A Frozen Morality from The Winter Soldier

Standard

Some movies are interesting to be discussed as a “movie”. Some others are more interesting for the questions they raise. Captain America: The Winter Soldier may seem like another money-making installment from the great Marvel/Disney machine, but look underneath, the movie raises a serious question to both Gen-X and Millenials alike. If anything, the movie’s theme is far from the innocent boyscout face of Captain America.

But let’s first give a quick review as a movie. I can say that TWS (The Winter Soldier) delivers beyond my expectation. I was ready for another “kiddy” entertainment, and I was proven wrong. Don’t get me wrong, I do enjoy kiddy entertainment. I love Tangled, Wreck-It-Ralph, Frozen, etc. I love The Avengers for its kiddy quality. It’s fun, it’s family “clean”, it’s entertaining. But TWS took me by surprise. The opening ship mission is no less thrilling than the opening sequence of a Bond movie. The fighting scenes are serious mortal combat, you almost didn’t see “superpower” being used. In the middle of the movie, I swear TWS could have been a “24″ episode, with Jack Bauer on steroid and blonde bleach. I was so thrilled by the plot, I wonder if kids below 12 could actually enjoy TWS. To me, TWS took a completely different route from The Avengers, and it’s AWESOME.

Source: businessinsider.com.au

Source: businessinsider.com.au

But the greatest hidden treasure of TWS is the question it poses to our generation. And only a frozen hero like Captain America can raise this question with credibility.

Captain is a unique character in the superhero universe. Unlike the Batman who is a contemporary, or Superman who is an alien, Captain is a human being from another era, with different sets of values back then, who was “forced” to live half a century later, in times of new, alien values. He represented what is called The Greatest Generation in the US. This is the generation that ended Nazi insanity, and put a stop to Japanese ambition. Captain is not only of that generation, he was the HERO of it. He is the embodiment of his generation’s ideal values. And those values were pretty much black & white.

The WWII was almost a black & white global conflict. Two countries went berserk, dead people started to pile up, and somebody must stop them. Simple.

But then Captain got frozen, and he was thawed in post 9-11 era.

Times have changed now. Back in Cap’s days, we smacked offenders after offense was comitted. Now, we live comfortaby with the term popularized by W. Bush as “preemptive strike”. We read about drones hovering above the sky, raining death to people down there without due trial, and we just shrugged.

60 years after Captain America’s era, the world seems to punish offense before it is even committed.

These conflicting morale values, between Cap’s black & white generation, and today’s complex “war on terror” dilemma, couldn’t be captured better by the dialogue between Cap and Nick Fury, upon inspecting the latest technology of terrorism prevention:

Fury: “We’re gonna neutralize a lot of threats before they even happen”

Cap: “I thought the punishment usually came after the crime”

The filmmaker beautifully raised this important question to today’s generation in Captain’s naive retort.

This is a classic “security vs. freedom” dilemma. Complete security, safe from terrorists and “bad guys”, requires giving up your freedom, completely. You want a totally safe world? Then let the government watch everybody’s move, install surveillance camera in all corners, tap everybody’s phones and emails. Evil doer will be detected and can be dealt with before they even leave their bed to carry their plan. Domestic terrorism and crime will disappear, and so will your freedom.

TWS may feature impossible, ridiculous looking heli-carriers, but to me they are just symbols. A symbol of drones delivering pre-emptive (pre-offense) punishment with impunity. Or a symbol of NSA freely eavesdropping our conversation in the name of “security”. In TWS, the land of the free is ready to exchange its freedom with extreme security measures. Captain America didn’t buy into all these. He chose to stick with his naivety. And this time he did not fight foreign Nazi. This time he fought his fellow countrymen.

(Of course, just to prevent TWS being accused of supporting home-grown terrorists, Marvel Studios smoothly inserted “Hydra” as an evil organization. The US government couldn’t be evil. They were just “infiltrated” by evil elements. Good job scriptwriters! :))

TWS may be a superhero movie, but its true message is not a kid’s material. How far are we willing to trade our freedom with security? Until what point?

And if you think this question only applies to the US, think again. The people of Indonesia are about to choose their leader this year. Some candidates may offer you a secure and strong state on the menu, and God knows I want to taste it more than anything else. But before you place your oder, do check the price. It may spell “freedom”.

:)

The Raid 2 Review (Spoiler Banget)

Standard

Jadi kemaren gw napsu mau nonton The Raid 2. Udah seminggu tayang di bioskop, masak gw gak nonton juga? FOMO nih ceritanya (Fear of Missing Out)! Nah, sesudah 2 jam lebih, gw pengen berbagi pengalaman gw nonton film citarasa blasteran (sutradara bule, pemeran Indonesia dan Jepang) ini. Of course, review ini penuh spoiler. Jadi buat yang ngotot pengen nonton gak tau apa2, jangan baca dulu yaaa…

(walaupun sebenarnya untuk film berantem kayak gini, mau spoiler apaan sih? Bukan misteri pembunuhan juga yak…)

Here it goes.

Film dimulai dengan adegan padang rumput besar, dishoot dari kejauhan sekali (apa sih istilah filmya? Wide shot?). Kemudian tampak beberapa mobil di sudut kiri bawah. Tampak keluar beberapa orang keluar dari mobil. Seluruh aktivitas ini tampak dari jauuuuuh banget ampir gak keliatan. Yang terlintas di pikiran gw:

Mampus aja kalo gak nonton di bioskop, terus nonton di tipi kecil di rumah. Mana keliatan adegan di kiri bawah pojok ini? Udah kayak Where’s Wally.

Oh, ternyata ini adegan lanjutan The Raid 1. Ada Donny Alamsyah. Terus ada Alex Abbad (weits, ke mana aja nih orang). Dan tokoh Bejo (Alex Abbad. Dan aneh sih muka Arab namanya “Bejo”) ngomong bla bla bla yang kerasa banget line-nya ditulis dulu di Bahasa Inggris terus diterjemahin. Terus, DUAR!!, Donny Alamsyah dieksekusi pake shotgun. Oke deee, awal yang hardcore, khas The Raid.

Di sini gw masih semangat banget nontonnya.

Adegan pindah lagi, masih ke lanjutan film pertama. Jagoan kita Rama (Iko Uwais), satu orang sisa pasukan SWAT yg pincang, dan penjahat Pierre Gruno dari film pertama, tapi kayaknya gak diperanin doi lagi (mungkin masalah honor), bertemu dengan polisi di sebuah lokasi rahasia eksotis (aneh juga sih ngebawa penjahat nggak di mabes). Ketemu “polisi” Cok Simbara dengan topi aneh yang bikin dia tampak seperti Inspector Gadget. Dan….DUAR!! Belom apa2 si penjahat dari di-dor di kepala. Kemudian mulailah penjelasan tentang misi rahasia yang harus dijalani Rama. Standar lah, menyusup ke penjara sebagai narapidana untuk mendekati anak penjahat Uco (Arifin Putra).

[Catatan tambahan 7 April 2014: beberapa pembaca mengingatkan bahwa karakter yg ditembak di atas bukan karakter Pierre Gruno. Maaf siwer. Terima kasih untuk yang sudah mengingatkan! :)

Bak buk bak buk! Rama dengan nama samaran Yuda ngegebugin orang di toilet penjara. Adegan berantem di toilet ini lumayan, soalnya di tempat sangat kecil. Salut lah sama Gareth Evans yang kepikiran ide ini.

Terus Rama mulai ngobrol sama si Uco (kekurangan 'k' gak sih namanya? Ucok kek sekalian? Atau pengen kayak penulis ngetop dunia Umberto Uco?). Biarpun di penjara, si Uco ini mukenya alus putih banget, udah kayak iklan Pond's For Men cyiiiin, ih, pengen eke elus! Tapi ya sudah lah, kan anak mafia, jadi perawatan muka di penjara pun pasti terjamin. Hanya yang agak absurd, di ruang makan penjara, Uco ngeluarin pisau terus main2 pake pisau di meja makan.

