One Week Affair With A Smartwatch (Review Awam Gear S2)

Standard

Saya menyukai dunia jam tangan.

Sejak kecil saya mengenakan jam tangan. Entah kenapa saya agak terobsesi dengan mengetahui waktu. Mungkin karena sedari kecil saya mempunyai ayah yang sangat terobsesi dengan ketepatan waktu (punctuality). Yang pasti, mungkin sejak SMP saya tidak akan meninggalkan rumah tanpa jam tangan.

Dari ketergantungan yang sifatnya fungsional, saat dewasa saya menjadi bertambah minat untuk mendalami berbagai merek dan model jam yang terkenal. Awalnya adalah ketika mantan bos saya mengajarkan bahwa pria yang sudah dewasa harus serius soal jam tangannya. Karena saat itu di usia 30-an masih memakai jam Casio dengan bahan resin ke meeting penting dengan klien direktur rasanya kurang pantas. Dari sekedar mencari-cari jam cowok yang “serius”, akhirnya jadi jatuh cinta beneran dengan dunia jam cowok dan segala cerita, sejarah, dan inovasinya – khususnya jam mekanikal.

Tetapi saat ini, rasanya jam tangan mulai perlahan kehilangan relevansinya. Saya melihat orang-orang di sekitar di kantor, apalagi Generasi Millenial (lahir tahun 1980-2000), mulai tidak mengenakan jam tangan. Saat ditanya alasannya, jawabnya, “Kan ada di hape?”

Call me an old soul, but to me a watch is a watch. Jam tangan tidak bisa digantikan oleh jam di hape. Selain ekspresi kepribadian, bagi saya kemampuan mengetahui waktu kapanpun, dengan cukup melirik tangan, tanpa harus merogoh kantong mencari hape, adalah sebuah keharusan. Never trust a man who does not wear a watch. Kalau pria ini tidak bisa mengetahui waktu kapanpun dan di manapun, bagaimana kita bisa berharap dia bisa menepati waktu? Apalagi menepati janji? Tsah, lebay gila….Tapi, seriously girls, carilah gebetan yang minimal memakai jam tangan. Artinya dia mungkin pandai membagi waktu antara kamu dan gebetan2nya. Dan pacar resminya. Eh.

Enter The Smartwatch…..

Waktu smartwatch mulai marak, jujur saya tidak tertarik. Selain kecenderungan saya yang menyukai jam mekanikal (untuk alasan-alasan yang bisa butuh satu blog sendiri menjelaskannya. Tapi artikel ini mungkin bisa membantu: “Why Mechanical Watches Are Cool“), awalnya bagi saya smartwatch adalah sesuatu yang memalukan. Smartwatch2 yang populer bentuknya “Eeewww!”, mengingatkan saya pad Ben 10. Pokoknya sesuatu yang hanya cocok dipakai anak SD, atau nerd jomblo abadi. Apple Watch? Blah. Selain saya malu memakai merek Apple, bentuk Apple Watch pun tidak menarik. Terlalu berusaha terlihat seperti smartwatch. So, selama 2 tahun terakhir ini konsep smartwatch tidak menarik sama sekali bagi saya. Sampai suatu hari, saya melihat gambar ini di internet:

samsung_gear_s2

Source: gizmodo.com.au

HOLY SHIT. Jam apaan nih yang di sebelah kiri dan kanan? Ini smartwatch? Kok CAKEP AMAT. Dan bagi saya dia cakep karena justru TIDAK TERLIHAT SEPERTI “SMARTWATCH”. Dari jauh, modelnya seperti jam klasik biasa, apalagi dengan bezel bergerigi. Belakangan saya mengetahui bahwa ini adalah smartwatch baru dari Samsung, yaitu Gear S2 Classic (yang tengah yang mirip Swatch itu seri “Sporty”).

Finally, sebuah smartwatch yang tidak terlihat seperti jam Ben 10. Sebuah smartwatch yang tidak alay seperti Apple Watch, yang terlihat didesain untuk pria dewasa. Dan untuk pertama kalinya saya peduli dengan konsep smartwatch. Usut punya usut, Gear S2 ini menerima banyak pujian di tech blogs, karena desainnya dan interface-nya yang dianggap jenius, karena menggunakan bezel yang cukup diputar-putar untuk memilih menu.

Jadi ketika ada penawaran preorder untuk Samsung Gear S2 di Indonesia, dengan potongan harga dahsyat PLUS bonus l leather strap tambahan, saya tidak bisa menahan godaan dan rasa penasaran saya. Tanpa sepengetahuan istri, saya pun ikut memesan. Dan seminggu lalu, akhirnya Gear S2 mendarat di tangan saya, dan “dinikahkan” (pairing) dengan Samsung Galaxy Note 5 saya.

Seminggu sudah berlalu. Apakah saya akhirnya bergabung dengan trend smartwatch? Apakah saya akhirnya berubah pikiran?

WellI have good news and bad news.

Mari mulai dengan good news dari pengalaman saya memakai Gear S2 selama seminggu. Sekalian menjadi review awam saya. Seperti biasa, karena ini review awam, jangan terlalu berharap bahasan spec yang mendetail ya. Untuk itu cukup banyak sumber lain di internet.

The Set Up

Saat pertama kali mengaktifkan Gear S2, maka pembeli harus menginstall app Gear Manager yang tersedia di Google Play. Begitu Gear Manager digunakan, maka akan terjadi sync otomatis dengan Gear S2 menggunakan Bluetooth. Aplikasi Gear Manager juga segera menentukan apakah perlu mendownload dan menginstall software upgrade terbaru untuk si Gear S2 ini. Oh iya, agar optimal, Gear S2 memerlukan fitur Bluetooth smarthone kita tetap aktif agar selalu synchronized.

Screenshot_2015-12-27-14-50-44

Di Gear Manager kita memiliki kontrol penuh atas Gear S2. Kita bisa mengeset notifications: apps apa saja di hape kita yang kita ijinkan mengirimkan notifikasi ke Gear S2. Kita juga bisa mengganti dan mengcustomize tampilah dial (muka) dari Gear S2 kita, dan juga mendownload dial-dial desain baru dari Samsung App Store.

The Design

20151224_065011.jpg

Samsung Gear S2 Classic ini bener2 ganteng. Diameter 42 mm membuatnya berukuran “standar”, yang artinya relatif cocok untuk semua tangan. Apalagi tangan orang Asia/Indonesia yang biasanya kecil. Seri Classic bener-bener terlihat seperti jam konvensional, bahkan dengan kemampuan bergonta-ganti strap layaknya jam biasa. Bodynya dari stainless steel mengkilap yang kokoh dengan kaca Gorilla Glass 3 yang tahan baret. Dan yang paling penting, dari jauh Gear S2 Classic terlihat seperti jam biasa.

Ketebalan Gear S2 bagi saya “sedang”. Dia tidak tipis, tentunya untuk bisa mengakomodir mesin di dalamnya. Tetapi yang pasti Gear S2 tidak bisa dibilang terlalu tebal sampai mengganggu. Bobotnya juga cukup ringan bagi saya.DSC_0058

 

 

 

Di bagian belakang tampak sensor yang saya duga untuk mengukur detak jantung.

20151224_065222-1.jpg

Sewaktu preorder, saya sempat melakukan “kesalahan”. Saya tidak tahu bahwa saat memesan saya bisa menentukan warna leather strap yang menjadi bonus (untuk strap standar aslinya adalah black leather/warna hitam). Ternyata ada pilihan warna grey atau brown untuk strap bonus. Ternyata tanpa sadar saya memilih grey (abu-abu). Saya sedikit kecewa waktu menyadari hal ini di tempat pick-up preorder. TADINYA saya pikir saya akan menyukai leather coklat. Tetapi ternyata saat saya mengambil si bonus grey strap dan memasangnya ke Gear S2, saya tidak menyesal sama sekali. Warna grey strapnya bagus sekali, tidak umum, dan bisa mudah di-mix and match dengan baju yang dipakai.

The Display

20151224_103016.jpg

Kelebihan Samsung sebagai produsen gadget bagi saya adalah karena mereka memiliki pengalaman banyak sekali dalam membuat TV. Teknologi display AMOLED dari Samsung adalah yang terbaik yang digunakan di smartphone bagi saya, dan teknologi yang sama digunakan di Gear S2. Display sangat terang dan tajam. Keunggulan AMOLED adalah warna hitam yang “benar2 hitam”. Hal ini menyebabkan beberapa pilihan desain dial/muka analog terlihat sangat realistis, sekilas hampir seperti jam jarum biasa.

Teks sangat jelas terbaca, hal ini karena pixel per inch yang sangat tinggi. Jadi kalo ada pesan teks atau cuplikan artikel, bisa dibaca dengan jelas. Gear S2 juga menyesuaian diri saat berada di outdoor, sehingga display tetap terbaca jelas bahkan saat kondisi terang di luar ruangan.

The Experience

Secara user experience, maka keunggulan Gear S2 adalah penggunaan bezel untuk navigasi. Memilih menu cukup denga memutar bezel dan kombinasi tap pada layar. Kita bisa saja memilih alternatif swiping, tapi percayalah, memakai bezel terasa lebih intuitif dan fun. Sebagai bayangan memakai bezel Gear S2, bisa dilihat di iklan aslinya dari Korea.

Well, bisa ngapain aja sih smartwatch yang satu ini? Pendeknya, Gear S2 ini adalah extension dari smartphone kita. Jika ada telepon masuk, maka Gear S2 akan bergetar dan menunjukkan identitas penelpon, dan juga bisa diangkat (walaupun percakapan harus menggunakan handsfree atau di hape-nya langsung karena Gear S2 tidak memiliki speaker dan mic). Email yang masuk ke hape kita bisa dibaca di sini. Pesan2 yang masuk ke WhatsApp atau Line bisa diintip dulu di jam, dan bahkan bisa dibalas menggunakan emoji! Membalas mengetik juga bisa, melalui T9 keyboard (itu loh, keyboard jaman Nokia jadul, yang 1 tombol untuk 3 huruf: ABC-DEF-GHI, dst). Kalau kita pikir sulit mengetik di layar jam yang kecil, saya sudah mencobanya, dan ternyata it’s not that hard. Toh kalau kita memilih membalas pesan di smartwatch pasti karena ingin menjawab pendek saja. Jika ingin membalas panjang beresay-esay, ya silahkan pake hape aja tho?

emoji_Main.jpg

Source: news.samsung.com

Gear S2 juga memberikan update calendar sesuai dengan skedul yang di-sync dengan calendar hape kita. Ada juga fitur menghitung langkah, untuk mengetahui apakah kita sudah cukup banyak berjalan hari ini (konon yang sehat itu setiap hari berjalan 10,000 langkah cuy). Ada juga fitur pengukur detak jantung, siapa tahu deg2an mau ketemu calon mertua, bisa diukur dulu pake Gear S2. Gear S2 juga bisa menjadi pengendali music player hape kita, atau kita bisa mengisi lagu langsung di dalamnya karena ada kapasitas storage sebesar 4 GB.

