The Alpha Girl’s Journey

Standard

Sudah 4 bulan berlalu sejak buku The Alpha Girl’s Guide terbit di awal Desember 2015, dan gw baru sadar gw belom pernah menulis blog post tentang buku ini. Seiring perjalanan buku ini, dan sesudah mendapat banyak input dari pembaca, rasanya sudah saatnya menulis tentang awal mula dan sedikit perjalanan dari buku ini sampai saat ini.

The Alpha Girl’s Guide adalah buku ketiga yang gw tulis. Buku ini bukanlah buku yang “direncanakan” sejak lama, tapi lebih terjadi secara spontan. Berawal dari sebuah pertanyaan seorang remaja perempuan di media sosial Ask.fm, “Om, untuk apa sih perempuan harus bersekolah tinggi, kalo ujung2nya hanya di dapur saja?” Jawaban “sarkas konstruktif” gw tanpa disangka-sangka mengundang ribuan likes, dan pertanyaan-pertanyaan mengenai pilihan perempuan yang serupa. Tanpa direncanakan, gw pun terseret ke dalam pusaran (halah!) kegalauan perempuan mengenai pilihan pendidikan, pekerjaan, pacaran, sampai pernikahan. Sampai akhirnya follower di Ask.fm sendirilah yang menganjurkan gw untuk membukukan jawaban-jawaban yang gw berikan agar memudahkan orang lain untuk mengaksesnya kembali.

Gw nggak percaya dengan “universe” yang sinkron untuk mewujudkan sebuah angan, tapi kebetulan sekali berdekatan dengan ide menulis buku tentang perempuan, Penerbit Gagas Media menghubungi gw sebelum libur lebaran 2015 untuk mencari kesempatan bekerja sama. Ya pas banget sih. Dan akhirnya kami sepakat mencoba project menulis buku yang ditujukan kepada remaja perempuan, menyentuh topik-topik yang menyentuh kehidupan sehari-hari mereka.

Proses penulisan terjadi paling intens selama libur lebaran 2015, karena gw kebetulan tidak kemana2. Setiap hari selama liburan gw memaksa diri untuk menulis, memakai kuota. Pokoknya minimum gw harus menulis minimal 2,500 kata setiap harinya. Dan seusai libur lebaran bisa dibilang 70-80% isi buku sudah selesai. Selanjutnya adalah proses mencicil tambahan isi. Buku ini ditulis tidak hanya mengandalkan opini dan pengamatan pribadi, tetapi juga riset artikel psikologi, dan interview dengan perempuan-perempuan yang saya anggap smart dan inspiratif, termasuk jurnalis nasional Najwa Shihab dan aktivis muda Alanda Kariza.

Karena buku ini ditujukan kepada remaja, bahasa yang digunakan cenderung ringan, tanpa mengurangi keseriusan isi. Ilustrasi kocak juga diberikan di sana-sini agar tidak membosankan. Dan akhirnya draft final buku yang diberi judul The Alpha Girl’s Guide ini selesai di bulan November 2015, naik cetak, dan mulai dijual di toko buku fisik dan online di bulan Desember 2015.

Adobe Photoshop PDF

Pertanyaan yang paling sering gw terima adalah, “Mengapa cowok menulis tentang kemajuan perempuan?”Well, jawaban pertama adalah why not? Mempertanyakan gender tertentu boleh atau tidak menulis sebuah topik bukannya sikap sexist ya? Jika saya menemukan buku bagus tentang menjadi laki-laki yang lebih baik karya penulis perempuan, saya tetap saja senang membacanya, tanpa harus memusingkan gender penulisnya. Bagi saya wisdom, knowledge harus diterima dari siapa pun, tanpa mendiskriminasi gender.

Jawaban kedua saya untuk pertanyaan di atas adalah, “Justru saatnya ada suara laki-laki di topik ini”. Perempuan-perempuan hebat yang menyerukan kemajuan sesamanya sudah banyak sekali. Masalahnya, bagi perempuan muda dan remaja, seringkali keputusan hidup mereka dipengaruhi opini lawan jenis. Hal ini sangat manusiawi, karena adanya kebutuhan mencari pasangan, baik sebagai tuntutan biologis maupun konstruksi sosial. Banyak perempuan yang mengira semua laki-laki tidak menyukai perempuan smart dan independen, dan ini menahan diri mereka untuk mengejar pendidikan atau berkarir di bidang yang mereka inginkan. Dalam hal ini, buku gw semoga menjadi “suara laki-laki” yang berbeda, yang mewakili banyak laki-laki yang tidak hanya menerima, bahkan sangat mendukung perempuan-perempuan yang mau berprestasi setinggi-tingginya.

Kenapa “Alpha Girl”? Judul buku ini dipengaruhi konsep “Alpha Female” (“Alpha Girl” maksudnya adalah Alpha Female remaja/muda). Berawal dari penelitian binatang berkelompok, konsep Alpha Male dan Alpha Female merujuk pada jantan dan betina yang dominan di sebuah kelompok binatang (“Alpha” adalah alfabet Yunani pertama, menjadi simbol pemimpin/yang diutamakan). Belakangan konsep ini juga diterapkan pada mahluk sosial lain: manusia. Kenyataannya di sekeliling kita bisa dilihat laki-laki atau perempuan yang dominan dan diikuti oleh teman-temannya. Perhatikan setiap kelompok pertemanan laki-laki atau perempuan, akan selalu ada satu orang yang secara alami menjadi pemimpin yang lain kan?

Buku ini bertujuan mencari benang merah, atau sifat-sifat apa yang ada di antara para perempuan smart, mandiri, dan anti-galau yang bisa dipelajari oleh para remaja perempuan. Inspirasi buku ini didapat dari wawancara langsung para perempuan-perempuan hebat, dari orang sekitar sampai tokoh terkenal seperti Najwa Shihab, dan juga riset banyak artikel. Buku ini dibagi menurut aspek kehidupan sehari-hari target pembaca remaja/muda: bagaimana seorang Alpha Girl bersikap di sekolah, pertemanan, pacaran, sampai memulai pekerjaan. Tujuannya adalah agar mereka lebih menghargai pentingnya pendidikan bagi perempuan, mengapa perempuan harus siap mandiri, berteman yang bijak dan konstruktif, pacaran sehat yang menghormati tubuh sendiri, sampai bagaimana sifat dan sikap profesional saat mengawali dunia kerja.

Tanpa disangka, saat blog ini ditulis, 4 bulan sesudah The Alpha Girl’s Guide diterbitkan, buku ini sudah mengalami cetak ulang sebanyak 5 kali. Gw cukup terkejut dengan respon pembaca yang sangat positif. Tetapi lebih dari sekedar penjualan, gw lebih tersentuh dengan begitu banyak komentar positif yang berdatangan di platform Ask.fm. Dari pembaca remaja yang merasa menjadi lebih semangat belajar, sampai ibu yang senang karena putrinya tidak galau lagi sesudah membaca buku ini, bahkan sampai guru-guru yang membelikan buku ini untuk koleksi perpustakaan sekolah. Ketika gw mendapat laporan bahwa buku gw bisa membuat orang lain lebih semangat berprestasi, mengejar cita-citanya, di situ gw sudah merasa sangat bahagia.

Saat blog ini ditulis, sudah beberapa kali acara Meet & Greet dilakukan. Dan gw senang banget mendapat kesempatan berinteraksi langsung, bertanya-jawab, dan berdiskusi dengan pembaca.

Gramedia Depok dan Kelapa Gading…

 

Bekasi….

 

Gramedia Malang Town Square seru dan penuh banget!

 

Gramedia Royal Plaza Surabaya gak kalah seru!

 

Central Park, Jakarta. Membawa Anne Ridwan, Group CEO Publicis One sebagai “big sister” inspiratif bagi adik-adik pembaca.

Setiap Meet & Greet selalu ada pengalaman dan diskusi yang berkesan. Di Kelapa Gading ada yang datang untuk menyempatkan terima kasih karena buku The Alpha Girl’s Guide susah membantu mereka saat mereka sedang down. Di Central Park gw gusar mendengar seorang pembaca yang saat SMA dilarang guru ikut mencalonkan diri menjadi Ketua OSIS “karena dia perempuan” (seriously!) Di Malang saya sampai dua kali menjadi tamu di acara radio, ngobrol dengan penyiar dan juga pendengar. Yang selalu sama di setiap kota adalah antusiasme dan energi yang  besar dari perempuan muda yang ingin bisa mencapai lebih dengan talenta dan passion mereka.

Gw selalu bilang bahwa buku ini bukan benar-benar “karya gw”. Inspirasi buku ini datang dari teman-teman follower di Ask.fm, dan konten datang dari interview dan pengamatan banyak perempuan hebat. Peran saya di sini hanyalah sebagai “perantara”, “penyambung lidah” perempuan-perempuan hebat dengan adik-adik mereka yang memerlukan perspektif berbeda tentang apa itu menjadi perempuan Indonesia.

Harapan gw dari buku ini adalah minimal menjadi bahan pembicaraan dan perdebatan di antara para perempuan muda Indonesia. Buku ini jangan ditelan mentah-mentah, tetapi dibahas dengan kritis. Bagi gw, memulai diskusi tentang pilihan hidup perempuan saja sudah awal yang baik. Lebih bagus lagi kalo semakin banyak perempuan yang tergerak untuk mengejar pendidikan dan berkarya. Karena topik ini tidak hanya menyangkut kesejahteraan dan potensi perempuan saja, tetapi juga seluruh bangsa. Mengutip Michelle Obama, “Ketika remaja perempuan memperoleh pendidikan, negara tempat mereka berada menjadi lebih kuat dan sejahtera”. Kualitas perempuan Indonesia bukanlah masalah perempuan saja, tetapi tantangan bagi seluruh bangsa ini.  

062813flotus-tumblr-twitter

(Sumber: quotesgram.com)

And The Alpha Girl’s Journey continues!

Review Awam Samsung Galaxy S7 Edge

Standard

Angka keberuntungan ada macem2. Di Indonesia, kayaknya angka 8 dan 9 ya? (Kan ada parpol yang getol banget tuh sama angka 9). Di dunia Barat, kalo gak salah angka 7 dianggap beruntung (karenanya ada istilah “Lucky Seven”). Well, kebetulan sekali di tahun 2016 ini Samsung meluncurkan si kembar tidak identik, Samsung Galaxy S7 dan S7 Edge. Is this truly Samsung’s lucky seven? Kebetulan toko online terbesar di Cina, JD (website: www.jd.id) telah berbaik hati meminjamkan sebuah unit Galaxy S7 Edge warna hitam untuk saya review!

Untuk yang baru pertama kali membaca review gadget gw, seperti biasa, harus gw ingatkan bahwa ini adalah “review awam”. Artinya gw tidak akan membahas spec sampai njelimet dan detail banget. Ini adalah review pengguna awam untuk pengguna awam. Jadi gw akan hanya mengcover hal-hal sehari2 yang relevan dengan pengguna smartphone umum. Untuk review yang lebih detail sampai warna kabel sampai kisah asmara desainernya, silahkan ke lapak sebelah. Okaaay?

 

Design

Seri Galaxy S, bersama seri Galaxy Note, adalah seri flagship dari Samsung. Seri flagship artinya seluruh harkat dan martabat bangsa diletakkan di pundak kedua model ini. Galaxy S yang muncul duluan setiap tahunnya (sekitar Februari/Maret) selalu dinanti2kan sebagai pembawa inovasi dan teknologi terakhir dari Samsung. Galaxy Note yang keluar Agustus/September akan membawa sedikit penyempurnaan dari seri S, selain mempertahankan tradisi smartphone dengan stylus.

Galaxy S7 Edge adalah penerus Galaxy S6 Edge dengan posisi unik. Tahun 2015, Samsung meluncurkan S6 Edge berukuran layar 5.1 inch dan S6 Edge+ dengan layar 5.7 inch. Galaxy S7 Edge ini berukuran “di antara” dengan layar 5.5 inch. Dugaan gw tidak akan ada lagi S7 Edge+. Jadi pilihan konsumen lebih simple: yang suka layar flat simple, bisa mengambil Galaxy S7 5.1 inch. Yang suka layar lebih besar, atau termehek2 sama layar edge, bisa mengambil Galaxy S7 Edge layar 5.5 inch.

20160305_150149

Yang menarik, untuk display lumayan besar 5.5 inch, S7 Edge terasa SANGAT compact  di tangan. Rahasianya? Bagian body di luar display sangat efisien (bahasa anak sekolahnya: BODYNYA AMPIR LAYAR SEMUA BRO). Rasio layar terhadap body (screen-to-body ratio) S7 Edge adalah 76.1% (bandingkan dengan iPhone 6s Plus yang 67.7% dengan ukuran layar sama). Artinya walau layarnya besar, seluruh bodynya bisa lebih kecil. S7 Edge masuk ke celana skinny jeans kaum hipster bebas hambatan bro! (Jangan tanya kenapa gw bisa punya skinny jeans…..)

Galaxy S7 Edge meneruskan design body metal and glass yang sukses dari Galaxy S6 series. Seluruh body terbalut kaca Gorilla Glass 4 yang sangat keras dan tahan baret (udah gak jaman deh pake screen protector, jelek juga kan keliatannya). Bezelnya terbuat dari metal dengan grade yang sama dengan yang digunakan untuk pesawat terbang. Galaxy S7 Edge terlihat sangat mewah, karena body yang mengkilap dan kinclong. Pokoknya yang lagi telponan pake S7 Edge bisa dijadiin tempat ngaca deh. Satu-satunya kelemahan dari body kaca adalah sidik jari yang berminyak mudah menempel. Kalau pake S7 Edge ini pasti bakal sering2 ngelap di baju orang lain (satpam, boss, mantan) deh, karena pengen tetep kinclong.

Penampilan premium ini sekilas tampak sama dengan pendahulunya S6 Edge, tetapi saat kita memegangnya baru berasa bedanya. Hal ini karena punggung S7 Edge dibentuk tidak flat banget, tapi ada sedikit curve di tepi (terinspirasi design Note 5, dan mengingatkan pada Galaxy S3). Hal ini membuat S7 Edge SANGAT nyaman di genggaman – seperti memegang batu kali/pebble yang mulus lonjong. Tampaknya Samsung mendengar masukan bahwa S6 Edge yang memiliki sudut tajam dianggap tidak nyaman bagi sebagian orang.

20160305_150231

Kamera sudah hampir rata dengan body. Perhatikan tepi body yang sudah curved.

Perhatikan juga kamera belakang sudah tidak “bejendol” seperti S6. Samsung berhasil merampingkan design lensa dan sensor sehingga rata dengan body. Ini juga design improvement yang terkesan sepele tapi bagi gw penting.

Body curvy, smooth ini memang harus dirasakan langsung di tangan kita. Tanpa sadar gw udah seneng grepe2 dan elus2 S7 Edge, karena memang sensasi menyentuhnya menyenangkan. There is something sensual about it yang sulit dijelaskan. Mending coba grepe dulu si S7 Edge ini di toko, baru ngerti deh. Dan kenapa review gadget bahasanya jadi cabul, eh, erotis gini?

 

Tahan air is back!

Gw yakin banget kalo disurvei, pasti BANYAK sekali orang yang menggunakan smartphone di toilet/kamar mandi (eeewww, bakteri yang nempel kayak apa tuh yaaa..) Atau pernah gak berada di kolam renang, terus galau pengen motret-motret selfie pamer six-pack tapi takut hapenya kecebur? Well, Galaxy S7 Edge sudah water resistant, dengan rating IP 68 (tahan debu dan tahan air kedalaman 1.5 meter selama 30 menit).