Ini semua dilakukan di depan petugas penjara.

Gw mulai complain ke istri di sebelah, tapi istri gw meyakinkan: Kan doi anak mafia, ceritanya udah disogok semua penjaganya, jadi bebas.

Oke deh, argumen lumayan logis, tapi tetep aja biar nyogok sekalipun apa iya sevulgar begitu petantang-petenteng bawa pisau di depan petugas? Uco pasti gak main Twitter. Bayangin kalo ada tahanan lain yang buzzer Twitter, pasti udah ditwitpic, jadi heboh di timeline, terus Menteri Kehakiman dimaki2 di Twitter, di-cc ke pak SBY, terus jadi episode Mata Najwa.

Eh kita menyimpang. Balik lagi.....

Ya gitu deh pokoknya. Rama diajak berteman sama Uco. Rama pura2 jual mahal gitu, kayak cewek populer di kampus.

Terus adegan berantem di lapangan bola di penjara, setelah hujan. Fight scene ini oke lah, inovatif dan fresh. Ngeliat orang gebuk2an bercampur lumpur. Entah dari mana Rama bisa punya alat mengepel merangkap tombak/lembing, beli di Ace Hardware kali. Inti ceritanya, doi melindungi Uco yang ternyata sasaran serangan tersebut, dan jadinya Uco berhutang budi ke Rama/Yuda.

Cut to "2 Tahun Kemudian". Rama bebas dari penjara, dijemput Uco naik BMW, dan diperkenalkan ke bokapnya Uco, Bangun (Tio Pakusadewo). Dari dulu gw nge-fans sama bang Tio. Walaupun terkadang dia terjebak peran antagonis, tetapi bang Tio ini punya karakter yang sangar, dan aktingnya selalu oke. Di sini pun doi tampil keren, seperti biasa, sebagai bos mafia. Selain itu ada Oka Antara sebagai Eka, penasihat hukum/counsellor nya bos mafia. Sesudah meeting dengan para mafia Jepang (tokoh Goto-nya keren, sangar abis. Bukan Jepun kelas Takeshi Castle lah). Setelah adegan Rama/Yuda ditelanjangi untuk mencari penyadap, Rama mendapat kamar penthouse yang keren sebagai tempat tinggal. Kita juga diperkenalkan dengan pemeran pendukung yang tanpanya film ini mungkin tidak akan dibuat: HAPE SMARTFREN sodara2! Adegan menelepon pake Smartfren tampak jelas, walaupun sayang mode yang dipake buat touchscreen. Oke deh, product placement. Sebagai orang iklan gw gak boleh protes!

Sampe di sini, gw masih semangat nontonnya.

Kalo gak salah adegan berikutnya kita melihat Rama/Yuda mendampingi Uco menagih duit setoran dari penjahat kelas kroco pembuat film bokep lokal, lengkap dengan  mesin pengcopy DVD (emang ada ya bokep lokal diproduksi massal gitu?) Bahkan di latar belakang tampak sedang ada syuting film bokep. Penjahat kroco diperankan Epi, dan menurut gw doi oke banget nontonnya. Gak lama terjadi lah bak buk lagi karena si tokoh Epi ini menolak nyetor. Keren kok adegan berantem di sini, bahkan liat Epi lari lompat menembus jendela segala. Dalam keriuhan berantem ini gw mencari jejak si pemeran bokep, tapi tidak terlihat. Aneh.

Sesudah itu Uco nyetor duit ke bokap, Yuda dapet amplop. Diperlihatkan Uco minta tanggung jawab lebih sebagai kriminal, tapi babe belum setuju. Ya begitu deh. Uco tampak kecewa. Kemudian mabuk2an dan karaokean bareng Yuda bersama cewek2 hostess karaoke. Di sini ada adegan bertengkar Uco dengan cewek karaoke yang berasa gak penting. Mungkin tujuannya untuk establish ambisi Uco menjadi lebih besar.

Sampe di sini, gw mulai ngantuk.

Kalo nggak salah sesudah ini masuklah veteran The Raid pertama yang dicintai sejuta umat, Yayan Ruhian a.k.a. MAD DOG sebagai "Prakoso"!!! Mata gw berbinar2 seperti waktu Emma Watson menyatakan cintanya pada gw!! Gw hepi banget ngeliat kang Yayan sampai disuruh diem sama istri. Ceritanya Prakoso mendapat perintah langsung dari bos Bangun untuk membunuh seseorang. Kemudian tampak adegan Prakoso makan nasi bungkus di trotoar sambil mengintai sasaran yang keren banget! Dan gw seneng ada "anjing liar" di sebelahnya, kesannya reference untuk karakter "mad dog" dari film pertama.

Prakoso mengejar si sasaran yang dikawal rombongan bodyguard, menghajar semua bodyguard yang anehnya gak punya pistol. Dengan golok, si Prakoso ini sukses membunuh sasaran.

Adegan pindah lagi, kalo gak salah Uco bertemu Bejo. Bejo pada dasarnya menghasut Uco untuk lebih agresif lagi biar lebih cepet jadi bos. Dialog2 terasa membosankan dan awkward. Kalimat2 dan ekspresi2 terasa lagi aslinya ditulis pakai bahasa Inggris, baru di-backtranslate ke bahasa. Bahkan gw sampe tanpa sadar mendengarkan dialog2 di film ini sambil menterjemahkan ke bahasa Inggris, karena lebih make sense. Pokoknya singkat cerita, Uco ceritanya termakan usulan Bejo untuk memulai perang antara kubu mafia Bangun dan kubu Jepang. Mau politik devide et impera begitu cuy, kayak VOC....

Adegan pindah lagi ke Prakoso yang dinner sama wanita cantik Marsha Timothy. Aselik, di awal gw pikir ini adegan bos dan bawahan. Gw sempet mikir apa tokoh Marsha Timothy ini semacem client atau apalah gitu, mau memberi tugas. Taunya nanyain anak. Taunya...taunya...DIA ISTRINYA PRAKOSO. Prakoso yang pembunuh bayaran sangar ini ternyata sayang istri dan anak (ya eyalah kalo istrinya secakep Marsha Timothy). Tapi adegan ini buat gw nggak banget sih, dan gw jadi tambah ngantuk. Mungkin maksudnya establish kalau Prakoso ini ternyata family man, sayang istri dan anak. Muka Rambo Hati Cullen gitu deh.

Sebenarnya gw appreciate niatan membangun karakter di belakang karakter selain tukang bak buk. Tapi nggak tahu kenapa di The Raid 2 malah berasa bertele-tele, draggy, entah karena skrip yang kurang oke, atau dialog yang biasa. Atau, mungkin gw sekedar membandingkan dengan The Raid 1 yang nggak basa-basi, dan gw kangen itu.

Eniweis.....

Kita akan melihat Prakoso dijebak di sebuah club (yang dibuka dengan adegan sexy dancers yang agak nanggung). Di sini pace naik lagi, apalagi melihat Mad Dog kembali beraksi dikeroyok banyak orang. Tapi jujur, sampai di sini fight scene mulai terasa repetitif/pengulangan. Berantemnya mulai begitu-begitu aja, walaupun toh masih seru.

Tetapi di scene ini kita diperkenalkan dengan tokoh assassin, atau "penjahat terakhir" lawan Rama, yang KEREN BANGET. Gw sempet mengira doi orang Jepang, tapi taunya dia cintailah ploduk-ploduk Indonesia asli. Nama pemerannya Cecep Arif Rahman.

sumber: moviepilot.com

sumber: moviepilot.com

Score tertinggi gw buat film ini jatuh ke pemilihan mas Cecep. Tampangnya KEREN dan SADIS beneran. Dia punya ekspresi senyuman kejam yang kereeeeen. Pokoknya siapapun yang menemukan mas Cecep ini, gw salut banget. Ini salah satu karakter penjahat berantem terkeren yang gw pernah lihat, bahkan termasuk film Hollywood sekalipun. Apa ya, believable banget kalo dia bengis.

