Oke, fine! Walaupun sedikit was-was, tapi kali ini gw ikutin aja deh.

Kami berangkat tanggal 24 Oktober 2014, menggunakan Cathay Pacific yang sudah dipesan lebih dari 6 bulan sebelumnya (tiket promo). Tujuan pertama adalah Paris, tapi transit dulu di Hong Kong 4 jam. Sebenarnya rute Jakarta – Hong Kong – Paris ini agak “belok” dikit, tidak langsung, tapi yah demi tiket promo ya sudah lah ya. Pesawat berangkat sekitar jam 1430, perjalanan ke Hong Kong sekitar 5 jam, kemudian dari Hong Kong terbang lagi sekitar tengah malam. Penerbangan dari Hong Kong – Paris memakan waktu hampir 12 jam. Long haul flight sangat melelahkan buat gw, karena gw orangnya susah tidur di pesawat. Udah minum Antimo 2 tablet tetep aja gak tidur. Payah.

20141024_145902

Kami tiba di Paris tanggal 25 Oktober 2014 jam 8 pagi. Karena total perjalanan kami 2 minggu, bisa kebayang kan jumlah baju dan besar koper yang dibawa? Walaupun kami sudah berusaha “berhemat” dalam membawa baju (TIDAK ADA baju yang dipakai sehari saja!), tetapi tetap saja kami membawa dua koper ukuran besar. Ini ada implikasinya dengan pemilihan transpor di tempat tujuan. Kami malas membawa koper berat di jaringan Metro (subway) Paris yang terkenal banyak yang tidak ada eskalatornya. Karenanya kami sudah membook taxi online dari Jakarta untuk mengantar dari airport Charles De Gaulle (CDG) ke hotel. Memang mahal (sekitar 50-60 Euro menggunakan argo ke tengah kota), tapi mendingan daripada ribet naik tangga, dan juga cukup cepat.

Saat di airport kami menyempatkan membeli Paris Museum Pass, di mana tiket ini berlaku di hampir semua museum penting di Paris (semacam tiket terusan). Selain itu kamu membeli tiket terusan Paris Visite berlaku untuk 5 hari, Dengan tiket ini, kita bebas naik Metro, bus, dan kereta di dalam kota selama 5 hari. Ini sangat praktis karena kita tidak perlu mengantri beli tiket setiap hendak bepergian.

Paris Museum Pass berlaku 2 hari dan Paris Visite berlaku 5 hari

Paris Museum Pass berlaku 2 hari dan Paris Visite berlaku 5 hari

Kami menginap di Hotel Eiffel Turenne, letaknya sangat dekat dengan Eiffel Tower (jalan kaki 10 menit). Kami tiba di hotel jam 10 pagi. Sebenarnya jam check-in adalah jam 2 siang, tetapi resepsionisnya baik sekali (dan cantik sekali!). Dia berkata bahwa kami sudah boleh check-in jam 11 pagi, cukup menunggu sejam. Oh iya, sebelum berangkat saya sering mendengar cerita bahwa orang Perancis belagu dan sombong kepada turis. Tapi pertemuan kami dengan resepsionis hotel ini terbukti ramah dan sangat helpful (dan cantik sekali, eh udah gw bilang ya? Namanya Joanna…)

Hotel ini mahal kampret, dengan kamar yang sangat kecil. Sebegitu kecilnya kamar mandinya, sampe kalo boker kakinya kejeduk ke dinding depan. Yah, ini lah namanya membayar convenience, karena lokasi yang strategis. Dan siapa juga yang mau ngetem di kamar lama-lama? This is Europe! We must go out and explore!

Source: official hotel website

Source: official hotel website

Keluar dari hotel, jalan sedikit ke arah Barat, kami sudah menemukan gedung keren Ecole Militaire (Sekolah Militer) yang megah, satu dari sekian banyak gedung tua yang keren di Paris. Gedung ini berhadapan dengan Eiffel Tower. Cuaca hari itu mendung dan dengan suhu sekitar 10 derajat Celcius. Dingin tapi gak menderita begitu. Gw hanya pakai 3 lapis: kaos – sweater – dan jaket “standar” yang ada di foto. Untungnya memang tidak hujan.

Ecole Militaire

Ecole Militaire

Kami segera meneruskan berjalan kaki menuju Eiffel Tower. Dari jauh memang tidak terlalu berkesan. Tetapi semakin dekat, baru lah menyadari bahwa menara ini cukup masif, bahkan untuk jaman sekarang. Jadi terbayang gak waktu tahun 1889 pertama kali dibuka kayak apa itu kerennya.

Dari jauh sih belom berasa gedenya...

Dari jauh sih belom berasa gedenya…

Di hari Sabtu ini, kami belum naik ke Menara Eiffel, karena rencananya keesokan harinya. Anggap saja orientasi dulu. Yang mengagetkan adalah ANTRIAN untuk naik ke Menara yang mengular lebih panjang dari antrian sembako gratis. Gw lemes sih melihatnya. Untungnya istri saya cerdas dan sigap sudah menyiapkan membeli tiket “skip the line” melalui GetYourGuide.com. Konsep “skip the line” ini sebenarnya “calo” resmi. Kita membeli tiket jalur khusus yang lebih mahal dan membayar ongkos lelah ke si pembeli. Percaya lah bahwa TIDAK mengantri berjam-jam itu buat gw worth it banget, karena konon antrian masuk tersebut bisa 1-2 jam, BERDIRI.

Foto ini hanya sebagian KECIL dari total antrian sebenarnya

Foto ini hanya sebagian KECIL dari total antrian sebenarnya

Kami pun meneruskan berjalan ke arah Utara, ke sisi sebaliknya Menara Eiffel. Kami menemukan sebuah jembatan yang menyeberangi Sungai Seine. Berhenti di jembatan untuk menikmati pemandangan sungai dan pinggir sungai yang cantik. Banyak orang dari berbagai negara lalu-lalang, dengan penjual suvenir, pernak-pernik dan TONGSIS di mana-mana. Oh iya, tongsis luar biasa populer di sini, kalo di Paris banyak dijual oleh orang2 Afrika. Buat kita orang Asia mungkin konsep tongsis sudah biasa, tapi banyak bule masih norak begitu terpukau dengan tongkat narsis. Harusnya ada nama resmi Bahasa Indonesia ya – TONGKAT AMBIL GAMBAR SENDIRI (TAMBARI), misalnya.

Di jembatan di atas Sungai Seine

Di jembatan di atas Sungai Seine

Karena di hari pertama ini kami belum punya agenda spesifik, kami pun meneruskan berjalan kaki menelusuri Sungai Seine sambil mencari ke arah Utara. Dari peta, gw merasa bahwa kami bisa jalan kaki sampai ke Champs-Elysees, jalan terkenal di Paris (semacam Boulevard di Kelapa Gading begitu lah).

Jalan2 menembus kota Paris benar2 pengalaman menyenangkan buat gw. Gw kebetulan senang suasana kota tua, dengan gedung2 tua yang masih terawat, dan jalan2 berbatu (cobblestone). Cuaca yang dingin juga membuat jalan kaki menjadi menyenangkan karena kita jadi tidak berkeringat.

Berjalan menyusuri jalan2 berbatu kota Paris

Berjalan menyusuri jalan2 berbatu kota Paris

Sesudah berjalan cukup jauh, kami melihat antrian orang panjang menuju…..Louis Vuitton! Ampun deh, gw pikir apaan. Tapi ternyata tanpa terasa kami telah tiba di Champs-Elysees, dan butik Louis Vuitton di jalan tersebut konon terkenal sekali, sudah menjadi atraksi turis sendiri. Gw udah berharap ketemu Syahrini aja di situ. Kami tidak masuk, karena kami tidak punya ketertarikan dengan merek2 luxury good seperti itu. Jadi kami hanya menonton saja.

Antrian untuk masuk Louis Vuitton. Buset deh

Antrian untuk masuk Louis Vuitton. Buset deh

Champs-Elysees adalah jalan besar dengan sejarah panjang. Jalan ini berujung di monumen Arc de Triomphe yang dibangun untuk merayakan kemenangan Napoleon. Jalan ini sendiri dipenuhi toko dan restoran. Space untuk pejalan kaki sangat lebar, jadi nyaman untuk sekedar berjalan kaki pelan2. Kamu tidak perlu khawatir kesamber bajaj atau Kopaja di sini. Suasananya ramai padahal sudah mulai musim dingin. Gak kebayang kalo summer/spring pasti seru dan cantik suasana di jalan ini.

Champs-Elysees

Champs-Elysees

Kami pun meneruskan berjalan kaki menyusuri Champs-Elysees sampai tiba di monumen Arc de Triomphe yang besar banget. Pokoknya percayalah bahwa orang Perancis bener2 mampu membuat monumen deh.

Arc de Triomphe

Arc de Triomphe

Arc de Triomphe ini letak di simpang lima. Kita tidak bisa seenaknya menyeberang untuk mencapai monumen itu karena bisa disamber Kopaja AC, tapi harus mengambil lorong bawah tanah dari seberangnya.

Selfie dulu sebelum menyeberang

Selfie dulu sebelum menyeberang

Arc De Triomphe adalah semacam tugu peringatan kemenangan Napoleon. Dan untuk bisa menghargainya memang harus dari dekat, karena bangunan ini punya banyak detail relief di semua permukaannya.

Untuk perbandingan besar, perhatikan ukuran orang di bawahnya

Untuk perbandingan besar, perhatikan ukuran orang di bawahnya

Perhatikan relief di dinding yang berukuran masif

Perhatikan relief di dinding yang berukuran masif

Jujur gw termangap2 melihat bangunan ini. Kalo tujuannya untuk “memamerkan” kekuasaan dan kedahsyatan Napoleon, gak salah deh design bangunan ini.

Relief belakang Napoleon yang dikawal malaikat2. Yang di depan bukan relief, tapi turis

Relief belakang Napoleon yang dikawal malaikat2. Yang di depan bukan relief, tapi turis

Arc De Triomphe ini memiliki museum di dalamnya, dan kita juga bisa baik ke atasnya. Tapi mengingat ini adalah hari pertama tiba di Paris, kami memutuskan untuk melihat2 luarnya saja dulu.

Kami pun memutuskan menyusuri saja jalan Champs-Elysees, sekedar melihat toko2 dan kerumunan orang lalu-lalang. Oh iya, toilet umum di Paris termasuk susah sekali. Kalo di kota2 besar di Indonesia kita cukup mencari mal atau pom bensin untuk toilet, di sini susah. Kalaupun ketemu, antrian panjang dan masih harus membayar 1 Euro. Rp 15 ribu untuk PIPIS jek!!! Ngeselin banget emang.

Berjalan kaki jauh di Paris, di saat awal musim dingin, sangat menyenangkan. Cuaca relatif tidak terlalu dingin, sehingga kita berjalan kaki dengan nyaman dan tidak keringatan. Selain itu banyak jalan2 kecil di daerah pusat kota yang enak dilihat.

Jalan2 kecil di kota Paris memiliki charm tersendiri

Jalan2 kecil di kota Paris memiliki charm tersendiri

Mungkin ada yang bertanya2, konon Paris banyak copet, khususnya di tempat keramaian seperti obyek turis. Memang berita tentang copet di Paris BANYAK sekali. Karenanya saya dan istri tidak mau mengambil resiko dan mengambil beberapa langkah preventif.