Ini memang bukan pertama kalinya Samsung membuat smartphone tahan air, karena Galaxy S5 juga sudah memiliki fitur ini. TAPI, fitur tahan air-nya menggunakan desain yang berbeda. Galaxy S5 dan smartphone tahan air merek lain masih menggunakan “tutup” (flap) untuk mencegah air masuk dari luar. Umumnya tutup ini untuk melindungi slot SIM card/MicroSD. Tutup ini selain tidak kece, juga beresiko putus/patah/rusak. S7 Edge didesain tahan air tanpa tutup apapun, karena penahan airnya ada di dalam. Ini artinya secara estetik dari luar S7 Edge bisa mulus tanpa gangguan penutup/flap. Salut sih untuk inovasi tahan air yang satu ini.

air

Mari nonton film sambil mandiin hape

Tentunya ini bukan berarti S7 Edge ini diperuntukkan untuk SENGAJA dibawa ke bawah air. Tetapi ini cukup memberi kedamaian saat kita harus foto2 di dekat kolam renang, danau, sungai. This phone can do more adventures!

 

Display/layar

Seperti biasa Samsung memiliki keuntungan sebagai bukan hanya produsen smartphone tapi juga produsen TV raksasa. Expertise di dunia TV bisa diaplikasikan ke smartphone-nya.

Gw merasa teknologi display/layar bener2 sudah mentok sejak jaman Galaxy S6. Sejak Galaxy S6, layar seri Galaxy S sudah memiliki resolusi Quad HD (di atas Full HD). Dengan kerapatan pixel 534 pixel per inch (jauh di atas iPhone 6s dengan 326 ppi), rasanya mata kita sudah gak bisa lagi melihat perbedaan jika resolusi mau dinaikkan lagi. Gambar dan teks bener2 sangat tajam. Garis terhalus pun tidak terlihat pixelnya.

Ada sebagian orang yang mencemooh bahwa Quad HD “berlebihan”. Not true. Quad HD sangat berguna saat S7 Edge dipasangkan dengan Gear VR dan menjadi google VR. Karena praktis saat menjadi alat VR si Gear S7 Edge dekat sekali dengan mata, kerapatan pixel mumpuni jadi penting. More on this VR thing later yaaa.

Sebagai produsen TV, Samsung memiliki kemampuan engineering dan juga memproduksi teknologi layar super AMOLED. Kebanyakan produsen smartphone lain masih memakai teknologi LCD. Apa sih kelebihan sAMOLED ini? Yang gw tahu pasti adalah kemampuan pixel untuk mati total (sementara LCD semua pixel menyala terus2an). Bego2annya, untuk menghasilkan warna hitam, layar LCD pixelnya masih menyala, sementara sAMOLED bisa mematikan pixelnya sama sekali. Inilah kenapa warna hitam di layar sAMOLED “benar-benar hitam”, dan menghasilkan kontras warna yang superior dibanding LCD.

20160304_085438

20160304_090246

Duh, dedek Kendall tambah kece di layar ini…

Galaxy S7 Edge mendapatkan nama “edge” karena layarnya yang “luber” ke tepi kiri dan kanan. Belum ada produsen smartphone lain yang memiliki design ini. Ini membuat S7 Edge sangat menarik perhatian saat diletakkan di meja. Tidak hanya kosmetik, sensasi menonton film atau browsing di layar edge juga berbeda, karena gambar seperti tidak memiliki batas/border.

Kalau soal display seri Galaxy S dan Note bagus banget warna dan kontrasnya rasanya udah bosen diceritakan. So, gw fokus langsung ke fitur2 dan inovasi baru yang ada di S7 Edge aja yak:

  • Always On Display. Mulai dari Galaxy S7, Samsung memperkenalkan fitur ini. Ini adalah informasi yang terus menyala bahkan saat smartphone sedang tidak aktif. Informasi yang ditampilkan basic banget, hanya jam, hari, tanggal, dan jumlah email/SMS yang masuk. Tadinya gw pikir fitur ini apaan sik, gak penting banget. Tapi sesudah digunakan langsung baru sih berasa gunanya. Bayangkan kamu sedang di meeting. Kalau kamu memakai jam tangan, melirik jam tangan bisa terlihat tidak sopan (apalagi kalau ada client/boss lagi bicara), kesannya kamu ngomel dalam hati, “Buruan nyet ngomongnya….bosyen!”. Tapi kalau kamu tidak memakai jam, dan kamu ingin mengetahui waktu dari smartphone, kamu harus unlock dulu telepon kamu, yang artinya sama aja sik – bahkan lebih keliatan lagi oleh orang lain. Dengan always on display, jam selalu terpampang. Kamu tinggal ngelirik aja ke S7 Edge di atas meja, gak perlu disentuh.

20160305_155956

Pasti pada kepikir, gak ngabisin baterai tuh kalo always on? Klaim Samsung adalah fitur ini hanya memakan 0.8% baterai per jam. Dalam beberapa hari gw memakainya, gw tidak merasa ini menggunakan lebih banyak baterai daripada jika fitur ini dimatikan.

  • Task Edge. Waktu layar tepi (edge) pertama kali keluar di S6 Edge, banyak orang menganggap fitur ini hanya “kosmetik”, untuk kece-kecean aja. Fungsinya terbatas untuk mengakses 5 orang yang paling sering kita hubungi (dengan cara men-swipe layar edge). Seiring waktu, layar edge ini rupanya dibekali fungsi lebih banyak, dan kini di S7 Edge, layar edge sudah pasti bukan kosmetik kece2an lagi. Task Edge adalah shortcut spesifik yang bisa dipasang di layar edge. Misalnya, kalau kita ingin create contact baru, biasanya kita harus buka contact dulu, terus memilih menu create new contact. Sekarang, saat kita sedang menggunakan app apapun bisa langsung add contact tanpa harus keluar dari app tersebut. Cukup men-swipe layar edge ke Task Edge, di situ sudah ada “create contact”. Task Edge bisa diprogram dengan berbagai macam “task”, seperti create contact sampai selfie.

20160305_152345

Selain Task Edge, layar edge bisa untuk menampilkan berita2 dari Yahoo! News, atau menampilkan berbagai tools. Favorit saya adalah kompas untuk penunjuk arah! Kadang2 gw perlu tahu orientasi Utara ada di mana, dan kini cukup di-swipe saja dari tepi.

20160305_152332

Ada juga Apps Edge, di mana kita bisa memilih aplikasi yang paling sering kita gunakan menjadi shortcut. Cukup swipe dari layar tepi, dan list aplikasi favorit tersebut terlihat.

20160305_152340

Having said that, Edge display ini mungkin membutuhkan sedikit penyesuaian saat mengetik. Pengalaman gw di awal menggunakan Galaxy S7 Edge adalah, saat mengetik, telapak tangan sering tidak sengaja menyentuh layar tepi dan dianggap sebagai “sentuhan sengaja”. Jadi saat mengetik gw harus memastikan posisi telapak tangan tidak menyebabkan layar tepi tersentuh tidak sengaja.

 

Prosesor dan Memory

Gw nggak geek banget untuk ngerti soal prosesor. Cukuplah gw tahu bahwa Galaxy S7 Edge dibekali prosesor Exynos Octacore baru yang diklaim 30% lebih cepat dari S6 (padahal S6 aja udah cepet banget harusnya). Kalo dari baca2 artikel, prosesor Exynos ini memang untuk memuaskan kebutuhan gamer untuk game-game yang butuh kemampuan prosesor berat (misalnya banyak grafis 3D). Tidak hanya itu, S7 Edge juga ditambahkan prosesor grafis khusus Adreno/Mali supaya main gamenya tambah mulus.

Gw cuma bisa mencoba langsung. Dalam percobaan memainkan game-game yang “berat” secara grafis, masa loading game terasa cepat, dan saat main pun gambar tidak mengalami lagging sama sekali. Gw mencoba game Need for Speed: No Limits dan Modern Combat 5: Blackout.

Modern Combat 5_2016-03-08-23-39-16

Game Blackout 5 yang “berat” 3D-nya ini lancar tanpa lagging

Galaxy S7 Edge juga dibekali memory RAM sangat besar 4GB. Ini artinya kita bisa membuka banyak aplikasi sekaligus dan berpindah aplikasi tanpa merasa lag. Bayangin lagi asyik main Tinder dan tiba-tiba pacar menclok dari belakang, kamu harus segera bisa pindah ke app Candy Crush dengan seketika, kan?

Bagi yang ngikutin seri Galaxy S, mungkin tahu bahwa Galaxy S6 tahun lalu mengecewakan sebagian orang karena menghilangkan MicroSD slot. Walaupun kita semakin lama semakin berpindah ke cloud storage atau streaming, masih banyak orang yang merasa lebih afdol kalau semua foto dan videonya tersimpan secara fisik di MicroSD card. Kayaknya Samsung mendengarkan semua itu, dan kini Galaxy S7 Edge kembali dengan MicroSD slot hybrid. Artinya pengguna bisa memilih untuk menggunakan MicroSD card, atau bisa menjadi Dual SIM. Kapasitas MicroSD cardnya bisa sampe…..200 GB! Satu season Game of Thrones dan Cinta Fitri masuk kali yaaak.

microsd

Sumber gambar: samsung.com

 

Baterai dan Wireless charging.

Ah, baterai. Selalu saja jadi masalah bagi semua pengguna. Dari dulu juga gw udah ngusulin hape tuh pakai tenaga nuklir aja, jadi bertahun2 gak usah dicharge. Kalo berantem sama pacar tinggal dilempar, jadi bom nuklir. DHUARRRR!! Unfortunately, kita mash harus memakai baterai rechargeable. Bagaimana Galaxy S7 Edge di aspek ini? Well, Samsung berusaha banget meningkatkan performa baterai ini. S7 Edge memiliki baterai lebih besar dengan ukuran 3600 mAh (bandingnya dengan S6 Edge yang 2600 mAh atau S6 Edge+ yang 3000 mAh). Penting bahwa dicatat bahwa kapasitas baterai yang jauh lebih tinggi ini tidak mengorbankan ukuran body yang tetap langsing kayak model iklan WRP. Well done Samsung!

baterai

Sumber gambar: Samsung.com

Pengalaman memakai Galaxy S7 Edge selama beberapa hari, biasanya saya memulai dengan 100% jam 6 pagi, dan jam 8 malam sisa 15%. Screen time berkisar antara 3.5-4.5 jam. Walaupun belum spektakular banget, tapi ini merupakan peningkatan yang signifikan. Sekali lagi, pengalaman penggunaan baterai gw tidak bisa jadi patokan, karena bergantung ada lokasi dan kekuatan sinyal di situ.

Fast charging. Sejak Galaxy S6, Samsung memang sudah menyediakan fitur charge sangat cepat. S7 Edge diklaim bisa dicharge dari kosong hingga full dalam 100 menit. Sesudah gw coba, ini klaim yang cukup akurat. Artinya dalam keadaan kepepet, men-charge sebentar saja sudah memberi sedikit “nyawa” yang memadai untuk si S7 Edge ini.

 

This is a gamer’s phone…..

Tadi gw sudah singgung kalau S7 Edge sudah dilengkapi prosesor grafis mumpuni yang terpisah. Tetapi gamer tidak hanya dimanjakan dengan grafis 3D yang lebih mulus. Ada beberapa fitur lain dari si S7 Edge yang kayaknya memang ditujukan kepada para gamer serius yang umumnya jomblo….

Saat acara Unpacked, diumumkan bahwa S7 Edge dibekali liquid cooling. Musuh gamer, apalagi game yang berat, adalah prosesor yang menjadi panas. Dengan liquid cooling, S7 Edge teorinya memiliki prosesor yang dijaga temperaturnya sehingga tidak sampai menjadi terlalu panas dan crash.

Fitur lain lagi yang keren, adalah fitur Game Launcher. S7 Edge mengenali jika kita sedang bermain game, dan menyediakan semacam asisten, berupa icon merah di pojok. Kalau icon ini kita tap, ada beberapa pilihan keren. Kita bisa minta TIDAK DIGANGGU saat bermain game, oleh telepon atau chat message (pantes jomblo.) Kita bisa MEREKAM permainan kita untuk nanti dipamerkan ke temen (tambah jomblo lagi….) Terus, kalau kita harus melakukan hal lain di tengah-tengah game, game bisa kita minimize dulu, misalnya untuk membuka app lain. Ikon game akan tampak terus di layar, sampai kita siap kembali bermain, tinggal di-tap deh, dan kembali ke game kita (udah pasti tambah jomblo….)

Screenshot_20160305-144226

Perhatikan icon merah kecil di kanan bawah untuk Game Launcher

Screenshot_20160305-143958

Berbagai pilihan Game Launcher yang bisa diakses kapan saja di tengah game.

Galaxy S7 Edge ini bener2 didesain mikirin kemaslahatan gamer deh. Kecuali status jomblonya…..

 

Kamera terbaik saat ini?

Kalau teknologi display rasanya sudah mentok, sulit bisa ditingkatkan lagi, tidak demikian halnya dengan inovasi di kamera. Camera can ALWAYS be improved. Gw adalah pengguna smartphone yang rewel soal kamera, dan selalu menuntut yang bagus. Bukannya apa-apa, gw gak suka ribet. Jadi saat traveling pun kalo bisa gak usah membawa kamera pocket. Praktis. Dan perkembangan kamera smartphone luar biasa pesat, hampir meniadakan kebutuhan akan kamera khusus. At least untuk casual photographer kayak gw.

So, gimana dengan kamera Galaxy S7 Edge?

Mari kita mulai dengan spesifikasi di atas kertas. Apa saja yang berubah dari Galaxy S6/S6 Edge?

  • Kamera 12MP (sebelumnya 16MP). “APAAAA??!!! MEGAPIXEL DITURUNIN??!! WHYYYYYY???!!!” Sebelum emosi lebay kayak saudara tiri di FTV, coba kita teruskan dulu soal spec ini, karena ada penjelasannya….
  • Teknologi Dual Pixel. Tadaaaaaa…..ini lah alasan kenapa MP “harus” turun. Galaxy S7 Edge (dan S7) menggunakan teknologi yang baru digunakan di kamera DSLR Profesional, dan ini pertama kalinya ada di smartphone. Dual Pixel artinya setiap pixel terdiri dari dua “subpixel” yang bekerja sepasang bagai mata manusia. Teknologi ini membuat kamera S7 Edge bisa fokus dengan sangat cepat, bahkan dalam suasana remang/low light. Tetapi teknologi Dual Pixel ini memerlukan ukuran pixel yang lebih besar, sehingga konsekuensinya jumlah total pixel harus berkurang.

Personally, gw tidak pernah menggunakan kamera sampai 16 MP. Hape gw sekarang adalah Note 5 (dengan kamera 16 MP), sehari2 gw menggunakan setting resolusi 6MP (rasio 16:9), dan itu sudah sangat happy. Jika penurunan MP ini untuk fokus yang lebih baik, why not?

  • Aperture (bukaan) tambah besar (f/1.7, sebelumnya f/1.9). Untuk yang fasih fotografi tentunya paham, semakin besar bukaan lensa artinya semakin banyak cahaya yang bisa masuk. Dan ini artinya kamera S7 Edge semakin mumpuni di kondisi low light. Bukaan besar ini diberikan baik kepada kamera utama maupun kamera selfie.

Tentunya Galaxy S7 Edge tetap dibekali Optical Image Stabilization (OIS). OIS ini artinya lensa bisa bergerak2 seperti mata ayam untuk mengkompensasi goncangan/getaran tangan yang bisa membuat foto menjadi blur. Hasilnya adalah video yang lebih stabil, dan foto low light yang lebih mumpuni.