Singkat cerita, Mad Dog, eh Prakoso, dibantai si Cecep ini dengan senjata pisau yang bentuknya kayak bulan sabit (karambit namanya kalo gak salah). Sedih juga sih ngelihat Mad Dog kalah, tetapi ini mungkin memang saatnya memberi ruang ke bintang baru.

Di adegan Prakoso gugur inilah tampak SALJU yang kondang itu. Jakarta kok salju? Ya sudah lah ya, mau komen apa lagi. Anggap aja imajinasi. Gw malah bingung ngeliat gerobak Lomie Ayam di situ, karena setahu gw Lomie Ayam tidak dijual di gerobak. (Belakangan gw dikasih tahu follower kalo di Bogor dan Bandung ada penjual lomie ayam pake gerobak. Oke deee….)

Pembunuhan Prakoso ini tampaknya bagian dari skenario Uco/Bejo untuk mengadu-domba bos Bangun dan Jepang, karena berikutnya adalah perkenalan karakter Baseball Bat Boy/Hammer Girl. Hammer Girl membunuh di kereta listrik, Baseball Bat Boy di sebuah gedung tua tak berpenghuni. Keduanya menghabisi puluhan bodyguard yang anehnya tidak berpestol sama sekali. Salut untuk penciptaan karakter Bat Boy dan Hammer Girl karena unik dan inovatif! Dan di adegan ini gw seneng lagi.

Sesudah “naik”, adegan turun lagi dengan percakapan yang gw sampe sudah lupa saking ngantuknya. Yah begitu deh, pokoknya Uco memaksa babe untuk perang terbuka dengan Jepang membalas dendam Prakoso. Babe Bangun gak mau, doi ditembak sama Uco. Rama memergoki, dan Rama kabur dengan Eka.

Sampai di sini gw udah merasa film terlalu lama dan draggy, dan mulai ngeliatin jam. Kapan kelarnya sih film ini? Jujur mulai di sini gw gak inget lagi urutan cerita karena udah mulai gak konsen…Samar2 gw inget ada adegan Yuda/Rama kejar2an di Blok M dan doi bikin adegan menu tepannyaki pake kepala manusia. Tapi gw sudah blur banget karena berasa udah terlalu lama.

Gw cuma inget adegan car chase yang lumayan, kalo nggak terbaik yang pernah ada di film Indonesia. Biasanya film Indonesia beraninya ngancurin mobil tua, tapi the Raid 2 nunjukin mobil mahal ditabrak2in. Terima kasih Smartfren, eh, sponsor! Adegan berantem di dalam mobil dan antar mobil juga keren lah, beda sama yang selama ini ada di film2 Hollywood. Walaupun ngeliat gampang banget halte busway rontok abis ditabrak mobil bikin khawatir pengguna busway nggak sih? Pokoknya scene ini bagus banget. Salut!

Adegan ngobrol2 bla bla bla apa lagi yang gw udah gak dengerin. Gw duduk pun udah ngglosor sana sini karena bosen. Dalam hati gw cuma bilang “Cepetan deh adegan klimaksnya”.

Yah pokoknya sampai ke adegan klimaks, Rama/Yuda menyatroni tempat Bejo. Kita melihat Bejo dan Uco yang saling baku tembak. Dan Rama bertemu Cecep untuk The Final Fight. Gw ngefans banget sama mas Cecep ini, dan doi berantemnya keren, termasuk dengan penggunaan pisau karambit. Tetapi jujur, walaupun final fight ini keren, tetapi masih belum bisa mengalahkan final fight dari film pertama, di mana Mad Dog menghadapi Iko Uwais dan Donny Alamsyah sekaligus. Memang The Raid yang pertama masterpiece banget sih. Pokoknya Cecep dikalahkan, Yuda mengalahkan Uco, the end.

Jadi overall, gimana pendapat gw soal The Raid 2? Menurut gw sih The Raid 2 jelek. Gw merasa film terlalu lama, bertele-tele. Gw ngerti kalau sekarang mungkin ingin ditambahkan elemen drama. Tapi entah kenapa elemen dramanya tidak menarik buat gw, sehingga terasa hanya menjadi “tempelan” penunda antar adegan berantem. To be fair, kalo gw bilang The Raid 2 jelek, mungkin karena gw selalu membandingkan dengan yang pertama. The Raid 1 tidak ada “cerita”, “drama”, but who cares? Gw dapet non-stop violent entertainment yang menghibur, dan saking sadisnya justru jadi agak “kartun”, dan saat lampu bioskop menyala di akhir The Raid 1, gw pengen tepuk tangan dan bercerita kepada dunia betapa kerennya film tersebut.

Di akhir The Raid 2, gw malah merasa lega. AKHIRNYA KELAR JUGA. Dan ini lega bukan karena kebelet pipis, tetapi karena secara keseluruhan gw agak menderita menonton film ini.

Having said that, walaupun secara keseluruhan gw bilang The Raid 2 jelek, tetep ada bagian2 yang menurut gw bagus banget, dan to be fair, harus dicatat:

  • Gw suka camera worknya. Buat yang udah nonton dan akan nonton, perhatikan gambar2nya. Menurut gw angle-anglenya bagus. Gw bukan orang film yang ngerti teknik, gw hanya penonton biasa. Tapi gambar2nya banyak yang bagus, bahkan puitis. Harus diakui, seaneh2nya ada salju mampir semalem doang di Jakarta, adegan itu cantik.
  • Sound. Suara baseball bat  kena kepala orang, suara kepala orang kejedot tembok (banyak banget nih), suara tulang patah, semuanya terdengar nyata.
  • Arifin Putra sebagai Uco menurut gw main bagus. Sebagai anak ambisius yang psycho dia main maksimal. Salut deh buat doi.
  • I LOVE YOU CECEP!! Gw gak mau tahu, Cecep HARUS main film lagi. Gw sih pede Cecep bisa meneruskan Joe Taslim main di luar negeri. Ekspresi mukanya itu loh, badass banget. Apalagi kalo senyum sedikit, beeeuhhh. Kalo gw harus milih satu saja faktor yang menyelamatkan The Raid 2, ya si Cecep ini.
  • Karakter Hammer Girl/Baseball Bat Boy keren banget. Outworldly, kayak tokoh komik. Scene2 berantem mereka menyegarkan, dan tidak terasa sebagai pengulangan. Pemilihan senjata palu juga keren. Gw usul untuk The Raid 3 harus ada karakter CHARGER HAPE GIRL/POWER BANK BOY yang sesuai dengan masa kini. (Jangan ketawa elu nyet, coba mata elu diculek charger hape terus elu ditimpuk power bank 10,600 mAH kalo gak matik…)
  • Berani mengangkat topik polisi korup. Jaman dulu mana mungkin polisi digambarkan korup, entah di bioskop atau sinetron. Di sini polisi bisa digambarkan sebagai “jahat”, suatu kemajuan. Jadi salut untuk Gareth Evans.

Demikian review gw soal The Raid 2. Jadi untuk yang belum nonton, layak nggak nonton film ini? Begini deh. Kalo elu segitu nge-fansnya dengan yang pertama (seperti gw), menurut gw The Raid 2 masih layak ditonton. Sekedar “melanjutkan” cerita yang pertama, dan untuk menikmati adegan2 berantem2nya. Tetapi manage your expectation, soal pace yang lama, dialog awkward, dan drama2 tambahan yang menurut gw gak penting.