Beberapa app “bawaan” Gear S2 adalah Nike app untuk yang suka olahraga lari. Ada juga widget Flipboard untuk update berita terbaru sesuai jenis berita yang kita pilih (sports, news, science, entertaiment, etc.) Yang menarik adalah widget ini seperti memberi teaser berita singkat. Jika kita tertarik membaca lebih lanjut, cukup tap “Show on Phone”. Begitu kita mengambil hape kita, eh artikel full-nya sudah nampang di layar hape.

Ada juga app Map. Tetapi sayangnya ini bukan Google Maps, tetapi dari app Here. Petanya tidak sebagus Google Maps untuk saya, dan cukup lama untuk menentukan posisi kita. Tetapi sekedar alat bantu untuk orientasi arah, ya lumayan saja.

Gear S2 bisa diatur untuk bergetar saat ada notifikasi masuk, dan seberapa kencang getarannya bisa diatur oleh kita, tergantung seberapa badak kulit kita.

OS Tizen

Gear S2 tidak menggunakan OS Android Wear yang umum digunakan smartwatch2 lain yang non-iOS, tetapi menggunakan OS sendiri yang dikembangkan oleh Samsung, namanya “Tizen”. Keunggulan Tizen ini tentunya adalah bisa memanfaatkan bezel putar dari Gear S2, sehingga menu juga disajikan melingkar (circular). Kelemahannya adalah jumlah aplikasi yang masih sedikit sekali, sementara Android Wear yang didukung ekosistem Android yang sudah matang tentunya mempunyai lebih banyak aplikasi untuk smartwatch.

_20151227_150659

Sejujurnya, saya tidak melihat kebutuhan untuk punya banyak apps, selain yang sudah di-support oleh Gear S2. Hal ini karena saya menginginkan interaksi dengan smartwatch yang secukupnya saja, karena device utama saya tetaplah si smartphone saya. Notifikasi semua app dan calendar yang sering saya gunakan rasanya sudah cukup. News update dan monitor detak jantung adalah bonus yang sangat cukup bagi saya. Kalau saya ingin menghabiskan waktu lebih lama memainkan banyak apps di gadget, rasanya mendingan di hape yang layarnya lebih besar gak sih?

The Battery

Kalo baca-baca review smartwatch model-model lain, baterai seringkali menjadi pertanyaan utama. Ngerti sih, karena apa point-nya punya jam pintar yang sudah mati jam 8 malam, ketika kita bahkan baru siap2 untuk pergaulan sesudah kerja seharian di kantor. Bagaimana Gear S2?

Bagi saya, endurance baterai Gear S2 sangat memuaskan. Pengalaman saya, dari keadaan baterai 100% sampai habis total memerlukan waktu 30 jam! Ini artinya selembur2nya kita, Gear S2 setia menemani kita dari berangkat kantor sampai pulang jam 4 pagi. Gear S2-nya sih selamet, gak tau deh yang pake ketika disambut istri….

Artinya, charging dock Gear S2 tidak perlu dibawa2 seperti lazimnya kita membawa charger hape, cukup ditinggal di rumah. Gear S2 cukup dicharge saat kita tidur dan besoknya dijamin cukup menemani kita seharian beraktivitas.

Charger Gear S2 unik karena menggunakan wireless technology. Chargernya berbentuk semacam dock dengan magnet. Cukup tempelkan Gear S2 ke dock dan langsung proses charge terjadi. Saat lampu indikator berubah hijau artinya Gear S2 sudah fully charged, dan jam cukup ditarik dari dock.

20151226_201756

So, how does smartwatch really work?

Jadi bagaimana pendapat saya mengenai smartwatch secara keseluruhan?

Kalau menggunakan analogi: jika smartphone kita adalah ruangan direktur, maka smartwatch adalah si “sekretaris galak” yang duduk di luar ruangan direktur. Saya melihat smartwatch pertama-tama sebagai gerbang terhadap smartphone kita. Maksudnya begini.

Tanpa smartwatch, maka praktis semua notifikasi harus dicek di hape kita. Seringkali, situasinya mungkin tidak ideal untuk memegang hape. Mungkin kamu lagi meeting penting yang intens dan tidak sopan untuk main hape. Mungkin kita sedang ngobrol dengan keluarga besar, yang juga tidak sopan jika kita tiba-tiba bermain hape. Atau kita berada di sebuah angkutan umum yang penuh sesak. Smartwatch bagaikan sekretaris yang terlebih dahulu memberitahu kita ada siapa atau apa saja yang meminta perhatian kita. Jika ternyata tidak penting, kita cukup membaca di smartwatch, dan tidak perlu melakukan apa-apa. Tetapi jika ada hal yang urgent, barulah kita mengambil smartphone kita untuk melakukan tindakan lebih lanjut.

Dengan analogi “sekretaris direktur yang galak” ini, maka seharusnya smartwatch bisa membantu kita lebih efisien menggunakan smartphone. Kita bisa disiplin memilih hanya app esensial saja yang boleh memberi notifikasi di jam pintar. Tentunya, jika kita memilih SEMUA app kita untuk sync dengan smartwatch kita, ya sama juga bohong. Dikit-dikit smartwatch kita akan mengganggu kita dengan komen2 FB yang gak penting….

Jadi, apakah akhirnya saya mulai tertarik dengan konsep smartwatch? Jawabnya adalah…..

NGGAK TUH.

Saya masih lebih menyukai jam konvensional mekanikal yang “jadul”, tapi menurut saya lebih keren

And here are the bad news that makes me still not interested to switch to smartwatch.

Tidak bisa “dilirik”.

Display Gear S2 tidak menyala terus-terusan. Display baru aktif saat sensor merasakan bahwa kita sedang mengangkat pergelangan tangan untuk mengecek waktu. Di semua posisi lain, Gear S2 akan padam, untuk menghemat baterai.

Di sini lah jam konvensional masih lebih superior. Saya bisa “ngintip” jam tangan saya dalam posisi tangan apapun. Selain itu, smartwatch jadinya terkesan “egois”, karena tidak bisa dilihat oleh orang lain dari posisi yang tidak sesuai.

Memang Gear S2 menyediakan opsi “always on”. Dengan opsi ini, saat jam tidak berada di posisi “dilihat”, dial jam menunjukkan jarum jam dan menit yang minimalis sehingga tetap bisa diintip atau dilihat orang lain.

_20151227_151055

Dengan opsi “always on” , jarum jam dan menit terus menyala

Problemnya dengan fitur “always on” ini adalah, praktis daya tahan baterai langsung drop. Dalam percobaan, baterai jam sudah tersisa sekitar 20% saat baru jam 7 malam (kondisi full saat pagi jam 8). Dengan “always on”, ada resiko pengguna yang lembur sampai malam dan tidak membawa chargernya akan kehabisan baterai sebelum tengah malam. Praktis fitur “always on” ini tidak bisa menjadi solusi.

Di sinilah saya lebih menyukai jam mekanikal (baik automatic maupun manual wind). Saya menginginkan jam yang saya tahu akan terus bekerja sepanjang aktivitas saya, tanpa harus khawatir mencari chargerpower bank, atau colokan. Jam pria sejati rasanya harus selalu siap menghadapi berbagai situasi tanpa khawatir kehabisan baterai. Bayangkan skenario-skenario yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita:

  • Terjadi zombie outbreak saat kita ketinggalan charging dock di rumah. Kita tidak bisa pulang padahal zombie sudah memenuhi jalan. Matilah jam kita.
  • Simpanse mengalami mutasi genetik, menjadi pintar, dan menguasai Gedung Putih dan gedung DPR. Peradaban hancur dan listrik padam karena instalasi listrik dikuasai simpanse. Matilah jam kita.

Dengan membayangkan skenario sangat mungkin di atas, maka saya memilih memakai jam mekanikal saja. Dalam keadaan serbuan zombie, saya tahu saya tetap bisa meeting klien tepat waktu.

20151227_163903-01

Dalam situasi zombie outbreak atau simpanse menguasai parlemen, saya akan memilih Seiko Sumo (kanan)

Tidak bandel

Setahu saya belum ada smartwatch yang cukup tangguh untuk dibawa berenang, apalagi diving. Gear S2 memiliki IP rating 68, artinya tahan debu dan air kedalaman 1.5 meter selama 30 menit. Tapi ini lebih dimaksudkan di dalam situasi “tidak sengaja”, seperti kehujanan, atau jam dilempar pacar ke kolam lele karena emoji cium dari cewek lain masuk ke jam itu.

Di sini, jam mekanikal diver dengan ketahanan air minimal 100 meter jelas lebih tangguh dan lebih bisa dibawa ke mana-mana, termasuk berlibur ke pantai. Saya masih merasa smartwatch sebagai sebuah gadget ringkih yang tidak bisa diajak ke semua aktivitas kita.

Selain itu, smartwatch yang full electronic juga rentan serangan alien. Jika alien menyerang bumi, ada kemungkinan mereka melumpuhkan semua elektronik manusia dengan senjata EMP (Electromagnetic Pulsa) yang akan merusak semua sirkuit elektronik. Jam mekanikal tidak akan terpengaruh serangan ini. Lagi2, dalam situasi serangan alien, jam mekanikal akan unggul dan bertahan hidup.

Tidak cukup “sexy”.

Ini adalah preferensi subyektif saya. Tapi sesudah seminggu memakai smartwatch, saya masih merasa jam mekanikal jauh lebih sexy. Saya masih menyukai jarum jam dan menit yang real, yang bisa mengkilat terkena cahaya matahari. Somehow jarum jam yang dibentuk secara digital terasa artificial (dan saya tidak suka format digital).

Saya menyukai suara mesin jam mekanikal yang khas berdetak cepat. Atau ayunan pendulum jam automatic. Atau gerakan jarum detik yang menyapu khas jam mekanikal. Semua sentuhan “old school” ini justru lebih sexy karena terasa lebih “otentik” – sebuah jam yang semua gerakannya datang dari interaksi ratusan parts yang bisa dilihat, bukan dari kode binary dan arus listrik.

Tidak tahan lama.

Dugaan saya, smartwatch akan sama seperti smartphone. Softwarenya harus selalu diupgrade, dan batasan upgrade ini adalah hardware. Prosesor akan selalu bertambah, memory akan bertambah, dan fitur dan sensor akan bertambah. Semua snartwatch yang diluncurkan tahun 2016 mungkin akan menjadi usang di tahun 2018.

Tidak demikian halnya dengan jam mekanikal. Sebuah jam mekanikal bisa tetap berfungsi selama 10 tahun, bahkan lebih jika dirawat teratur. Tidak perlu khawatir software upgrade atau prosesor yang sudah tidak memadai lagi.

Kesimpulan

Jadi, apa kesimpulan saya mengenai Samsung Gear S2?

Gear S2 adalah sebuah smartwatch yang bagus. Design dewasa dan elegan (seri Classic), interface yang brilyan, layar mumpuni, dan baterai tahan lama. Jika kamu berminat akan smartwatch, maka Gear S2 layak dipertimbangkan.