  • Gw tidak menaruh dompet di kantong belakang. Ini hanya mengundang copet saja
  • Tidak menggunakan tas pinggang. Selain secara fashion itu sangat jelek (dan tentunya akan dibuang oleh istri), tas pinggang juga mengumumkan pada dunia (dan copet) bahwa kamu turis.
  • Gw dan istri memakai tas yang diselempang, dan saat berjalan2 tutupnya menghadap ke dalam ke perut kita. Kemudian, tas di taruh di perut, bukan di samping apalagi di belakang. Ini untuk menyulitkan copet.
  • Kemudian, untuk dokumen sangat penting seperti paspor, tiket, dan uang cash, belilah sabuk pasport (passport/money belt) yang terpisah di masuk ke dalam baju/sweater. Sabuk ini ringan sekali dan tidak mengganggu, dan bisa dibeli di mal. Tujuannya kalo seapes-apesnya tas kamu pun hilang, pasport dan uang cash tidak ikut hilang. Percayalah paspor hilang dicopet itu menderita sekali, karena sudah pernah dialami istri saya.
(source: lelong.com.my)

(source: lelong.com.my)

Kami pun berjalan kaki ke hotel, makan malam di restoran di dekat hotel, dan karena kecapekan dari penerbangan yang lama, kami pun hanya kembali ke Ecole Militaire di dekat hotel untuk melihat Eiffel di malam hari dari kejauhan. Kemudian kami memutuskan untuk istirahat.

Hari Kedua

Hari kedua, kami sudah berencana untuk mengunjungi Basilika besar Sacre Coeur yang ada di atas bukit. Perjalanan ke sana cukup mudah menggunakan Metro. Kamu cukup bertanya kepada resepsionis di stasiun manakah kami harus turun, dan setelah itu biasanya sudah ada penunjuk jalan untuk obyek wisata. Atau menggunakan Google Map.

Peta jaringan Metro Paris yang sangat ekstensif. Kamu beneran bisa ke mana aja naik Metro.

Peta jaringan Metro Paris yang sangat ekstensif. Kamu beneran bisa ke mana aja naik Metro.

Oh iya, di Android/iOS tersedia Paris Metro App yang SANGAT membantu. Dengan app ini kamu bisa menentukan ke mana kamu ingin pergi, dan app tersebut memberi tahu stasiun Metro terdekat dari kamu, jalur yang harus diambil, pindah/turun di stasiun mana, bahkan jarak tempuh termasuk waktu jalan kaki! Canggih banget dan sangat berguna. Gw selalu menggunakan app ini di Paris. Keuntungannya adalah kamu gak usah celingukan di statiun lihat peta, atau membuka2 peta kertas dan kebingungan. Semua cukup di smartphone.

Menggunakan Metro di Paris gampang banget pake app ini

Menggunakan Metro di Paris gampang banget pake app ini

Asiknya menggunakan transportasi publik di negara asing, selain lebih murah, tentunya adalah kesempatan mengobservasi penduduk lokal. Gw seneng nguping percakapan orang walaupun tidak mengerti, sementara istri memperhatikan gaya berbusana mereka. Sepanjang di Paris, gw memperhatikan para pengguna subway, khususnya orang kantoran, banyak yang stylish. Stylish di sini tidak berlebihan pamer barang mewah, tetapi pilihan baju, sepatu, sampai tas terlihat matching. Satu lagi, entah ini akurat atau tidak, rasanya kok rata2 mereka langsing ya? Gw mungkin aja salah sih :D

Begitu kami keluar dari stasiun Metro di dekat Sacre-Coeur, kami terkejut melihat ada sebuah spot yang unik. Yaitu dinding besar berisi tulisan ‘I Love You’ dalam berbagai bahasa. Banyak turis yang berfoto di dinding tersebut. Gw kesulitan mencari “Saya Cinta Kamu” di dinding itu, yang ketemu malah versi…..BOSO JOWO. Ya elah, orang Jawa memang ada di mana2 deh.

Gak ketemu "Saya Cinta Kamu", adanya "Aku Tresno Karo"

Gak ketemu “Saya Cinta Kamu”, adanya “Aku Tresno Karo”

Walaupun kami turun di stasiun yang kata resepsionis “dekat”, tapi ternyata jalan kaki menuju Basilika itu lumayan capek karena harus naik banyak tangga. Katedral ini ada di atas bukit, jadi harus jalan menanjak untuk mencapainya. Lumayan hari Minggu pagi itu kami sudah ngos2an.

Naik tangga menuju Sacre-Coeur. Eh itu kenapa gw megang pantat sih?

Naik tangga menuju Sacre-Coeur. Eh itu kenapa gw megang pantat sih?

Basilika Sacre-Coeur terletak di daerah Mont-Martre yang konon adalah daerah seniman dan artis (yah, semacam Ubud-nya Paris kali ya). Jadi banyak pelukis jalanan di sini. Minggu pagi cukup ramai dengan turis maupun orang lokal yang sekedar makan pagi dan menikmati cuaca yang baik. Basilika Sacre-Coeur sendiri sangat megah hacep. Gw yang pecinta bangunan tua langsung semangat walaupun capek naik tangga.

Di tangga depan Basilika semua orang berebut foto2 deh pasti

Di tangga depan Basilika semua orang berebut foto2 deh pasti

Karena saat itu hari Minggu, Basilika dibuka untuk Misa umum. Jadi turis harus bercampur dengan jemaat yang sedang beribadah. Tentunya area untuk turis sudah dipisahkan dari jemaat yang beribadah, agar tidak mengganggu jalannya Misa. Gw dan istri sempet “nyelip” ke bagian jemaat untuk sekedar duduk dan menikmati selama beberapa saat seperti apa rasanya ibadah di Basilika tersebut.

20141026_111655

Yang menjadi titik perhatian utama di dalam Basilika Sacre-Coeur ini tentunya kubah utama yang sangat masif dengan lukisan yang luar biasa indahnya. Kepala kita pasti tidak kuasa mendongak ke arah langit untuk menikmati lukisan relijius yang sangat mendetail dan indah. Gw tidak belajar sejarah arsitektur, tetapi gw menduga bahwa titik perhatian di kubah ini mungkin disengaja agar saat beribadah orang mendongak ke “atas”, tempat Tuhan berada. Mungkin loh ya.

Sesudah duduk sebentar bersama jemaat, kamipun bergabung dengan jalur turis untuk menikmati berbagai titik di dalam Basilika yang dipenuhi tempat berdoa, lukisan dan patung-patung kuno. Rasanya kalau tidak ingat waktu ingin berlama2 di situ, tetapi karena rencana kami sudah cukup padat, jadi kami hanya berkeliling saja dan kemudian keluar.

Patung St. Michael, yang dianggap pimpinan tentara Malaikat. Badass sambil menginjak ular (Setan)

Patung St. Michael, yang dianggap pimpinan tentara Malaikat. Badass sambil menginjak ular (Setan)

Pemandangan Paris dari kaki tangga Basilica Sacre-Coeur. Sayang agak mendung berkabut

Pemandangan kota Paris dari kaki tangga Basilica Sacre-Coeur. Sayang agak mendung berkabut

Dari situ kami berkeliling sebentar mengelilingi Basilika dari luar. Kompleks di sekitar Basilika nyaman untuk berjalan kaki sambil melihat2. Basilika Sacre-Coeur sendiri bisa dinikmati dari berbagai angle karena indahnya.

Daerah di sekitar Basilika banyak galeri dan tempat makanan

Daerah di sekitar Basilika banyak galeri dan tempat makanan

Ada pengalaman menarik saat kami menuruni bukit Montmartre untuk kembali menuju Eiffel Tower. Saat kami sedang asyik berfoto2 dengan latar belakang Basilika, tiba2 kami dihampiri seorang wanita bule yang sangat cantik. Dengan bahasa Inggris beraksen Perancis kental tapi masih jelas dimengerti, beliau berkata, “Please be careful with your camera, there are a lot of pickpockets in this area”. Duh baik banget. Kami pun berterima kasih kepadanya, “Merci, merci…” Udah cantik, ramah pulak! Duh pengen gw peluk. Eh.

Walaupun kami hanya turis yang tak dikenalnya, si wanita Perancis tadi mengingatkan kami agar waspada. A random act of kindness. Gw jadi mikir, apakah kalau situasinya terbalik, apakah kita saat berada di Indonesia akan mau proaktif mengingatkan turis bule agar mereka terhindar dari masalah atau penipuan?

Lepas jam makan siang kami pun bergegas menuju stasiun Metro terdekat untuk pergi kembali ke Eiffel Tower, karena kami sudah memesan tiket untuk naik ke tower sore itu. Kami membeli tiket masuk “Skip the line”, yang artinya kami tidak perlu mengantri berjam2 tetapi mendapat jalur khusus. Sebenarnya jasa “skip the line” ini gabungan “calo resmi” (kita membayar lebih karena sudah dibelikan orang lain) dan juga membayar jalur khusus express. Tentunya ada tambahan yang tidak sedikit dibandingkan jika kita mengantri biasa, tetapi bagi kami penghematan waktu (antri tiket bisa berdiri 1-2 jam!), penghematan energi (gak perlu lutut mau copot) rasanya lebih penting.

Tiket “skip the line” ini bisa dibeli di internet. Nanti saat selesai transaksi kita akan diberikan jam dan titik pertemuan dengan si “calo resmi”. Di tempat dan jam yang ditentukan si “calo resmi” ini akan membagikan tiket dan mengarahkan kita ke pintu express. Di pintu ini masih ada antrian keamanan, tetapi sangat pendek.

Bahkan sudah menggunakan jasa “skip the line” pun perjalanan untuk menuju puncak Eiffle terhitung lama dan melelahkan. Kami harus mengantri lama untuk mendapatkan lift pertama, yang akan mengantar kita sampai di pelataran di tengah menara (belum di puncak). Sesudah itu harus menyambung lift yang lebih kecil untuk bisa naik ke puncak (sommet), dan itu pun mengantri lagi. Jadi tips untuk yang mau naik ke Eiffel Tower, siap2 stamina kaki, apalagi kalau sedang peak season.

20141026_154515

Pemandangan Paris dari perhentian pertama di Eiffel Tower. Perhatikan bayangan Eiffel Tower yang menimpa gedung2 di bawahnya

Sisi lain yang bisa dilihat dari atas Eiffel Tower

Sisi lain yang bisa dilihat dari atas Eiffel Tower

Kalau kita bisa mencapai puncak dari Eiffel tower, maka kita akan tiba di area kecil yang penuh sesak orang untuk menikmati pemandangan dari atas. Walaupun cukup lelah karena sudah lama berdiri sejak dari bawah, semua jerih payah itu terasa worth it sampai di atas. Di sini lah kita puas berfoto dan menikmati pemandangan. Jangan terlalu sibuk berfoto sampai lupa menatap pemandangan dengan mata sendiri. Terkadang turis terlalu heboh dengan tongsis, selfie, atau memotret, sampai lupa meluangkan beberapa menit untuk menghayati pemandangan dengan mata sendiri.

Pemandangan dari puncak Eiffel Tower

Pemandangan dari puncak Eiffel Tower

20141026_163240

Nengok ke bawah. Syeeeereeeemmmm…..