Tetapi kalo elo belum nonton The Raid pertama, atau udah nonton dan gak suka, menurut gw sih The Raid 2 bukan film untuk elo. Apalagi kalo gak suka darah dan adegan sadis, nonton adegan berantem di Frozen aja pingsan, wah jangan nonton ini. The Raid 2 is not for the faint-hearted.

Itu aja sik. Buat yang ngefans banget sama The Raid 2, gw jangan di-bully yaaa. Masih trauma dihujatin gara2 bilang The Dark Knight Rises jelek niiiih :p

 

Memilih, Golput, dan “Jalan Ketiga”

Standard

Pemilu legislatif sudah tinggal beberapa hari lagi. Di social media pun ramai memperbincangkan apakah golput atau nggak. Yang pro golput nafsu dan berapi2 menolak memilih. Yang mengajak agar tidak golput pun juga sama napsunya. Pokoknya bulan ini bulan penuh hawa napsu. Loh.

Mari kita mendengar argumen untuk golput. Sebagian besar argumen golput adalah skeptisisme terhadap partai, atau bahkan keseluruhan dunia politik di Indonesia. Semua partai dan caleg dianggap kacrut, korup, dan rampok. Jadi what’s the point memilih?

Sebaliknya mereka yang mengajak untuk memilih berusaha meyakinkan, masih ada caleg yang baik, masih ada “orang baik” yang bisa dipilih. Bahkan ada yang bernada intimidatif, “Kalo golput gak usah komen soal pemerintah nanti!”. Galak cuuy….

Saya pernah menganalogikan bahwa memilih di antara semua pilihan yang jelek ibarat mau menikah. Kalau semua calon suami jelek, masak memaksakan menikah? Harusnya menikah karena memang bertemu calon yang beneran dianggap oke, iya kan? (Eh maaf kalo analogi ini menyinggung, ada yang berasa. Jeng jeng…)

Ketika gw mengutarakan analogi di atas di Twitter, ada jawaban follower yang menarik. Kira2 dia berkata seperti ini: “Analoginya gak pas, mas. Kalau di Pemilu, biarpun kita gak memilih, TETEP AJA KITA DINIKAHKAN”

Okeh. Doi bener juga sik. Ahaha aha ha. (Ketawa getir).

Di pernikahan pada umumnya, kalau memang kita tidak mau, ya tidak jadi menikah. Di Pemilu, kita nggak mau memilih pun, ya ujung2nya “tetep menikah”, karena toh kita akan hidup di bawah pemerintahan yang baru. (Kecuali kita niat banget hijrah ganti kewarganegaraan).

Gimana dengan gw? Gw akhirnya memilih “jalan ketiga”. Gw tidak akan golput, tetapi bukan karena gw semangat memilih yang “bagus”. Dengan kata lain, gw setuju dengan asumsi yang digunakan kaum golput, tetapi ada alasan ketiga yang membuat gw memilih. Dan alasan itu sederhana aja.

Dengan asumsi semua pilihan jelek, gw akan memilih yang paling kurang jelek. Memilih “the least evil” di antara semua yang “evil”.

Mengapa gw mengambil sikap ini? Mungkin karena pengalaman pribadi, dan sejarah yang gw baca.

Di umur gw yang sekarang, gw pernah merasakan hidup di jaman Orba (gak selama itu koook, gw gak setua itu…). Gw pernah hidup di era takut salah ngomong. Ketika salah ucap mengkritik pemerintah bisa berarti besok “hilang”. Gw juga melalui pergolakan tahun 98. Dan gw pernah merasakan ketakutan memiliki “etnis yang salah”, dan “agama yang salah”. Gw gak pengen itu semua kembali di negeri ini. Betul bahwa Indonesia jauh dari sempurna. Lagian mana ada negara sempurna? Canada yang udah indah, damai, toleran aja harus kebagian Justin Bieber. Tetapi gw melihat Indonesia sudah memiliki kebebasan pers dan opini, dan walau masih banyak carut marut, bangsa ini relatif masih mempertahankan dan mentoleransi kemajemukan. Gw gak pengen kita mundur.

Gw juga senang membaca sejarah. Dan ketakutan gw adalah bangkitnya fasisme atau bentuk rezim otoriter lain seperti Nazi di Jerman tahun 30an. Rezim otoriter bisa berkedok macam2, dari “patriotisme” sampai “wakil Tuhan di bumi”. Ujung2nya sama, menindas mereka yang berbeda atau mereka yang minoritas.

Dan karena hal2 di atas inilah gw memutuskan untuk memilih. Gw tidak memilih “orang baik”. Tetapi gw memilih untuk mencegah orang yang LEBIH JAHAT berkuasa.

Gw memilih untuk mencegah kaum otoriter berkuasa.
Gw memilih untuk mencegah kaum intoleran berkuasa.
Gw memilih untuk mencegah mereka yang berkedok agama untuk memanipulasi berkuasa.
Gw memilih untuk mencegah mereka yang mau melemahkan KPK berkuasa.

Pesimis? Mungkin. Tidak ideal? Tentunya. Tetapi inilah “jalan ketiga” yang gw ambil. Gw nggak memilih orang baik, tetapi gw memilih untuk mengurangi pengaruh mereka yang lebih jahat. Ibarat analogi nikah tadi. Kalau toh gw harus menikah juga di antara calon2 yang jelek semua, minimal gw memilih yang tidak akan menggebuki gw pake panci teflon. Gak apa2 lah dapet yang cerewet dan suka ngupil. The least evil of all. :D

Apapun pilihan kita, mau semangat memilih orang baik, kekeuh golput karena semuanya dianggap jelek, atau mengambil “jalan ketiga” kayak gw, mari kita menghormati pilihan masing2. Indonesia harus tetap jadi bangsa yang beradab, oke?

(Tetapi kalau alasan kalian tetep golput karena pengen tidur seharian….ya gak ada argumennya sih…. :D)

Antara Perintah Atasan, Leonidas, dan Nuremberg Principles

Standard

Dalam beberapa kesempatan, gw sering bertanya kepada teman/keluarga, apakah punya masalah jika ada pejabat pemerintahan yang tersangkut dengan pelanggaran HAM. Yang menarik, banyak yang menjawab: “Ya nggak apa2. Toh pelanggaran tersebut dilakukan bisa jadi karena taat pada perintah atasan“.

Gw jadi mikir soal “taat perintah atasan” ini. Banyak orang yang tampaknya bisa memaklumi pelanggar HAM ketika dibungkus dengan dalih ini.

Kita semua mengerti bahwa dalam dunia militer, ketaatan pada atasan adalah fondasi penting. Militer bukan demokrasi. Chain of command harus dijaga. Kalau setiap perintah atasan militer harus dimusyawarahkan terlebih dahulu, bisa keburu dibom sama musuh. Bahkan sejak jaman Sparta gw yakin kejadiannya gak kayak gini:

Raja Leonidas pada 299 pendekar Sparta six-pack lainnya: “Eh guys, kita diancem sama Raja Xerxes nih. Baiknya gimana ya bro menghadapi ini?”

Pendekar Sparta no. 129: “Das, kita obrolin dulu antar kita2 sambil ngupi2. Ke Sevel dulu kita?”

Pendekar Sparna no. 65: “Bentar, kenapa kita gak musyawarah dulu mau ngupi2 di mana?”

Kagak kan?

Raja Leonidas langsung nendang si utusan Xerxes malang ini ke lobang galian Pemda, dan menyatakan perang: INI SPARTAAAAAA NYEEEETTTT, dan doi langsung didukung pasukan six-packnya tanpa ragu.

Itulah rantai komando, yang didasari pada ketaatan akan otorita di atasnya.

Jadi bagaimana dengan seorang pejabat/militer yang melakukan pelanggaran HAM karena disuruh atasannya? Apakah berarti dia bisa dimaklumi? Kan dia hanya menjalankan perintah atasan?