So, itu semua adalah spesifikasi di atas kertas. Biarkan hasilnya berbicara sendiri ya? Semua foto berikut diambil dari kamera S7 Edge tanpa edit sama sekali.

Soal memotret daylight, dengan pencahayaan cukup, rasanya udah gak efek deh mau nge-review. Soalnya sejak Galaxy S5 kamera Samsung sih udah mumpuni banget. Agak basa-basi aja sih ngetes kamera S7 Edge di suasana terang….

20160309_071209

20160309_074252

20160309_115556

20160305_133140

20160309_074336

Foto close-up juga sangat bagus, dengan efek bokeh (blur dari depth of field) yang keren.

Mungkin yang bisa gw komen sedikit adalah soal fitur HDR, siapa tahu banyak yang belum mengerti kegunaannya. Fitur HDR (High Dynamic Range) secara sederhananya adalah membantu di saat kondisi di mana ada area terang dan gelap yang jomplang/jauh. Atau foto yang agak melawan cahaya, sehingga menciptakan area bayangan. HDR membantu mengangkat area yang gelap agar tidak jomplang amat, dan foto menjadi lebih bagus. Berikut contohnya:

20160307_065633

Tanpa mengaktifkan fitur HDR, gedung di depan jadi sangat gelap, karena ada langit yang sangat terang di belakang. Jika kita mengaktifkan fitur HDR, hasilnya seperti ini:

20160307_065638

Kamera S7 Edge dengan fitur HDR berhasil menyeimbangkan brightness dari obyek foto dengan pencahayaan yang timpang (Eh itu kata resmi yang gw cari! Tadi ingetnya “jomplang” doang….)

HDR bukan teknologi baru di Samsung, tetapi gw selalu merasakan HDR di Galaxy S dan Note sangat efektif dalam membantu “meratakan” brightness dari foto.

Untuk foto indoor, di mana pencahayaan cukup, gw sangat happy dengan S7 Edge. Warna kulit manusia terlihat baik, warna-warna juga tetap cerah.

20160309_103543

20160308_112825

Ehem, lagi sesi pemotretan majalah Marie Claire edisi April 2016 nih

Pokoknya, sepanjang pencahayaan cukup, Galaxy S7 Edge sudah pasti berjaya. Jadi bagi gw kurang menantang, karena toh kebanyakan kamera smartphone saat ini sudah mampu menghasilkan foto yang bagus dengan pencahayaan cukup. Jadi, lebih seru kalo kita foto gelap-gelapan aja, okay?

Kondisi low light, indoor, tanpa lampu flash. Ini adalah foto interior sebuah restoran di sore hari. Cahaya datang sedikit dari jendela, dan lampu. Walaupun tidak gelap sekali, tetapi sudah terasa sedikit remang. Hasilnya? S7 Edge masih menghasilkan gambar tajam dengan warna terjaga. Ini adalah kombinasi bukaan lensa besar f/1.7 dan Optical Image Stabilizer yang bersama-sama menghasilkan foto bagus dalam keadaan cahaya menantang.

20160306_170606

20160304_203315

Foto low light, obyek dekat

Mari kita bawa ke tempat yang lebih gelap lagi, tidak ada cahaya matahari, dan tetap tidak memakai lampu flash.

20160304_212555

20160304_211647

Foto-foto di atas adalah dari interior restoran di malam hari. Sudah lumayan gelap, tapi tidak gelap sekali. Kamera S7 Edge masih tidak gentar dan masih saja menghasilkan foto tajam. Mari kita “gelapin” lagi.

20160306_193401

20160306_193324

Kedua foto di atas diambil dari restoran dengan lighting sangat minim, kecuali lampu sorot yang diarahkan ke meja. Ambient light-nya sangat menantang. Tetapi S7 Edge tetap gak mau kalah. Perhatikan di foto atas ada gambar di tembok ujung yang masih tetap tertangkap detilnya oleh S7 Edge.

Oke, itu semua foto low-light indoor. Bagaimana kalo kita ajak keluar?

20160307_18370220160307_183736

Di atas adalah foto-foto outdoor, malam hari, tapi masih menikmati cahaya dari gedung terang. Gw suka banget foto dengan latar jalan layang di atas.

Dan terakhir, foto city view yang benar2 gelap.

20160306_201909

Ini mengagumkan buat gw, karena overall foto malam outdoor ini sebenarnya gelap banget Tapi perhatikan detil lampu di dalam kolam Bundaran HI masih tertangkap. Perhatikan garis2 gedung yang tidak blur sama sekali, bahkan tulisan “Grand Hyatt” masih jelas terbaca. Untuk foto situasi seperti ini lah Optical Image Stabilizer dan bukaan f/1.7 bener-bener menunjukkan jasa mulia mereka.

Review kamera gak lengkap kalau tanpa review kamera selfie. Kamera selfie S7 Edge juga diberikan bukaan besar f/1.7, yang artinya lebih sensitif pada cahaya. Hanya saja tidak ada OIS untuk kamera selfie.

Seperti biasa, nothing to report kalo selfie siang2. Ya udah bagus dari dulu sih. (Fotonya, bukan obyeknya).

20160309_115631

Selfie indoor. Ya bagus2 aja sik. Selalu kalo cahaya cukup, there is nothing to write about. Udah pasti bagus.

20160305_145816

Bagaimana kalo langsung ekstrim ke tempat gelap banget?

20160306_195419

Selfie di atas diambil dengan kondisi sangat buruk. Tidak hanya kondisi sangat gelap, tapi ada sumber cahaya yang melawan arah lensa. Dalam keadaan sangat gelap, kita bisa melihat ketajaman mulai drop. Toh hasilnya relatif masih lumayan, dan masih bisa diperbaiki dengan sedikit edit.

Galaxy S7 Edge dilengkapi “selfie flash”, yaitu layar menyala putih saat mengambil flash, untuk membantu pencahayaan. Dibantu dengan bukaan f/1.7, hasilnya sangat baik. Dengan kata lain, selfie di tempat sangat gelap sudah bukan masalah lagi.

20160306_195406

layar S7 Edge yang menjadi “lampu” tampak di pantulan kacamata. Yang gw suka adalah warna kulit masih tampak natural

 

 

The Future is Virtual Reality

Gw pernah membaca bahwa perkembangan teknologi smartphone mengalami perlambatan. Hal ini bukan kabar buruk, tetapi justru disebabkan kualitas dan kekuatan smartphone sudah sangat bagus, bahkan sampai di mid-range. Kualitas display rasanya sudah mentok, design body sudah banyak yang bagus dan mewah. Walaupun kamera di seri flagship seperti Galaxy S dan iPhone masih ada di posisi tertinggi, tetapi di seri yang harga menengah pun kualitas gambarnya sudah “lumayan banget”.

Mungkin karena itu tahun ini Samsung mengumumkan inovasi lain di luar peningkatan smartphone itu sendiri. Di Mobile World Congress 2016, Samsung mengumumkan arah masa depan, yaitu teknologi virtual reality. Gear VR adalah goggle yang bisa mengubah smartphone Galaxy S dan Note menjadi alat menikmati virtual reality, dan alat ini sudah diluncurkan sejak tahun lalu. Kita bisa menikmati foto 360, video VR, dan game VR dengan Gear VR. Tetapi kejutan tahun ini adalah munculnya device Gear 360. Jika Gear VR membuat kita bisa menkonsumsi konten VR, Gear 360 membuat kita mampu menciptakan konten VR sendiri. Dengan kamera ganda 15 MP, Gear 360 bisa merekam foto dan gambar secara 360 derajat untuk pengalaman yang benar2 immersive. Bayangkan sekarang kita bisa merekam kelahiran bayi anak kita dengan ini, dan saat anak kita dewasa dia bisa mengetahui seperti apa suasana ruang bersalin saat dia dilahirkan (dan mungkin melihat bokapnya pingsan di pojokan….)

160219155451-samsung-gear-360-780x439

sumber gambar: money.cnn.com

Di acara Mobile World Congress juga, Mark Zuckerberg (pendiri dan CEO Facebook) muncul di panggung mengumumkan partnership antara Facebook dan Samsung untuk mengembangkan VR social media. Kerjasama dua raksasa teknologi ini luar biasa, karena menentukan arah masa depan. Social media di masa depan, menurut Mark, ada di virtual reality. Berbagi foto dan video 2D akan segera menjadi masa lalu. Kelak seseorang bisa menjalani wisuda dan dengan VR teman-temannya bisa merasakan seperti ikut di tengah2 acara walaupun mereka berada di kota lain. Menurut Mark, hanya Samsung yang saat ini sudah siap dengan teknologi VR yang bisa dinikmati masyarakat umum.

So, that’s the future plan. Sekarang, kita sudah bisa menikmati Virtual Reality karena Gear VR sudah tersedia di Indonesia. Gw kebetulan sudah mempunyai Gear VR (untuk Note 5 pribadi), sekalian gw jelasin juga deh dengan menggunakan S7 Edge.

20160309_120325

Ada yang bertanya, apa bedanya Gear VR dengan Google Cardboard yang hanya dari karton dan jauh lebih murah? Well, yang pasti Gear VR dicolok ke Samsung Galaxy, karena ada perangkat hardware yang bisa “ngomong” dengan Samsung Galaxy kita. Harusnya experience-nya lebih lancar ya, dan itu juga yang gw rasakan.

20160309_120349

Micro USB port ini dicolok ke dalam Galaxy S6, S6 Edge, S6 Edge+, atau S7/Edge

Begitu S7 Edge dicolok ke Gear VR, pengalaman virtual reality siap dinikmati. Dari melihat pemandangan dunia, konser U2, sampai game tembak2an melawan aliens atau menyelidiki misteri pembunuhan, pengalaman VR ini sudah dideskripsikan dengan kata2. Kamu harus nyoba sendiri deh. Kita seperti pindah ke dalam konten game atau film yang sedang kita tonton.Main game tembak2an terasa lebih intense karena rasanya tembakan bener2 mengenai kita. Amazing.

20160309_120511

Gear VR inilah yang membuat resolusi Quad HD menjadi penting, karena dengan jarak sedekat ini, pixel yang semakin rapat semakin memberi pengalaman VR yang lebih realistis.

20160309_122108

Hmmmm…….Kim Kardashian jadi deket banget

Apakah Gear VR hanya untuk menikmati konten VR saja? TIDAK! Itu dia asiknya. Kalau kita mempunyai film atau serial TV, kita bisa menontonnya dengan sensasi seperti di dalam bioskop. Apalagi dengan headphones yang bagus, terasa seperti punya home theater sendiri.

Gear VR dengan S7 Edge tidak terasa berat di kepala. Tetapi Samsung tetap memberikan disclaimer agar beristirahat setiap 30 menit penggunaan, atau jika tidak merasa nyaman.

So, this is the future. Masa depan bukan semata soal smartphone yang makin cepet, design kece, atau kamera bagus, tapi juga tentang new experience. Dan Galaxy S7 Edge, bersama Gear VR, Gear 360, dan Facebook akan membawa era virtual reality ke kehidupan kita sehari-hari. This is the next level of mobile technology!

 

Penutup

Angka 7 mungkin benar menjadi angka keberuntungan bagi seri Samsung Galaxy S. Tetapi ini adalah “keberuntungan” yang bukan datang dari nasib, tetapi hasil inovasi, engineering, dan juga mendengarkan suara para fans. Samsung Galaxy S7 Edge adalah penyempurnaan dari Galaxy S6 yang sendirinya sudah mengagumkan. Stunning premium body, display super tajam dan cerah, layar edge yang semakin fungsional, tahan air, baterai besar, kecepatan prosesor dan grafis yang dahsyat, memory yang bisa diperbesar dengan MicroSD, kamera yang paripurna bahkan di kegelapan sekalipun – semua ini sudah membuat S7 Edge (bersama kembarannya S7) layak meneruskan gelar “King of Android” bagi gw. Bahkan blog tech The Verge sampai menyebut S7 Edge sebagai “On The Edge of Perfection” (Di Tepi Kesempurnaan) karena segalanya tentang S7 Edge bener-bener sempurna.

Tetapi mengagumi Galaxy S7 Edge hanya sebagai sebuah smartphone yang mumpuni rasanya belumlah lengkap. It’s more than just a smartphone, but also the future of mobile experience. Dengan kombinasi perangkat Gear VR dan Gear 360, Samsung Galaxy S7 Edge memberikan kita pengalaman virtual reality yang immersive. Dalam hal ini, angka “7” bukan hanya angka keberuntungan bagi Samsung, tetapi bagi kita semua.

Terima kasih untuk yang sudah membaca review awam ini!:)

———

Sedikit pesan sponsor: Terima kasih JD.id yang sudah meminjamkan Galaxy S7 Edge untuk review. Untuk pembaca, udah gak jaman nih belanja smartphone harus capek-capek pergi ke toko, stress kena macet, ngantri harus bayar, dll. Untuk bisa mendapatkan Galaxy S7 dan S7 Edge yang baru, lebih nyaman belanja di www.jd.id saja, tinggal duduk manis barang diantar dengan cepat langsung ke pangkuan😀. Jadi, jangan lupa untuk melihat penawaran JD.id untuk Samsung Galaxy S7 dan S7 Edge, dan juga gadget2 lainnya.

Surat Untuk Kaum LGBT

Standard

Kepada kaum LGBT di Indonesia, sesama manusia dan saudara sebangsa.

Saya menuliskan ini, karena kepikiran dengan segala pemberitaan, isu, rumor, sampai fitnah yang berkembang akhir-akhir ini menyangkut kamu.

Saya pernah membaca, “Privilege is invisible to whose who have it”. Hak istimewa (privilege) tidak terlihat dan dirasakan oleh orang yang memilikinya. Menjadi orang kulit di putih di AS tidak merasakan privilege berkulit putih, karena mereka tidak pernah menjadi kulit hitam atau kuning yang harus menghadapi rasisme. Menjadi pria di dunia korporat mungkin tidak merasakan privilege berpenis, karena mereka tidak pernah menjadi perempuan yang harus menghadapi diskriminasi gender. Menjadi Sarjana mungkin tidak merasakan privilege akses pendidikan tinggi, karena tidak pernah merasakan menjadi mereka yang untuk menyelesaikan SD saja susah sekali.

Memiliki orientasi heteroseksual mungkin membuat saya tidak menyadari memiliki privilege itu, karena saya tidak pernah merasakan menjadi minoritas yang memiliki orientasi seks yang berbeda. Tetapi saya tetap memberanikan diri menulis surat ini kepada kamu. Walaupun saya memiliki orientasi seks “mayoritas”, toh saya memiliki etnis dan keyakinan minoritas, dan juga pernah menghadapi kebencian, pelecehan, dan hinaan. Mungkin saya bisa berempati denganmu, walau hanya sedikit. Mungkin.

Akhir-akhir ini ada begitu banyak prasangka, kecurigaan, dan kebencian yang beredar terhadapmu. Mungkin sebagian dari kamu kaget, bahkan teman, kolega, atau keluargamu yang kamu pikir selama ini baik kepadamu, bisa tiba2 ikut menyebar postingan WA, FB, atau social media lain yang menggambarkan kamu seolah2 bukan manusia, lebih rendah dari binatang, atau penderita sakit menjijikkan yang harus dijauhi seperti kalau tidak menular.