Ada yang menarik di puncak Eiffel. Ternyata dahulu sekali ada unit tempat tinggal kecil milik Gustav Eiffel si arsitek Eiffel Tower. Tempat tinggal tersebut sekarang diabadikan menjadi eksibisi, lengkap dengan furnitur aslinya. Yang menarik, ternyata Gustav Eiffel pernah menerima kunjungan Thomas Edison si penemu dari Amerika Serikat. Pertemuan keduanya diabadikan dalam patung di dalam unit tempat tinggal tersebut.

Gustav Eiffel and Thomas Edison bercakap2 di tempat tingga Eiffel di atas menara

Gustav Eiffel and Thomas Edison bercakap2 di tempat tingga Eiffel di atas menara

Kebayang enaknya si Eiffel jaman dulu tinggal di puncak menara, menikmati pemandangan sendirian, tidak ada speaker kelurahan memutar “Sakitnya Tuh Di Sini” Cita Citata seharian. Oh enaknyaaa…..

Kami meninggalkan puncak menara sudah sore menjelang malam. Karena sudah lapar kamipun menyempatkan makan pizza dari penjual di pinggir sungai yang melintas di dekat Eiffel Tower, sambil menikmati Eiffel Tower di malam hari. Eiffel Tower di malam hari sungguh indah untuk dinikmati dari jauh maupun dekat. Saat sudah malam, di setiap pergantian jam, maka lampu flash di sekujur tbuh menara Eiffel akan menyala bagaikan bintang2. Sungguh indah.

20141026_185608

Menara Eiffel di malam hari. Megah dan romantis.

Lampu2 kilat kerlap kerlip saat pergantian jam

Lampu2 kilat kerlap kerlip saat pergantian jam

Sesudah makan, kamipun masih berjalan2 “menurunkan makanan” (Indonesia bingits!) di sekitar Menara Eiffel. Kami menyeberang jalan ke arah Utara dan melihat2 sebuah gedung tua yang besar (sampe sekarang gak tahu itu gedung apa, hahaha). Yang pasti banyak anak muda yang hangout di sana sambil bermain skateboard, dan juga para turis yang ingin mendapat spot foto Menara Eiffel yang bagus. Kebetulan cuaca malam itu lumayan cerah untuk menghirup udara segar dan berjalan2. 20141026_191934

Karena sudah lelah sudah bepergian sejak pagi, kami pun berjalan kaki pulang ke hotel untuk beristirahat.

Hari ketiga.

Hari ketiga, gw bangun dengan semangat. Karena hari ini adalah jadwal mengunjungi Louvre Museum! Setting awal novel terkenal Dan Brown “Da Vinci Code”! Yeah!

Kami pun bergegas berangkat pagi karena mengetahui antrian masuk ke Louvre biasanya gila2an. Gw mending bangun pagi banget demi cepet masuk tujuan wisata daripada bangun telat terus menderita karena mengantri. Saat tiba, pagi masih dingin dan berkabut, dan itu pun sudah ada antrian panjang di luar museum. Gw sempet terpesona di pelataran museum dengan indahnya gedung Louvre yang GUEDE dan artistik, tetapi gw memutuskan untuk menikmati gedung ini dari luar nanti saja sesudah selesai di dalam.

Ingat Museum Pass yang di atas? Memiliki Museum Pass tadi pun bisa dibilang memberikan akses “ekspres” karena tidak perlu mengantri dulu membeli tiket. Begitu sampai, kami langsung cus! ke antrian pintu masuk.

Tujuan pertama, dan rasanya juga merupakan rencana sejuta umat adalah, Mona Lisa! Kayaknya semua orang yang tiba di pagi itu juga memiliki rencana yang sama. Bahkan ketika gw bertanya kepada Information di sayap mana letak Monalisa, si penjaga seperti sudah bosan dan segera menunjukkan arah.

Sekedar catatan, Museum Louvre itu BESAR. Bener2 BESAR. Percayalah bahwa kalau kita ingin menghabiskan seharian penuh dari jam buka sampai tutup untuk menikmati semua exhibit di sana, itu pun masih belum selesai. Jadi memang harus membuat conscious decision untuk hanya memilih apa yang ingin dilihat. Sedih sih, tapi ya gimana, massive banget museum ini, yang terdiri dari beberapa sayap kompleks. Museum dibagi berdasarkan kategori exhibit. Patung2, lukisan, artefak2 lain. Koleksi lukisan sedemikian masifnya sehingga harus dibagi lagi berdasarkan “pelukis Itali”, “pelukis Spanyol”, “pelukis Perancis”, dll.

Kami berjalan cepat setengah berlari menuju Monalisa, karena kami tidak ingin keburu terhalangi kerumunan orang. Kami pun sampai di lokasi exhibit Monalisa. Jantung gw berdebar keras dengan antisipasi. Gimana gak deg2an, selama ini masterpiece Leonardo Da Vinci ini cuma bisa gw baca atau tonton di TV. Untuk bisa menatapnya langsung rasanya akan menjadi pengalaman tak terlupakan. Dan sesampainya gw di sana…..

YAH CUMA SEGINI AJA NEH???!!

Lukisan Monalisa aslinya tidak besar. Kita tidak bisa melihat dari dekat, karena area di sekitar lukisan diberi tali pembatas sekitar 7-10 meter. Penjaga memelototi seluruh pengunjung untuk memastikan gak ada orang tolol yang akan memotret dengan lampu flash. Jadi kita hanya bisa menikmati dari agak kejauhan. Sejujurnya, gw kok…..merasa gak terlalu spesial lagi. Ya, gitu aja sik, lukisan wanita.

Monalisa di dalam Louvre

Monalisa di dalam Louvre

Cakepan istri daripada Monalisa ah.

Cakepan istri daripada Monalisa ah.

Yah inilah sindrom kalo udah kelamaan ngebet sama sesuatu, ketika ketemu realitanya gak sesuai harapan jadinya kuciwa. Biasa kan, kayak dulu gw pernah naksir belasan tahun sama seorang seleb. Ketika akhirnya ketemu orangnya dan ngobrol malah mikir “Yah begini doang?”.

Sesudah puas melihat Monalisa, yah pokoknya udah pernah sekali seumur hidup, kamipun melanjutkan dengan melihat2 lukisan2 karya pelukis2 besar Eropa lainnya. Ini bener2 pengalaman menakjubkan, dan ada begitu banyak lukisan lain yang lebih cetar membahana daripada Monalisa. Banyak sekali lukisan2 yang kayaknya gedenya ampir separoh lapangan basket. Gilak sih para seniman jaman dulu. Dan kalau di sana harus memperhatikan detail anatomi tubuh, karena para pelukis besar ini sangat bangga dengan keakuratan mereka dalam melukis anatomi manusia.

Lukisan "Yesus di Kana", perhatikan perbandingan gw dan besarnya lukisan

Lukisan “Yesus di Kana”, perhatikan perbandingan gw dan besarnya lukisan

Contohnya lukisan “Yesus di Kana” di atas. Lihat deh betapa kecilnya badan gw di depan lukisan tersebut. Bahkan beberapa figur di lukisan tersebut lebih GEDE dari badan gw. Parah sih emang.

King Leonidas of Sparta

King Leonidas of Sparta

Lukisan raja Leonidas (inget film ‘300’?) di atas adalah bukti kehebatan para pelukis jaman dulu dalam menggambar tubuh manusia. Lukisan2 masterpieceyang ada di Louvre ini rasanya bisa dinikmati berjam2 saking indahnya, tetapi keterbatasan waktu sayangnya mengharuskan kami untuk bergerak agak cepat. Tidak ada waktu untuk berlama2 menatap sebuah lukisan. Hiks.

Suasana galeri lukisan di Louvre

Suasana galeri lukisan di Louvre

Oh iya, jalan2 di dalam museum aja perlu stamina. Asli, saking gedenya kaki sampe senut2. Kalau mau diturutin dikit2 duduk sih kita akan kehabisan waktu. Jadi jangan pikir mengunjungi museum tidak perlu stamina yang prima. Kayaknya kami membakar banyak kalori selama di sini deh.

Selain lukisan, Louvre juga memiliki koleksi patung kuno yang masif. Ada patung dewa Jupiter, patung Kaisar Roma, ataupun mahluk2 mitologi lainnya.

20141027_103030

20141027_104032

“Demi Jupiter, akan kuhancurkan desa Galia menyebalkan itu!”

Sedih sekali karena kami memiliki waktu terbatas untuk melihat tujuan lain, sehingga kunjungan ke Louvre harus diakhiri di siang hari. Suatu hari kalo ada waktu dan rejeki ingin lebih lama menjelajahi Louvre, karena masih banyak artefak yang belum dilihat.

Keluar dari museum, kami menyempatkan menikmati kompleks museum yang tidak belum sempat kami lihat dari luar. Di siang hari cerah dengan sinar matahari, kompleks Louvre sungguh indah. Yang mengundang kagum dari gedung ini, dan juga banyak gedung tua lain di Paris, adalah detailnya. Bahkan untuk sisi luar pun mereka menaruh banyak detail, ukiran, relief, patung yang sungguh kompleks. Seolah2 pembuat gedung ini menyadari bahwa gedung ini akan dinikmati dari luar sebanyak dinikmati dari dalam. Kamipun menghabiskan waktu berfoto2 di luar gedung Louvre museum ini.

20141027_114848

20141027_113647

Obyek yang menarik dari luar museum Louvre ini tentunya si piramid kaca. Ada dua piramid kaca di kompleks ini. Yang besar berfungsi sebagai pintu masuk ke dalam museum, tetapi ada satu lagi yang merupakan piramid terbalik. Gw tahu ini karena menonton film Da Vinci Code, dan jadinya gw ngotot mencari di mana piramid terbalik itu. Dilihat di google map ada, tetapi karena dia terbalik, maka ujungnya ada di bawah tanah kan. Nah, ada di mana sih ujungnya?

Piramid kaca yang besar

Piramid kaca yang besar

Istri sudah kesal karena sudah saatnya berangkat. Gw pun akhirnya menyerah mencari si piramid terbalik itu, dan melangkah kembali ke stasiun Metro. Stasiun Metro itu kebetulan terletak di bawah tanah, bergabung dengan semacam mal kecil. Karena kebelet, gw memutuskan mencari toilet di mal tersebut. Dan tanpa disengaja, ternyata gw menemukan si piramid terbalik tersebut! Yaaay. Ternyata pucuknya ada di tengah area mal tersebut. Asik, bisa foto di adegan film Da Vinci Code!

Kalo di novel Dan Brown, inilah "kode" terakhir yang menunjukkan tempat Maria Magdalena dikubur :D

Kalo di novel Dan Brown, inilah “kode” terakhir yang menunjukkan tempat Maria Magdalena dikubur :D

Karena sudah puas menemukan si piramid terbalik, maka lanjutlah kami menuju Notre Dame.

Dengan menggunakan aplikasi Metro Paris tadi, kami pun turun di sebuah stasiun yang masih mengharuskan berjalan kaki beberapa ratus meter menuju Notre Dame. Untung cuaca sangat baik, tidak terlalu dingin, matahari bersinar, sehingga berjalan kaki menjadi menyenangkan.