Tapi bagi saya smartwatch tidak bisa menjadi “jam utama”. Gear S2 menarik sebagai novelty factor, cocok untuk situasi2 tertentu, tapi tidak bisa menjadi jam utama. Misalnya saat weekend, atau saat-saat di mana hape mungkin sulit dijangkau (misalnya meeting atau workshop full day). Yang pasti, di situasi atau hari-hari di mana kita tahu pasti kita akan pulang saat malam karena smartwatch perlu dicharge setiap malam.

Samsung Gear S2 cocok bagi mereka yang sekarang masih membeli jam-jam fashion seperti Daniel Wellington. Daripada membeli jam fashion gak penting yang juga hanya bersifat trend2an, masih lebih baik memakai smartwatch, minimal masih ada gunanya untuk membantu konektivitas dan produktivitas.

Saya sendiri masih akan mengandalkan jam mekanikal , karena kita tidak pernah tau pasti kapan zombie, simpanse, atau aliens akan berusaha menguasai kita. Yeah!

Trims atas perhatiannya! :D

 

Why Star Wars (Still) Matters

Standard

War[WARNING: MILD SPOILER BELOW]

So finally the most anticipated movie of 2015 is finally here.

Well, at least, ‘anticipated’ by some. Especially those who grew up with the original trilogy, and even the horrible prequels. I expect that everyone should be as excited as I am to welcome Episode 7: The Force Awakens. So I was initially surprised when many asked me on the Ask.fm platform, whether they need to watch any of the previous installments to make sense of the new Star Wars.

Welcome to 2015. Times have changed since the last prequel Revenge of The Sith appeared a decade ago. And apparently, MANY young people never saw Star Wars. And obviously, they could not fathom what was really the big deal that middle-aged men would shamelessly marched into the cinema in costumes and plastic lightsabers.

tfa_poster_wide_header-1536x864-959818851016

Source: Starwars.com

Does Star Wars still matter? Or, do we finally have to say goodbye to a mythology from a galaxy far far away, a long time ago?

After seeing it myself, I wanted to say that Star Wars still matters. Even to today’s Marvel-eyed young generation who are probably more familiar with Iron Man’s armor series than the Millenium Falcon. This is because The Force Awakens, much like all the previous Star Wars movies, is not so much about some alien conflict in distant place and time. Star Wars is, has been, and will always be, the story about us.

Pay attention to the characters, their angst, their passion, and their hopes. They all happen in our everyday lives.

Like Finn, the guy who must make important choice that defines his future. Because his past, what brought him to be now, does not necessarily dictate what he could be in the future. His is the theme of many of us, who are often haunted by our past and doubted our own power to change.

Or Rey, a survivor soul, abandoned and learned to fend for herself since little. It was when she learned to trust others that she discovered her new family. Hers is also a story of the strength and courage of women, not the slightest less than her male compatriots.

Han Solo and Leia Organa, once the blaster-wielding rebels who beat Emperor Palpatine in their youth, now must struggle to learn the art of parenting. And they must learn that raising and loving a child would be a far greater challenge than facing off entire Imperial army. And perhaps, demanded a far greater sacrifice – like many parents do.

Or Kylo Ren, the masked antagonist with serious temper problem. Perhaps, he will remind you of a friend who seems so angry outside, because he is hiding great insecurity inside. Perhaps, he will remind you of yourself.

Even the fascistic First Order, fashioned after Nazi party, also resembles today’s fear of ISIS. These are a group of people that desire to impose their values and way of lives upon the unwilling others, and any resistance will be dealt with swiftly and harshly.

Even we were given a glimpse of Luke Skywalker’s angst. Although much of what really happened is still shrouded in mystery, we were shown how the legendary savior of the galaxy must have felt so burdened that he exiled himself. Even the greatest heroes had their fears.

All these are the reasons why Star Wars still matters. In the fictitious drama of alien beings on alien worlds, their struggle is very much human. All the events in The Force Awakens may have happened a long time ago in a galaxy far far away, but their echoes are close to our hearts, today.

And this is why the saga will continue.

May The Force Be With Us. Always. :)

 

Dengan Foto Melawan Perubahan Iklim? #ad

Standard

Isu perubahan iklim, siapa yang perduli? Rasanya topik ini ada dalam prioritas terakhir kehidupan kita sehari2. Kita semua punya banyak topik lain untuk dipikirkan: tugas sekolah, kerjaan, pacar, mantan, client, setoran, terorisme, perang, korupsi, dan lain-lain. Siapa yang perduli dengan “perubahan iklim” (climate change), sesuatu yang tidak kita rasakan langsung (walaupun mungkin sudah tapi tidak kita sadari, seperti musim kemarau yang lebih panjang, atau suhu yang makin panas).

Hal ini sebenarnya adalah suatu tragedi, mengingat bagi para ilmuwan dan tokoh-tokoh negara, isu perubahan iklim adalah sesuatu yang serius dan harus ditangani. Spesies manusia hanya punya satu planet. Jika planet ini berubah sampai tidak bisa dihuni manusia lagi, memangnya kita bisa ke mana? Tidak ada back-up planet, tidak ada real estate lain (di mana hari Senin harga naik) di alam semesta untuk kita hijrah dengan mudah. Kalau udah lihat film The Martian, maka terbayang planet Mars gak enak banget kan untuk ditinggali? Looks like we are stuck in THIS planet, and we’d better make it work.

Makanya gw gak pernah setuju “Save Our Planet”. Planet ini tidak perlu diselamatkan. Jika ada perubahan iklim, spesies manusia mungkin akan punah, tetapi planet ini sih baik-baik saja, dan spesies2 lain yang cocok dengan iklim baru akan tetap hidup. Yang lebih tepat harusnya “Save Our Existence!” Yang terancam perubahan iklim justru eksistensi kita sendiri sebagai spesies.

Kalau masih nggak percaya bahwa isu perubahan iklim adalah sesuatu yang serius, sekarang sedang berlangsung konferensi perubahan iklim di Paris (COP21) oleh PBB, tanggal 30 November sampai 11 Desember 2015 yang diikuti para tokoh negara dan bisnis dunia. Tujuan dari konferensi ini adalah menghasilkan kesepakatan dan langkah-langkah nyata untuk menangani perubahan iklim. Jadi memang gak main-main kan?

Terus, apakah peristiwa ini hanya menjadi sebuah peristiwa yang “jauh” (distant) dari kita, kalah dengan isu Papa Minta Kopi, eh, Saham? Tidak juga! Perusahaan APRIL Pulp & Paper yang beroperasi di Riau ingin mengajak masyarakat, khususnya para pelajar, untuk bisa ikutan berkontribusi terhadap isu perubahan iklim. Caranya? Dengan kekuatan foto!

Kekuatan foto?

Ada istilah, “A picture speaks a thousand words” (Sebuah gambar bisa menyampaikan seribu kata). Foto yang powerful bisa menginspirasi orang. Contohnya foto yang beruang kutub yang susah payah berpegangan di sebuah bongkah es yang sudah sangat kecil karena meleleh ini:

Untitled

Sumber: http://www.mirror.co.uk/news/uk-news/polar-bear-clings-tight-iceberg-882963

Foto ini bisa langsung menunjukkan efek perubahan iklim tanpa harus banyak berbicara. Kita semua tertegun, dan bisa merasakan empati, dan sekaligus melihat kengerian yang ditimbulkan jika perubahan iklim tidak sungguh-sungguh ditangani.

Karenanya perusahaan APRIL sebagai bagian dari dukungan terhadap climate and sustainable development goals PBB mengajak masyarakat untuk menggunakan kekuatan gambar, membangun kesadaran bahwa isu perubahan iklim ini tidak main-main, dan kita semua yang terkena dampaknya. Ingat kita lah yang membutuhkan planet ini, bukan sebaliknya.

APRIL Pulp & Paper mengadakan lomba twitpic #CaptureClimate, sebuah inisiatif internasional dari PBB. Jadi karya kamu akan bergabung dengan foto-foto seluruh DUNIA lho! Caranya, follow akun @studentsvaganza di Twitter, post foto orisinil yang menggambarkan perubahan iklim atau aksi nyata kamu menahan perubahan iklim (gunakan hestek #CaptureClimate #Indonesia), dan peserta berkesempatan memenangkan 10 Action Camera Xiaoyi.

Jadi gunakan kreativitas dan mata yang jeli, untuk menangkap gambar yang powerful dan inspiratif, untuk membangunkan masyarakat bahwa isu perubahan iklim ini adalah sesuatu yang riil dan kita semua bersama-sama bisa melakukan sesuatu! Untuk informasi lebih lanjut, follow akun Twitter @studentsvaganza dan @APRILpulp.

Lomba twitpic ini didukung oleh APRIL Pulp & Paper, perusahaan yang dalam operasinya menjalankan konservasi lingkungan, restorasi, dan penanggulangan kemiskinan di masyarakat daerah di Indonesia.

Ayo, gunakan kekuatan foto untuk melawan perubahan iklim!

Review Awam Sony Xperia Z5

Standard

Okay, kembali lagi dengan review awam @newsplatter. Kali ini gw menerima sebuah unit smartphone Sony Xperia Z5 berwarna gold. Seperti biasa, disclaimer di muka: ini adalah review AWAM, jadi tidak akan teknis banget, dan merupakan review dari perspektif pengguna awam. Kalau ingin tahu detail teknis yang lebih dalam, silahkan cari sendiri ya di situs2 tech seperti GSMarena, Techcrunch, The Verge, dan banyak lagi.

The Brand and Design

Seri Sony Xperia Z bukan seri yang asing buat gw. Ini adalah seri flagship kebanggaan dari Sony. Gw sudah pernah menggunakan Xperia Z yang pertama . Saat baru pertama kali keluar, gw inget Xperia Z memukau banyak orang. Ketika smartphone saat itu kebanyakan tampak “murah” dan “plasticky”, Xperia Z sudah memiliki body premium.

4 iterasi kemudian, tibalah kita pada Xperia Z5. Xperia Z5 segera mudah dikenali sebagai bagian dari keluarga Xperia Z. Designnya tidak jauh berbeda dari Xperia Z sebelumnya. Bentuk “kotak” dengan materi premium. Bagian belakang menggunakan materi glass yang frosted (matte/”dof” kalo kata orang Indonesia). Positifnya adalah bagian belakang tidak selicin jika menggunakan permukaan smooth, dan juga tidak menjadi fingerprint magnet (mudah kotor oleh sidik jari).

20151028_084146

20151206_141557

Bagian belakang frosted glass

Design yang SANGAT konsisten ini bisa menjadi good news dan bad news. Good news, karena Xperia Z sudah berhasil menemukan bahasa design sedari dulu, ketika merek2 Android lain masih berusaha menemukan design yang bagus. Bad news-nya, bagi mereka yang mengikuti perkembangan seri ini, sulit sekali membedakan antara satu Xperia Z dengan lainnya. Yang pasti, warna gold Xperia Z5 sangat bagus dan mewah. Sangat menarik perhatian orang lain saat digunakan.

Xperia Z5 memiliki “bumper” dari plastik di sudut. Tujuannya tampaknya untuk melindungi dari situasi jatuh di permukaan keras. Overall, Xperia Z5 sangat solid di genggaman, dengan bezel/pinggiran yang diberi sedikit lengkungan sehingga tidak terasa terlalu kaku.