Sebagian besar dari orang yang membencimu, adalah karena mereka tidak mengerti. Mereka belum memiliki pengetahuan cukup, dan sifat manusia adalah membenci sesuatu yang tidak mereka mengerti. Tanpa pengetahuan, maka mereka mudah percaya hal-hal tak berdasar. Mereka mengira bahwa orientasi seks adalah sepenuhnya pilihan, layaknya memilih jurusan kuliah (sehingga bisa “ditularkan”), walaupun telah begitu banyak penelitian mengindikasikan orientasi seks sangat ditentukan sejak lahir oleh genetika dan juga struktur otak. Mereka mengira bahwa orientasi seks sebagai pilihan ganda dengan hanya 2 pilihan: hetero atau gay/lesbian, padahal berbagai studi menunjukkan orientasi seks sebagai spektrum dengan beberapa tingkatan. Mereka mengira kamu dan kaummu sibuk menyusun agenda konspirasi untuk menguasai dunia, padahal kamu tidak berbeda dan saya, hanya ingin bersekolah, mencari nafkah, berbakti pada orang tua, dan juga mendapatkan cinta.

Kepada mereka yang membenci karena tidak mengerti, maafkanlah mereka karena mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Sabar dan tabah lah. Ratusan tahun yang lalu, manusia mengira ada jenis manusia lain yang layak dijadikan budak. Sekarang perbudakan rasanya sudah hampir musnah sama sekali. Sampai puluhan tahun yang lalu, di beberapa negara, mereka yang berkulit hitam dianggap inferior dan lebih rendah dari yang berkulit putih. Sekarang sudah ada presiden negara adidaya berkulit hitam. Sampai puluhan tahun yang lalu, perempuan dianggap tidak boleh memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Sekarang, mulai terlihat kebangkitan perempuan di mana-mana, bahkan bisa menduduki posisi penting di perusahaan dan pemerintahan.

Sejarah menunjukkan spesies manusia bergerak perlahan menjadi lebih bijak, seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan pengertian mereka. Perjalanan ini memang tidak mulus, penuh jatuh bangun, bahkan terkadang langkah mundur. Ada sebagian orang yang berusaha ingin memundurkan kebijaksanaan kolektif kita. Tetapi sejarah menunjukkan pemahaman kemanusiaan (humanity) akhirnya bergerak maju dan lebih universal.Di beberapa negara di dunia, pengakuan atas kaum mu sebagai manusia yang sama haknya dengan manusia lain telah terjadi, sesuatu yang tak terbayangkan 100 tahun yang lalu.

Kepada mereka yang membenci kamu karena tidak mengerti, kamu hanya bisa sabar, sambil tetap menunjukkan bahwa apa yang mereka takutkan dan tuduhkan tanpa alasan itu sebenarnya tidak benar. Sayangi mereka anyway, dan berharap lambat laun mereka melihat kamu sebagai manusia juga. Tunjukkan bahwa kamu sama dengan saya, manusia biasa. Kita berdarah sama merah, kita tertawa sama lantang, dan kita menangis sama air matanya.

Pastinya tidak akan terjadi dalam semalam. But have some faith, that mankind will become wiser.

Tetapi ada jenis orang lain yang berbeda dari yang di atas, mereka yang membencimu karena kebencian itu memberikan keuntungan bagi mereka.

Mereka yang mengobarkan kebencian kepadamu, karena itu membuat mereka populer.

Mereka yang mengobarkan kebencian kepadamu, karena itu membuat jubah agama mereka terlihat lebih suci, menyembunyikan hitamnya hati mereka.

Mereka yang mengobarkan kebencian kepadamu, karena itu membuat partai politik mereka lebih menarik merebut suara pemilih.

Mereka yang mengobarkan kebencian kepadamu, karena mereka perlu kambing hitam untuk semua masalah hidup mereka sendiri. Bagaikan Adolf Hitler dahulu menyalahkan semua masalah Jerman kepada kaum Yahudi.

Mereka yang mengobarkan kebencian kepadamu, karena mereka iri dan dengki dengan prestasi, pencapaian, dan kebahagiaanmu, dan mereka akan mencari alasan apapun untuk merampok kamu dari semua itu.

Orang-orang inilah serigala paling kejam, dengan mulut berbusa penuh kekejaman dan kejahatan. Mereka sebenarnya tidak peduli dengan orientasi seks kamu, tetapi mereka membutuhkan kamu sebagai sarana untuk memenuhi nafsu popularitas, ketenaran, kekuasaan, kemunafikan, dan kedengkian mereka. Mereka membenci bukan karena tidak mengerti, tetapi mereka membenci karena itu menguntungkan mereka.

Kepada orang-orang ini, waspadalah. Karena darah manusia lain pun tercium harum di hidung mereka selama itu menguntungkan mereka. Kita hanya bisa berharap, jumlah mereka hanya sedikit dan pengaruh mereka terbatas. Dan pemimpin-pemimpin kita diberi petunjuk untuk mengalahkan kaum buas ini.

Beberapa dari mereka akan mengusung kata “dosa” untuk mengipasi api kebencian. Karena “dosa” dan “agama” seringkali dijadikan barang dagangan yang cepat laku, dengan pembeli yang mau ditipu orang-orang tak bertanggung-jawab. Bagi saya, dosa atau tidak, adalah urusan individu, antara kamu dan Tuhanmu. Saya sebagai manusia tidak boleh mengambil peran Tuhan, satu-satunya hakim yang bisa menentukan seseorang berdosa atau tidak, masuk surga atau neraka. Saya juga terdakwa di mata Tuhan, jadi bagaimana saya bisa menjadi hakim juga?

Saya bukan Tuhan, saya manusia. Dan kewajiban saya sebagai manusia adalah memperlakukan sesama manusia sebagai, well, “manusia”. Tidak lebih, tidak kurang, tanpa memandang ras, suku, agama, orientasi seks. Itu lah mengapa saya menerimamu sebagai manusia. Saya menerimamu sebagai guru, sebagai kolega, sebagai teman, sebagai dokter, sebagai client, sebagai artis, sebagai pemilik toko, dan sebagai apapun peran yang saya akan temui – karena kamu adalah manusia. Titik.

Dan jika saya mempunyai anak, itu juga yang akan saya tekankan kepada dia. Perlakukan manusia sebagai manusia, jangan bedakan gender, suku, ras, agama, dan orientasi seks-nya. Saya hanya bisa bermimpi, anak dan cucu saya bisa besar di dunia di mana dia tidak perlu lagi penekanan itu.

Someday, when mankind is wiser.

Salam kemanusiaan,

HM

Melemahnya Spesies Kita: Antikuman, Bully, dan Blokir

Standard

Apakah spesies kita, Homo Sapiens, mengalami pelemahan? Dan tragisnya, kemajuan teknologi dan peradaban kita lah yang melemahkan diri kita sendiri.

Pikiran ini muncul saat gw pertama kali membaca artikel tentang hubungan meningkatnya penggunaan produk-produk “antikuman” dengan kasus alergi dan asma. Alergi dalam penjelasan sederhananya adalah imunitas yang LEBAY. Misalnya, dalam kasus alergi debu atau serbuk bunga. Debu atau serbuk bunga yang sebenarnya harmless, tidak berbahaya, bagi sebagian orang dianggap musuh besar, sehingga timbul reaksi bersin terus2an.

Terus apa hubungannya dengan penggunaan produk2 antikuman, seperti sabun antikuman, tisu antikuman, gel antikuman, dan sejuta produk antikuman lainnya?

Para ilmuwan sudah lama mencurigai bahwa meningkatnya kasus alergi di antara anak-anak di negara maju adalah karena meningkatnya penggunaan produk antikuman di rumah tangga. Fenomena ini disebut “The Hygiene Hypothesis”: semakin higienis dan steril tempat anak bertumbuh, maka semakin besar resiko sistem imunitas si anak menjadi lebay, dan akhirnya makin rentan alergi.

Sistem imunitas adalah sistem yang “belajar”. Tidak ada manusia yang terlahir dengan sistem imunitas dengan paket antivirus komplit. Sama dengan antivirus komputer, databasenya harus selalu diupgrade, begitu juga seorang manusia membangun database “musuh” secara gradual, sejak kecil. Secara sederhana, Hygiene Hypothesis berkata bahwa lingkungan anak yang terlalu steril membuat sistem imunitasnya tidak “berkenalan” dengan macam-macam mikroorganisme. Produk antikuman membunuh semua jenis mikroba, padahal sebenarnya ada mikroba baik di luar sana yang juga harus dikenal oleh sistem imunitas. Akibatnya, ketika bertemu hal sederhana seperti debu, bulu kucing, atau cowok buaya, sistem imunitasnya literally menjadi NORAK dan bereaksi lebay – dan timbul reaksi alergi berlebihan.

Bandingkan dengan anak-anak kecil generasi orang tua atau kakek kita yang gak kenal banyak produk antikuman, dan sering main di luar. Sejak kecil mereka kenal kotoran, debu, binatang, dll., sehingga sistem imunitasnya “belajar” sejak kecil, membedakan ancaman serius dan tidak. Alhasil, insiden sistem imunitas menjadi norak dan lebay lebih kecil dari generasi sekarang. (Artikel: http://www.nhs.uk/Livewell/homehygiene/Pages/are-we-too-clean-for-our-own-good.aspx)

Hygiene Hypothesis ini juga tampak sejalan dengan temuan bayi yang lahir secara operasi Caesar memiliki resiko menderita alergi jauh lebih tinggi dari yang lahir normal. Diduga proses kelahiran norma (vaginal) justru membuat bayi harus terekspos dengan berbagai bakteri dari usus dan vagina ibu, sehingga membuat sistem imunitas bayi mulai “berkenalan” dengan mikroba, biar gak norak nantinya. (I can never imagine saying this, but apparently getting born in shit is good to us…..(Artikel: http://www.webmd.com/allergies/news/20041020/c-section-may-increase-kids-allergy-risks )

Tentunya Hygiene Hypothesis tidak serta merta diartikan anak kecil harus kotor-kotoran terus. Bagaimana pun juga kuman jahat dan berbahaya juga harus dihindari. Hanya ternyata kita relatif baru menyadari bahwa manusia yang tumbuh secara terlalu steril justru bisa merugikan di jangka panjang. Sistem imunitas kita harus bertemu dunia nyata dengan berbagai macam penghuni mikroba-nya agar kita lebih kuat. So here’s an irony: kondisi terlalu higienis justru melemahkan kita. (Tampaknya slogan deterjen Dirt Is Good itu ada benarnya ya.)

Gw jadi mikir, apakah hipotesis biologi di atas bisa juga di-apply ke kondisi mental dan psikologi kita. Apakah kita sedang melemahkan mental spesies kita dengan membuat “lingkungan mental” yang terlalu steril? Apakah kita sedang menciptakan generasi manusia dengan “imunitas mental” yang norak dan lebay?

Mari kita ambil kasus “bullying” di antara anak sekolah. Di social media Ask.fm saya terkadang mendapat curhatan anak sekolah yang komplain menjadi korban bullying secara verbal (itupun bully cemen seperti dikatain karena jerawatan atau jomblo). Kadang-kadang saya rasanya ingin berteriak ke mereka, “STOP WHINING AND STAND UP TO IT. LIFE SUCKS, DEAL WITH IT!” Cobalah berhenti mengeluh, jangan cengeng, dan sekali2 menghadapi realita hidup yang memang gak enak, termasuk kena bully di sekolah.

Gw gak membela bullying. Gw sendiri adalah korban bullying di sekolah (gw korban bully di SMP dan SMA), dan itu gak enak. Beberapa bentuk bullying bisa sangat keterlaluan dan harus ditindak tegas. Tetapi yang gw pertanyakan adalah apakah realistis untuk menghilangkan bullying sama sekali? Selain itu, seperti eksposure ke kuman dan mikroba diperlukan anak kecil untuk membangun sistem imunitas badan, mungkin eksposure ke perilaku jelek (termasuk bullying) justru perlu untuk membangun “imunitas mental” yang kuat dan gak norak untuk menghadapi dunia nyata sesudah sekolah. Di dunia pekerjaan, kita seringkali harus menghadapi banyak situasi yang lebih buruk dari sekolah. Kolega, bos, dan client yang abusive adalah realita sehari-hari. Jika seorang anak selama sekolah terus2an dijaga “steril” mentalnya, tanpa problem dan tantangan (termasuk sedikit bullying), apa yang terjadi saat dia memasuki dunia kerja yang keras? Bullying, to certain extent, adalah “sampel” dunia nyata. Dunia nyata penuh “bully” yang lebih sadis, dan saat itu kita tidak tidak bisa mengadu pada orangtua. Dan di dunia nyata tidak ada guru, Kepala Sekolah, atau POMG untuk dikomplen.

Spesies kita terlalu terobsesi dengan MENGHILANGKAN ancaman, bukannya MENGHADAPI ancaman. Kita terlalu bernafsu menghilangkan semua kuman, sehingga menggunakan semua produk antikuman untuk si kecil, sampai kita melupakan melatih sistem imunitasnya untuk menghadapi ancaman. Kita terlalu takut akan bullying, dan melupakan untuk melatih anak menghadapi orang jahat dalam hidup. Mungkin adalah lebih baik jika anak diajarkan bahwa akan selalu ada orang jahat di sekolah dan hidup, bagaimana agar tangguh secara mental. Plus bagaimana menendang anak brengsek tepat di selangkangan.

Sekali lagi: pembaca blog ini jangan bodoh, gw TIDAK mendukung bullying di sekolah. Gw pun termasuk korbannya. Tetapi mungkin perlu balance dengan mengajarkan anak agar siap menghadapi bullying. Jangan hanya berusaha menghilangkannya sama sekali. Dan mungkin sang anak justru memiliki “imunitas mental”/mental toughness yang lebih baik saat memasuki dunia orang dewasa.

 

Segala keributan mengenai LGBT dan blokir Tumblr akhir-akhir ini juga membuat gw berpikir, apakah kita keliru mengalihkan energi kita? Apakah kita sedang melemahkan spesies kita dengan respon kita? Kita bernafsu “menumpas” topik dan kaum LGBT di sekitar kita (dan ironisnya, topik ini malah semakin populer dan tambah dibicarakan dan menarik perhatian anak-anak). Kita bernafsu “melenyapkan” pornografi, dengan cara blokir sana sini, padahal kita tahu selama ada internet akan selalu ada pornografi di platform apapun. Padahal kaum LGBT sudah aja sejak ribuan tahun, dan akan selalu ada di dunia (di negara2 maju mereka sudah diakui dan diterima keberadaannya). Pornografi, sama seperti prostitusi, sudah ada sejak lama dan akan selalu ada – sepanjang spesies kita masih memiliki hasrat seks.

Mungkin daripada berusaha “menumpas”, “menghilangkan”, dan “memblokir” dan menghasilkan generasi yang norak dan lebay saat bertemu konsep baru, lebih baik jika anak diajarkan bagaimana menghadapi itu semua secara beradab. Sama seperti mensterilkan anak dari kuman sama sekali justru melemahkan sistem imunitasnya, men”steril”kan manusia dengan berusaha melenyapkan topik LGBT/pornografi sama sekali justru melemahkan “imunitas mental”nya.

Diskusi mengenai LGBT dan orientasi seks yang sehat (memberi pengertian dan menerima perbedaan, bukan mengajarkan kebencian), pendidikan seks yang baik (agar anak tidak lari ke pornografi untuk belajar seks) adalah hal-hal yang lebih mempersiapkan mental untuk “menghadapi” sebuah topik dan polemik, dan bukan sekedar “menghindari”, “melenyapkan”, dan lari terus-terusan.

Jika kita terus-terusan mensterilkan lingkungan anak dari kuman, berusaha melenyapkan bullying (sia-sia), melenyapkan kaum dan topik LGBT (sia-sia dan tidak berperikemanusiaan), memblokir semua situs internet yang mengandung pornografi (juga sia-sia) – mungkin kita sedang melemahkan spesies manusia. Dan masa depan akan diisi manusia-manusia dengan sistem imunitas yang norak dan lebay (sehingga gampang alergi), dengan “imunitas mental” yang norak dan lebay juga (sehingga gampang “alergi intelektual dan kultural” juga).