Gw jadi inget soal Pengadilan Nuremberg (The Nuremberg Trials – artikel Wikipedia di sini). Ini adalah seri pengadilan yang mengadili petinggi militer Jerman dan Partai Nazi pasca Perang Dunia II untuk kejahatan atas kemanusiaan (rakyat sipil) yang dilakukan. Mungkin kita semua tahu bahwa rejim Nazi melakukan pembersihan etnis Yahudi secara sistematis dan terencana selama PDII. Tetapi korban Nazi juga termasuk mereka yang terkebelakang mental, kaum homoseksual, dan minoritas lain yang dianggap “mencemari” bangsa Jerman. Pengadilan ini sudah difilmkan menjadi film “Judgment At Nuremberg” yang bagus sekali, dan gw recommend untuk ditonton.

Dalam pengadilan tersebut, ada isu yang sama. Banyak sekali pejabat militer Jerman dan Partai Nazi yang berdalih melakukan segala kekejian itu karena “taat pada atasan”. Alasan tersebut tidak diterima di pengadilan Nuremberg, dan banyak sekali yang dihukum berat, dari penjara seumur hidup sampai hukuman mati.

Nah, pengadilan Nuremberg melahirkan The Nuremberg Principles. Menyangkut pelanggaran pelaku kejahatan kemanusiaan karena “taat pada atasan” disinggung di dalam Prinsip Keempat:

“The fact that a person acted pursuant to order of his Government or of a superior does not relieve him from responsibility under international law, provided a moral choice was in fact possible to him”.

Dari laman Wikipedia yang sama, prinsip di atas di-rephrase menjadi lebih sederhana:

“It is not an acceptable excuse to say ‘I was just following my superior’s orders’”

Artinya, kalau gw tidak salah mengerti ini, sejak Perang Dunia II telah diatur guidelines yang menyatakan bahwa pelaku pelanggaran HAM harus tetap mempertanggung-jawabkan perbuatannya, dan tidak bisa berdalih “taat pada perintah atasan”. (Kalau ada yang lebih mengerti masalah hukum ini dan mau mengklarifikasi, silahkan loh. Gw hanya sarjana akuntansi… :D)

Dengan banyaknya orang yang gw kenal yang masih “memaklumi” pelanggar HAM dengan dalih “taat atasan”, gw jadi mikir apakah masyarakat masih perlu edukasi tentang aspek2 human rights. Topik ini bisa cukup kompleks, tetapi menurut gw sama pentingnya dengan edukasi mengenai korupsi.

Gw sendiri sadar pemahaman gw pribadi masih cetek. Bayangkan, baru tahun lalu gw mengerti kalau yang disebut “pelanggaran HAM” harus dilakukan oleh negara. Jadi kita nggak bisa sembarangan memakai istilah “melanggar HAM”. Kalau kita pesen kopi tawar dan menerima kopi manis, kita nggak bisa menjerit2 pada si barista “KAMU PELANGGAR HAM!! AKU BERHAK MENDAPAT KOPI TAWAR!!!”  Mengapa? Karena pelanggaran dilakukan bukan oleh aparatur negara, tetapi oleh barista. Kalo ini sih ke Yayasan Lembaga Konsumen aja.

Gw masih perlu belajar banyak. Kita semua masih perlu belajar banyak. Karena bangsa ini harus belajar tentang kesalahan-kesalahan di masa lalu, agar kita bisa menjadi bangsa beradab yang lebih baik di masa depan.

Yuk belajar! :)

 

A Letter To My Imaginary Child

Standard

I don’t have a child. Not that I don’t want one, but I guess the stork hasn’t gotten the instruction yet. Or it got lost in Riau smoke. God knows.

Nevertheless, at my I age I start to feel parental instinct. That I wished I had a child to talk to. Or to write to. To share what I learned so far living. And hence I am writing this letter. This is a letter to my imaginary child. But perhaps, it could speak to other people’s real child too :)

 

A Letter To My (Imaginary) Child

 

Dear Son/Daughter,

Let me start with an apology

I am sorry you were not brought into a perfect world

Instead, you were born into a place full of suffering, of natural disasters, but worst of all, you will be living among humans full with faults, same as you.

But let me assure you, that this imperfect world provides opportunities of little paradises along the way

That human kind is given the precious ability to feel

Because even though you will feel anger, sad, hate, grieved, despair, betrayed, alone, afraid

So too you will feel love, hope, joy, compassion, friendship, and courage

You will fall and stumble on your journey. Everybody will.

But do not dwell at the bottom and whimper for too long

Because believe me when I tell you,

Victory may lie at the destination,

but true glory is when someone gets back on his feet again, dusts himself off, and walk again

Don’t you worry about heaven and hell. You are just a selfish prick if all you think is whether you got a place in heaven, or be spared from hell.

Don’t you worry about heaven and hell. Look up the sky instead. And fly. And conquer it.

But do worry about how you treat other people. Be nice, be compassionate, be helpful. Don’t strive to be a genius, but first try not to be a douche, a jerk, or a prick. Your intelligence can not bring heaven to your life. But other people can. And hell they can bring also. So be nice to other people.

And do know this. Life is random. Life is not discriminate. Life is not racist. Life is not judgmental. Life just happens.

If bad things ever happen to you, there are only two possibilities. It is a direct consequence of your own deed, or it is just a pure random event. If it is the former, make a lesson out of it, and move on.

If you are certain it is NOT the former, make peace with yourself and accept that shit does happen. You will only be wasting time if you try to know whether the gods just want to make your life miserable, or that you are being punished over some unknown reasons.

Life is a song, with probabilities as lyrics and chances as melody. Learn to dance to the music, and you will be fine.

Freedom is your entitlement. But remember, exercise your freedom so it does not violate other people’s freedom. Because if you do, it is not freedom. It is tyranny.

Do not be ignorant. Respect knowledge, respect wisdom. There is not anything under or over the sky too sacred for you to question. At every moment, till the day you die, find the opportunity to learn. Remember your teachers are all around you, be them people, writings, or even nature.

If there is one trait I hope you will forever nurture, it’s humility

Because when you are humble, you will never feel too smart

Too smart to learn from people with different values, beliefs, or colors. Or from people who seem humbler than you

And when you never feel too smart to learn, you will continue learning for the rest of your life

And a truly wise person you shall become

And with that wisdom, I pray that you find your real happiness.

I shall cease to exist in this world, that is just the way Life is

When that day comes, you will learn to let me go

By then, you may already have a child of your own, and that you too pass on the lessons of life to him

But even if you don’t, remember you can still share your wisdom, your knowledge, your discoveries, to other people, so that they can become your Children in Knowledge and Life

This is all I can share with you, for now. Now live, and let me learn from you as well.

 

 

Si Gede Item. Review Awam Galaxy NotePRO 12.2

Standard

Review awam is back! Seperti biasa, a word of caution: ini adalah review awam nan ringan layaknya Chiki. Jadi untuk yang berharap review mendetail dengan pembahasan spesifikasi yang njelimet, ya siap2 kecewa. Gw mereview produk berikut sebagai pengguna awam saja. Okaaaay?

Kali ini gw berkesempatan mendapat Samsung Galaxy NotePRO 12.2, tablet teranyar keluaran Samsung. Waktu gw pertama kali memegang NotePRO ini, reaksi pertama gw adalah:

“HOLY COW (bukan tempat steak)!!! TABLET INI GEDE AJA…”

20140323_114121

Sebagai referensi, NotePRO di genggaman

Nggak maen2. Tablet dengan ukuran layar 12.2 inchi ini gede, dan item. Tablet2 sebelumnya yang berukuran 10 inch rasanya relatif jadi “kecil” begitu dijajarkan dengan si NotePRO. Wajar kalau reaksi pertama orang yang melihat adalah: “Sebenarnya penting banget gak sih punya tablet segede gini??” Nah, ternyata, memang layar gede ini dibuat ada maksudnya. Read on!