20151206_151348

Sama seperti kakak-kakaknya, Xperia Z5 mendapat rating tahan air dan debu. Yang menarik adalah Sony tahun ini memberikan statement bahwa sebaiknya Xperia Z tidak digunakan di bawah air dengan sengaja, atau warranty menjadi tidak berlaku. Hal ini sangat berbeda dari komunikasi Xperia Z sebelumnya yang sengaja menggambarkan penggunaan memotret di bawah air. Hanya port untuk Nano SIM card dan MicroSD card (Haleluya, masih ada MicroSD slot!) yang diberi penutup. Port charger dan headphone terbuka.

20151206_151233

sebelah kiri tampak flap yang melindungi MicroSD dan Nano SIM card. Tulisan “Xperia” sendiri digrafir sehingga tampak mewah.

Fingerprint scanner

Trend lockscreen ke depan tampaknya akan semakin mengandalkan biometrik. Selamat tinggal nomor PIN atau menggambar “pola garis” rahasia yang gampang ketebak (kebanyakan bikin huruf “M” kan? Ngaku aja!) Sony menyusul iPhone dan Samsung dengan menggunakan sidik jari untuk membuka lock screen. Tetapi ada keunikan yang ditawarkan Sony:

Letak fingerprint scanner-nya ada di SAMPING, di tombol Power!

Tidak seperti Samsung dan iPhone yang meletakkan scanner di tombol Home di depan, Sony meletakkan di tombol power sebelah kanan!

20151206_151313

tombol power merangkap fingerprint scanner

Ada beberapa keuntungan dari posisi ini. Yaitu letak yang sangat natural saat kita menggenggam unit, baik dengan tangan kiri dan tangan kanan. Untuk tangan kanan, kita cukup memrogram sidik jari jempol kanan, dan telunjuk kiri jika kita menggenggamnya dengan tangan kiri. Pengalaman gw letak scanner di tombol power ini sangat natural dan cepat. Scanner mengenali jari gw dengan cepat sekali, almost every time. Kudos ke Sony untuk inovasi fingerprint scanner-nya.

Sebagai catatan, tombol volume diletakkan di sebelah kanan di bawah tombol power. Posisi ini rasanya agak aneh buat gw, yang kebiasaan mengatur volume di sisi kiri. Dengan posisi ini, mengubah volume suara tidak bisa dilakukan dengan menggenggam satu tangan (one hand operation).

Di sisi lain, Sony mempertahankan tombol shutter (di bawah volume control) dedicated untuk memotret foto. Gw selalu suka tombol dedicated, karena rasanya lebih mantap mengambil foto dibanding men-tap layar.

20151206_151335

Display

Sony Xperia Z5 mengusung display 5.2 inch IPS. Sony tidak mengikuti trend Samsung dan LG yang sudah menggunakan Quad HD, dan masih menggunakan Full HD (1,080 x 1,920). Tapi menurut gw untuk ukuran 5.2 inch, resolusi ini masih bagus sekali. Gambar dan teks sangat tajam dengan warna yang terang banget.

20151206_153708

Performance

Xperia Z5 membesut RAM 3 GB, yang cukup besar untuk saat ini, dengan kombinasi 2 x Quadcore Qualcomm prosesor (total 8 prosesor). Kombinasi memori besar dan prosesor kenceng ini memberikan experience yang relatif sangat smooth. Hampir tidak ada lagging, termasuk saat memainkan game yang 3D heavy seperti Need for Speed.

Internal memory Z5 adalah 32GB. Tetapi dengan adanya MicroSD slot, memory internal ini dapat diekspansi dengan mudah.

Catatan: dalam penggunaan layar yang agak lama, misalnya browsing, main game, atau memotret, gw merasakan body Xperia Z5 terasa agak panas. Tidak panas sekali sampai mengganggu, tapi cukup terasa. Harus dicatat bahwa saat panas ini kinerja smartphone sendiri tidak terganggu sama sekali, atau crash. Mungkin saking kencengnya prosesornya?

Kamera

Bagi gw, kamera smartphone mumpuni itu penting. Selain senang mengcapture momen sehari-hari, saat traveling pun rasanya gw sudah malas membawa kamera lagi, bahkan kamera pocket sekalipun. Jika smartphone sudah memiliki kamera keren, gak perlu bawa kamera lagi. Lebih ringkes!

Sony dari dulu terkenal paling GILA soal kamera, minimal soal resolusi. Xperia Z5 membesut kamera belakang dengan resolusi 23 MP. DUA PULUH TIGA MEGAPIXEL! Gw saja biasaya hanya memakai setting 8MP karena ingin menghemat storage. Jadi bagi kamu yang senang foto ukuran besar, misalnya untuk dicrop tapi gak “pecah”, Xperia Z5 ini gokil sih. Dan adanya MicroSD slot artinya kamu tidak perlu khawatir soal mengambil foto besar.

Tidak hanya soal resolution. Xperia Z5 menjanjikan autofocus super cepat yang bisa memfokus dalam kecepatan 0.03 detik! Jika benar, maka ini gilak sih, lebih cepet dari komen menawarkan “MAU HAMIL TAPI SUSAH COBA HERBAL” yang muncul di postingan Dian Sastro di IG. Gw sendiri gak akan bisa mengukur kecepatan fokus Z5 sampai seakurat itu, tapi memang terasa sangat SANGAT cepat. Jadi cocok lah ini untuk para pemburu foto momen2 untuk dibuat meme….

Sayangnya megapixel dahsyat ini tidak didampingi dengan OIS (Optical Image Stabilizer). Menurut gw smartphone flagship sudah standarnya diberikan stabilizer lensa, untuk mengambil foto dalam situasi low-light dengan lebih baik. Ketiadaan OIS ini tetapi dicoba dikompensasi dengan bukaan (aperture) besar f/2.0 yang lumayan membantu.

Kamera Xperia Z5 memiliki mode Intelligent Auto yang akan menilai obyek dan menentukan settingan foto terbaik untuk obyek tersebut. Bagi kebanyakan pengguna kasual, Intelligent Auto harusnya sudah cukup memuaskan. Bagi yang suka “ngulik”, ada mode Manual untuk bisa melakukan setting sendiri.

Hasil foto

Di cuaca cerah, outdoor, hasil foto Xperia Z5 sangat mengagumkan. Warna terlihat nyata dan cerah. Ini bener2 pas untuk para traveler, apalagi yang senang memotret obyek luar ruang.

DSC_1119

DSC_1115

Di suasana indoor, tanpa flash, Xperia Z5 masih memberikan gambar yang lumayan terang.DSC_0008

Di suasana gelap sekalipun, sepanjang obyek foto memiliki sumber cahaya, Xperia Z5 masih memberikan hasil yang baik. Seperti foto restoran outdoor di bawah ini:

DSC_1071

DSC_1097

Tampaknya walaupun tidak dibekali Optical Image Stabilizer, Xperia Z5 masih mampu mengambil gambar di dalam suasana low-light dengan memuaskan.

Kamera depan

Xperia Z5 memiliki kamera depan 5MP yang menurut gw sangat bagus hasilnya. Ada fitur “smile trigger”, jadi kamera selfie memotret saat mendeteksi senyuman kita. Kita bisa mengeset seberapa “lebar” senyuman kita yang akan mentrigger kamera.

DSC_1061

Hasil kamera selfie. Resolusi diturunkan ke 3.7MP dan hasilnya masih sangat tajam

Secara keseluruhan, bisa dibilang Sony masih menghasilkan salah satu kamera smartphone terbaik saat ini. DxOMark, situs yang mengevaluasi kamera smartphone bahkan memberikan gelar kamera smartphone terbaik saat ini kepada Xperia 5.

Performa baterai.

Kinerja baterai sekarang selalu menjadi pertanyaan para pengguna smartphone. Bagaimanapun, semakin lama kita bisa menggunakan smartphone tanpa mencari colokan, the better. Walaupun Sony mengclaim baterai Z5 bisa bertahan sampai 2 hari, tapi pengalaman gw tidak sampai segitu. Z5 memang bertahan dari pagi sampai sore/malam dengan penggunaan sedang (which is already VERY good), tetapi saat tidur sudah harus dicharge lagi jika kita ingin keesokan paginya segera beraktivitas dengannya.

Xperia Z5 menawarkan fitur Stamina dan Ultra Stamina mode untuk memperpanjang usia baterai, menggunakan trik klasik memutus koneksi data saat smartphone dalam keadaan locked. Jadi fitur ini bisa dicoba jika kamu sebenarnya tidak butuh-butuh banget menerima stiker LINE setiap saat…..

Fitur lainnya

Fitur lain yang ditawarkan oleh Xperia Z5 adalah app “Lifelog”. Seperti namanya, app ini bener2 merekam SEMUA aktivitas kita dari terbangun di pagi hari sampai bobok lagi. Jumlah langkah, aktivitas lari, kalori yang terbakar, sampai aktivitas digital akan tercatat di sini. Jadi anggap saja kamu punya jurnal aktivitas kamu yang sangat komprehensif. Kapanpun kamu bisa “memutar” aktivitas kamu dalam bentuk animasi yang bergerak dari sejak jam kamu bangun sampai saat ini.

Screenshot_2015-12-06-15-00-13

Penutup

Xperia Z5 adalah upaya Sony untuk bisa menandingi flagship2 yang ada tahun 2015 ini, seperti Samsung Galaxy S6, Galaxy Note 5, LG G4, dan iPhone 6S. Sejujurnya, secara keseluruhan Z5 tidak jauh lebih unggul dari kompetitor-kompetitornya. Posisinya memang sekedar setara dengan persaingan yang ada. Dengan kekecualian kamera, di mana Sony konsisten terus berinvestasi di kamera yang mumpuni.

Jadi bagi pencari kamera smartphone mumpuni, bisa mempertimbangkan Xperia Z5. Walaupun belum ada OIS, tetapi ternyata kinerja kameranya tetap tidak kalah dari model flagship lainnya.

Selain itu, kenyataan bahwa Xperia Z5 tahan air tetap jadi keunggulan, bahkan walaupun Sony tidak menganjurkan penggunaan yang sengaja di bawah air. Banyak dari kita yang sering ceroboh dengan smartphone, apalagi jika senang memotret di dekat air. Maka bisa dibilang hampir tidak ada alternatif lain untuk smartphone tahan air saat ini.

Jangan lupakan juga faktor design premium dan solid khas Xperia Z5. Jika design “boxy” (kotak), dengan paduan material metal dan glass adalah sesuatu  yang sesuai dengan selera kamu, maka Xperia Z5 bisa dilirik. Apalagi warna gold-nya, harus dilihat sendiri.

Demikian review awam singkat dari Xperia Z5. Semoga membantu buat yang lagi nyari smartphone! Sampai review berikutnya! :)

Laporan Survei Anak Ahensi!