Notre Dame adalah katedral terbesar di Paris. Mungkin ada yang ingat film animasi Disney “Hunchback of Notre Dame” yang didasarkan atas karya sastra Victor Hugo. Berjalan kaki menuju Notre Dame adalah pengalaman tersendiri karena kami secara perlahan menyadari betapa besarnya katedral ini. Katedral tersebut saat dihampiri dari jauh seperti bertambah besar gak habis2 sampai kita tiba di tempat.

20141027_130750

Notre Dame dari jauh

20141027_131130

Aseli, gede aja katedral yang satu ini

Total waktu pembangunan Notre Dame ini hampir 200 tahun! Dimulai dari 1163 dan dibuka 1345. Kebayang gak sih, dari waktu dibuka pertama kali saja sudah 650 tahun lebih!!

Kami menyempatkan masuk ke dalam Notre Dame. Kita bisa duduk di kursi2 jemaat karena saat itu bukan hari Minggu dan tidak ada misa. Kami pun duduk sambil mengistirahatkan kaki dan mengambil foto. Saah satu highlight dari Notre Dame adalah jendela mozaik raksasa yang menghiasi sisi-sisi gedung.

Perhatikan betapa TINGGI-nya atap katedral tersebut

Perhatikan betapa TINGGI-nya atap katedral tersebut

20141027_133923

Kaca mosaik raksasa berwarna-warni, dengan lilin-lilin doa di latar depan

Tadinya kami ingin menaiki menara Notre Dame, karena ingin melihat lonceng2 Notre Dame yang terkenal itu dari dekat, sekaligus melihat pemandangan Paris dari atas. Tetapi begitu kami melihat panjangnya ANTRIAN yang ingin naik ke menara, kami jadi lemes. Mana emang lemes beneran karena sudah lapar. Akhirnya kami menyerah dan memutuskan untuk makan saja di sebuah cafe terdekat sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya.

20141027_135608

Karena antrian panjang, jadi tidak naik ke menara, dan berfoto saja di depan pintu samping yang penuh detail ini.

Dari Notre Dame, mencoba meng-cover jadwal ambisius kami, kami pun mengunjungi Jardin Du Luxembourg. Sebuah taman terbuka untuk umum. Tadinya kami tidak berharap banyak dari sebuah park umum, tetapi ternyata taman tersebut CANTIIIIK sekali. Ditambah cuaca cerah dan langit biru, banyak sekali penduduk Paris yang bersantai di taman tersebut, duduk2 membaca buku ataupun sekedar berjemur menikmati matahari. Surprisingly kami sangat senang menghabiskan waktu di taman tersebut. Di musim gugur menjelang musim dingin saja taman ini masih terlihat cantik dengan bunga2. Terbayang seperti apa taman ini indahnya kalau di musim semi.

Foto panorama Jardin du Luxembourg

Foto panorama Jardin du Luxembourg

Tersedia banyak kursi umum untuk mereka yang ingin berjemur

Tersedia banyak kursi umum untuk mereka yang ingin berjemur

20141027_150850

Dari Jardin Du Luxembourg, kami pun lanjut menuju Pantheon. Pokoknya jadwal hari itu super ambisius deh, banyak yang ingin dikejar, sampai pontang panting naik turun Metro. Tapi karena Paris ini lebih jauh sedikit dari Bekasi, ya mumpung di sini harus dibela2in melihat banyak hal, supaya gak berasa rugi.

Pantheon adalah museum yang juga makam orang2 besar. Walaupun tidak terlalu “besar” (relatif dibandingkan Notre Dame atau Louvre), bangunan ini tetap impresif, dengan patung2 dan lukisan2 bertema nasionalistik. Gedung ini memiliki dome raksasa yang sayangnya saat kami kunjungi masih dalam proses restorasi.

Pantheon, Paris

Pantheon, Paris

Nggak tahu kenapa menurut gw patung di dalam Pantheon ini keren banget

Nggak tahu kenapa menurut gw patung di dalam Pantheon ini keren banget

Kami di Pantheon hanya sebentar saja. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 4 sore. Dan kami masih saja ambisius mencoba SATU tujuan lagi: Musee De L’Armee (National Military Museum). Kebetulan lokasinya dekat dengan hotel tempat kami menginap, jadi mikirnya sekalian pulang.

Musee De L'Army dari belakang

Musee De L’Army dari belakang

Kami tiba di Musee De L’Armee menjelang jam tutup sebenarnya. Tapi ya udah paksain aja deh, toh masih memakai tiket terusan Musee Pass. Kayaknya kami masuk dari pintu belakang, soalnya bukannya menemui museum, kami malah menemukan…..makam Napoleon. Jadi kami sedikit nyasar.

Sebenarnya ini adalah kejutan menyenangkan, karena kami tidak berencana menemukan makam Napoleon di sini, Jadi enjoy aja deh.

Bagian makam Napoleon ini sangat masif. Yah, memang sesuai dengan tokoh besar di dalam sejarah ini. Saat baru masuk kita akan disambut semacam altar besar, dan kita bisa melihat peti mati raksasa Napoleon. Peti ini benar2 BUEESAAARRR. Kami termangap2 melihatnya, Makam dan peti mati ini seolah2 sengaja dibuat untuk membuat siapapun yang datang merasa segan terhadap sosok Napoleon. Kita bisa melihat betapa menghormatinya bangsa Perancis terhadap sosok Napoleon di masanya, sehingga sesudah akhir hayatnya pun monumen bahkan makam untuknya pun begitu megah.

Peti mati Napoleon dilihat dari atas, dikelilingi patung2 besar juga.

Peti mati Napoleon dilihat dari atas, dikelilingi patung2 besar juga.

Sesudah melihat makam Napoleon, barulah kami bergerak ke depan ke arah museum. Kami melihat banyak benda2 perang dari berbagai era. Karena kami masuk dari belakang, kami langsung tiba di jaman Perang Dunia II. Banyak persenjataan, uniform, poster, sampai film dokumenter di dalam museum. Untuk para pecinta segala hal yang berkaitan dengan militer dan sejarah perang wajib mengunjungi museum ini.

Koleksi meriam2 tua

Koleksi meriam2 tua

Uniform perwira Nazi, yang pernah menduduki Paris

Uniform perwira Nazi, yang pernah menduduki Paris

Ada satu bagian yang menyedihkan di museum tersebut, yaitu sebuah pojok yang menunjukkan kekejaman kamp konsentrasi Nazi untuk orang Yahudi maupun kaum2 yang “tak diinginkan” lainnya. Ditampilkan seragam tahanan kamp konsentrasi untuk pria dan wanita, foto dan film dokumenter asli dari kamp konsentrasi, sampai benda2 bekas milik tahanan seperti kaca kecil, atau sisir. Lokasi exhibit ini sengaja dibuat reduh dengan mood sedih. Ada peringatan agar anak kecil tidak memasuki bagian ini karena ada video yang menunjukkan mayat2 dan kekejaman Nazi. Buat gw ini adalah bagian penting dari museum untuk mengingatkan betapa manusia bisa menjadi begitu kejamnnya terhadap manusia lain.

Yang gw sesalkan dari mengunjungi Musee De L’Armee ini adalah karena sudah mepet dengan jam tutup, kami pun tidak bisa melihat seluruh museum ini. Gw membaca bahwa obyek militer di museum ini mencakup jaman pertengahan, yang tentunya dipenuhi baju2 zirah (armor) yang sangat keren. Sedihnya gw gak bisa dapet ini karena museum sudah harus ditutup. Hiks. Maybe next time.

Kunjungan ke Musee De L’Armee ini menutup rangkaian acara kami di Paris di Hari Ketiga. Kamipun memutuskan pulang dan beristirahat karena di hari keempat kami harus ke luar kota Paris untuk mengunjungi Istana Versailles! Yay!

 

Hari Keempat.

Sejak merencanakan perjalanan ke Paris ini, gw sudah bertekad HARUS datang ke istana Versailles. Tidak hanya saya menyukai istana raja2 Eropa sejak dahulu, tapi juga saya tahu di situlah perjanjian Versailles yang mengakhiri Perang Dunia I ditandatangani. Jadi makna historisnya banyak.

Browsing2 di Internet gw menemukan anjuran untuk pergi ke Versailles se-PAGI mungkin, karena begitu banyak orang yang ingin memasukinya. Versailles membutuhkan perjalanan kereta kira2 sejam dari kota Paris. Jadi kami niat banget bangun di pagi hari untuk bisa bergegas ke stasiun kereta (bukan subway).

Waktu ke stasiun pagi2 kami sempat bingung mencari platform dan kereta mana yang menuju Versailles. Tetapi ada seseorang yang sangat ramah membawa akordion yang memberitahu kereta mana yang benar. Gw pikir, ini orang baek banget ngasih tahu orang2. Belakangan gw baru mengetahui ternyata doi pengamen di dalam kereta menuju Versailles. Kampret. Tapi musik yang dibawakan doi bagus sih, beneran profesional.

Tiba di stasiun Versailles sejam kemudian, kami pun mampir di McDonald untuk pipis dan beli kopi. Saat antri untuk memesan kopi, ada seorang bule yang antri di depan gw menoleh bertanya, “Do you speak English?” Ketika gw iyakan ternyata doi orang Amerika yang udah nyerah berusaha mengerti bahasa Perancis di menu kopi. Gw hanya bisa menjelaskan kalo mau yang ada susu cari aja yang ada tulisanya “au lait”, udah itu aja, hahaha.

Istana Versailles terbagi atas dua tujuan: istananya sendiri, dan tamannya. Ini adalah kompleks istana raja Louis yang dahsyat cetar deh guede dan indahnya. Saking gedenya, tiket untuk masuk taman dan istana dibedakan. Waktu gw baca di internet ada yang ngasih tips untuk jangan maksa masuk istana dulu, karena antriannya akan panjang dari pagi. Lebih baik datang ke tamannya dulu. Dan bener aja, pas gw sampe, masih pagi pun antrian masuk istana sudah mengular gak keru2an, padahal ini hitungannya masih low season. Kebayang deh saat peak season di musim semi.

Maka pergilah kami ke taman Versailles. Astaga, taman ini bener2 besar. Gw gak bisa menjelaskan seberapa gedenya taman istana ini. Kami sudah mengalokasikan sehari penuh untuk mengunjungi Versailles ini dan tetap saja kami tidak sempat menjelajahi seluruh taman. Selain itu, karena kami datang menjelang musim dingin, cuaca mendung jadi kurang bagus, plus kami KEDINGINAN. Tapi tetap saja kami terpesona dengan taman ini. Siap2 kaki gempor saking gedenya. Ada sih penyewaan mobil golf untuk yang malas jalan, tapi kok ya mahal sekali.

Yang gila dari taman Versailles ini adalah banyaknya “taman dalam taman”. Jadi di dalam taman raksasa ini ada taman2 kecil lain yang tertutup. Kamu harus “memasuki”nya untuk menemukan isinya. Taman dalam taman ini berbeda2 temanya, tidak ada yang sama. Jadi seru untuk ditemukan sendiri, ada patung atau arrangement tanaman apa di setiap taman.