Walaupun besar, surprisingly, NotePRO tidak seberat yang kita pikir. Banyak teman yang saat memegang NotePRO reaksinya adalah “Eh, gw pikir bakal lebih berat”. Mungkin karena penampilan yang gede item itu, kita berpikir pasti berat, tapi ternyata tidak (berat asli . Mungkin karena dimensinya yang sebenarnya relatif tipis. Walaupun demikian, NotePRO memang tidak bisa dipegang berlama2 dengan satu tangan. Bukan hanya soal berat yang tetap signifikan, tetapi dimensinya yang besar memang tidak nyaman untuk dioperasikan satu tangan. NotePRO adalah tablet yang cocoknya dinikmati di meja, atau di pangkuan.

Percaya deh, jangan dipegang satu tangan kelamaan

Percaya deh, jangan dipegang satu tangan kelamaan

Bagian belakang, menggunakan cover plastik dengan tekstur “seperti kulit” (faux leather), yang agak3 seperti kulit jeruk. Sebagai catatan, faux leather di NotePRO berbeda dengan di Note 3. Di NotePRO ada kesan “soft” sehingga lebih mirip dengan kulit lagi.

Bagian belakang masih menggunakan tekstur "faux leather"

Bagian belakang masih menggunakan tekstur “faux leather”

Lebih detail dengan tekstur faux leather. Perhatikan pola "jahitan" di tepi yang sama dengan Note 3

Lebih detail dengan tekstur faux leather. Perhatikan pola “jahitan” di tepi yang sama dengan Note 3

Besaaar, tapi relatif tipis (Foto dari techcrunch.com)

Besaaar, tapi relatif tipis (Foto dari techcrunch.com)

Di sebelah laptop gw, sebagai perbandingan ukuran

Di sebelah laptop gw, sebagai perbandingan ukuran

Karena ini adalah seri “Note”, otomatis terdapat S-Pen diselipkan di body. Percayalah bahwa sekali mengenal S-Pen, jadinya males bawa buku catatan konvensional (kertas) ke meeting lagi. Pertama kali mengenal S-Pen di Note 2, gw langsung jatuh cinta, dan selalu menulis catatan meeting di gadget. Call me “old school”, tapi kalau di meeting gw masih lebih mencatat dengan menulis tangan daripada “mengetik”. Soalnya gw suka mencatat dengan doodling (corat-coret) dan menggambar skema simpel.

Selain kesannya “cinta lingkungan” (kan gak pake kertas), tetapi di kerjaan yang gw yang clientnya banyak, catatan digital jauh lebih rapih karena bisa dikategorikan dalam folder2. Buat yang masih meragukan menulis dengan “pena digital”, percayalah bahwa S-Pen di seri Note sangat akurat untuk menggambar dan menulis tangan.

S-Pen masih salah satu fitur seri Note yang paling asik

S-Pen masih salah satu fitur seri Note yang paling asik

Jadi kenapa sih harus pake tablet gede?

Sebenarnya, petunjuk jawabannya sudah ada di namanya: “NotePRO”. Ukurannya besar karena NotePRO ini memang dimaksudkan sebagai tablet bekerja dan berkarya (tidak sama dengan “Golongan Karya”). Jadi, tablet ini memang tidak dimaksudkan sebagai tempat bermain Angry Birds, Flappy Bird, atau Candy Crush (walaupun tentu bisa saja menjalankan game2 tersebut), tetapi kegunaannya lebih terasa untuk hal2 yang produktif – misalnya untuk bekerja dan menjalankan bisnis.

Kenapa layar besar? Karena layar besar memberi manfaat2 untuk tujuan produktivitas di atas. Misalnya:

1. Karena layarnya gede, keyboardnya bisa gede juga cuy. Satu hal yang menyenangkan dari layar besar ini adalah, virtual keyboardnya sudah menyamai ukuran keyboard laptop full size. Ini artinya mengetik menjadi sangat nyaman karena hampir tidak ada bedanya dengan menyetik di keyboard PC/laptop biasa (bedanya hanya tombolnya tidak “jleb” ke dalem aja). Selain itu, susunan dan cara kerja keyboard pun sudah layaknya keyboard biasa (PC), misalnya seperti fungsi Ctrl. Kita bisa mensave, mengcopy dengan cara menekan Ctrl-S, Ctrl-C, dll.

Keyboard virtual yang sebesar keyboard PC/laptop biasa. Mengetik jadi nyaman.

Keyboard virtual yang sebesar keyboard PC/laptop biasa. Mengetik jadi nyaman.

Dengan keyboard besar ini, tablet akhirnya bisa digunakan untuk mengedit dokumen teks dengan nyaman. Gw pernah mencoba menulis satu artikel Word menggunakan NotePRO di perjalanan mobil dan bener2 terasa nyaman,

[Sebagai catatan: berdasarkan informasi dari Samsung, konon akan tersedia cover NotePRO yang merangkap sebagai stand dan keyboard bluetooth. Dan juga akan ada mouse bluetooth untuk si NotePRO ini. Dengan kata lain, NotePRO bisa bener2 berubah menjadi seperti laptop. Hanya bedanya di OS-nya saja. Tapi jujur gw belum mencoba keyboard bluetooth tersebut]

2. Karena layarnya gede, bisa split screen. Sampai 4 window! Fitur split screen dengan 2 aplikasi berjalan berbarengan sebenarnya sudah diperkenalkan Samsung 2 tahun lalu dengan Note 2. Tetapi NotePRO adalah tablet Samsung pertama yang memperkenalkan fungsi multiscreen sampai 4 aplikasi sekaligus! Memang tidak semua app bisa dijadikan multiscreen (Flappy Bird gak bisa contohnya), karena memang prioritas adalah app-app yang sifatnya menunjang kerjaan!

Jadi misalnya, dalam meeting gw bisa mencatat dengan menulis tangan di S-Note, tetapi di saat yang sama gw bisa membuka Twitter untuk kepo gosip capres terakhir, dan juga membuka e-mail.

"multi screen". Bisa nyatet, liat Twitter, atau baca e-mail

“multi screen”. Bisa nyatet, liat Twitter, atau baca e-mail

Screenshot "multiscreen", 4 aplikasi sekaligus daam satu layar

Screenshot “multiscreen”, 4 aplikasi sekaligus daam satu layar

Multiscreen di NotePRO juga sangat fleksibel, karena bisa diatur ukurannya semau kita. Jadi nggak harus sempurna terbelah empat kayak pizza gitu.

Perhatikan rasio multiscreen bisa diatur sesuai kemauan kita kapanpun.

Perhatikan rasio multiscreen bisa diatur sesuai kemauan kita kapanpun.

Jadi itulah manfaat2 layar gede. Bukan supaya main Candy Crush lebih gampang, tetapi alasan utamanya agar bisa menunjang kita bekerja. Keyboard lebih nyaman, dan bisa multiscreen untuk 2-4 aplikasi sekaligus. Tentunya, dengan layar besar menonton film juga lebih enak sih.

Oh iya, biasanya suka pada nanyain resolusi. NotePRO memiliki display 2560×1600 pixel. Dengan luar layar 12.2 inchi, memberikan pixel per inch 247 ppi. Walaupun secara pixel per inch di bawah smartphone premium sekelas Note 3 atau S4, tetapi dari pengalaman ketajamannya sudah sangat bagus, khususnya untuk multimedia (melihat foto, film).

Tapi layar gede aja gak cukup untuk kerja dong nyet?

He eh. Karena untuk kerja tentunya kita perlu aplikasi yang mendukung. Dan ini pun sudah dicover oleh NotePRO.

Bisa dibilang sebagian besar orang kantoran/kerja pasti mencari nafkah dengan produk Microsoft Office. Nggak semua, tapi gw yakin sebagian besar dari kita yang kerja pasti menggantungkan nasib pada Word, PowerPoint, Excel. Ya kan?