Standard

Anak Ahensi. Mereka yang bekerja di industri kreatif dan komunikasi. Mereka bekerja di advertising, digital, event organizer, Public Relations. Tanpa mereka, internet dan social media akan terasa hambar. Mereka lah yang (merasa) meramaikan dan membawa kebahagiaan kepada para netizen. Mereka juga komunitas yang (merasa) paling asik. Tetapi, di balik keriaan dan postingan foto Path penuh senyuman palsu, apakah mereka sungguh merasa bahagia?

Survei Anak Ahensi dilakukan beberapa bulan yang lalu untuk menyingkap dunia ini. Diikuti oleh 754 responden, dan survei ini meneliti kebahagiaan, motivasi kerja, dan juga penilaian atas client yang mereka tangani.

Mari kita lihat hasilnya!

Jenis Ahensi

Chart_Q2_151114

36% responden bekerja di advertising/periklanan, iikuti 29% dari ahensi digital/social media. Sisanya terbagi di antara Event Organizer, Public Relatons, Media, dan lainnya.

Chart_Q3_151114

Proporsi antara mereka yang bekerja di ahensi multinasional dan ahensi lokal cukup berimbang. Ada 11% yang bingung mereka sebenarnya bekerja di ahensi lokal atau asing. Ini mereka beneran bingung apa sarkas aja ya?

Lama bekerja di dunia ahensi

Picture1

1 dari 4 responden bekerja di dunia ahensi kurang dari setahun! Ini sih baby ahensi, belom jadi anak ahensi. Separuh responden bekerja antara 1-5 tahun Ada sekitar 10% responden yang sudah bekerja di ahensi LEBIH DARI 10 TAHUN. Ih, udah tua masih ngaku2 “anak ahensi” (sambil ngaca….)

Mengapa memilih berkarir di dunia ahensi?

Picture2

Ketika ditanya alasan memilih berkarir di dunia ahensi, menarik bahwa dua alasan tertinggi adalah menghindari sesuatu dan menginginkan sesuatu. Hampir separuh responden memilih menghindari pekerjaan kantor “umumnya” karena tidak ingin berbaju rapi. Hampir separuh juga mengatakan memilih bekerja di ahensi karena menginginkan culture dan orang-orang yang asik dan menyenangkan. 27% menyukai pekerjaan ahensi karena bertemu orang banyak, yang siapa tahu bisa dijebak jadi suami/istri.

Yang menarik, hanya SEPERTIGA yang memilih alasan karena benar2 menyukai dunia kreatif. Dan kurang dari sepertiga yang sebenarnya memang menyukai output dari perusahaan mereka. Lho?

Tapi tidak semuanya adalah berita positif. Sebanyak 29% mengaku bahwa bekerja di ahensi ini hanya sebagai batu loncatan dan sudah berencana meninggalkan dunia nestapa ini.

Yang pasti, survei ini mengukuhkan anggapan bahwa dunia ahensi memang bukan tempat mencari gaji besar. Kurang dari 15% menyatakan memilih karir di ahensi untuk gaji besarnya. Hiks.

Apa yang DISUKAI dari bekerja di dunia ahensi?

Picture3

Ketika ditanya hal-hal apa yang disukai dari bekerja di dunia ahensi, pilihan tertinggi jatuh di culture yang tidak kaku, tidak formal, dan tidak birokratis. Yang menarik, walaupun kreatifitas mungkin bukan motivasi memilih bekerja di dunia ahensi pada awalnya, tetapi toh kreatifitas menjadi hal yang bisa dinikmati saat bekerja sehari-hari, dipilih oleh 55.8% responden.

Menarik juga bekerja di dunia ahensi masih memberikan proses pembelajaran. Lebih dari separuh responden setuju bahwa pekerjaan mereka memungkinkan mereka belajar banyak, baik dari kolega maupun client mereka.

Bagi sepertiga orang, jam kerja yang relatif fleksibel (lebih siang masuknya) menjadi hal yang dinikmati dari dunia ahensi. Walaupun pulangnya subuh juga sih…. Dan lagi-lagi, faktor gaji bukan hal positif utama bekerja di ahensi.

Apa yang TIDAK disukai dari bekerja di ahensi?

Picture4

Deadline mepet dan lembur melulu menjadi dua hal paling tidak disukai dari bekerja di ahensi (dipilih 63.5% dan 48.7% responden). Gaji yang tidak memuaskan dan aspekkesejahteraan yang kurang menjadi faktor ketiga dan keempat. Yang menarik, hanya sedikit yang memilih “kolega2 gw dungu” (hanya 14.8%). Lumayan yah, minimal sumber frustrasi bukan rekan sekerja yang bego2.

Seberapa BAHAGIA kah kamu bekerja di dunia ahensi?

Picture5

Inilah pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Dan TERNYATAAAAAA…….

Surprisingly, mereka yang bekerja di dunia ahensi CUKUP BAHAGIA. Hampir 60% responden melaporkan bahwa mereka “bahagia” atau “bahagia banget seperti malam pertama terus” bekerja di dunia ahensi. Mereka yang melaporkan tidak bahagia atau SANGAT tidak bahagia hanyalah sekitar 10%!

Mungkin inilah bukti bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Walaupun gaji kurang, kerja lembur, stress dikejar deadline, toh relatif anak ahensi merasa bahagia di pekerjaan mereka!

Bagaimana para anak ahensi? Setuju kah kamu dengan temuan ini? See, ternyata hidup bisa bahagia tanpa uang kan? Kan?

Picture6

Pertanyaan berikutnya, apakah ada perbedaan tingkat kebahagiaan di antara mereka yang bekerja di jenis ahensi yang berbeda?

Picture13

Ternyata, anak ahensi yang PALING bahagia adalah mereka yang bekerja di Digital Agency, dengan 65% mengaku bahagia atau sangat bahagia. Ini artinya 2 dari 3 anak ahensi digital merasa bahagia.

Yang bahagia kedua adalah mereka di ahensi periklanan, dengan 57% mengaku bahagia/sangat bahagia, dan disusul dengan sangat dekat oleh Media Agency.

Mereka yang bekerja di Event Organizer memiliki proporsi bahagia paling sedikit, sekitar 51%. Tapi angka ini sebenarnya jug tidak buruk, mengingat separuh dari mereka di dunia EO masih melaporkan meraa bahagia.

Kalau kita melihat mereka yang melaporkan “tidak” dan “sangat tidak bahagia”, maka proporsi tertinggi ada di ahensi public relations. Hampir 17% yang melaporkan mereka tidak bahagia.

Yang gak bahagia, bagaimana?

Bagi mereka yang mengklaim tidak/sangat tidak bahagia, ditanyakan kembali apa yang akan mereka lakukan.

Picture6

Separuh dari yang tidak bahagia mengklaim bahwa mereka akan MENINGGALKAN dunia ahensi. Artinya benar2 meninggalkan industri tersebut karena sudah sangat tidak tahan.30.6% memikirkan untuk berpindah kantor, tetapi MASIH di industri yang sama. 17.6% yang mengaku tetap akan bertahan di kantor yang sama, walaupun tidak bahagia.

Apakah role responden melibatkan meeting dengan client?

Picture7

Mayoritas responden, lebih dari 90% harus bertemu dengan client. Hamir separuh mengaku SANGAT SERING bertemu dengan client, lebih sering dari ketemu suami/istri sendiri. Wah hati2 nih….

Picture8

Menyangkut jumlah client yang ditangani, kira-kira separuh responden mengaku menangani 2-4 client. Seperempat responden menghandle lebih dari 5 client!

Picture9

Responden diminta mengkategorikan client mereka. Bagi mereka yang menangani lebih dari satu client, mereka diminta mengkategorikan client UTAMA mereka (client yang paling banyak menyita waktu mereka). Separuh responden ternyata mengaku memiliki client multinasional, disusul 30% menangani client lokal/nasional.

Kemampuan/kompetensi client di 3 faktor

Responden diminta menilai client mereka dari segi: kompetensi marketing/PR, besar budget, dan kemampuan mengapresiasi ide kreatif.

Picture10

Menyangkut kompetensi marketing/PR, sebaran persepsi kompetensi client cukup “normal”. 40% responden menyebut “sedang2” saja. Sekitar 30% merasa client mereka pintar/pintar banget, hampir seimbang dengan yang merasa client mereka bego/bego banget.

Picture11

Soal budget, gambarannya kurang lebih sama seperti soal kompetensi marketing. Walaupun mereka yang mengklaim client utama mereka memiliki budget banyak/tajir banget sedikit lebih banyak dari mereka yang mengklaim client mereka miskin.

Picture12

Menyangkut kemampuan client menghargai kreatifitas ide, tampaknya juga tidak terlalu baru. Bahkan lebih dari sepertiga responden merasa client mereka lumayan mampu/sangat mampu menghargai kreatifitas ide.

Beberapa pesan dari responden kepada client mereka:

  • Mbak, gausah pamer2 foto jalan2 di Paris or tas2 mahal kalau tiap meeting minum teh botol aja masih suruh saya yang bayarin… :”)
  • Pleaaaase fokusnya jangan sales lagi sales lagiii

  • berani dikit kek eksplor ide kreatif yg lebih “gila” dan ga umum. jangan maennya di kuis-kuisan atau buzzing-buzzingan ajaaaa. basi!

  • Please sadar bahwa sesungguhnya Fanpage itu butuh ngiklan. Sekali-sekali lah paling enggak. Biar reachnya gak sedih-sedih amat lah…

  • Mau hasil bagus ada harganya, jangan terlalu banyak revisi kalo pitching yang ujung nya dikabariin kalo ternyata tetangga sebelah yang menang tapi ada ide creative kita yang di combine

  • Jangan melulu tentang keinginan lu deh.. percuma lu bayar kita terus buat dengerin ide lu doang. Tp nolak ide kreatif kita. Terus kalo ide dr lo gagal efektif di pasaran malah nyalahinnya kita. Deadline nya juga manusiawi dong Kita bukan robot, juga perlu ketemu keluarga gak dikantor tiap hari tiap malem. Dah itu aja. Maap kalo baper cuy

  • Wahai klien2 jaman sekarang, sudahilah kebiasaan terima2 duit panas dari agensi. 5 taon lalu kayaknya yang terima duit2 panas cuma klien2 yang posisinya di sales/field doang (atau procurement). Sekarang yang duduk di MarComm, Brand Management, ikut2an juga minta disuapin makan. Udeh dooong, kelian mestinya strategic partner dengan intelejensi tinggi yang bisa mendidik anak2 ahensi, biar adik2 AE kita sekarang respect sama posisi kalian. Kesian nanti generasi anak2 ahensi 10 taun kedepan kayak apa nasip moralnya kalo sekarang yang begituan makin terang2an :( #sedihbanget

  • meeting internal dulu baru meeting dengan ahensi, jangan berantem sesama internal di depan ahensi..kan anying!

  • My team are the best the company can give to you. So just sit back, relax, and trust us. How can we come up with extraordinary ideas if you can’t trust us. Terus ya nyet, duit 150 juta tuh dikit!!!!!! 1 TVC aja minimal 500 juta udah kasian, lah elu minta 3 video???? Udah tau miskin, jangan minta kualitas berlian lah!!!! Susah banget diajak kompromi???? Kalo mau output bagus ya duitnya harus banyak nyeeeettt!!!