Salah satu taman di dalam taman Versailles, ada patung Apollo tersembunyi di gua

Salah satu taman di dalam taman Versailles, ada patung Apollo tersembunyi di gua

 

Di sebuah taman lain, ada patung kakek2 malang terkubur lumpur Lapindo

Di sebuah taman lain, ada patung kakek2 malang terkubur lumpur Lapindo

Karena terlalu besar, kami hana menjelajah taman dimulai dari pintu masuk dan terus lurus ke Utara ke ujung taman. Di ujung taman, kami menemukan jalan yang menuju rumah musim panas untuk ratu Marie Antoinette, semacam “istana kecil”. Disediakan shuttle bus kecil untuk ke sana dari ujung taman. Tapi karena kami pelit dan sok tahu, kami memilih untuk jalan kaki. Dan ternyata….JAUH YA CUY. Jadi siapin bekal dan cemilan aja deh kalo mau main2 ke Versailles, apalagi saat musim dingin.

“Istana kecil” Marie Antoinette ini ternyata sudah lumayan besar. Lengkap dengan taman sendiri juga. Gilak ini ratu jaman dulu, pikir gw. Rumah musim panas-nya aja udah segede hoha gini, apalagi istana aslinya. Bagian dalam rumah musim panas ini semua furnitur masih dilestarikan dengan baik.

20141028_124358

Tempat ratu Perancis dulu bobok2 siang

Sisi lain kamar ratu di rumah musim panas

Sisi lain kamar ratu di rumah musim panas

Ruangan di rumah musim panas ini disebut ruang kaca

Ruangan di rumah musim panas ini disebut ruang kaca. Bedakan dengan “rumah kaca” yang menyangkut Abraham Samad

"Rumah musim panas" aja ada hall segede gini. Matik gak loe.

“Rumah musim panas” aja ada hall segede gini. Matik gak loe.

Setelah kami puas melihat2 rumah musim panas ini, jam sudah menunjukkan lewat tengah hari. Kami pikir ini sudah waktu yang tepat untuk memasuki istana Versailes. Kali ini kami kapok tidak mau berjalan kaki lagi, jadinya kami menaiki mobil shuttle dan membayar tiket dengan agak gak ikhlas.

Shuttle car ini hanya kembali ke titik ujung taman, jadi untuk kembali ke istana, kami harus berjalan kaki lagi. Ampun deh. Istri sudah ngomel karena capek, plus angin dingin yang sadis. Tetapi ya tetap saja kami terpesona dengan keindahannya. Taman Versailles juga diisi patung2 antik keren di berbagai sudut. Suatu hari, ingin kembali di musim yang lebih baik. Semoga masih ada rejeki dan kesehatan.

Pemandangan istana Versailles dari belakang (taman)

Pemandangan istana Versailles dari belakang (taman)

Seperti anjuran di internet, antrian masuk istana Versailles sudah lebih pendek melewati jam makan siang. Yay!

Gerbang depan Versailles Palace

Gerbang depan Versailles Palace

Jadi ada apa di dalam istana Versailles? Sulit diceritakan satu persatu di sini, karena bisa2 perlu satu blog entry sendiri. Tapi cukup gw katakan bahwa keinginan gw untuk memasuki ISTANA RAJA ya bener2 terpenuhi. Semua fantasi gw tentang istana Eropa terpenuhi di sini. Setiap sudut lantai, kusen pintu, sampai sudut atap semua dipenuhi ornamen indah. Mungkin satu2nya yang kurang enak adalah kita harus berjejal2 dengan begitu banyak pengunjung lain, bahkan sesudah jam makan siang.

Liat ukuran kusen pintu, bandingkan dengan orang di bawahnya. Ini tukang kayunya ngecharge berapa coba?

Liat ukuran kusen pintu, bandingkan dengan orang di bawahnya. Ini tukang kayunya ngecharge berapa coba?

Namanya istana, bukan hanya gedungnya yang indah, tapi juga perabotannya. Obviously, isinya bukan barang2 IKEA, tapi masih barang2 jaman dahulu. Benda2 seni yang disimpan di sini tidak kalah dengan yang ada di Louvre. Banyak lukisan2 keren abad pertengahan di sini.

Perhatikan lukisan raksasa dengan orang di dekatnya, dan lukisan di atap

Perhatikan lukisan raksasa dengan orang di dekatnya, dan lukisan di atap

Gw membaca keterangan di pamflet bahwa istana Versailles didesign untuk memamerkan kedahsyatan Perancis kepada raja2 dari bangsa2 Eropa lain. Ratusan tahun sesudahnya, efek “pamer kekuatan” ini masih terasa. Berada di dalam situ kita merasa seperti kecil, dan seperti terintimidasi oleh kekuasaan raja Perancis di jamannya.

Ukiran antik raksasa yang tidak dijual di IKEA

Ukiran antik raksasa yang tidak dijual di IKEA

Ada satu hall panjang di dalam istana Versailles yang hanya berisi lukisan2 besar perang2 penting penguasa Perancis, dari jaman raja2 sampai Napoleon. Pecinta perang dan militer akan menikmati hall ini. Gw pun jadi menyadari betapa panjangnya sejarah Eropa saking banyaknya perang2 di Eropa di jaman dahulu yang tidak pernah gw ketahui. Sekali sayang, sayang kami tidak bisa terlalu lama mencermati lukisan2 di sini satu persatu, bisa habis waktu kami.

Hall berisi lukisan perjuangan

Hall berisi lukisan perjuangan

Satu ruangan “utama” di Versailles adalah Hall of Mirrors. Sebuah hall yang diisi penuh dengan cermin, tempat raja Perancis menjamu dan meng-impress tamu2nya jaman dahulu. Kebayang sih tamu2 Raja jaman dahulu, kalo dibawa ke sini pasti terkencing2 kagumnya. Gw aja selama di sana juga terkencing2. Pertama, karena udara dingin, kedua karena gw emang orangnya beser melulu….

Hall of Mirrors

Hall of Mirrors

Sesudah puas mengelilingi berbagai ruangan yang ada di Istana Versailles, yang terlalu panjang untuk diuraikan satu persatu di sini, kami pun memutuskan untuk kembali ke Paris dengan mengejar kereta sore.

20141028_154251

Kami kembali dengan senang, karena seharian sudah menjelajah Istana Versailles dan tamannya. Harapan kami bener2 bisa kembali lagi di musim berbeda. Musim semi saat bunga2 bermekaran pasti bagusnya luar biasa deh.

Kami kembali ke Paris, tetapi tidak langsung pulang ke hotel. Karena itu akan menjadi malam terakhir kami di Paris, gw ngotot untuk kembali ke Arc de Triomphe, karena kami belum berkesempatan naik ke atasnya. Pikir2, sekalian melihat pemandangan Champs-Elysees di malam hari dari atas.

Arc de Triomphe di malam hari

Arc de Triomphe di malam hari

Perjalanan menuju atap Arc de Triomphe sangat melelahkan dan SERAM, karena tangganya sempit. Beneran deh, sebaiknya stamina kuat selama di Paris, karena banyak menggunakan dengkul untuk naik ke sana ke mari. Tetapi sampai di atas kita bisa beristirahat sambil menikmati pemandangan kota. Bahkan Eiffel Tower pun bisa terlihat di situ.

Pemandangan Camps-Elysees dari atas Arc de Triomphe

Pemandangan Camps-Elysees dari atas Arc de Triomphe

Eiffel Tower terlihat dari atas Arc de Triomphe

Eiffel Tower terlihat dari atas Arc de Triomphe

Itulah malam terakhir kami di Paris, dan juga malam terakhir di Perancis. Keesokan harinya, kami akan berangkat ke….MILAN, ITALI!!

Perjalanan ke Itali akan dilanjutkan di post berikutnya ya. Capek nih. *lap keringet*

Interstellar. A Non-Scientific Review.

Standard

[WARNING: OBVIOUSLY there would be spoilers]

Much has been written about Interstellar, especially the physics and other ‘science’ bits. I wouldn’t go that way again. Besides, what does an advertising guy know about astrophysics?

Overall, with this movie I think Nolan has redeemed himself from that horrendous ‘The Dark Knight Rises’ (my review here. Oh, do read the comments section – you’d think JKT48 got rabid fans? They are nothing compared to Nolanians!). Interstellar was still not at the level of ‘The Dark Knight’, but at least it got my attention, and a moving story.

(source: imgur.com)

(source: imgur.com)

And a good movie, to me, is when it got me thinking over bigger themes. It does not matter whether it is an animated feature like Wreck-It-Ralph or high budget production like Interstellar, a good story not only entertains, but gently offers you themes to discuss. So these are the (non-scientific) themes I picked up in the movie:

  1. Mankind fragility. I think majority of people still live under the delusion that we are master of this planet. We are not. We are actually a single annoying species that kills other species and wreck Earth’s beauty. The planet does NOT need us, and it is indifferent about us. So far we got LUCKY, there has been no massive plaque or giant asteroid crashing down on us. But as Interstellar shows, the scenario is out there, and in this case, food shortage due to crop-killing blight.
  2. Human survival instinct. As fragile as we are, we also possess innate ‘will to live’. To survive is written in the deepest crevice of our soul. Whether as individual or as collective species, the threat of extermination can compel us to do the unthinkable courage. It was Cooper’s survival drive (and the desire to his children survive) that emboldened him to join the mission.
  3. The dark side of survival instinct. The dark side of our determination to live? Our equally willingness to achieve it at the expense of other humans’ lives. This is represented by Matt Damon’s. His will to live makes him able to murder others. But he is just one face of billions of humans who will murder to stay alive. Throughout history, we see wars and conflicts that cost so many lives because the others wanted “to stay alive”.
  4. Love as one of the greatest forces in Universe. Physicists currently recognize 4 “fundamental forces” in nature, i.e. strong nuclear, weak nuclear, gravitational, and electromagnetic. In a scene where desperate Anna Hathaway tried to convince the crew to choose the planet where her love had gone before, she talked about love so powerful it transcends time and space (“Why do we still love people who already passed away? It does not make sense”). Cooper dismissed her argument for letting emotion interfere with her rational judgement. But ironically, later we saw that it was exactly the unbreakable father-daughter love that saved the day. And humanity.

I have to admit that the ending when Cooper the father meets Cooper the daughter got my eyes teary. Especially when Cooper Jr. said “You were always my ghost” to her father. This is a unique twist where “ghosts” (which represent irrationality and a concept not recognized in science) got “explained” to be nothing more than communication attempt across time and space.

Interstellar may be classified as a sci-fi movie. But beyond all the mind-boggling science theories and special effects lies the classic tale of humanity. Of our darkest side. Of our brightest hope. And of our strongest capacity to love.

Ngerasain Headphone $1,700, Review Awam Audeze LCD-X

Standard

Kenapa gw seneng dengan social media? Karena kadang2 teman-teman baru di situ membawa gw ke dunia lain yang belum pernah gw kenal. Kali ini, gw jadi menemukan dunia high-end audio.

Jadi suatu hari, gw disapa oleh Mike dari Headfonia Store di Twitter. “Eh, tertarik review headphone? Mereknya Audeze. Ini fotonya”

Audeze-LCD-X-B-BL-Hanging-01-600x600_1024x1024

Okay, tampangnya dari foto cukup sangar. Tapi gw gak pernah denger merek ini sebelumnya. Maklum, gw bukanlah seorang audiophile. Pengetahuan gw tentang merek2 headphone hanya yang mainstream saja: Philips, Nakamichi, Sennheiser, Bose, dll. Maka bertanyalah gw kepada Mike berapa harganya.