Mungkin.

 

One Week Affair With A Smartwatch (Review Awam Gear S2)

Standard

Saya menyukai dunia jam tangan.

Sejak kecil saya mengenakan jam tangan. Entah kenapa saya agak terobsesi dengan mengetahui waktu. Mungkin karena sedari kecil saya mempunyai ayah yang sangat terobsesi dengan ketepatan waktu (punctuality). Yang pasti, mungkin sejak SMP saya tidak akan meninggalkan rumah tanpa jam tangan.

Dari ketergantungan yang sifatnya fungsional, saat dewasa saya menjadi bertambah minat untuk mendalami berbagai merek dan model jam yang terkenal. Awalnya adalah ketika mantan bos saya mengajarkan bahwa pria yang sudah dewasa harus serius soal jam tangannya. Karena saat itu di usia 30-an masih memakai jam Casio dengan bahan resin ke meeting penting dengan klien direktur rasanya kurang pantas. Dari sekedar mencari-cari jam cowok yang “serius”, akhirnya jadi jatuh cinta beneran dengan dunia jam cowok dan segala cerita, sejarah, dan inovasinya – khususnya jam mekanikal.

Tetapi saat ini, rasanya jam tangan mulai perlahan kehilangan relevansinya. Saya melihat orang-orang di sekitar di kantor, apalagi Generasi Millenial (lahir tahun 1980-2000), mulai tidak mengenakan jam tangan. Saat ditanya alasannya, jawabnya, “Kan ada di hape?”

Call me an old soul, but to me a watch is a watch. Jam tangan tidak bisa digantikan oleh jam di hape. Selain ekspresi kepribadian, bagi saya kemampuan mengetahui waktu kapanpun, dengan cukup melirik tangan, tanpa harus merogoh kantong mencari hape, adalah sebuah keharusan. Never trust a man who does not wear a watch. Kalau pria ini tidak bisa mengetahui waktu kapanpun dan di manapun, bagaimana kita bisa berharap dia bisa menepati waktu? Apalagi menepati janji? Tsah, lebay gila….Tapi, seriously girls, carilah gebetan yang minimal memakai jam tangan. Artinya dia mungkin pandai membagi waktu antara kamu dan gebetan2nya. Dan pacar resminya. Eh.

Enter The Smartwatch…..

Waktu smartwatch mulai marak, jujur saya tidak tertarik. Selain kecenderungan saya yang menyukai jam mekanikal (untuk alasan-alasan yang bisa butuh satu blog sendiri menjelaskannya. Tapi artikel ini mungkin bisa membantu: “Why Mechanical Watches Are Cool“), awalnya bagi saya smartwatch adalah sesuatu yang memalukan. Smartwatch2 yang populer bentuknya “Eeewww!”, mengingatkan saya pad Ben 10. Pokoknya sesuatu yang hanya cocok dipakai anak SD, atau nerd jomblo abadi. Apple Watch? Blah. Selain saya malu memakai merek Apple, bentuk Apple Watch pun tidak menarik. Terlalu berusaha terlihat seperti smartwatch. So, selama 2 tahun terakhir ini konsep smartwatch tidak menarik sama sekali bagi saya. Sampai suatu hari, saya melihat gambar ini di internet:

samsung_gear_s2

Source: gizmodo.com.au

HOLY SHIT. Jam apaan nih yang di sebelah kiri dan kanan? Ini smartwatch? Kok CAKEP AMAT. Dan bagi saya dia cakep karena justru TIDAK TERLIHAT SEPERTI “SMARTWATCH”. Dari jauh, modelnya seperti jam klasik biasa, apalagi dengan bezel bergerigi. Belakangan saya mengetahui bahwa ini adalah smartwatch baru dari Samsung, yaitu Gear S2 Classic (yang tengah yang mirip Swatch itu seri “Sporty”).

Finally, sebuah smartwatch yang tidak terlihat seperti jam Ben 10. Sebuah smartwatch yang tidak alay seperti Apple Watch, yang terlihat didesain untuk pria dewasa. Dan untuk pertama kalinya saya peduli dengan konsep smartwatch. Usut punya usut, Gear S2 ini menerima banyak pujian di tech blogs, karena desainnya dan interface-nya yang dianggap jenius, karena menggunakan bezel yang cukup diputar-putar untuk memilih menu.

Jadi ketika ada penawaran preorder untuk Samsung Gear S2 di Indonesia, dengan potongan harga dahsyat PLUS bonus l leather strap tambahan, saya tidak bisa menahan godaan dan rasa penasaran saya. Tanpa sepengetahuan istri, saya pun ikut memesan. Dan seminggu lalu, akhirnya Gear S2 mendarat di tangan saya, dan “dinikahkan” (pairing) dengan Samsung Galaxy Note 5 saya.

Seminggu sudah berlalu. Apakah saya akhirnya bergabung dengan trend smartwatch? Apakah saya akhirnya berubah pikiran?

WellI have good news and bad news.

Mari mulai dengan good news dari pengalaman saya memakai Gear S2 selama seminggu. Sekalian menjadi review awam saya. Seperti biasa, karena ini review awam, jangan terlalu berharap bahasan spec yang mendetail ya. Untuk itu cukup banyak sumber lain di internet.

The Set Up

Saat pertama kali mengaktifkan Gear S2, maka pembeli harus menginstall app Gear Manager yang tersedia di Google Play. Begitu Gear Manager digunakan, maka akan terjadi sync otomatis dengan Gear S2 menggunakan Bluetooth. Aplikasi Gear Manager juga segera menentukan apakah perlu mendownload dan menginstall software upgrade terbaru untuk si Gear S2 ini. Oh iya, agar optimal, Gear S2 memerlukan fitur Bluetooth smarthone kita tetap aktif agar selalu synchronized.

Screenshot_2015-12-27-14-50-44

Di Gear Manager kita memiliki kontrol penuh atas Gear S2. Kita bisa mengeset notifications: apps apa saja di hape kita yang kita ijinkan mengirimkan notifikasi ke Gear S2. Kita juga bisa mengganti dan mengcustomize tampilah dial (muka) dari Gear S2 kita, dan juga mendownload dial-dial desain baru dari Samsung App Store.

The Design

20151224_065011.jpg

Samsung Gear S2 Classic ini bener2 ganteng. Diameter 42 mm membuatnya berukuran “standar”, yang artinya relatif cocok untuk semua tangan. Apalagi tangan orang Asia/Indonesia yang biasanya kecil. Seri Classic bener-bener terlihat seperti jam konvensional, bahkan dengan kemampuan bergonta-ganti strap layaknya jam biasa. Bodynya dari stainless steel mengkilap yang kokoh dengan kaca Gorilla Glass 3 yang tahan baret. Dan yang paling penting, dari jauh Gear S2 Classic terlihat seperti jam biasa.

Ketebalan Gear S2 bagi saya “sedang”. Dia tidak tipis, tentunya untuk bisa mengakomodir mesin di dalamnya. Tetapi yang pasti Gear S2 tidak bisa dibilang terlalu tebal sampai mengganggu. Bobotnya juga cukup ringan bagi saya.DSC_0058

 

 

 

Di bagian belakang tampak sensor yang saya duga untuk mengukur detak jantung.

20151224_065222-1.jpg

Sewaktu preorder, saya sempat melakukan “kesalahan”. Saya tidak tahu bahwa saat memesan saya bisa menentukan warna leather strap yang menjadi bonus (untuk strap standar aslinya adalah black leather/warna hitam). Ternyata ada pilihan warna grey atau brown untuk strap bonus. Ternyata tanpa sadar saya memilih grey (abu-abu). Saya sedikit kecewa waktu menyadari hal ini di tempat pick-up preorder. TADINYA saya pikir saya akan menyukai leather coklat. Tetapi ternyata saat saya mengambil si bonus grey strap dan memasangnya ke Gear S2, saya tidak menyesal sama sekali. Warna grey strapnya bagus sekali, tidak umum, dan bisa mudah di-mix and match dengan baju yang dipakai.

The Display

20151224_103016.jpg

Kelebihan Samsung sebagai produsen gadget bagi saya adalah karena mereka memiliki pengalaman banyak sekali dalam membuat TV. Teknologi display AMOLED dari Samsung adalah yang terbaik yang digunakan di smartphone bagi saya, dan teknologi yang sama digunakan di Gear S2. Display sangat terang dan tajam. Keunggulan AMOLED adalah warna hitam yang “benar2 hitam”. Hal ini menyebabkan beberapa pilihan desain dial/muka analog terlihat sangat realistis, sekilas hampir seperti jam jarum biasa.

Teks sangat jelas terbaca, hal ini karena pixel per inch yang sangat tinggi. Jadi kalo ada pesan teks atau cuplikan artikel, bisa dibaca dengan jelas. Gear S2 juga menyesuaian diri saat berada di outdoor, sehingga display tetap terbaca jelas bahkan saat kondisi terang di luar ruangan.

The Experience

Secara user experience, maka keunggulan Gear S2 adalah penggunaan bezel untuk navigasi. Memilih menu cukup denga memutar bezel dan kombinasi tap pada layar. Kita bisa saja memilih alternatif swiping, tapi percayalah, memakai bezel terasa lebih intuitif dan fun. Sebagai bayangan memakai bezel Gear S2, bisa dilihat di iklan aslinya dari Korea.

Well, bisa ngapain aja sih smartwatch yang satu ini? Pendeknya, Gear S2 ini adalah extension dari smartphone kita. Jika ada telepon masuk, maka Gear S2 akan bergetar dan menunjukkan identitas penelpon, dan juga bisa diangkat (walaupun percakapan harus menggunakan handsfree atau di hape-nya langsung karena Gear S2 tidak memiliki speaker dan mic). Email yang masuk ke hape kita bisa dibaca di sini. Pesan2 yang masuk ke WhatsApp atau Line bisa diintip dulu di jam, dan bahkan bisa dibalas menggunakan emoji! Membalas mengetik juga bisa, melalui T9 keyboard (itu loh, keyboard jaman Nokia jadul, yang 1 tombol untuk 3 huruf: ABC-DEF-GHI, dst). Kalau kita pikir sulit mengetik di layar jam yang kecil, saya sudah mencobanya, dan ternyata it’s not that hard. Toh kalau kita memilih membalas pesan di smartwatch pasti karena ingin menjawab pendek saja. Jika ingin membalas panjang beresay-esay, ya silahkan pake hape aja tho?

emoji_Main.jpg

Source: news.samsung.com

Gear S2 juga memberikan update calendar sesuai dengan skedul yang di-sync dengan calendar hape kita. Ada juga fitur menghitung langkah, untuk mengetahui apakah kita sudah cukup banyak berjalan hari ini (konon yang sehat itu setiap hari berjalan 10,000 langkah cuy). Ada juga fitur pengukur detak jantung, siapa tahu deg2an mau ketemu calon mertua, bisa diukur dulu pake Gear S2. Gear S2 juga bisa menjadi pengendali music player hape kita, atau kita bisa mengisi lagu langsung di dalamnya karena ada kapasitas storage sebesar 4 GB.

Beberapa app “bawaan” Gear S2 adalah Nike app untuk yang suka olahraga lari. Ada juga widget Flipboard untuk update berita terbaru sesuai jenis berita yang kita pilih (sports, news, science, entertaiment, etc.) Yang menarik adalah widget ini seperti memberi teaser berita singkat. Jika kita tertarik membaca lebih lanjut, cukup tap “Show on Phone”. Begitu kita mengambil hape kita, eh artikel full-nya sudah nampang di layar hape.

Ada juga app Map. Tetapi sayangnya ini bukan Google Maps, tetapi dari app Here. Petanya tidak sebagus Google Maps untuk saya, dan cukup lama untuk menentukan posisi kita. Tetapi sekedar alat bantu untuk orientasi arah, ya lumayan saja.

Gear S2 bisa diatur untuk bergetar saat ada notifikasi masuk, dan seberapa kencang getarannya bisa diatur oleh kita, tergantung seberapa badak kulit kita.

OS Tizen

Gear S2 tidak menggunakan OS Android Wear yang umum digunakan smartwatch2 lain yang non-iOS, tetapi menggunakan OS sendiri yang dikembangkan oleh Samsung, namanya “Tizen”. Keunggulan Tizen ini tentunya adalah bisa memanfaatkan bezel putar dari Gear S2, sehingga menu juga disajikan melingkar (circular). Kelemahannya adalah jumlah aplikasi yang masih sedikit sekali, sementara Android Wear yang didukung ekosistem Android yang sudah matang tentunya mempunyai lebih banyak aplikasi untuk smartwatch.

_20151227_150659

Sejujurnya, saya tidak melihat kebutuhan untuk punya banyak apps, selain yang sudah di-support oleh Gear S2. Hal ini karena saya menginginkan interaksi dengan smartwatch yang secukupnya saja, karena device utama saya tetaplah si smartphone saya. Notifikasi semua app dan calendar yang sering saya gunakan rasanya sudah cukup. News update dan monitor detak jantung adalah bonus yang sangat cukup bagi saya. Kalau saya ingin menghabiskan waktu lebih lama memainkan banyak apps di gadget, rasanya mendingan di hape yang layarnya lebih besar gak sih?

The Battery

Kalo baca-baca review smartwatch model-model lain, baterai seringkali menjadi pertanyaan utama. Ngerti sih, karena apa point-nya punya jam pintar yang sudah mati jam 8 malam, ketika kita bahkan baru siap2 untuk pergaulan sesudah kerja seharian di kantor. Bagaimana Gear S2?

Bagi saya, endurance baterai Gear S2 sangat memuaskan. Pengalaman saya, dari keadaan baterai 100% sampai habis total memerlukan waktu 30 jam! Ini artinya selembur2nya kita, Gear S2 setia menemani kita dari berangkat kantor sampai pulang jam 4 pagi. Gear S2-nya sih selamet, gak tau deh yang pake ketika disambut istri….

Artinya, charging dock Gear S2 tidak perlu dibawa2 seperti lazimnya kita membawa charger hape, cukup ditinggal di rumah. Gear S2 cukup dicharge saat kita tidur dan besoknya dijamin cukup menemani kita seharian beraktivitas.

Charger Gear S2 unik karena menggunakan wireless technology. Chargernya berbentuk semacam dock dengan magnet. Cukup tempelkan Gear S2 ke dock dan langsung proses charge terjadi. Saat lampu indikator berubah hijau artinya Gear S2 sudah fully charged, dan jam cukup ditarik dari dock.

20151226_201756

So, how does smartwatch really work?

Jadi bagaimana pendapat saya mengenai smartwatch secara keseluruhan?

Kalau menggunakan analogi: jika smartphone kita adalah ruangan direktur, maka smartwatch adalah si “sekretaris galak” yang duduk di luar ruangan direktur. Saya melihat smartwatch pertama-tama sebagai gerbang terhadap smartphone kita. Maksudnya begini.

Tanpa smartwatch, maka praktis semua notifikasi harus dicek di hape kita. Seringkali, situasinya mungkin tidak ideal untuk memegang hape. Mungkin kamu lagi meeting penting yang intens dan tidak sopan untuk main hape. Mungkin kita sedang ngobrol dengan keluarga besar, yang juga tidak sopan jika kita tiba-tiba bermain hape. Atau kita berada di sebuah angkutan umum yang penuh sesak. Smartwatch bagaikan sekretaris yang terlebih dahulu memberitahu kita ada siapa atau apa saja yang meminta perhatian kita. Jika ternyata tidak penting, kita cukup membaca di smartwatch, dan tidak perlu melakukan apa-apa. Tetapi jika ada hal yang urgent, barulah kita mengambil smartphone kita untuk melakukan tindakan lebih lanjut.