  • Dear klien, please kami bukan Bandung Bondowoso atau Sangkuriang yg bisa bikin seribu candi dalam semalam. Kecuali situ secantik Roro Jongrang beneran

  • Mbak banyakin produk gratisan dong!! saya juga mau kurus dan hidup sehat #ahem

  • Please .. kalo rekues revisi.. JANGAN JAM PULANG KANTOR DONG!

  • Don’t expect the grandeur of Rio Carnival if you can only afford Ondel Ondel.

  • WAHAI KLIEN, BERHENTILAH NGAJARIN GUE MODEL KOMUNIKASI DAN MODEL MARKETING TRADISIONAL. ITU GW UDAH KENYANG ZAMAN KULIAH, BIARPUN NGGA NGULANG SIH. TAPI GUE UDAH KHATAM. Ayo kita obrolin yang di depan mata aja. Straight to the point. Jangan diskusiin modul kuliah mulu tiap meeting mingguan. Btw, itu budget tactical mau approve kapan???

  • Tolong kalo gue kasih insights bener” dipelajari dan dijalanin dong! Itu kan bukan sekedar kata mutiara pemanis diary doang! Cape” gue buatin report eh gitu” aja ujung”nya pake cara ngana lagi cara ngana lagi

  • Pak. Saya tuh ngerti apa maksud bapak. Gausah dijelasin berkali2 paaaaak. Saya ga bego. Atuh lah. Saya ngerti kali pak vending machine!!! Bukan berarti gw kerja trus gw kampung banget ampe vending machine aja ga tau!!!! Tapi yang gw bingung adalah,lo ngapain naro vending machine di kantor gw yang isinya 7 orang doang???

  • Jangan berisik di whatsapp kalo weekend sih. Capeq. Aku bukan mba mba warteg, yang kamu bisa dateng kapan aja terus langsung dilayani saat itu juga. Huuuffh.

  • anak ahensi juga manusia, punya rasa punya hati. dan terutama PUNYA ASAM LAMBUNG JADI PLEASE BRIEF JANGAN TURUN DARI LANGIT SETELAH JAM 5 SORE DONG AH.

  • Semoga ga diperpanjang. Amin.

  • We are consultants, let us handle it.

Kesimpulan

Demikian lah hasil survei Anak Ahensi 2015. Bekerja di ahensi memang bukan untuk mencari kekayaan berlimpah. Kalo mau jadi kaya ya gak di ahensi! Data di atas menunjukkan bahwa uang memang bukan faktor terkuat dalam memilih berkarir maupun bertahan di dunia ahensi.

Toh, dengan upah secukupnya, ditambah kerja lembur dan stress deadline, kaum Anak Ahensi melaporkan mereka BAHAGIA di tempat mereka bekerja sekarang. Karena banyak hal-hal yang mereka nikmati dari bekerja di dunia ahensi selain uang semata. Suasana kerja yang menyenangkan, iklim kreatif, budaya kerja yang tidak formal, serta kesempatan belajar yang berlimpah – adalah sebagian dari hal-hal “non-uang” yang didapat dari bekerja di Ahensi.

Semoga temuan Survei Anak Ahensi ini menjadi penyemangat bagi teman2 yang telah bekerja di industri yang seru, menyenangkan, walau kadang-kadang memberikan gejala tipus ini. Dan bagi teman2 yang masih mempertimbangkan membangun karir di mana, semoga survei ini juga bermanfaat dalam mengambil keputusan.

Salam Ahensi!

 

 

Pemenang Cover Buku Ketiga Adalah…

Standard

Jadi ceritanya saya sedang di dalam tahap akhir penulisan buku ketiga saya, “The Alpha Girl’s Guide”. Buku ini pada dasarnya bertemakan women empowerment, dengan angle bagaimana para perempuan muda dan remaja bisa menjadikan Alpha Female sebagai inspirasi: para wanita yang cerdas, percaya diri, berprestasi, dan menjadi pemimpin di bidang dan komunitasnya.

Saat harus memilih desain cover dari beberapa desain yang diusulkan oleh Penerbit Gagas Media, terpikir ide untuk tidak memilih sendiri, tetapi meminta bantuan dari teman-teman followers di media sosial Ask.fm dan Twitter. Mari kita selesaikan secara demokrasi saja!

PhotoGrid_1445328516518

Survey dilakukan menggunakan survey online surveymonkey.com Dalam tempo kurang dari 24 jam, terkumpul 2,799 votes! Gokil sih, ini partisipasi survey tercepat yang pernah saya lakukan.

Dan siapakah pemenangnyaaaaa…….?? Ini lah hasilnya,

Chart_Q1_151021

Design no. 3 menjadi pemenang mutlak, dipilih oleh 56.2% responden, disusul oleh Design no. 1 dengan 29% responden. Design no. 2 adalah yang paling sedikit terpilih, dipilih oleh hanya 14.7% responden.

Jadi dengan ini design no. 3 resmi akan menjadi cover buku ketiga saya!

Mohon yang pilihannya menang tidak sombong, yang pilihannya kalah sportif dan tidak mengamuk membakar ban atau bra. Semua menerima hasilnya dengan legawa yaaa. :D

Jika kita memisahkan hasil voting berdasarkan kelompok umur, ini hasilnya:

Chart_Q1_151021 (1)

Di usia di bawah 15 tahun, Design no. 1 adalah pemenangnya, walaupun sangat tipis dengan no. 3.

Yang menarik adalah Design no. 2 justru relatif lebih disukai oleh responden usia di bawah 15 tahun DAN di atas 25 tahun! (Di kedua kelompok usia ini design 2 dipilih lebih dari 20% responden). Saya bingung juga kenapa ada paradoks ini, yaitu design no. 2 disukai responden termuda dan yang tertua. Kalau disukai usia remaja saya masih bisa mengerti, tetapi kenapa yang udah “dewasa” ini suka juga ya? Hmmm, sebuah misteri… *garuk2*

Selain soal pilihan cover buku, ada beberapa pertanyaan lain yang menarik untuk juga disimak.

Jenis Kelamin

Chart_Q2_151021

88.5% responden adalah wanita. Ini memang sesuai dengan target pembaca yang diharapkan. Ada 11.5% responden pria yang ingin juga ikut memilih :)

Profil Usia

Chart_Q3_151021

Porsi terbesar responden datang dari usia kuliah 18-21 tahun, sebesar 43.6%, disusul usia pekerja muda 22-25 tahun sebesar 23.6%. Jika digabungkan, artinya 2 dari 3 responden berusia 18-25 tahun. Responden remaja (17 tahun ke bawah) ada 16.2%, hampir sama dengan responden di atas 25 tahun.

Ketertarikan untuk preorder

Chart_Q4_151021

Lebih dari separuh responden menyatakan tertarik untuk melakukan preorder. JANJI YAAAAAA…….

Ketertarikan pada format e-book

Chart_Q5_151021

Rupanya mayoritas responden masih lebih menyukai format cetak. 70% responden masih memilih format buku. Hanya 14.6% yang menginginkan format e-book jika tersedia.

Demikian laporan pemenang design cover buku “The Alpha Girl’s Guide”. Nantikan terus berita Preorder-nya yaaa. Mohon doa restu agar semua proses berjalan lancar!

:)

Kisah Seorang Dokter dan Seorang Salesman

Standard

Mau bercerita tentang seorang dokter.

Suatu hari, kira2 dua bulan yang lalu, saya menderita sakit batuk yang lumayan parah. Batuknya parah banget sampai tidak bisa tidur. Akhirnya saya menyerah dan memutuskan menemui dokter umum langganan saya. Beliau meresepkan obat untuk meredakan gejala batuk saya. Entah kenapa, obat yang diresepkan tidak mempan. Batuk saya masih saja menghebat di malam hari, dan sesudah kira2 3 hari tidak ada perbaikan, saya pun kembali ke dokter yang sama.

Di kunjungan berikut, beliau tampak sangat concern karena saya masih tidak merasa lebih baik. Sebenarnya tidak ada indikasi penyakit yang serius, hanya saya memang perlu bisa tidur di malam hari. Akhirnya dia pun meresepkan obat lain yang lebih kuat.

Saat saya pamit dan keluar dari ruangan, sang dokter berkata, “Saya jadi merasa tidak enak kamu tidak merasa sembuh dan harus kembali lagi. Saya mohon maaf.” Jujur saya kaget sekali mendengar itu. Bagi saya ini bukan penyakit berat, hanya batuk flu saja. Dan namanya sakit kan kadang2 memang obatnya tidak bisa sekali klop. Tetapi si dokter ini sampai merasa mengutarakan kekecewaannya bahwa saya tidak sembuh dengan sekali kunjungan. Saya sampai harus berkata kepadanya, “Wah, ya gak apa2 kali dok. Obatnya belum pas aja kali.” Tetapi kejadian itu berkesan sekali bagi saya. Rasanya itu kejadian pertama saya mendengar dokter menyatakan maaf karena tidak bisa membantu pasiennya dalam sekali kunjungan.

Kisah kedua, tentang seorang salesman di Electronic City.

2 minggu lalu saya mencari mesin cuci bersama istri di Electronic Solution Kota Kasablanka. Saya langsung saja mengarah ke pojok merek yang sama dari mesin cuci lama saya, yaitu LG. Di sana kami dibantu seorang sales pria yang ramah dan, ehem, luwes. Dia bertanya ada apa yang salah dengan mesin cuci kami sekarang. Ketika istri menjelaskan bahwa tabung mesin cuci kami yang sekarang agak penyok/peyang, dia spontan berkata, “Kok bisa peyang memang dipakai untuk mencuci ubi ya bu?” Saya dan istri ngakak keras sekali dengan pertanyaan tidak terduga itu. Tetapi selera humor selalu efektif mencairkan suasana. Si sales yang bernama Arif ini pun bahkan menunjukkan model yang sedang diskon besar dan tidak menganjurkan kami membeli model yang mahal.

Saat di kasir, sambil mengantri, saya tertarik dengan promosi TV yang diletakkan di pintu masuk. Sambil istri mengantri, saya mengecek TV yang suaranya sangat berdebam2 itu. Ternyata sebuah tv dari merek Samsung dengan built-in speaker yang keren. Ketika saya kembali ke antrian, istri sudah di kasir dibantu si sales Arif. Saya bercerita ke istri, “Eh, tivi tadi keren deh speakernya. Keras banget!” Si sales LG yang bernama Arif tadi mendengar dan spontan nyeletuk, “Mas, suara sih boleh kenceng di toko. Tapi kalo udah dibawa pulang, gambar boleh deh diadu sama (merek) punya saya.” Lagi2 saya dan istri ngakak mendengar ini. Kami sampai memuji, “Arif, kamu hebat banget jadi sales! Dedikasinya pol! Kalo ada bos kamu di sini saya laporin deh.” Sayangnya katanya bosnya berkantor di kantor pusat.