“US$ 1,700″

A…apa?

ADA HEADPHONE HARGANYA Rp 20 JUTA LEBIH? APA2AN SIH INI? GW HARUS KERAMAS 7 KEMBANG DULU APA SEBELUM BISA PAKE INI?

Welcome to the world of high-end audio Henry! Kata gw sendiri dalam hati, sambil makan hati.

Gw sempet bilang ke Mike, apa nggak mendingan barang ini direview sama audiophile sejati. Soalnya nyuruh gw nyobain headphone mahal ini apa nggak sama aja kayak gw disuruh nyoba disasak di Alfons. Kagak ngerti lah gw! Tapi Mike ngotot bahwa justru doi pengen orang biasa “mainstream” yang nyoba. Kalo hanya expert sih udah biasa.

Yo wis. Plus ditambah gw emang orangnya kepo-an, gw setuju untuk mencoba headphone Audeze LCD-X ini selama beberapa hari.

Audeze LCD-X ini seluruh penampilannya kalo bisa ngomong, kayaknya doi bakal ngomong “Elu jangan macem2 sama gw deh sob. Gw barang serius punya. Jangan muke gile loe ya”. Liat aja penampilan box-nya yang serem gini, udah kayak ngebawa hulu ledak nuklir.

Ini kotak headphone ato kotak amunisi?

Ini kotak headphone ato kotak amunisi?

Begitu kotak dibuka, terlihat memang headphone ini mendapat perlindungan maksimal yang sesuai dengan harganya. Seluruh unit terlindungi foam.

20141019_153327

Mari kita tengok lebih dekat si Audeze LCD-X ini sebelum kita keluarkan dari kotak

20141019_153338

Headphone ini dikemas dengan kabel yang detached. Jadi harus kita pasang dulu kabelnya. Kental sekali terasa professional grade-nya.

20141019_153444

Pasang dulu kabelnya sebelum didengarkan!

Pasang dulu kabelnya sebelum didengarkan!

Headphone ini bener2 gede. Liat aja perbandingan dengan tangan gw di foto di atas. Uniknya, “bantalan kupingnya” tidak simetris, tetapi membesar di belakang. Menurut penjelasan Mike, hal ini untuk mensimulasikan posisi speaker monitor yang “menghadap ke arah kita”

Perhatikan bantalan yang menebal di belakang

Perhatikan bantalan yang menebal di belakang

Setelah gw keramas dengan air kembang 7 rupa, barulah gw berani memakai headphone ini di kepala. Guys, headphone ini GEDE beneran. Dan berat. Gw merasa terlihat seperti Princess Leia….

Gede....ajah

Gede….ajah

Udah gw bilang mirip...

Udah gw bilang mirip…

Biar kayak Princess Leia yang penting suaranya sob!

Biar kayak Princess Leia yang penting suaranya sob!

Yang penting, Audeze LCD-X ini memang bukan headphone untuk lari marathon, apalagi sambil selfie. Bukannya soal diketawain orang lain. Tapi leher elu sob. BERAT NEH. Ini bener2 headphone untuk kita nikmati di rumah, sambil santai selonjoran di sofa, ditemani istri muda. Eh.

Menurut penjelasan Mike lagi, Audeze LCD-X ini adalah headphone yang bisa dipergunakan oleh professional sound engineer sebagai pengganti speaker monitor. Umumnya seorang sound engineer menggunakan speaker untuk melakukan mixing, tetapi sekarang mulai ada trend menggunakan headphone high-grade. Yang menarik, headphone professional seperti ini justru suaranya disetel “flat”. Maksudnya “flat” di sini adalah, headphone tersebut tidak disetel untuk lebih kuat di bass, atau trebel. Suaranya “jujur” apa adanya. Ingat bahwa headphone ini bisa digunakan untuk mixing di studio, jadi sang sound engineer justru perlu mendengar suara yang jujur, jangan dimanipulasi dulu. Biar doi yang manipulasi dengan keahliannya.

Menikmati Audeze LCD-X ini juga perlu diimbangi perangkat yang emang “layak” untuk doi. Ibaratnya, kalo kita punya Lamborghini, masak tega diisi BBM bersubsidi? Begitu juga headphone ini cocoknya dipertemukan dengan audio system yang mumpuni. Berhubung gw gak punya audio system yang mahal, Mike meminjamkan solusi sementara, sebuah “amplifier portabel”. Barang sebesar powerbank ini bisa “mengangkat” suara yang keluar dari PC atau hape, sebelum disalurkan ke headphone. Asyik ya? Gw gak pernah tahu ada barang seperti ini sebelumnya.

Amplifier portable. Gak tau deh istilah benernya apaan....

Amplifier portable. Gak tau deh istilah benernya apaan….

JADIIII….GIMANA RASANYA SUARA US$ 1,700???

Oke, cukup dengan joke Princess Leia. Mari kita denger suaranya headphone Rp 20 juta lebih kayak apa. Gw bisa mendengar suara penghuni dunia lain kah?

[Catatan: Gw mendengar lagu dari iTunes, menggunakan amplifier portable di atas. Inget bahwa pengalaman gw juga tergantung dari kualitas file lagu yang gw miliki. Kemudian referensi gw adalah headphone yang gw gunakan sehari2. Sebuah headphone Sony dengan Noise Cancelling dengan harga JAUH di bawah $1,700. Hiks.]

Begitu headphone ini dikenakan, maka bantalan Princess Leia segera memberi efek kedap suara dari luar. Walaupun tidak memiliki fungsi noise cancelling, tapi LCD-X memberikan kesunyian alami yang cukup untuk bisa mendengar lagu.

Gw mulai dari lagu pop dulu. Love Never Feels So Good (MJ & Justin Timberlake). Yang gw rasakan pertama-tama adalah….betapa KOMPLITnya suara yang keluar (dibanding headphone sehari2 gw). Ada instrumen2 yang sebelumnya di headphone pribadi gw tidak terdengar atau tidak jelas, di LCD-X ini lebih terdengar.

Masih dengan semangat kekinian, gw pindah ke A Sky Full of Stars (Coldplay). Wah, Jennifer Lawrence denger suara lead vocalnya di sini bisa langsung bunting. Yg gw suka, lagu ini terdengar efek “space”/ruang luar. Gw seperti ada di tengah2 panggung yang lapang.

Pindah ke lagu jadul. Love in An Elevator (Aerosmith) untuk ngetes lagu rock. Walaupun gw mendengar tidak mengubah EQ (Equalizer), dentuman drum terdengar cukup berdebum untuk selera gw.

Habis basah kena muncratan Steven Tyler, gw pindah dengerin konser Live in Paris-nya Diana Krall, dengan lagu Fly To The Moon. Berbeda dengan Coldplay tadi, di sini gw rasanya duduk dekat sama mbak Diana dan panggung. Betotan bas-nya jelas banget. Gw juga seneng denger permainan drumnya yang “basah”. Lagu ini kebetulan ada sesi piano instrumental, dan denting pianonya sexy banget. Gema-gema pendek dari tiap denting terdengar jelas.

Kemudian gw penasaran dengan musical. Apalagi piece yang epic. Apakah vocal keroyokan bisa terdengar dengan baik. Maka pindahlah gw ke One Day More dan Do You Hear The People Sing (Les Miserables), lagu favorit gw di musical ini. Chorus di kedua lagu ini terdengar jelas. Walaupun jujur, gw merasa lagu musikal ini seperti lebih enak didengar dari speaker daripada headphone.

Pindah ke komposisi klasik tanpa vocal, gw memilih Overture dari Handel’s Messiah. Komposisi ini didominasi string, dengan nada2 dramatis seperti soundtrack film Hollywood. Violin dan cello yang bersahut2an di lagu terdengar “tajam” dan “adil”, tidak ada yang kalah satu dari yang lain.

Let’s Fall in Love (Frank Sinatra) menguji Audeze LCD-X untuk lagu2 jazz dengan big band. Di sini gw hepi banget. Vocal Sinatra yang khas bertemu dengan keramaian instrumen big band jadi harmoni yang pas.

Terakhir, gw menutup dengan band favorite gw sepanjang masa, Under Pressure (Live in Montreal – Queen). Ini lagu klasik dari Queen tapi diambil dari konser live. Petikan bass yang menjadi icon lagu ini langsung bikin goyang. Freddie Mercury membuktikan bahwa dia masih one of the greatest voices in history. “Gema” yang khas ada di rekaman live tertangkap dengan jelas. Rasanya Freddie bagai turun dari surga :’)

 

Penutup

Gw bukan seorang audiophile professional, jadinya gw pasti gak punya “kuping emas” layaknya para ahli. Tetapi Audeze LCD-X ini bener2 sesuai dengan harganya yang hampir 10x UMR DKI Jakarta.

Gw pribadi mungkin tidak akan membeli headphone high-end seperti ini. Selain harganya yang nggilani, gw bisa tidur di sofa kalau ketahuan istri beli barang seperti ini. Tetapi gw yakin pasti ada pecinta audio di luar sana yang mau membayar untuk pengalaman audio yang top quality. Karena “mainan laki2″ itu tergantung selera subyektif (seperti ada cowok2 yang menghabiskan uang untuk hobi otomotif, atau gaming, dll). Jadi untuk cowok2 kelebihan duit yang udah bosen main motor, main mobil, kawin lagi, mungkin bisa melirik dunia high-end audio nih. Sedikit lebih murah dari kawin lagi kok.

Yah, minimal gw pernah ngerasain headphone Princess Leia seharga Rp 20 juta lebih di kepala gw! New story to tell! Untuk yang penasaran mau nyobain Audeze LCD-X ini, bisa ke Headfonia Store di STC Senayan (www.headfoniastore.com)

(Thanks Mike!)

Tunggangan Om2 Keren! Review Awam #SerenaExperience

Standard

“Eh, kamu mau nyobain Nissan Serena gak? Dipinjemin 3 hari selama weekend…”

He?

Jujur awalnya gw merasa ragu2. Pertama, gw belom pernah dipinjemin mobil sama orang selama itu (terakhir gw minjem mobil bokap buat 3 jam waktu kuliah rasanya udah ngeri banget.) Kemudian, gw gak kebayang menggunakan Nissan Serena. Bukannya apa-apa, selama ini gw selalu nyetir mobil SUV, paling banter Innova sekali2. Tetapi “minibus keluarga” seperti Serena, Alphard, Biante, dll belum pernah.

Tapi gw pikir2 lagi, ah why not nih. Harus sekali2 eksperimen dengan barang baru. Itung2 belajar sesuatu yang baru.

Jadi tibalah si Serena baru ini di Jumat sore. Berhubung gw harus ngantor, maka gw baru bisa mencoba di malam hari. Begitu duduk di kursi penumpang depan (saat itu masih ada driver yang disediakan Nissan), pikiran yang pertama terlintas di benak gw adalah:

“Buset, gede aja nih mobil”

Perasaan ini kayaknya disebabkan ruang di atas kepala gw yang masih “banyak” (maksudnya jarak dari ubun2 gw ke atap mobil cukup jauh). Biasanya mobil2 SUV yang pernah gw kendarai (Taruna, Rush, CRV) tidak punya ruang di atas kepala sebesar gitu. Duduk sebagai penumpang di depan berasa banget ruang leganya. Anyway, karena sudah malem, gw pikir lebih baik mencoba si Serena baru ini lebih detil hari Sabtu dan Minggu saja.