Dengan analogi “sekretaris direktur yang galak” ini, maka seharusnya smartwatch bisa membantu kita lebih efisien menggunakan smartphone. Kita bisa disiplin memilih hanya app esensial saja yang boleh memberi notifikasi di jam pintar. Tentunya, jika kita memilih SEMUA app kita untuk sync dengan smartwatch kita, ya sama juga bohong. Dikit-dikit smartwatch kita akan mengganggu kita dengan komen2 FB yang gak penting….

Jadi, apakah akhirnya saya mulai tertarik dengan konsep smartwatch? Jawabnya adalah…..

NGGAK TUH.

Saya masih lebih menyukai jam konvensional mekanikal yang “jadul”, tapi menurut saya lebih keren

And here are the bad news that makes me still not interested to switch to smartwatch.

Tidak bisa “dilirik”.

Display Gear S2 tidak menyala terus-terusan. Display baru aktif saat sensor merasakan bahwa kita sedang mengangkat pergelangan tangan untuk mengecek waktu. Di semua posisi lain, Gear S2 akan padam, untuk menghemat baterai.

Di sini lah jam konvensional masih lebih superior. Saya bisa “ngintip” jam tangan saya dalam posisi tangan apapun. Selain itu, smartwatch jadinya terkesan “egois”, karena tidak bisa dilihat oleh orang lain dari posisi yang tidak sesuai.

Memang Gear S2 menyediakan opsi “always on”. Dengan opsi ini, saat jam tidak berada di posisi “dilihat”, dial jam menunjukkan jarum jam dan menit yang minimalis sehingga tetap bisa diintip atau dilihat orang lain.

_20151227_151055

Dengan opsi “always on” , jarum jam dan menit terus menyala

Problemnya dengan fitur “always on” ini adalah, praktis daya tahan baterai langsung drop. Dalam percobaan, baterai jam sudah tersisa sekitar 20% saat baru jam 7 malam (kondisi full saat pagi jam 8). Dengan “always on”, ada resiko pengguna yang lembur sampai malam dan tidak membawa chargernya akan kehabisan baterai sebelum tengah malam. Praktis fitur “always on” ini tidak bisa menjadi solusi.

Di sinilah saya lebih menyukai jam mekanikal (baik automatic maupun manual wind). Saya menginginkan jam yang saya tahu akan terus bekerja sepanjang aktivitas saya, tanpa harus khawatir mencari chargerpower bank, atau colokan. Jam pria sejati rasanya harus selalu siap menghadapi berbagai situasi tanpa khawatir kehabisan baterai. Bayangkan skenario-skenario yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita:

  • Terjadi zombie outbreak saat kita ketinggalan charging dock di rumah. Kita tidak bisa pulang padahal zombie sudah memenuhi jalan. Matilah jam kita.
  • Simpanse mengalami mutasi genetik, menjadi pintar, dan menguasai Gedung Putih dan gedung DPR. Peradaban hancur dan listrik padam karena instalasi listrik dikuasai simpanse. Matilah jam kita.

Dengan membayangkan skenario sangat mungkin di atas, maka saya memilih memakai jam mekanikal saja. Dalam keadaan serbuan zombie, saya tahu saya tetap bisa meeting klien tepat waktu.

20151227_163903-01

Dalam situasi zombie outbreak atau simpanse menguasai parlemen, saya akan memilih Seiko Sumo (kanan)

Tidak bandel

Setahu saya belum ada smartwatch yang cukup tangguh untuk dibawa berenang, apalagi diving. Gear S2 memiliki IP rating 68, artinya tahan debu dan air kedalaman 1.5 meter selama 30 menit. Tapi ini lebih dimaksudkan di dalam situasi “tidak sengaja”, seperti kehujanan, atau jam dilempar pacar ke kolam lele karena emoji cium dari cewek lain masuk ke jam itu.

Di sini, jam mekanikal diver dengan ketahanan air minimal 100 meter jelas lebih tangguh dan lebih bisa dibawa ke mana-mana, termasuk berlibur ke pantai. Saya masih merasa smartwatch sebagai sebuah gadget ringkih yang tidak bisa diajak ke semua aktivitas kita.

Selain itu, smartwatch yang full electronic juga rentan serangan alien. Jika alien menyerang bumi, ada kemungkinan mereka melumpuhkan semua elektronik manusia dengan senjata EMP (Electromagnetic Pulsa) yang akan merusak semua sirkuit elektronik. Jam mekanikal tidak akan terpengaruh serangan ini. Lagi2, dalam situasi serangan alien, jam mekanikal akan unggul dan bertahan hidup.

Tidak cukup “sexy”.

Ini adalah preferensi subyektif saya. Tapi sesudah seminggu memakai smartwatch, saya masih merasa jam mekanikal jauh lebih sexy. Saya masih menyukai jarum jam dan menit yang real, yang bisa mengkilat terkena cahaya matahari. Somehow jarum jam yang dibentuk secara digital terasa artificial (dan saya tidak suka format digital).

Saya menyukai suara mesin jam mekanikal yang khas berdetak cepat. Atau ayunan pendulum jam automatic. Atau gerakan jarum detik yang menyapu khas jam mekanikal. Semua sentuhan “old school” ini justru lebih sexy karena terasa lebih “otentik” – sebuah jam yang semua gerakannya datang dari interaksi ratusan parts yang bisa dilihat, bukan dari kode binary dan arus listrik.

Tidak tahan lama.

Dugaan saya, smartwatch akan sama seperti smartphone. Softwarenya harus selalu diupgrade, dan batasan upgrade ini adalah hardware. Prosesor akan selalu bertambah, memory akan bertambah, dan fitur dan sensor akan bertambah. Semua snartwatch yang diluncurkan tahun 2016 mungkin akan menjadi usang di tahun 2018.

Tidak demikian halnya dengan jam mekanikal. Sebuah jam mekanikal bisa tetap berfungsi selama 10 tahun, bahkan lebih jika dirawat teratur. Tidak perlu khawatir software upgrade atau prosesor yang sudah tidak memadai lagi.

Kesimpulan

Jadi, apa kesimpulan saya mengenai Samsung Gear S2?

Gear S2 adalah sebuah smartwatch yang bagus. Design dewasa dan elegan (seri Classic), interface yang brilyan, layar mumpuni, dan baterai tahan lama. Jika kamu berminat akan smartwatch, maka Gear S2 layak dipertimbangkan.

Tapi bagi saya smartwatch tidak bisa menjadi “jam utama”. Gear S2 menarik sebagai novelty factor, cocok untuk situasi2 tertentu, tapi tidak bisa menjadi jam utama. Misalnya saat weekend, atau saat-saat di mana hape mungkin sulit dijangkau (misalnya meeting atau workshop full day). Yang pasti, di situasi atau hari-hari di mana kita tahu pasti kita akan pulang saat malam karena smartwatch perlu dicharge setiap malam.

Samsung Gear S2 cocok bagi mereka yang sekarang masih membeli jam-jam fashion seperti Daniel Wellington. Daripada membeli jam fashion gak penting yang juga hanya bersifat trend2an, masih lebih baik memakai smartwatch, minimal masih ada gunanya untuk membantu konektivitas dan produktivitas.

Saya sendiri masih akan mengandalkan jam mekanikal , karena kita tidak pernah tau pasti kapan zombie, simpanse, atau aliens akan berusaha menguasai kita. Yeah!

Trims atas perhatiannya!😀

Jangan lewatkan:

Review Awam Samsung Galaxy S7 Edge

Why Star Wars (Still) Matters

Standard

War[WARNING: MILD SPOILER BELOW]

So finally the most anticipated movie of 2015 is finally here.

Well, at least, ‘anticipated’ by some. Especially those who grew up with the original trilogy, and even the horrible prequels. I expect that everyone should be as excited as I am to welcome Episode 7: The Force Awakens. So I was initially surprised when many asked me on the Ask.fm platform, whether they need to watch any of the previous installments to make sense of the new Star Wars.

Welcome to 2015. Times have changed since the last prequel Revenge of The Sith appeared a decade ago. And apparently, MANY young people never saw Star Wars. And obviously, they could not fathom what was really the big deal that middle-aged men would shamelessly marched into the cinema in costumes and plastic lightsabers.

tfa_poster_wide_header-1536x864-959818851016

Source: Starwars.com

Does Star Wars still matter? Or, do we finally have to say goodbye to a mythology from a galaxy far far away, a long time ago?

After seeing it myself, I wanted to say that Star Wars still matters. Even to today’s Marvel-eyed young generation who are probably more familiar with Iron Man’s armor series than the Millenium Falcon. This is because The Force Awakens, much like all the previous Star Wars movies, is not so much about some alien conflict in distant place and time. Star Wars is, has been, and will always be, the story about us.

Pay attention to the characters, their angst, their passion, and their hopes. They all happen in our everyday lives.

Like Finn, the guy who must make important choice that defines his future. Because his past, what brought him to be now, does not necessarily dictate what he could be in the future. His is the theme of many of us, who are often haunted by our past and doubted our own power to change.

Or Rey, a survivor soul, abandoned and learned to fend for herself since little. It was when she learned to trust others that she discovered her new family. Hers is also a story of the strength and courage of women, not the slightest less than her male compatriots.

Han Solo and Leia Organa, once the blaster-wielding rebels who beat Emperor Palpatine in their youth, now must struggle to learn the art of parenting. And they must learn that raising and loving a child would be a far greater challenge than facing off entire Imperial army. And perhaps, demanded a far greater sacrifice – like many parents do.

Or Kylo Ren, the masked antagonist with serious temper problem. Perhaps, he will remind you of a friend who seems so angry outside, because he is hiding great insecurity inside. Perhaps, he will remind you of yourself.

Even the fascistic First Order, fashioned after Nazi party, also resembles today’s fear of ISIS. These are a group of people that desire to impose their values and way of lives upon the unwilling others, and any resistance will be dealt with swiftly and harshly.

Even we were given a glimpse of Luke Skywalker’s angst. Although much of what really happened is still shrouded in mystery, we were shown how the legendary savior of the galaxy must have felt so burdened that he exiled himself. Even the greatest heroes had their fears.

All these are the reasons why Star Wars still matters. In the fictitious drama of alien beings on alien worlds, their struggle is very much human. All the events in The Force Awakens may have happened a long time ago in a galaxy far far away, but their echoes are close to our hearts, today.

And this is why the saga will continue.

May The Force Be With Us. Always.:)

 

Dengan Foto Melawan Perubahan Iklim? #ad

Standard

Isu perubahan iklim, siapa yang perduli? Rasanya topik ini ada dalam prioritas terakhir kehidupan kita sehari2. Kita semua punya banyak topik lain untuk dipikirkan: tugas sekolah, kerjaan, pacar, mantan, client, setoran, terorisme, perang, korupsi, dan lain-lain. Siapa yang perduli dengan “perubahan iklim” (climate change), sesuatu yang tidak kita rasakan langsung (walaupun mungkin sudah tapi tidak kita sadari, seperti musim kemarau yang lebih panjang, atau suhu yang makin panas).

Hal ini sebenarnya adalah suatu tragedi, mengingat bagi para ilmuwan dan tokoh-tokoh negara, isu perubahan iklim adalah sesuatu yang serius dan harus ditangani. Spesies manusia hanya punya satu planet. Jika planet ini berubah sampai tidak bisa dihuni manusia lagi, memangnya kita bisa ke mana? Tidak ada back-up planet, tidak ada real estate lain (di mana hari Senin harga naik) di alam semesta untuk kita hijrah dengan mudah. Kalau udah lihat film The Martian, maka terbayang planet Mars gak enak banget kan untuk ditinggali? Looks like we are stuck in THIS planet, and we’d better make it work.

Makanya gw gak pernah setuju “Save Our Planet”. Planet ini tidak perlu diselamatkan. Jika ada perubahan iklim, spesies manusia mungkin akan punah, tetapi planet ini sih baik-baik saja, dan spesies2 lain yang cocok dengan iklim baru akan tetap hidup. Yang lebih tepat harusnya “Save Our Existence!” Yang terancam perubahan iklim justru eksistensi kita sendiri sebagai spesies.

Kalau masih nggak percaya bahwa isu perubahan iklim adalah sesuatu yang serius, sekarang sedang berlangsung konferensi perubahan iklim di Paris (COP21) oleh PBB, tanggal 30 November sampai 11 Desember 2015 yang diikuti para tokoh negara dan bisnis dunia. Tujuan dari konferensi ini adalah menghasilkan kesepakatan dan langkah-langkah nyata untuk menangani perubahan iklim. Jadi memang gak main-main kan?

Terus, apakah peristiwa ini hanya menjadi sebuah peristiwa yang “jauh” (distant) dari kita, kalah dengan isu Papa Minta Kopi, eh, Saham? Tidak juga! Perusahaan APRIL Pulp & Paper yang beroperasi di Riau ingin mengajak masyarakat, khususnya para pelajar, untuk bisa ikutan berkontribusi terhadap isu perubahan iklim. Caranya? Dengan kekuatan foto!

Kekuatan foto?

Ada istilah, “A picture speaks a thousand words” (Sebuah gambar bisa menyampaikan seribu kata). Foto yang powerful bisa menginspirasi orang. Contohnya foto yang beruang kutub yang susah payah berpegangan di sebuah bongkah es yang sudah sangat kecil karena meleleh ini:

Untitled

Sumber: http://www.mirror.co.uk/news/uk-news/polar-bear-clings-tight-iceberg-882963

Foto ini bisa langsung menunjukkan efek perubahan iklim tanpa harus banyak berbicara. Kita semua tertegun, dan bisa merasakan empati, dan sekaligus melihat kengerian yang ditimbulkan jika perubahan iklim tidak sungguh-sungguh ditangani.

Karenanya perusahaan APRIL sebagai bagian dari dukungan terhadap climate and sustainable development goals PBB mengajak masyarakat untuk menggunakan kekuatan gambar, membangun kesadaran bahwa isu perubahan iklim ini tidak main-main, dan kita semua yang terkena dampaknya. Ingat kita lah yang membutuhkan planet ini, bukan sebaliknya.

APRIL Pulp & Paper mengadakan lomba twitpic #CaptureClimate, sebuah inisiatif internasional dari PBB. Jadi karya kamu akan bergabung dengan foto-foto seluruh DUNIA lho! Caranya, follow akun @studentsvaganza di Twitter, post foto orisinil yang menggambarkan perubahan iklim atau aksi nyata kamu menahan perubahan iklim (gunakan hestek #CaptureClimate #Indonesia), dan peserta berkesempatan memenangkan 10 Action Camera Xiaoyi.

Jadi gunakan kreativitas dan mata yang jeli, untuk menangkap gambar yang powerful dan inspiratif, untuk membangunkan masyarakat bahwa isu perubahan iklim ini adalah sesuatu yang riil dan kita semua bersama-sama bisa melakukan sesuatu! Untuk informasi lebih lanjut, follow akun Twitter @studentsvaganza dan @APRILpulp.

Lomba twitpic ini didukung oleh APRIL Pulp & Paper, perusahaan yang dalam operasinya menjalankan konservasi lingkungan, restorasi, dan penanggulangan kemiskinan di masyarakat daerah di Indonesia.

Ayo, gunakan kekuatan foto untuk melawan perubahan iklim!

Review Awam Sony Xperia Z5

Standard

Okay, kembali lagi dengan review awam @newsplatter. Kali ini gw menerima sebuah unit smartphone Sony Xperia Z5 berwarna gold. Seperti biasa, disclaimer di muka: ini adalah review AWAM, jadi tidak akan teknis banget, dan merupakan review dari perspektif pengguna awam. Kalau ingin tahu detail teknis yang lebih dalam, silahkan cari sendiri ya di situs2 tech seperti GSMarena, Techcrunch, The Verge, dan banyak lagi.