Bagi saya, si dokter dan si salesman ini punya kesamaan: mereka bekerja dengan hati dan passion, bukan bekerja sekedar kewajiban mencari nafkah. Their heart is at the right place. Sang dokter kecewa jika si pasien tidak sembuh dalam sekali kunjungan. Si salesman bisa menghibur customer dengan joke2, dan sigap mengendus kesempatan untuk membela merek yang diwakilinya. Baik itu seorang dokter atau salesman, bekerja dengan hati dan kecintaan akan terasa oleh orang lain bedanya. Dan bekerja dengan hati dan cinta itu membebaskan, bukan membebani.

Betapa beruntungnya orang-orang seperti itu! :)

The Kingsman’s “Men” and Pitch Perfect 2’s “Women”

Standard

It is probably a bit late to write about my two favorite summer movies this year, Kingsman and Pitch Perfect 2. Kingsman: The Secret Service was a WONDERFUL delight to watch. I was going into the cinema not knowing what to expect. The trailer made me feel it was going to be “James Bond spoof” kind of movies. Boy was I wrong. I had this constant grin from cheek to cheek. Kingsman was original, funny as hell, and had charming cast. Pitch Perfect 2, on the other hand, was something that I actually looked forward to. I had an amazing good time watching the first. It was like, REALLY? A movie about a capella singers can be THIS fun (or in fans’ lingo: A-Ca-Awesome!)? So contrary to Kingsman, I was entering the cinema with full expectation of what Pitch Perfect should be. Unfortunately, I had to say the sequel was not up to the original’s charm. It was not like bad, BAD. The songs were nice, the singing was still amazing, Anna Kendrick still made me weak in the knees. But the story was so convoluted with distracting subplots. I still enjoyed it, but I wish the writers had kept the original’s simplicity. But as usual, when I feel interested to write about movies on a blog, it had to be more than just “reviewing” it. Great movies make me think beyond the action, the directing, or the cast. At least to me personally. Some movies are just to be enjoyed as entertainment. You walk out of the cinema feeling your money was well spent. But there are some movies that leave lingering message long after you walked out. And both Kingsman and Pitch Perfect 2 were those movies in an interesting way, because they both have a message to each gender. What it means to be a man and a woman.

Source:

Source: http://www.joblo.com/movie-posters/kingsman-the-secret-service-06

Beyond all the high-tech gadgets and almost superhuman action, Kingsman is actually trying to tell us what it means to be a true “gentleman”. First, a gentleman is not determined by his lineage. A gentleman is not “born into it”, like royal blood. This is the biggest theme of Kingsman. The hero, Eggsy, came from an ordinary, middle-class, even seemingly blue-collar neighborhood. He was the regular brat living with his working mom and unrefined boyfriend. Notice how he was such a contrast with the other Kingsman candidates who went to elite schools and come from the aristocracy. Even “Arthur” (Michael Caine), the charismatic leader of Kingsman strongly opposed Eggsy participating in the recruitment process. Only Harry (Colin Firth) believes in Eggsy’s diamond-in-the-rough qualities. Of course, we will find out later the transformation of Eggsy from a street brat into a gentleman spy who saved the world. The message to all men today: your past and background do not have to dictate your identity and your future. Another related message is this. How do you become a gentleman? What makes a man extraordinary, above the average man? Again it is not your family background, your elite schooling, your refined accent, or your wealth. Harry the mentor gives a clear, unmistakable message:

“Manners Maketh Man” – Do you want to be a true gentleman? It’s not about fancy clothes, cars, or your money. It’s about having MANNERS first. Isn’t this what today’s men really need? We the modern men chase the superficial things to make us look and feel good. We chase money, we buy men’s toys like cars or motorcycles. We buy fancy clothes and jewelry. We flaunt our latest smartphones. And we all think we look like a cool man with all these. But it is not all that, as Harry said. “Where are your manners, young man?” If today’s men want to become a true “gentleman”, we all need to start from learning manners. How do we treat other people, even those who are strangers to us. How do we treat our parents? Or the elderly? How do we treat women? How do we treat those who are weak or poorer than us? Do we display common courtesy? Are we being considerate? Do we show patience? Do we display chivalrous qualities as men? Perhaps in the era of glitzy blings and flashy gadgets, today’s men do really need to learn the basics. Learning good manners. Only then, we can learn how to be brave and ready for action. And even save the world. Pitch Perfect 2 (together with the original) also brings a message to the fairer gender. The “girlpower” theme is very strong in the franchise I would be surprised if audience missed it. But it is deeper than just a simplistic “women can kick-ass too” story. There are some subtle, deeper narratives in the movie, the way I see it.

First, notice that the Barden Bellas are not all pretty looks. In fact, if you watched the original, the criteria to become a member is mainly the ability to SING. Not just to sing as an individual, but to sing in-sync and harmony with the other girls. In a world of Kim Kardashian and Victoria Secret Angels where impossibly perfect lips, boobs, and complexion seem to be the standard, Pitch Perfect 2 wants to assure girls around the world that talent and skill still matter more. Also, the fact that it is an a capella group is a symbol of collaboration. Girls are stronger when they work together, in harmony. Pitch Perfect 2 had a sweet segment about this, when the Bellas were beaten and they went to a “camp” for retreat, This is where they learned to work together again as a team. But it was the campfire scene that is truly touching. When girls got together and be honest and vulnerable to each other, to talk about their worries and dreams, and stop being competitive – this is when they find their harmony again. Isn’t this a stark contrast with today’s girls who are very competitive against each other? Women can be so mean to each other, and bully each other in real world or on social media. Now it is about who gets the highest ‘likes’, who can put down other women, who is the prettiest and the hottest. And this is how all women become weak together. The movie shows that if women don’t collaborate, they will fail. But to me, it was the Finale that beautifully hammered this point. Remember the final “Flashlight” song in the finale? When they hit the chorus and suddenly we see all the previous, now older Barden Bellas joining in the background? It hit me much later on the powerful message of the scene. The sisterhood of girls do not just span across one’s peers, but also across generations. That is the secret power of women. To collaborate with their peers. But also to seek help, inspiration, and guidance from “girls” who went before you. Never undermine or mock older women. Your mother, aunties, big sisters, and all women of previous generations can be a source of strength and learning. They are THE flashlight of today’s girls. If you pay attention to the “Flashlight” lyrics and put them in context, notice that the song does not have to be about romantic partner. The “flashlight” actually comes from the sisterhood of girls from all generations. When tomorrow comes I’ll be on my own Feeling frightened of The things that I don’t know When tomorrow comes And though the road is long I look up to the sky And In the dark I found, I stop and I won’t fly And I sing along I got all I need when I got you and I I look around me, and see sweet life I’m stuck in the dark but you’re my flashlight You’re gettin’ me through the night Can’t stop my heart when you shinin’ in my eyes I can’t lie, it’s a sweet life I’m stuck in the dark but you’re my flashlight I see the shadows long beneath the mountain top I’m not the afraid when the rain won’t stop Cause you light the way Dear today’s girls, you have strength in each other. Collaborate and help each other. Don’t put fellow girls down. And remember you are never alone. Your “big sisters”, even all the way up to your grandmothers, can light the way for you. Women can always find their flashlight, if they look for it. :) PS: Happy Ramadhan, Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir & Batin!

Unboxing Pop Mie Kari Keju dan Kari Susu

Standard

Unboxing smartphone baru? BASI!! Lebih keren unboxing mi instan baru dong. Kali ini gw akan mereview Pop Mie rasa baru. Gak tanggung2, sekarang ada 2 rasa baru: Pop Mie Kari KEJU dan Pop Mie Kari Susu! Apakah produk baru ini lebih lejat dari iOS atau Android versi terbaru? Mari kita buktikan.

20150522_124211 (1024x576)

Unboxing Pop Mie Kari Keju

Pop Mie Kari Keju dari luar sekilas tidak terlihat luar biasa. Kemasan menggunakan design Pop Mie pada umumnya, dengan warna orange yang dominan dan tulisan “Rasa Kari Keju”. Saat kita buka kemasannya, barulah kita melihat perbedaan kelengkapan perangkat dibandingkan iPhone atau Samsung Galaxy terbaru.20150522_124420 (1024x1024)

 

Pop Mie Kari Keju dilengkapi dengan beberapa kompones standar. Garpu plastik dalam keadaan terlipat. Sachet berisi minyak sayur, sebuah kemasan berisi bubuk cabe dan bumbu. Tidak ada fast charger ataupun earphone. TETAPI ada satu kemasan misterius yang tidak ada di Pop Mie varian yang sudah ada di pasaran. JENG JENG! Apakah itu? Untuk mengetahuinya, langsung saja kita mengaktivasi Pop Mie Kari Keju ini.

Untuk mengaktivasi Pop Mie Kari Keju ini tidak dperlukan koneksi internet 3G, apalagi 4G. Cukup diperlukan air panas dan tempat private  di mana tidak ada manusia lain dalam radius 300 meter. Karena pengalaman kalo makan Pop Mie di deket orang lain pasti pada nanya “APAAN TUUUH???” gaya Jaja Miharja. Malesin banget.

Aktivasi Pop Mie Kari Keju

Buka seluruh sachet berisi bumbu dan cabe bubuk, tuangkan seluruh isi ke dalam kemasan Pop Mie.

20150522_124800 (1024x1024)

Tampak di dalam bumbu terdapat semacam bungkah bungkah kecil mirip bakso,

Nah, sekarang saatnya kita mengetahui apakah isi kemasan kecil misterius tambahan tadi. Ternyata isinya…..ISINYAAAA…..

Kemasan tambahan berisi keping keju

Kemasan tambahan berisi keping keju

KEPING KEJU sodara! Inilah ingredient tambahan yang mengubah Pop Mie Kari biasa menjadi Pop Mie Kari KEJU. Keju kering ini cukup ditaruh juga ke dalam kemasan cup bersama-sama bumbu tadi.

20150522_124835 (1024x1024)

Jangan lupa, masih ada satu lagi yang harus ditambahkan, yaitu minyak sayur.

 

20150522_124857 (1024x1024)

 

Langkah terakhir dari aktivasi Pop Mie Kar Keju ini adalah air panas mendidih yang dtuangkan sampai batas garis. Kemudian tutup kembali kemasan dan tindih dengan pemberat selama 3 menit.. Gw menemukan bahwa dompet pria dengan isi konten tengah bulan cukup efektif untuk menjaga tutup cup tidak terbuka selama 3 menit.

20150522_125026 (1024x1024)

Sesudah 3 menit, maka kemasan bisa dibuka dan Pop Mie Rasa Keju bisa dinikmati! Gw mengaduk2 dulu isinya untuk memastikan semua bumbu dan keju tercampur rata.

Pop Mie Kari KEJU siap dinikmati!

Pop Mie Kari KEJU siap dinikmati!

Rasanya gimanaaa?? Beuh, lebih nikmat dari perekonomian Indonesia saat ini sob. Rasa kari tentunya dominan. Tetapi bagaimana dengan sensasi kejunya? Ini yang terjadi dengan bikinan gw. Keping2 keju tadi mencair, tetapi tidak larut SELURUHNYA, jadi masih ada keju kering kecil2 separuh meleleh tersembunyi di dalam mie. Nah, bagi gw ini justru jadi sensasi menarik. Ketika termakan, kadang2 gw mendapatkan si keju separuh cair ini, sehingga gw mendapatkan “ledakan keju” sebagai kejutan.