Hari Sabtu, gw memutuskan mengajak nyokap dan istri jalan-jalan ke perumahan Sentul City, Bogor. Kebetulan nyokap orangnya seneng melihat2 perumahan baru di luar kota. Gw pikir sekalian ngetes si Serena di kecepatan tinggi. Dan gw juga pengen mencoba menyetir sendiri si Serena ini.

20141011_071750

Saat nyobain duduk di kursi pengemudi, yang kerasa ruang lapang nan legawa (lebih legawa dari parpol!) Tinggi gw 180 cm, jadi kebayang kan gw perlu ruang kaki yang cukup. Dan di Serena ini duduknya nyaman. Dashboard juga modern dengan indikator full digital. Yang asik radio udah full touch screen, dan merangkap layar DVD dan monitor kamera belakang.

Dashboard futuristik dan radio full touch screen

Dashboard futuristik dan radio full touch screen

Yup, ada kamera belakang. Bukan untuk ngintip tante2 yang lewat di belakang, tetapi untuk keselamatan saat memundurkan mobil. Jadi kalau obyek sudah ada di batas merah, artinya sudah deket banget sama bumper. Asyik ya! Parkir atau mundur jadi gampang, gak usah menoleh ke belakang. Selain nyaman, juga menambah keamanan. Kita bisa memastikan tidak ada anak kecil, binatang, hidran di belakang kita. Atau tante2.

Saat memasuki gigi mundur, display radio menjadi monitor belakang

Saat memasuki gigi mundur, display radio menjadi monitor belakang

Interior Serena untuk penumpang juga asik. Baris tengah diisi dua kursi kapten, jadi dua orang bisa duduk di kursi sendiri dengan eksklusif. Selain nyaman, keuntungan kursi kapten ini adalah adanya ruang “lorong” di tengah sehingga sangat memudahkan orang yang hendak duduk di baris ketiga.

Nyokap gw yang lumayan sepuh sudah tidak bisa berjalan selancar waktu muda. Kalau keluar rumah pun dia memerlukan tongkat. Biasanya beliau agak sulit kalau harus naik mobil sedan (karena rendah), atau SUV (karena lantai yang agak tinggi). Tetapi di Nissan Serena ini nyokap gampang naik turunnya. Ground clearance (jarak lantai mobil ke jalan) relatif tidak terlalu tinggi, dan postur mobil yang tinggi juga memudahkan beliau naik duduk dan turun. Buat gw ini penting untuk keluarga dengan anggota keluarga yang sudah sepuh.

Nyokap gampang keluar/masuk dan duduk dengan nyaman

Nyokap gampang keluar/masuk dan duduk dengan nyaman

Gimana rasanya nyetir Serena? Nah, di sini gw cukup kaget.

Begini, dulu2 gw punya anggapan bahwa mobil keluarga besar seperti Serena pasti “berat” dan gak gesit. Kebayangnya kayak nyetir gajah. (Eh, gajah disetir atau ditunggangi ya?) Tetapi surprisingly, Serena ini SANGAT nyaman dikendarai. Untuk ukuran mobil sebesar ini, dengan mesin 2000 cc, Serena cukup gesit dengan akselerasi lumayan. Tentunya jangan dibandingkan dengan mobil SUV/sedan transmisi manual ya soal akselerasi. Lagian kalo elu lagi bawa mobil keluarga berisi istri, anak, eyang, mertua, babysitter, dll, ya masak mau bergaya Fast & Furious? Mau dimuntahin 6 orang sekaligus apa?

Nyaman disetir. Apalagi matic

Nyaman disetir. Apalagi matic

Awalnya gw takut apakah nyetir Serena jadi kagok di jalan, ternyata terbukti ketakutan tersebut tidak beralasan. Di dalam kota gw masih bisa nyelap-nyelip dikit. Dan di jalan tol juga terasa mantap. Gw nyoba sampai kecepatan 120 km/jam, dan Serena baru ini tidak merasa “melayang” sama sekali.

Pengalaman jadi penumpang juga oke. Ada sunroof yang bisa dibuka, sehingga cahaya matahari bisa masuk. Tapi sunroofnya bukan kebuka “bolong” kayak film2 gitu ya. Jangan ngebayangin elu bisa nongol di atep sambil megang AK47/RPG terus tembak2an sama penjahat! Ini fungsinya lebih untuk melihat pemandangan, dan juga membuat mobil lebih terang dengan masuknya cahaya matahari. Ini foto nyokap gw asik di dalem mobil, berjemur matahari tapi tidak kepanasan karena ber-AC.

Nyokap jadi tamu VIP, menikmati matahari dari sunroof :)

Nyokap jadi tamu VIP, menikmati matahari dari sunroof :)

Sampai di Sentul, kami pun jalan2 keliling iseng, mencari spot2 bagus. Perumahan Sentul City ini kebetulan banyak titik pemandangan yang bagus, dengan pohon cemara dan latar belakang Gunung Pancar. Akhirnya kita foto2 dulu dengan si Serena ini, sekalian nyenengin yang udah minjemin. Ihiy! :D

Masih kayak om2 gak?

Masih kayak om2 gak?

Ukurannya pas buat gw. Dan tampangnya cukup "maskulin", iya gak sih?

Ukurannya pas buat gw. Dan tampangnya cukup “maskulin”, iya gak sih?

Mobil keluarga kapasitas lumayan, tapi gak sebesar Alphard. Jadi pas menurut gw.

Mobil keluarga kapasitas lumayan, tapi gak sebesar Alphard. Jadi pas menurut gw.

Tampang depan yang menurut gw cukup "garang"

Tampang depan yang menurut gw cukup “garang”

Kami pun menjelajah Sentul City sampai ke cluster terujung yang sudah dekat kaki Gunung Pancar.  Di kontur yang naik turun/berbukit-bukit, Serena nyaman dikendarai baik sebagai pengemudi maupun sebagai penumpang.

Biarpun hanya mobil pinjaman, tetep gaya! Hihihi....

Biarpun hanya mobil pinjaman, tetep gaya! Hihihi….

Sebagai penumpang, pengalaman naik Serena lebih enak lagi. Iye sih, namanya disetirin sih pasti enak. Tapi maksud gw adalah fitur2 untuk penumpang, yang membuat kita merasa seperti naik pesawat kelas business. AC double blower menjamin penumpang di belakang kebagian angin dingin. Dan ada tray cukup besar sehingga kita bisa kerja dengan laptop/tablet di tengah kemacetan.

AC double blower, dan bisa dikontrol sendiri oleh penumpang baris kedua

AC double blower, dan bisa dikontrol sendiri oleh penumpang baris kedua

Bergaya kerja, padahal Twitter-an....

Bergaya kerja, padahal Twitter-an….

Selfie para penumpang Serena

Selfie para penumpang Serena

Sesudah puas keliling2 (dan berlagak nyari rumah, padahal stress pas denger harganya…), petualangan Sherina, eh Serena pun berujung di makan siang yang lejat, yaitu bakmi YungSin di kota Bogor. Endeus Bedeus!

Ngebakmi dengan dua "Nyo": nyokap dan nyonya

Ngebakmi dengan dua “Nyo”: nyokap dan nyonya

Jalan-jalan hari Sabtu pun cukup sampai di situ, dan kamipun mengantar nyokap pulang sebelum kamipun pulang.

Hari Minggunya adalah hari ultah nyokap, dan seperti biasa keluarga kecil nyokap biasanya merayakan dengan makan di restoran. Momen yang pas banget karena ada Serena pinjaman ini! Serena ini bisa menampung 7 orang (termasuk pengemudi), tetapi dalam keadaan terdesak, 8 orang  masih bisa muat.

Inget kalo tinggi gw 180 cm kan? Jadi gw ngetes, dengan setelan kursi pengemudi untuk gw, gw terus mencoba duduk di kursi persis di belakangnya. Surprise, bahkan ketika kursi pengemudi sudah disesuaikan untuk seseorang tinggi 180 cm, gw masih nyaman duduk persis di belakangnya (padahal gw belum memundurkan kursi yang di tengah ini). Ini bener2 membuktikan betapa lapangnya space untuk kaki di Serena ini.

Bahkan jika gw disetirin kembaran gw sendiri, gw masih duduk nyaman di belakangnya!

Bahkan jika gw disetirin kembaran gw sendiri, gw masih duduk nyaman di belakangnya!

Maka berangkatlah bokap, nyokap, gw, kedua kakak gw, kakak ipar, dan keponakan. Semuanya muat di Serena. Berhubung bokap gw senang menyetir (padahal usianya sudah lebih dari 70 tahun), gw pun mempersilahkan beliau untuk test drive. Tadinya gw pikir dia bakal kagok, karena kebiasaan menyetir manual dan mobil kecil. Lho, taunya doi cepet banget lancarnya.

Bokap langsung cus naik Serena!

Bokap langsung cus naik Serena!

Tadi gw bilang Serena ini sebenarnya bisa mengangkut sampai 8 orang, karena ada fitur unik di dalamnya. Tahu kan area laci/tempat kopi yang ada di antara pengemudi dan penumpang depan? Laci ini ternyata bisa diubah menjadi bagian bangku tengah yang mengisi di antara kedua kursi kapten di baris kedua! Untuk jelasnya di foto ini:

Posisi normal. Baris kedua ada 2 kursi kapten. Posisi laci pengemudi tak terlihat

Posisi normal. Baris kedua ada 2 kursi kapten. Posisi laci pengemudi tak terlihat

Laci pengemudi bisa diubah menjadi bagian bangku, dan didorong ke belakang, sehingga menjadi bangku “terusan” seperti di mobil2 keluarga lainnya. Jadinya baris kedua juga bisa menampung 3 orang! Jadi konfigurasinya dari depan bisa: 2 – 3 – 3 (total 8 orang).

Sekarang baris kedua bisa untuk 3 orang

Sekarang baris kedua bisa untuk 3 orang

Tetep selfie lagi. Perhatikan ekspresi bokap yang masih gak ngerti selfie itu apa....

Tetep selfie lagi. Perhatikan ekspresi bokap yang masih gak ngerti selfie itu apa….

Sesudah makan di restoran favorit bokap di Kelapa Gading, keluarga Manampiring pun pulang ke rumah. Sekali lagi, gw masih kagum dengan betapa ramahnya mobil ini untuk anggota keluarga yang sudah sepuh atau sulit berjalan. Menurut gw ini faktor yang sangat perlu dipertimbangkan jika calon pembeli memiliki keluarga besar.

Perhatikan ground clearance yang pendek, dengan body yang tinggi, membuat orang tua mudah keluar masuk

Perhatikan ground clearance yang pendek, dengan body yang tinggi, membuat orang tua mudah keluar masuk

Kesimpulan

Nissan Serena baru ini menyenangkan, baik untuk yang nyetir, maupun yang disetirin. Untuk yang nyetir, menurut gw ukurannya pas di dalam kota yang macet. Pas untuk bermanuver di dalam jalan kecil dan parkiran sulit sekalipun. Mesin cukup bertenaga, dan performa di jalan tol juga oke.