Nah, NotePRO memberikan aplikasi gratis Hancom Office. Aplikasi ini diklaim sudah sangat kompatibel dengan Microsoft Office, walaupun tidak 100% sama. Penjelasan dari Samsung adalah bahwa sebagian besar fungsi umum dari Microsoft Office sudah bisa ditemui juga di Hancom Office. Dan ini termasuk sampai ke layout menu yang sangat mirip. Tujuannya agar kita cepat dalam menggunakan aplikasi tersebut tanpa harus banyak belajar/menyesuaikan diri lagi.

Tampilan Hancom Show yang kompatibel dengan PowerPoint. Perhatikan layout menu yang sangat mirip dengan PowerPoint

Tampilan Hancom Show yang kompatibel dengan PowerPoint. Perhatikan layout menu yang sangat mirip dengan PowerPoint

Beberapa fitur “produktivitas” lainnya

Ada beberapa app pre-installed yang sangat kuat nuansa “kerja”nya. Yang pertama adalah e-Meeting. Dengan e-Meeting, beberapa pengguna NotePRO bisa sharing satu screen yang sama (misalnya presentasi PowerPoint), dan hebatnya bisa mengedit/memberi catatan pada presentasi yang terlihat seluruh peserta meeting secara simultan. Gw udah nyobain demonstrasi di sebuah event Samsung, dan seru sih. Kebayang 8 orang meeting yang sama dan yang satu bisa nulis di layar “AKU DIFRIENZONEIN LAGI GUYS, AKU RAPOPO” dan langsung terlihat 7 kolega yang lain.

Selain e-Meeting, ada lagi app “Remote PC”. Jadi jika kita punya komputer di rumah, dengan catatan aplikasi Remote PC sudah diinstall di komputer rumah dan komputer tersebut dalam keadaan menyala/standby serta connect ke internet, maka kita bisa menjalankan komputer tersebut dari NotePRO kita, bahkan saat kita sedang traveling. Yang penting kedua device terhubung ke internet. Kita bisa “mengambil” file dari komputer di rumah untuk dimasukkan ke NotePRO. Tenang saja, semua mekanisme ini tentu membutuhkan password. Jadi tidak bisa ada orang mencuri NotePRO kita dan mendownload foto2 mantan kita. Kecuali orang tersebut kerja di NSA atau doi Chuck Norris.

Jadi jelas banget terasa bahwa NotePRO ini memang untuk orang yang bekerja dan menginginkan tablet yang bisa mendukung pekerjaan dan memenangkan persaingan, bukan memenangkan Plant vs. Zombies 2.

Pengganti laptop?

Mungkin sampai di sini ada yang bertanya2, “Apakah NotePRO bisa menggantikan laptop?” Pertanyaan sulit. Dari pengalaman singkat gw sekitar sebulan menggunakan NotePRO, gw belum merasa NotePRO menggantikan laptop/PC untuk pekerjaan kantor kita. Hal ini karena sering kali bekerja di kantor mengharuskan kita terhubung dengan server kantor. Nah, masalahnya OS yang masih umum diterima server kantor adalah Windows atau OS Mac, bukan Android, jadi dalam hal ini mungkin sulit diterima. Having said that, untuk mereka yang pekerjaan atau bisnisnya tidak bergantung pada server kantor (jadi devicenya berdiri sendiri/stand alone/jomblo), bisa saja NotePRO ini menggantikan laptop PC/Mac. Keunikannya ya tampang dan fitur seperti laptop, tetapi menjalankan OS Android.

Bagi NotePRO ini adalah tablet yang melengkapi kita untuk bisa tetap produktif dengan mobilitas tinggi. Dengan berat dan dimensi yang relatif lebih praktis dibanding laptop, tetapi dengan fitur kerja yang komplit ditambah kompatibilitas dengan Office, ibaratnya komputer bisa ditinggal di kantor, dan NotePRO jadi sekretaris kece yang menemani di mobil sehingga kita bisa tetap produktif, bahkan sampai di tempat tidur (OK, this starts to sound wrong…walaupun secara makna tidak salah)

Selain untuk orang “kantoran” pada umumnya, profesi yang terpikir oleh gw juga bisa bener2 menikmati NotePRO adalah mereka yang bekerja di industri kreatif. Designer fashion, designer logo, kartunis, production house, rasanya bisa asik memakai NotePRO karena tidak hanya layar besarnya, tetapi juga S-Pen yang memungkinkan menggambar/mensketsa dengan bebas. Jadi kehadiran S-Pen bertemu layar 12,2 inch ini jadi kombinasi maut bagi mereka yang kreatif secara visual.

Sketsa ini dibuat menggunakan app Sketchbook di NotePRO

Sketsa ini dibuat menggunakan app Sketchbook di NotePRO

Selain itu, kalau kamu tidak seproduktif itu (misalnya kamu hidup dari warisan orang tua, korupsi, menikahi putri tunggal pengusaha, dll), tetapi kamu menyenangi sensasi tablet layar besar, ya sah-sah saja kok untuk menggunakan NotePRO ini. Membaca berita, e-magazine, dan browsing juga nyaman karena besar dan bisa multiscreen. Kebetulan NotePRO juga memiliki homescreen dengan gaya magazine yang bisa dicustomize. Jadi kita bisa selalu update dengan berita2 tanpa harus membuka aplikasi/masuk ke situs berita.

Homescreen NotePRO menggunakan gaya "magazine" (mirip Flipboard) yang bisa di-customized

Homescreen NotePRO menggunakan gaya “magazine” (mirip Flipboard) yang bisa di-customized

Beberapa hal lain

Oh iya, percaya apa nggak, NotePRO ini masih dibekali KAMERA BELAKANG 8MP PLUS FLASH PULA. Sejujurnya, gw merasa orang yang memotret menggunakan tablet yang lebih besar dari 8 inch layak dikemplang. Tetapi terkadang, ada situasi2 kepepet di mana mungkin hanya tablet yang tersedia untuk memotret. Well, ya sudah lah ya.

Nah, NotePRO ini masih dibekali kamera belakang dengan flash yang cukup memadai. Ditambah kamera depan 2 MP untuk keperluan videoconference, Skype, atau sekedar narsis. Gw nggak tertarik untuk membahas kamera di tablet bongsor ini, karena rasanya memang bukan pada tempatnya motret2 pakai tablet segede nampan ini. Tetapi untuk pembaca yang kekeuh mau tau hasil fotonya, nich….

Foto tidak diedit sma sekali. Klik untuk memperbesar

Foto tidak diedit sma sekali. Klik untuk memperbesar

Informasi untuk para geeks

Prosesor. NotePro didukung quad core 1.9 + quad core 1.3, jadi total ada 8 prosesor. Setahu gw cara kerjanya bukan kedelapan-delapannya aktif sekaligus, tetapi tergantung kebutuhan. Untuk proses yang butuh kenceng, dikasih ke yang 1.9, dan untuk task2 yang ringan, diberikan ke yang 1.3. Tujuannya untuk efisiensi konsumsi baterai. Tetapi ini perlu diklarifikasi lagi sih.

Sistem Operasi. Udah KitKat kakaaak….. (walaupun gw gak tau juga bedanya sama Jelly Bean apaan ya?)

Sound. Ada dua speaker stereo di bezel/pinggiran kiri dan kanan.

Memory. Untuk RAM ada 3 GB, jadi harusnya cukup lah. Untuk storage, NotePRO memberikan 32 GB, dan masih disediakan slot MicroSD. Puas? PUASSS??