Jika pembaca ingin merasakan sensasi keju yang merata, kayaknya harus diaduk lebih sabar agar lebih merata.

Tidak perlu dijelaskan lagi, tentunya Pop Mie Kari Keju ini habis tandas, sampai kuah2 gw teguk sampai tetes terakhir. Soalnya enak!

 

Unboxing Pop Mie Kari Susu

Sekarang, lanjut dengan unboxing Pop Mie Kari Susu.

(Tentunya gak LANGSUNG lah cuy. Gila aja, kesannya nggragas abis. Ini dikasih jeda sekitar 4 jam baru gw mencoba lagi).

Dari luar, tidak ada yang spesifik dari kemasan Pop Mie Kari Susu. Hanya warna dominan biru dan deskripsi “Rasa Kari Susu”.

Sama seperti Pop Mie Kari Keju, sekilas konten kemasan Pop Mie Kari Susu terlihat mirip dengan Pop Mie pada umumnya: ada sachet bumbu dan cabe kering, minyak sayur, sayur kering, dan garpu plastik. Tetapi ada satu kemasan tambahan. Sampai di sini pembaca yang cukup cerdas tentu sudah bisa menebak isi kemasan misterius tambahan ini. YAK. ISINYA SUSU!

20150522_162003 (1024x1024)

Susu di dalam kemasan ini adalah susu bubuk yang tampak normal, seperti susu bubuk umumnya. Jadi susu bubuk ini bersama bumbu cabai, minyak sayur, dan sayur kering cukup dituangkan semua ke dalam cup.

Susu bubuksiap ditambahkan

Susu bubuk siap ditambahkan

Susu bubuk sudah bergabung dengan teman2nya

Susu bubuk sudah bergabung dengan teman2nya

Aktivasi Pop Mie Kari Susu

Tidak ada perbedaan cara aktivasi untuk Pop Mie Kari Susu. Semua yang kamu butuhkan hanyalah air mendidih dan waktu 3 menit. Tuangkan air panas sampai garis batas, tutup kembali cup , tindih tutup dengan dompet berisi konten tengah bulan, dan tunggu selama 3 menit. Selama 3 menit banyak yang bisa kamu lalukan, misalnya mengecek IG mantan atau mengirim pertanyaan teror kok akun ask.fm pacar baru mantan.

Dompet pria dengan bobot yang pas. Hindari tanggal tua atau tanggal muda

Dompet pria dengan bobot yang pas. Hindari tanggal tua atau tanggal muda

Sesudah 3 menit, maka Pop Mie Kari Susu bisa dinikmati. Setelah gw aduk, tambahan susu bercampur/larut merata dengan dengan kuah kari. Rasanya sedikit lebih creamy dari kuah kari biasa, dan cukup enak bagi gw. Walaupun jujur, gw tidak merasa “kaget” seperti saat memakan rasa Kari Keju. Gak tahu deh kalo lagi makan Pop Mie Kari Susu ini tiba2 dijepit Duo Serigala, mungkin bisa tambah kaget.

Sama seperti Pop Mie Kari Keju di atas, tidak ada yang tersisa dari proses unboxing  ini.

Hasil akhir Pop Mie Kari Susu

Hasil akhir Pop Mie Kari Susu

 

Mana yang lebih gw suka?

Kalau ditanya gw lebih suka yang mana, maka saya lebih menyukai Pop Mie Kari Keju. Alasan gw adalah rasa keju yang lebih terasa dibanding rasa susu. Jadinya sensasi “baru”nya lebih terasa dibanding Kari Susu. Soalnya bagi gw Kari Susu lebih ke sensasi creamy dan bukan menambah rasa baru di lidah. Tetapi soal rasa memang subyektif ya. Temen kantor malah lebih suka yang susu. Jadi ini kembali ke selera masing2.

Sekian review unboxing Pop Mie Kari Keju dan Kari Susu. Semoga menambah wawasan dan citarasa Indonesia!

Salam gadget!

:D

 

 

“Clean Up Your Own Mess!”

Standard

Siang tadi kebetulan saya dan istri harus makan siang di Sevel (7-11) karena sedang buru2. Sesudah membayar, kamipun mencari tempat duduk. Seperti biasa, banyak meja yang kosong tapi kotor dengan sisa makanan dan minuman yang dibiarkan di meja. Kami pun hanya bisa menghela napas dengan sedikit jengkel. Budaya membersihkan sisa makanan sendiri di restoran cepat saji memang belum umum di negeri ini.

Dulu saya pun termasuk yang tidak mengerti soal ini, sampai suatu saat saya tinggal di Australia selama 2 tahun untuk kuliah postgraduate. Di sana saya baru tahu bahwa di fast food joints (seperti McDonalds, Burger King, dll), pengunjung membersihkan sendiri mejanya seusai makan. Minimal sekedar membuang semua bungkusan, gelas kertas, dan sampah lain ke dalam tempat sampah yang disediakan. Sesudah kembali ke tanah air, kebiasaan ini tidak bisa saya hentikan. Sampai sekarang jika makan di McDonald’s atau restoran fast food lain, pasti sisa makanan saya bawa dengan tray (baki) ke tempat sampah, dan tray diletakkan di tempatnya. Kalau kebetulan makan di Starbucks yang menggunakan piring kaca, ya sesudah makan piringnya dikembalikan ke barista.

Di negeri ini perilaku ini memang belum dibiasakan. Mungkin banyak dari kita yang masih menyamaratakan perilaku di restoran biasa, di mana makanan diantarkan dan dibersihkan oleh waiter/waitress, dan restoran fast food, di mana kita mengambil sendiri makanan dan (seharusnya) membersihkan sendiri juga untuk pengguna meja berikutnya. Saya membaca tentang bagaimana pengunjung IKEA di Tangerang meninggalkan begitu saja sisa makanan mereka, sementara di semua IKEA di negara lain pengunjung sudah biasa membersihkan sisa makanannya sendiri (dengan mengembalikan tray kotor ke lemari yang disediakan). Sevel sendiri tampak berusaha mengedukasi hal ini dengan menempelkan tulisan di setiap meja untuk membersihkan sendiri kotoran/sisa makanan kita. Mari kita lihat berapa lama dibutuhkan sampai orang-orang mulai terbiasa melakukannya.

Sebenarnya fenomena “meninggalkan sampah sendiri” bisa dimengerti secara kultural. Kita mungkin memang belum terbiasa saja dengan kebiasaan ini (walaupun restoran fast-food sudah ada di Indonesia selama puluhan tahun), dan juga karena tidak ada edukasi serius dari pihak pengelola restoran. Tetapi ada faktor2 lain yang mungkin menghambat bangsa kita untuk mau memulai kebiasaan membersihkan meja sendiri.

Waktu saya mengangkat isu ini di platform ask.fm, ada beberapa suara sumbang yang berkata “Ngapain sih dibersihin sendiri? Nanti keenakan dong para karyawannya, digaji tapi nggak kerja”. Beberapa follower lain juga menimpali dengan cerita ketika mereka hendak membersihkan sendiri sisa makanan mereka, mereka dicemooh oleh teman-teman dan bahkan ibu mereka sendiri.

Saya menyebut hal ini sebagai “mental majikan”. Sepanjang ada orang lain yang menurut kita sudah dibayar untuk membersihkan, kita merasa tidak berkewajiban membersihkan piring/meja kita sendiri. Bahkan kita merasa “rugi” jika harus melakukan itu, karena sudah orang lain yang diupah untuk melakukannya. Typical kelas menengah/atas yang terbiasa memiliki Asisten Rumah Tangga. “Saya kan sudah bayar, jadi saya majikan. Masak saya juga yang membersihkan?!”

Padahal sebenarnya kalau kita perhatikan, restoran fast food memiliki jumlah staf yang sangat terbatas, dan hampir semuanya dialokasikan di belakang konter atau dapur, tidak seperti restoran “biasa” yang memang ada waiter/waitress yang kerjanya menunggui meja. Membersihkan piring sendiri tidak hanya soal membantu staf yang terbatas, tetapi juga perilaku memikirkan orang lain (being considerate) yang hendak menggunakan meja sesudah kita.

Saya jadi terpikir apakah “mental majikan” ini juga ada di aspek hidup lain kita, tidak hanya di restoran siap saji. Dari hal sesepele membuang sampah sembarangan dari mobil/motor kita, karena merasa toh ada “tukang sapu jalan”, sampai hal-hal serius seperti politik dan pemerintahan. Kita selalu merasa bahwa harus ada orang lain yang membersihkan kotoran dan sampah kita, always someone else to clean up our mess. Kita paling cepat mencerca presiden, menteri, gubernur, guru jika kita merasa mereka tidak mengerjakan pekerjaan mereka, karena kita merasa sebagai “majikan”. Korupsi, Rupiah melemah, banjir, macet – oh itu salah pejabat! Anak sekolah berkelahi, mengakses pornografi, menggunakan narkoba – oh itu salah guru! Majikan tidak pernah salah.

“Tapi kan gw udah bayar pajak nyet! Ya udah sepantasnya mereka kerja yang bener dong!” Yah, argumen ini memang ada benarnya. Pejabat publik dibayar dari pajak kita. Guru digaji dengan uang sekolah kita. Tetapi “mental majikan” juga tidak membantu sama sekali. Sama seperti tamu restoran fast food yang tidak membersihkan sendiri sisa makanannya akhirnya membuat restoran tersebut menjadi kotor dan tidak nyaman bagi semua orang.

Kita bisa sangat membantu layanan pejabat publik jika kita pun clean up our own mess. Banyak hal-hal “sampah” yang kita lakukan yang seharusnya bisa kita bersihkan sendiri. Dari literally “sampah” di sungai yang menyebabkan banjir, sampai masalah disiplin seperti tidak mengendarai motor melawan arah, berhenti dengan tertib di lampu merah, mengantri dengan tertib, hemat bahan bakar, mengajar anak moral yang baik, dan banyak sekali hal-hal yang bisa kita lakukan untuk membersihkan “sampah” kita sendiri.

“Mental majikan” adalah egois dan kekanakan. Seperti anak manja menjengkelkan yang selalu menyuruh-nyuruh Asisten Rumah Tangganya seperti raja kecil. Sepanjang bangsa kita masih penuh orang-orang bermental ini, niscaya banyak masalah sosial yang akan lambat sekali bisa diselesaikan. Lawan dari mental majikan ini adalah “mental independen”. Apa yang bisa saya kerjakan sendiri, kenapa menunggu orang lain? Ini bukan soal berharap orang lain yang toh sudah digaji untuk mengerjakan tugasnya. Ini soal membantu rumah besar yang bernama Indonesia ini “bersih” lebih cepat, untuk kenyamanan kita bersama.

Indonesia masih jauh dari ideal, masih banyak “sampah” masalah di masyarakat dan pemerintahan kita. Tetapi jika setiap kita mulai sedikit membantu dengan clean up our own mess, mungkin bisa membantu. Mungkin.

In the mean time, kita bisa mulai dengan sesederhana membersihkan sisa makanan kita di Sevel dan McDonald….

:)