Penumpang memang lebih dimanjakan lagi dari pengemudi. Kursi kapten di baris kedua yang nyaman, ruang kaki lega, sampai ramah dan mudah untuk yang anggota keluarga yang lanjut usia. Plus sunroof yang menambah fun keluarga, Nissan Serena ini memang cocok untuk om2 keren yang sudah berkeluarga dan sayang keluarga. Halah.

Tetapi Nissan Serena ini rasanya juga cocok untuk cowok2 single yang siap melamar. Bayangin kalo kamu ngapelin pacar dan siap mengangkut bokapnya, nyokapnya, kakaknya, eyangnya, dan doberman-nya untuk membantu mengawasi kamu selama pacaran. Pasti keluarga pacar langsung jatuh cinta dan memberi restu! Jadi selain menjadi tunggangan “om2 keren”, Nissan Serena juga membantu pencitraan “CALON om2 keren” bagi para cowok single. Sedaaaaap!!

Demikian review awam gw tentang Nissan Serena yang baru. Terima kasih Nissan untuk pinjamannya! Untuk pembaca yang tertarik dengan Serena ataupun mobil2 Nissan lainnya, bisa mengikuti akun Twitter @NissanID untuk informasi lebih lanjut!

:)

Memilih 2 dari 3 Aspek Wanita: Sebuah Analisa Ekonomi

Standard

Jadi beberapa tahun yang lalu, gw pernah mendengar joke, bahwa kalo seorang cowok mencari pacar (wanita), dia hanya bisa mendapatkan 2 dari 3 atribut ini: cantik, cerdas, baik-hati. Artinya:

  • Pacar yang cantik dan cerdas, gak baik hati.
  • Pacar yang cantik dan baik hati, gak cerdas
  • Pacar yang cerdas dan baik hati, gak cantik

Waktu mendengar joke ini, gw ketawa. Anehnya, setiap gw ceritain lagi ke cowok2 lain, juga banyak yang ketawa, dan somehow merasa ada “benar”nya joke ini. Belum lama ini gw juga menulis hal yang sama di Ask.fm (account: manampiring), dan akibatnya harus meladeni banyak pertanyaan dan protes orang-orang. Jadi gw memutuskan menulis di blog ini agar bisa membahas lebih rinci.

Dengan semangat peribahasa Latin “Disccusio Non Pentingo Et Pentingo Bangeto” (Bahaslah Hal-Hal Gak Penting Menjadi Penting), maka gw memutuskan melakukan analisa, apakah ada kebenaran di balik joke di atas.

Setelah gw pikir2, mungkin ada kebenaran di balik joke ini, dan bisa gw jelaskan dengan prinsip ekonomi limited resources (sumber daya terbatas). Maksudnya, kita semua bisa mengembangkan aspek diri kita ke mana saja, tetapi sumber daya yang kita miliki terbatas (uang, waktu, tenaga, kesabaran). Akibatnya, kita harus memilih dan mengorbankan yang lain.

Sebagai contoh: seorang pria yang niat habis2an punya badan kayak Dwayne Johnson mau gak mau harus menghabiskan waktu berjam2 di gym, dan uang untuk beli steroid dan Balpirik. Nah, waktu dan uang yang habis di gym dan steroid/Balpirik ini otomatis tidak bisa dipakai untuk membeli buku astrofisika, mendalami piano klasik, atau pacaran dengan manusia. Something’s Gotta Give.

Kalo seneng main game RPG, pasti gampang ngerti prinsip ini. Saat awal pembuatan karakter, biasanya kita harus memilih hendak mengalokasikan XP (Experience Points) ke atribut yang mana: intelligence, dexterity, strength, magic, etc. Gak mungkin kita jago di semua hal, dan kita harus memilih karena limited resources tadi.

Kembali ke masalah “cowok hanya bisa mendapatkan 2 dari 3 aspek wanita”. Dengan menggunakan prinsip limited resources, maka kita bisa menjelaskan fenomena tersebut.

Kecantikan, kebaikan, dan kecerdasan, adalah 3 aset (atau aspek), yang membutuhkan sumber daya untuk dikembangkan (walaupun kecantikan dan kecerdasan juga dipengaruhi faktor genetis). Dan wajar kalau seorang wanita harus memilih hendak mengalokasikan resources-nya di aspek yang mana.

Kalo seorang wanita terlahir cantik, dia sudah beruntung secara genetis, dan dengan kecantikan ini dia tinggal harus memilih, mau mengembangkan budi pekerti (baik), atau kecerdasan. Jangan lupa bahwa kecantikan tetap perlu resource untuk ditambah lagi (enhanced), atau sekedar dipertahankan. Seorang wanita bisa memilih untuk tetap kece dan juga baik hati, ramah, tidak sombong, dan pergi ke Afrika untuk menjadi relawan. Tetapi menggunakan eyeliner sambil menggendong anak2 Afrika ini artinya menghabiskan tenaga dan waktu yang bisa digunakan untuk kuliah S4, belajar coding, atau membedah buku 50 Shades of Grey.

Atau dia bisa memilih untuk tetap kece dan juga cerdas. Artinya dia bisa memasang bulu mata palsu dan sedot lemak sambil menghadiri kuliah umum Stephen Hawking, melakukan riset obat PMS, dan menyelesaikan Candy Crush. Tetapi kebayang kan, cewek seperti ini pasti sudah tidak punya waktu dan tenaga untuk nonton acara Mario Teguh, menepuk2 anjing Herder tetangga, atau masuk ke rumah yang sedang terbakar untuk menyelamatkan kucing yang terjebak di dalam. Ingat, limited resources!

Dan bagaimana dengan wanita yang terlahir tidak cantik?

Untuk yang terlahir tidak cantik, dia tetap punya pilihan untuk menjadi cantik, dengan bantuan uang sendiri atau uang putra konglomerat yang tolol. Jika dia berhasil bertransformasi, umumnya dia akan berpindah ke kategori di atas. Tetapi untuk berubah total dari tidak cantik menjadi cantik membutuhkan resources awal yang luar biasa (Dr. Tompi setau gw tidak murah…) dan sebagian besar wanita tidak memiliki resources sebesar ini.

Yang artinya, wanita yang tidak cantik bisa mengalokasikan resources-nya untuk mengembangkan kepribadian (baik hati) dan juga kecerdasannya. Dia memiliki waktu untuk serius belajar dan bersekolah, dan juga menjalani kehidupan sosial yang ramah dan bersahabat. Makanya kalau sudah tidak cantik, ngehek, dan bego itu sangat disayangkan, karena ada resources yang tidak digunakan dengan semestinya.

Maka jelas kan sekarang, mengapa ada kebenaran di balik “cowok hanya bisa mendapatkan 2 dari 3: cantik, cerdas, baik hati”? Penjelasannya sesederhana “sumber daya terbatas” yang harus diprioritaskan dan dialokasikan. Terbukti, dengan prinsip ekonomi, kita bisa menjelaskan banyak hal!

Jadi cowok2, apa pilihan kamu? Cantik-cerdas, cantik-baik hati, atau cerdas-baik hati?

 

Disccusio Non Pentingo Et Pentingo Bangeto!

 

(PS: Eh tolong lah gak usah terlalu serius nanggepinnya. Jangan post hate-comment dong. Kecuali kamu emang cewek cantik-cerdas….)

Guardian of the Galaxy And Typology of Friends

Standard

It’s probably a bit late to write about Guardian of The Galaxy (GoTG), but a movie that good deserves some writing. Also, this time I do not want to write a “review”, but more of a thought inspired by it.

Guardian of The Galaxy to me, without doubt, is the MOST FUN movie of 2014 (as I write this there is 3.5 months to go. So let’s see what Hollywood still has to offer…). I am not a Marvel reader, and had no knowledge whatsoever about GoTG the comic book. When I saw the poster, I was very skeptical. What a freak ensemble! Why is there a tree? Why is there a walking Raccoon? This gotta be a ridiculous and idiotic movie. But I got invited for free screening, so hell, why not.

I left the cinema with a 5 year-old WIDE smile on my face. I literally felt HAPPY at the end of the movie. There was so much laughter, but also touching moments in the movie. Yes it is not an “art” movie, and probably it won’t win any Oscar beyond special-effects or art-direction (which is very nice), but goddamit, the movie makes me happy, and it is enough for me.

With all its epic space adventures, aerial combat, bone-crunching fighting action, and all that, I couldn’t miss the most beautiful theme of the movie, and that is: friendship.

To me, GoTG joins the list of Hollywood’s great stories of friendship. I personally love friendship movies. Romantic love stories are all nice and beautiful, but we know in real life it’s all crap. Most infatuation and romantic sparks die after some time (I blame it on how the brain chemical for love works). But true friendship endures. An in GoTC, I find several typologies of friends as represented by the ragtag band.

(souce: geek.com)

(souce: geek.com)

[SPOILER AHEAD]

Let’s start with Starlord/Peter Quill. To me he reminds of that funny friend who seems like the sun hangs over him all the time. Never looking sad, always quick to throw wisecracks, the life of the party. But often, funny friends like this actually hide a sadness. In Starlord’s case, he lost his mother at such early age. And worse, he was uprooted from his earth home and raised and grew up in an alien family.

Gamora, the green chick (and still hot!). She represents the friend with a dark past. She/he has done something bad in the past, but she regrets it, and is on the way to redemption.

Drax. He represents the “constantly angry” friend. He/she might have short temper, does not have good sense of humor (as Drax cannot understand metaphors). He/she might have been wronged in the past, which explains his vengeful nature. He/she may not be a very sociable being, and may be intimidating to most people. But he takes friendship seriously, and he will stand by them, and defend them without hesitation.

Rocket. Ah, my favorite character. The quick-witted, street smart friend. He embodies independence and self-sustenance. He has serious trust issue, and probably the most difficult to start new friendship. His ‘best friend’ is practically a mute. But all this ‘tough talk’ actually hides a terrible past. Rocket was ‘created’ in the lab, subject to inhuman (or in-racoon?) experiments, and with virtually no family to grow up in, Rocket was left to fend for himself since young,

Last, everybody’s sweetheart, Groot. To me, he represents that not-so-smart friend. We all have that friend who most consider ‘slow’. But what Groot lacks in intelligence or articulation, he compensates with pure, unquestioning loyalty. And his ultimate demonstration of loyalty to friends is when he was willing to give up his life, so his friends can save theirs.

But here’s the beautiful thing. All the five cast look different, talk different, have different background and different temperament. Yet in the end they all become friends. And this has parallel in our real lives also. Look at your best friends – do they look, talk, behave exactly like us? Some may do, but I think most of them are different. And yet those differences do not really matter when we become friends.

I truly believe we meet one or more, if not all, the cast of Guardians of The Galaxy in our lives, as friends. They are more than meets the eyes. Beneath whatever personality they display outside, the funny, the streetsmart, the angry, the quiet, the ‘dumb’ – there is history, past, and background. The true friends know each other beyond the outer layer. And true friendship stays even with the all the “back stories” – because friends accept each other in complete package.

So here’s to friendship, and all the types of friends we might have. And to the beautiful stories we weave together as friends.

And perhaps along the way, we can save a galaxy.

:)