The Brand and Design

Seri Sony Xperia Z bukan seri yang asing buat gw. Ini adalah seri flagship kebanggaan dari Sony. Gw sudah pernah menggunakan Xperia Z yang pertama . Saat baru pertama kali keluar, gw inget Xperia Z memukau banyak orang. Ketika smartphone saat itu kebanyakan tampak “murah” dan “plasticky”, Xperia Z sudah memiliki body premium.

4 iterasi kemudian, tibalah kita pada Xperia Z5. Xperia Z5 segera mudah dikenali sebagai bagian dari keluarga Xperia Z. Designnya tidak jauh berbeda dari Xperia Z sebelumnya. Bentuk “kotak” dengan materi premium. Bagian belakang menggunakan materi glass yang frosted (matte/”dof” kalo kata orang Indonesia). Positifnya adalah bagian belakang tidak selicin jika menggunakan permukaan smooth, dan juga tidak menjadi fingerprint magnet (mudah kotor oleh sidik jari).

20151028_084146

20151206_141557

Bagian belakang frosted glass

Design yang SANGAT konsisten ini bisa menjadi good news dan bad news. Good news, karena Xperia Z sudah berhasil menemukan bahasa design sedari dulu, ketika merek2 Android lain masih berusaha menemukan design yang bagus. Bad news-nya, bagi mereka yang mengikuti perkembangan seri ini, sulit sekali membedakan antara satu Xperia Z dengan lainnya. Yang pasti, warna gold Xperia Z5 sangat bagus dan mewah. Sangat menarik perhatian orang lain saat digunakan.

Xperia Z5 memiliki “bumper” dari plastik di sudut. Tujuannya tampaknya untuk melindungi dari situasi jatuh di permukaan keras. Overall, Xperia Z5 sangat solid di genggaman, dengan bezel/pinggiran yang diberi sedikit lengkungan sehingga tidak terasa terlalu kaku.

20151206_151348

Sama seperti kakak-kakaknya, Xperia Z5 mendapat rating tahan air dan debu. Yang menarik adalah Sony tahun ini memberikan statement bahwa sebaiknya Xperia Z tidak digunakan di bawah air dengan sengaja, atau warranty menjadi tidak berlaku. Hal ini sangat berbeda dari komunikasi Xperia Z sebelumnya yang sengaja menggambarkan penggunaan memotret di bawah air. Hanya port untuk Nano SIM card dan MicroSD card (Haleluya, masih ada MicroSD slot!) yang diberi penutup. Port charger dan headphone terbuka.

20151206_151233

sebelah kiri tampak flap yang melindungi MicroSD dan Nano SIM card. Tulisan “Xperia” sendiri digrafir sehingga tampak mewah.

Fingerprint scanner

Trend lockscreen ke depan tampaknya akan semakin mengandalkan biometrik. Selamat tinggal nomor PIN atau menggambar “pola garis” rahasia yang gampang ketebak (kebanyakan bikin huruf “M” kan? Ngaku aja!) Sony menyusul iPhone dan Samsung dengan menggunakan sidik jari untuk membuka lock screen. Tetapi ada keunikan yang ditawarkan Sony:

Letak fingerprint scanner-nya ada di SAMPING, di tombol Power!

Tidak seperti Samsung dan iPhone yang meletakkan scanner di tombol Home di depan, Sony meletakkan di tombol power sebelah kanan!

20151206_151313

tombol power merangkap fingerprint scanner

Ada beberapa keuntungan dari posisi ini. Yaitu letak yang sangat natural saat kita menggenggam unit, baik dengan tangan kiri dan tangan kanan. Untuk tangan kanan, kita cukup memrogram sidik jari jempol kanan, dan telunjuk kiri jika kita menggenggamnya dengan tangan kiri. Pengalaman gw letak scanner di tombol power ini sangat natural dan cepat. Scanner mengenali jari gw dengan cepat sekali, almost every time. Kudos ke Sony untuk inovasi fingerprint scanner-nya.

Sebagai catatan, tombol volume diletakkan di sebelah kanan di bawah tombol power. Posisi ini rasanya agak aneh buat gw, yang kebiasaan mengatur volume di sisi kiri. Dengan posisi ini, mengubah volume suara tidak bisa dilakukan dengan menggenggam satu tangan (one hand operation).

Di sisi lain, Sony mempertahankan tombol shutter (di bawah volume control) dedicated untuk memotret foto. Gw selalu suka tombol dedicated, karena rasanya lebih mantap mengambil foto dibanding men-tap layar.

20151206_151335

Display

Sony Xperia Z5 mengusung display 5.2 inch IPS. Sony tidak mengikuti trend Samsung dan LG yang sudah menggunakan Quad HD, dan masih menggunakan Full HD (1,080 x 1,920). Tapi menurut gw untuk ukuran 5.2 inch, resolusi ini masih bagus sekali. Gambar dan teks sangat tajam dengan warna yang terang banget.

20151206_153708

Performance

Xperia Z5 membesut RAM 3 GB, yang cukup besar untuk saat ini, dengan kombinasi 2 x Quadcore Qualcomm prosesor (total 8 prosesor). Kombinasi memori besar dan prosesor kenceng ini memberikan experience yang relatif sangat smooth. Hampir tidak ada lagging, termasuk saat memainkan game yang 3D heavy seperti Need for Speed.

Internal memory Z5 adalah 32GB. Tetapi dengan adanya MicroSD slot, memory internal ini dapat diekspansi dengan mudah.

Catatan: dalam penggunaan layar yang agak lama, misalnya browsing, main game, atau memotret, gw merasakan body Xperia Z5 terasa agak panas. Tidak panas sekali sampai mengganggu, tapi cukup terasa. Harus dicatat bahwa saat panas ini kinerja smartphone sendiri tidak terganggu sama sekali, atau crash. Mungkin saking kencengnya prosesornya?

Kamera

Bagi gw, kamera smartphone mumpuni itu penting. Selain senang mengcapture momen sehari-hari, saat traveling pun rasanya gw sudah malas membawa kamera lagi, bahkan kamera pocket sekalipun. Jika smartphone sudah memiliki kamera keren, gak perlu bawa kamera lagi. Lebih ringkes!

Sony dari dulu terkenal paling GILA soal kamera, minimal soal resolusi. Xperia Z5 membesut kamera belakang dengan resolusi 23 MP. DUA PULUH TIGA MEGAPIXEL! Gw saja biasaya hanya memakai setting 8MP karena ingin menghemat storage. Jadi bagi kamu yang senang foto ukuran besar, misalnya untuk dicrop tapi gak “pecah”, Xperia Z5 ini gokil sih. Dan adanya MicroSD slot artinya kamu tidak perlu khawatir soal mengambil foto besar.

Tidak hanya soal resolution. Xperia Z5 menjanjikan autofocus super cepat yang bisa memfokus dalam kecepatan 0.03 detik! Jika benar, maka ini gilak sih, lebih cepet dari komen menawarkan “MAU HAMIL TAPI SUSAH COBA HERBAL” yang muncul di postingan Dian Sastro di IG. Gw sendiri gak akan bisa mengukur kecepatan fokus Z5 sampai seakurat itu, tapi memang terasa sangat SANGAT cepat. Jadi cocok lah ini untuk para pemburu foto momen2 untuk dibuat meme….

Sayangnya megapixel dahsyat ini tidak didampingi dengan OIS (Optical Image Stabilizer). Menurut gw smartphone flagship sudah standarnya diberikan stabilizer lensa, untuk mengambil foto dalam situasi low-light dengan lebih baik. Ketiadaan OIS ini tetapi dicoba dikompensasi dengan bukaan (aperture) besar f/2.0 yang lumayan membantu.

Kamera Xperia Z5 memiliki mode Intelligent Auto yang akan menilai obyek dan menentukan settingan foto terbaik untuk obyek tersebut. Bagi kebanyakan pengguna kasual, Intelligent Auto harusnya sudah cukup memuaskan. Bagi yang suka “ngulik”, ada mode Manual untuk bisa melakukan setting sendiri.

Hasil foto

Di cuaca cerah, outdoor, hasil foto Xperia Z5 sangat mengagumkan. Warna terlihat nyata dan cerah. Ini bener2 pas untuk para traveler, apalagi yang senang memotret obyek luar ruang.

DSC_1119

DSC_1115

Di suasana indoor, tanpa flash, Xperia Z5 masih memberikan gambar yang lumayan terang.DSC_0008

Di suasana gelap sekalipun, sepanjang obyek foto memiliki sumber cahaya, Xperia Z5 masih memberikan hasil yang baik. Seperti foto restoran outdoor di bawah ini:

DSC_1071

DSC_1097

Tampaknya walaupun tidak dibekali Optical Image Stabilizer, Xperia Z5 masih mampu mengambil gambar di dalam suasana low-light dengan memuaskan.

Kamera depan

Xperia Z5 memiliki kamera depan 5MP yang menurut gw sangat bagus hasilnya. Ada fitur “smile trigger”, jadi kamera selfie memotret saat mendeteksi senyuman kita. Kita bisa mengeset seberapa “lebar” senyuman kita yang akan mentrigger kamera.

DSC_1061

Hasil kamera selfie. Resolusi diturunkan ke 3.7MP dan hasilnya masih sangat tajam

Secara keseluruhan, bisa dibilang Sony masih menghasilkan salah satu kamera smartphone terbaik saat ini. DxOMark, situs yang mengevaluasi kamera smartphone bahkan memberikan gelar kamera smartphone terbaik saat ini kepada Xperia 5.

Performa baterai.

Kinerja baterai sekarang selalu menjadi pertanyaan para pengguna smartphone. Bagaimanapun, semakin lama kita bisa menggunakan smartphone tanpa mencari colokan, the better. Walaupun Sony mengclaim baterai Z5 bisa bertahan sampai 2 hari, tapi pengalaman gw tidak sampai segitu. Z5 memang bertahan dari pagi sampai sore/malam dengan penggunaan sedang (which is already VERY good), tetapi saat tidur sudah harus dicharge lagi jika kita ingin keesokan paginya segera beraktivitas dengannya.

Xperia Z5 menawarkan fitur Stamina dan Ultra Stamina mode untuk memperpanjang usia baterai, menggunakan trik klasik memutus koneksi data saat smartphone dalam keadaan locked. Jadi fitur ini bisa dicoba jika kamu sebenarnya tidak butuh-butuh banget menerima stiker LINE setiap saat…..

Fitur lainnya

Fitur lain yang ditawarkan oleh Xperia Z5 adalah app “Lifelog”. Seperti namanya, app ini bener2 merekam SEMUA aktivitas kita dari terbangun di pagi hari sampai bobok lagi. Jumlah langkah, aktivitas lari, kalori yang terbakar, sampai aktivitas digital akan tercatat di sini. Jadi anggap saja kamu punya jurnal aktivitas kamu yang sangat komprehensif. Kapanpun kamu bisa “memutar” aktivitas kamu dalam bentuk animasi yang bergerak dari sejak jam kamu bangun sampai saat ini.

Screenshot_2015-12-06-15-00-13

Penutup

Xperia Z5 adalah upaya Sony untuk bisa menandingi flagship2 yang ada tahun 2015 ini, seperti Samsung Galaxy S6, Galaxy Note 5, LG G4, dan iPhone 6S. Sejujurnya, secara keseluruhan Z5 tidak jauh lebih unggul dari kompetitor-kompetitornya. Posisinya memang sekedar setara dengan persaingan yang ada. Dengan kekecualian kamera, di mana Sony konsisten terus berinvestasi di kamera yang mumpuni.

Jadi bagi pencari kamera smartphone mumpuni, bisa mempertimbangkan Xperia Z5. Walaupun belum ada OIS, tetapi ternyata kinerja kameranya tetap tidak kalah dari model flagship lainnya.

Selain itu, kenyataan bahwa Xperia Z5 tahan air tetap jadi keunggulan, bahkan walaupun Sony tidak menganjurkan penggunaan yang sengaja di bawah air. Banyak dari kita yang sering ceroboh dengan smartphone, apalagi jika senang memotret di dekat air. Maka bisa dibilang hampir tidak ada alternatif lain untuk smartphone tahan air saat ini.

Jangan lupakan juga faktor design premium dan solid khas Xperia Z5. Jika design “boxy” (kotak), dengan paduan material metal dan glass adalah sesuatu  yang sesuai dengan selera kamu, maka Xperia Z5 bisa dilirik. Apalagi warna gold-nya, harus dilihat sendiri.

Demikian review awam singkat dari Xperia Z5. Semoga membantu buat yang lagi nyari smartphone! Sampai review berikutnya!:)

 

Jangan lewatkan juga:

Review Awam Samsung Galaxy S7 Edge

Laporan Survei Anak Ahensi!

Standard

Anak Ahensi. Mereka yang bekerja di industri kreatif dan komunikasi. Mereka bekerja di advertising, digital, event organizer, Public Relations. Tanpa mereka, internet dan social media akan terasa hambar. Mereka lah yang (merasa) meramaikan dan membawa kebahagiaan kepada para netizen. Mereka juga komunitas yang (merasa) paling asik. Tetapi, di balik keriaan dan postingan foto Path penuh senyuman palsu, apakah mereka sungguh merasa bahagia?

Survei Anak Ahensi dilakukan beberapa bulan yang lalu untuk menyingkap dunia ini. Diikuti oleh 754 responden, dan survei ini meneliti kebahagiaan, motivasi kerja, dan juga penilaian atas client yang mereka tangani.

Mari kita lihat hasilnya!

Jenis Ahensi

Chart_Q2_151114

36% responden bekerja di advertising/periklanan, iikuti 29% dari ahensi digital/social media. Sisanya terbagi di antara Event Organizer, Public Relatons, Media, dan lainnya.

Chart_Q3_151114

Proporsi antara mereka yang bekerja di ahensi multinasional dan ahensi lokal cukup berimbang. Ada 11% yang bingung mereka sebenarnya bekerja di ahensi lokal atau asing. Ini mereka beneran bingung apa sarkas aja ya?

Lama bekerja di dunia ahensi

Picture1

1 dari 4 responden bekerja di dunia ahensi kurang dari setahun! Ini sih baby ahensi, belom jadi anak ahensi. Separuh responden bekerja antara 1-5 tahun Ada sekitar 10% responden yang sudah bekerja di ahensi LEBIH DARI 10 TAHUN. Ih, udah tua masih ngaku2 “anak ahensi” (sambil ngaca….)

Mengapa memilih berkarir di dunia ahensi?

Picture2

Ketika ditanya alasan memilih berkarir di dunia ahensi, menarik bahwa dua alasan tertinggi adalah menghindari sesuatu dan menginginkan sesuatu. Hampir separuh responden memilih menghindari pekerjaan kantor “umumnya” karena tidak ingin berbaju rapi. Hampir separuh juga mengatakan memilih bekerja di ahensi karena menginginkan culture dan orang-orang yang asik dan menyenangkan. 27% menyukai pekerjaan ahensi karena bertemu orang banyak, yang siapa tahu bisa dijebak jadi suami/istri.

Yang menarik, hanya SEPERTIGA yang memilih alasan karena benar2 menyukai dunia kreatif. Dan kurang dari sepertiga yang sebenarnya memang menyukai output dari perusahaan mereka. Lho?

Tapi tidak semuanya adalah berita positif. Sebanyak 29% mengaku bahwa bekerja di ahensi ini hanya sebagai batu loncatan dan sudah berencana meninggalkan dunia nestapa ini.

Yang pasti, survei ini mengukuhkan anggapan bahwa dunia ahensi memang bukan tempat mencari gaji besar. Kurang dari 15% menyatakan memilih karir di ahensi untuk gaji besarnya. Hiks.

Apa yang DISUKAI dari bekerja di dunia ahensi?

Picture3

Ketika ditanya hal-hal apa yang disukai dari bekerja di dunia ahensi, pilihan tertinggi jatuh di culture yang tidak kaku, tidak formal, dan tidak birokratis. Yang menarik, walaupun kreatifitas mungkin bukan motivasi memilih bekerja di dunia ahensi pada awalnya, tetapi toh kreatifitas menjadi hal yang bisa dinikmati saat bekerja sehari-hari, dipilih oleh 55.8% responden.

Menarik juga bekerja di dunia ahensi masih memberikan proses pembelajaran. Lebih dari separuh responden setuju bahwa pekerjaan mereka memungkinkan mereka belajar banyak, baik dari kolega maupun client mereka.

Bagi sepertiga orang, jam kerja yang relatif fleksibel (lebih siang masuknya) menjadi hal yang dinikmati dari dunia ahensi. Walaupun pulangnya subuh juga sih…. Dan lagi-lagi, faktor gaji bukan hal positif utama bekerja di ahensi.

Apa yang TIDAK disukai dari bekerja di ahensi?

Picture4

Deadline mepet dan lembur melulu menjadi dua hal paling tidak disukai dari bekerja di ahensi (dipilih 63.5% dan 48.7% responden). Gaji yang tidak memuaskan dan aspekkesejahteraan yang kurang menjadi faktor ketiga dan keempat. Yang menarik, hanya sedikit yang memilih “kolega2 gw dungu” (hanya 14.8%). Lumayan yah, minimal sumber frustrasi bukan rekan sekerja yang bego2.

Seberapa BAHAGIA kah kamu bekerja di dunia ahensi?

Picture5

Inilah pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Dan TERNYATAAAAAA…….

Surprisingly, mereka yang bekerja di dunia ahensi CUKUP BAHAGIA. Hampir 60% responden melaporkan bahwa mereka “bahagia” atau “bahagia banget seperti malam pertama terus” bekerja di dunia ahensi. Mereka yang melaporkan tidak bahagia atau SANGAT tidak bahagia hanyalah sekitar 10%!

Mungkin inilah bukti bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Walaupun gaji kurang, kerja lembur, stress dikejar deadline, toh relatif anak ahensi merasa bahagia di pekerjaan mereka!

Bagaimana para anak ahensi? Setuju kah kamu dengan temuan ini? See, ternyata hidup bisa bahagia tanpa uang kan? Kan?

Picture6

Pertanyaan berikutnya, apakah ada perbedaan tingkat kebahagiaan di antara mereka yang bekerja di jenis ahensi yang berbeda?

Picture13

Ternyata, anak ahensi yang PALING bahagia adalah mereka yang bekerja di Digital Agency, dengan 65% mengaku bahagia atau sangat bahagia. Ini artinya 2 dari 3 anak ahensi digital merasa bahagia.

Yang bahagia kedua adalah mereka di ahensi periklanan, dengan 57% mengaku bahagia/sangat bahagia, dan disusul dengan sangat dekat oleh Media Agency.

Mereka yang bekerja di Event Organizer memiliki proporsi bahagia paling sedikit, sekitar 51%. Tapi angka ini sebenarnya jug tidak buruk, mengingat separuh dari mereka di dunia EO masih melaporkan meraa bahagia.

Kalau kita melihat mereka yang melaporkan “tidak” dan “sangat tidak bahagia”, maka proporsi tertinggi ada di ahensi public relations. Hampir 17% yang melaporkan mereka tidak bahagia.

Yang gak bahagia, bagaimana?

Bagi mereka yang mengklaim tidak/sangat tidak bahagia, ditanyakan kembali apa yang akan mereka lakukan.

Picture6

Separuh dari yang tidak bahagia mengklaim bahwa mereka akan MENINGGALKAN dunia ahensi. Artinya benar2 meninggalkan industri tersebut karena sudah sangat tidak tahan.30.6% memikirkan untuk berpindah kantor, tetapi MASIH di industri yang sama. 17.6% yang mengaku tetap akan bertahan di kantor yang sama, walaupun tidak bahagia.

Apakah role responden melibatkan meeting dengan client?

Picture7

Mayoritas responden, lebih dari 90% harus bertemu dengan client. Hamir separuh mengaku SANGAT SERING bertemu dengan client, lebih sering dari ketemu suami/istri sendiri. Wah hati2 nih….

Picture8

Menyangkut jumlah client yang ditangani, kira-kira separuh responden mengaku menangani 2-4 client. Seperempat responden menghandle lebih dari 5 client!

Picture9

Responden diminta mengkategorikan client mereka. Bagi mereka yang menangani lebih dari satu client, mereka diminta mengkategorikan client UTAMA mereka (client yang paling banyak menyita waktu mereka). Separuh responden ternyata mengaku memiliki client multinasional, disusul 30% menangani client lokal/nasional.

Kemampuan/kompetensi client di 3 faktor

Responden diminta menilai client mereka dari segi: kompetensi marketing/PR, besar budget, dan kemampuan mengapresiasi ide kreatif.

Picture10

Menyangkut kompetensi marketing/PR, sebaran persepsi kompetensi client cukup “normal”. 40% responden menyebut “sedang2” saja. Sekitar 30% merasa client mereka pintar/pintar banget, hampir seimbang dengan yang merasa client mereka bego/bego banget.

Picture11

Soal budget, gambarannya kurang lebih sama seperti soal kompetensi marketing. Walaupun mereka yang mengklaim client utama mereka memiliki budget banyak/tajir banget sedikit lebih banyak dari mereka yang mengklaim client mereka miskin.

Picture12

Menyangkut kemampuan client menghargai kreatifitas ide, tampaknya juga tidak terlalu baru. Bahkan lebih dari sepertiga responden merasa client mereka lumayan mampu/sangat mampu menghargai kreatifitas ide.

Beberapa pesan dari responden kepada client mereka:

  • Mbak, gausah pamer2 foto jalan2 di Paris or tas2 mahal kalau tiap meeting minum teh botol aja masih suruh saya yang bayarin… :”)
  • Pleaaaase fokusnya jangan sales lagi sales lagiii

  • berani dikit kek eksplor ide kreatif yg lebih “gila” dan ga umum. jangan maennya di kuis-kuisan atau buzzing-buzzingan ajaaaa. basi!

  • Please sadar bahwa sesungguhnya Fanpage itu butuh ngiklan. Sekali-sekali lah paling enggak. Biar reachnya gak sedih-sedih amat lah…

  • Mau hasil bagus ada harganya, jangan terlalu banyak revisi kalo pitching yang ujung nya dikabariin kalo ternyata tetangga sebelah yang menang tapi ada ide creative kita yang di combine

  • Jangan melulu tentang keinginan lu deh.. percuma lu bayar kita terus buat dengerin ide lu doang. Tp nolak ide kreatif kita. Terus kalo ide dr lo gagal efektif di pasaran malah nyalahinnya kita. Deadline nya juga manusiawi dong Kita bukan robot, juga perlu ketemu keluarga gak dikantor tiap hari tiap malem. Dah itu aja. Maap kalo baper cuy

  • Wahai klien2 jaman sekarang, sudahilah kebiasaan terima2 duit panas dari agensi. 5 taon lalu kayaknya yang terima duit2 panas cuma klien2 yang posisinya di sales/field doang (atau procurement). Sekarang yang duduk di MarComm, Brand Management, ikut2an juga minta disuapin makan. Udeh dooong, kelian mestinya strategic partner dengan intelejensi tinggi yang bisa mendidik anak2 ahensi, biar adik2 AE kita sekarang respect sama posisi kalian. Kesian nanti generasi anak2 ahensi 10 taun kedepan kayak apa nasip moralnya kalo sekarang yang begituan makin terang2an😦 #sedihbanget

  • meeting internal dulu baru meeting dengan ahensi, jangan berantem sesama internal di depan ahensi..kan anying!

  • My team are the best the company can give to you. So just sit back, relax, and trust us. How can we come up with extraordinary ideas if you can’t trust us. Terus ya nyet, duit 150 juta tuh dikit!!!!!! 1 TVC aja minimal 500 juta udah kasian, lah elu minta 3 video???? Udah tau miskin, jangan minta kualitas berlian lah!!!! Susah banget diajak kompromi???? Kalo mau output bagus ya duitnya harus banyak nyeeeettt!!!

  • Dear klien, please kami bukan Bandung Bondowoso atau Sangkuriang yg bisa bikin seribu candi dalam semalam. Kecuali situ secantik Roro Jongrang beneran

  • Mbak banyakin produk gratisan dong!! saya juga mau kurus dan hidup sehat #ahem

  • Please .. kalo rekues revisi.. JANGAN JAM PULANG KANTOR DONG!

  • Don’t expect the grandeur of Rio Carnival if you can only afford Ondel Ondel.

  • WAHAI KLIEN, BERHENTILAH NGAJARIN GUE MODEL KOMUNIKASI DAN MODEL MARKETING TRADISIONAL. ITU GW UDAH KENYANG ZAMAN KULIAH, BIARPUN NGGA NGULANG SIH. TAPI GUE UDAH KHATAM. Ayo kita obrolin yang di depan mata aja. Straight to the point. Jangan diskusiin modul kuliah mulu tiap meeting mingguan. Btw, itu budget tactical mau approve kapan???

  • Tolong kalo gue kasih insights bener” dipelajari dan dijalanin dong! Itu kan bukan sekedar kata mutiara pemanis diary doang! Cape” gue buatin report eh gitu” aja ujung”nya pake cara ngana lagi cara ngana lagi

  • Pak. Saya tuh ngerti apa maksud bapak. Gausah dijelasin berkali2 paaaaak. Saya ga bego. Atuh lah. Saya ngerti kali pak vending machine!!! Bukan berarti gw kerja trus gw kampung banget ampe vending machine aja ga tau!!!! Tapi yang gw bingung adalah,lo ngapain naro vending machine di kantor gw yang isinya 7 orang doang???

  • Jangan berisik di whatsapp kalo weekend sih. Capeq. Aku bukan mba mba warteg, yang kamu bisa dateng kapan aja terus langsung dilayani saat itu juga. Huuuffh.

  • anak ahensi juga manusia, punya rasa punya hati. dan terutama PUNYA ASAM LAMBUNG JADI PLEASE BRIEF JANGAN TURUN DARI LANGIT SETELAH JAM 5 SORE DONG AH.

  • Semoga ga diperpanjang. Amin.

  • We are consultants, let us handle it.

Kesimpulan

Demikian lah hasil survei Anak Ahensi 2015. Bekerja di ahensi memang bukan untuk mencari kekayaan berlimpah. Kalo mau jadi kaya ya gak di ahensi! Data di atas menunjukkan bahwa uang memang bukan faktor terkuat dalam memilih berkarir maupun bertahan di dunia ahensi.

Toh, dengan upah secukupnya, ditambah kerja lembur dan stress deadline, kaum Anak Ahensi melaporkan mereka BAHAGIA di tempat mereka bekerja sekarang. Karena banyak hal-hal yang mereka nikmati dari bekerja di dunia ahensi selain uang semata. Suasana kerja yang menyenangkan, iklim kreatif, budaya kerja yang tidak formal, serta kesempatan belajar yang berlimpah – adalah sebagian dari hal-hal “non-uang” yang didapat dari bekerja di Ahensi.

Semoga temuan Survei Anak Ahensi ini menjadi penyemangat bagi teman2 yang telah bekerja di industri yang seru, menyenangkan, walau kadang-kadang memberikan gejala tipus ini. Dan bagi teman2 yang masih mempertimbangkan membangun karir di mana, semoga survei ini juga bermanfaat dalam mengambil keputusan.

Salam Ahensi!

 

 

Pemenang Cover Buku Ketiga Adalah…

Standard

Jadi ceritanya saya sedang di dalam tahap akhir penulisan buku ketiga saya, “The Alpha Girl’s Guide”. Buku ini pada dasarnya bertemakan women empowerment, dengan angle bagaimana para perempuan muda dan remaja bisa menjadikan Alpha Female sebagai inspirasi: para wanita yang cerdas, percaya diri, berprestasi, dan menjadi pemimpin di bidang dan komunitasnya.

Saat harus memilih desain cover dari beberapa desain yang diusulkan oleh Penerbit Gagas Media, terpikir ide untuk tidak memilih sendiri, tetapi meminta bantuan dari teman-teman followers di media sosial Ask.fm dan Twitter. Mari kita selesaikan secara demokrasi saja!

PhotoGrid_1445328516518

Survey dilakukan menggunakan survey online surveymonkey.com Dalam tempo kurang dari 24 jam, terkumpul 2,799 votes! Gokil sih, ini partisipasi survey tercepat yang pernah saya lakukan.

Dan siapakah pemenangnyaaaaa…….?? Ini lah hasilnya,

Chart_Q1_151021

Design no. 3 menjadi pemenang mutlak, dipilih oleh 56.2% responden, disusul oleh Design no. 1 dengan 29% responden. Design no. 2 adalah yang paling sedikit terpilih, dipilih oleh hanya 14.7% responden.

Jadi dengan ini design no. 3 resmi akan menjadi cover buku ketiga saya!

Mohon yang pilihannya menang tidak sombong, yang pilihannya kalah sportif dan tidak mengamuk membakar ban atau bra. Semua menerima hasilnya dengan legawa yaaa.😀

Jika kita memisahkan hasil voting berdasarkan kelompok umur, ini hasilnya:

Chart_Q1_151021 (1)

Di usia di bawah 15 tahun, Design no. 1 adalah pemenangnya, walaupun sangat tipis dengan no. 3.

Yang menarik adalah Design no. 2 justru relatif lebih disukai oleh responden usia di bawah 15 tahun DAN di atas 25 tahun! (Di kedua kelompok usia ini design 2 dipilih lebih dari 20% responden). Saya bingung juga kenapa ada paradoks ini, yaitu design no. 2 disukai responden termuda dan yang tertua. Kalau disukai usia remaja saya masih bisa mengerti, tetapi kenapa yang udah “dewasa” ini suka juga ya? Hmmm, sebuah misteri… *garuk2*

Selain soal pilihan cover buku, ada beberapa pertanyaan lain yang menarik untuk juga disimak.

Jenis Kelamin

Chart_Q2_151021

88.5% responden adalah wanita. Ini memang sesuai dengan target pembaca yang diharapkan. Ada 11.5% responden pria yang ingin juga ikut memilih:)

Profil Usia

Chart_Q3_151021

Porsi terbesar responden datang dari usia kuliah 18-21 tahun, sebesar 43.6%, disusul usia pekerja muda 22-25 tahun sebesar 23.6%. Jika digabungkan, artinya 2 dari 3 responden berusia 18-25 tahun. Responden remaja (17 tahun ke bawah) ada 16.2%, hampir sama dengan responden di atas 25 tahun.

Ketertarikan untuk preorder

Chart_Q4_151021

Lebih dari separuh responden menyatakan tertarik untuk melakukan preorder. JANJI YAAAAAA…….

Ketertarikan pada format e-book

Chart_Q5_151021

Rupanya mayoritas responden masih lebih menyukai format cetak. 70% responden masih memilih format buku. Hanya 14.6% yang menginginkan format e-book jika tersedia.

Demikian laporan pemenang design cover buku “The Alpha Girl’s Guide”. Nantikan terus berita Preorder-nya yaaa. Mohon doa restu agar semua proses berjalan lancar!

:)