Baterai. Naaaah, ini layak sih dibahas. Kapasitas baterai non-removable ini 9,500 mAh. Dan percayalah kapasitas baterai ini cetar membahana, bahkan dengan screen sebesar itu. Pengalaman gw sehari2 menggunakan NotePRO, jika memulai hari dengan baterai penuh, sampai tidur lagi belum pernah butuh dicharge sama sekali. Tetapi harap dicatat gw tidak terus menerus menggunakan NotePRO ini, karena ada komputer kantor. Gw menggunakan khususnya saat meeting di client atau diskusi internal. Jadi sekali lagi terpulang dengan pola penggunaan masing2 user.

Penutup

Si gede item (nggak tau kenapa gw seneng banget sama istilah “gede item”….) Samsung Galaxy NotePRO ini menurut gw memang bukan untuk semua orang. Ukurannya besar, tidak bisa digunakan dengan satu tangan, dan harga yang relatif tinggi. Karenanya NotePRO ini memang lebih cocok untuk mereka yang bisa menggunakan tablet untuk hal2 yang lebih produktif daripada bermain Candy Crush. Mengedit dokumen Office dengan nyaman, mencatat meeting sambil multitasking, atau keperluan kreatif visual (mendesain, menggambar) adalah kemampuan2 NotePRO yang jika tidak digunakan jadinya mubazir, karena rasanya NotePRO ini terlalu mahal dan spesifikasinya terlalu tinggi untuk hanya main Plants vs Zombies.

NotePRO dengan layar 12.2 inch memang tidak se”portabel” sodara2nya yang lebih kecil (Tab 7, Note 8, dll). Tablet ini rasanya tidak cocok untuk dibawa2 ke liburan di Maldives, misalnya. Karena rasanya kodrat NotePRO adalah di setting kantor dan perjalanan ke meeting dengan client. Gak di Maldives. :D

Sekian review awam gw untuk tablet NotePRO 12.2, semoga berguna. Sekali lagi, untuk info lebih detail, mohon cari sendiri di review2 yang profesional yaaa. Salam gadget! (opo sih).

Customer is King, But Not Necessarily The Smartest

Standard

“Customer is King”, so goes the old adage.

In the marketing world, this expression has almost never gone unchallenged. There are companies who will do anything to know what the customers want, through extensive consumer research and survey. The problem that I had is, a lot of important marketing strategic decisions were let to customers to decide, because, well, they are “King”. Unfortunately, this blind interpretation of “customer is King” often costs companies great innovation opportunities, or great communication ideas. Let me explain this by first proposing a further interpretation of “customer is King”.

Customer is King, but the King is not necessarily the smartest person in the country. There, I said it.

To me customer is King means companies should act in the best interest of the customers. Because that’s how companies retain their customers and keep the business. But it is not the same with treating the King (customers) as the smartest people in the world, or as marketing experts, because they are NOT. That’s why a King does not have to design its own castles, or train his own army, or design its own weapons. He has competent people in their fields to do all that, and eventually, by letting the experts do their job, the King eventually reaps the benefits himself.

Again, let me say it. The King is not the smartest person in the kingdom, and letting him decide on things that are not his expertise may actually harm the king.

I once read that Steve Jobs did not believe in market research. He did not seek customers’ counsel on how the iPhones should look like, or how Mac computers should work. But surely Apple fans would say that Apple products were just greatly designed for them, and how as customers they feel happy using them. For somebody who did not seem to care much about customers, Jobs surely made the customers feel like Kings.

The biggest problem with being too much dependent on the customers is, they are the people who know what is possible now, but they may not know of things that could be. Innovation and imagination is not really democratic. They belong to few great minds, who are probably naturally gifted, or already spent years sharpening their trade. These few innovative minds see what could be, beyond what exist now. Henry Ford, the pioneer of popular, affordable cars for the people, once famously said: “If I had asked the people what they want, they would have said ‘faster horses’.” Vision, imagination, creativity – those things were not handed out by the Gods to everyone.

The other problem with asking your customers too much regarding innovation and ideas is, majority of people are always resistant to new, alien ideas. At least initially. People tend to prefer the familiar, and a breakthrough idea is often initially seen as weird, uncomfortable, unacceptable. Many great ideas that can better everyday lives or even raise the humankind upward die in focus groups or survey because the customers feel uncomfortable with new, novel ideas. When Daniel Craig was initially announced to the public as the next James Bond almost 10 years ago, the public was outraged and resisted him. Because he did not look like the traditional Bonds (especially compared to his predecessor Pierce Brosnan). Even when Casino Royale was out initially, many still resisted him and the idea of a rugged Bond. Fast forward to present time, and Skyfall is often quoted as probably one of the best Bond movies ever. And you barely hear the voices that used to say Craig can not be Bond.

Customer is always King. But there are cases when he just needs to shut up and let the experts do their job. For his own benefit.

:)

Laporan Survey Kepuasan Pasangan 2014

Standard

Akhirnya sesudah mengumpulkan 1,186 responden, sejak tanggal 30 Desember 2013 sampai 3 Januari 2014, maka Survey Kepuasan Pasangan ditutup. Berikut adalah laporannya. Yay! :D

Sedikit catatan mengenai interpretasi: Karena survey ini bukan survey yang “ilmiah” banget, maka gw merasa perlu memberikan sedikit catatan. Dalam menginterpretasi temuan di bawah, mohon pembaca jangan menggeneralisir hasilnya sebagai realita “seluruh orang”. Hal ini dikarenakan metode survey online yang belum tentu representatif dari total populasi. Jadi lebih tepat menginterpretasikan hasil berikut sebagai hasil dari “para peserta survey yang diadakan @newsplatter”, dan bukan menggambarkan “penduduk Indonesia”. Jelas yaaaa…..

Secara keseluruhan, seberapa puaskah responden akan pasangan mereka?

total score 2

Dari skala 1 – 5 (1=sangat tidak puas, 2=tidak puas, 3=sedang, 4=puas, 5=sangat puas), maka nilai rata2 skor berada di 3.74 (di antara “sedang” dan “puas”). Lebih detilnya, hampir separuh responden (49.3%) mengklaim puas dengan pasangan mereka, disusul 26.3% responden yang merasa “sedang” saja. 16.6% mengklaim “sangat puas”, dan ada 7.8% yang mengklaim “tidak puas” dan “sangat tidak puas”.

Jadi, kalau kamu mengisi di bawah angka 4, artinya kepuasan kamu akan pasangan ada di bawah rata2 total responden. Untuk yang memilih 4 dan 5 (“puas” dan “sangat puas”), kamu sudah berada di atas rata2 :)

Sebenarnya hasil ini positif, karena proporsi mereka yang “puas” dan “sangat puas” akan pasangan mereka adalah mayoritas (total 65.9%). Di sisi lain, kita bisa juga melihat ada 34% responden yang tidak memilih “puas” atau “tidak puas” (paling mentok “sedang”), atau satu dari tiga responden tidak merasa puas akan pasangannya. Angka ini sebenarnya tidak bisa dibilang kecil ya.

Adakah perbedaan kepuasan antara responden pacaran dan menikah?

pacaran menikah

Jika dilihat dari total rata2, maka tingkat kepuasan responden menikah sedikit di atas yang pacaran (3.80 vs. 3.70), tetapi jika dilihat detail pilihan, maka ada sesuatu yang menarik. Pasangan menikah lebih terpolarisasi, artinya lebih banyak responden menikah yang puas dengan pasangannya dibandingkan yang pacaran (70.1% vs. 62.8%), tetapi juga lebih banyak responden menikah yang TIDAK PUAS dibandingkan dengan yang pacaran (9.1% vs. 6.9%). Salah satu interpretasi yang positif adalah, mereka yang melangkah ke pernikahan sudah lebih seksama memilih pasangan (sehingga proporsi yang puas lebih besar dari pacaran). Di sisi lain, pasangan yang tidak enak mungkin makin terasa SESUDAH menikah. Tetapi ini hanya satu dari beberapa kemungkinan interpretasi.

Interpretasi yang lain adalah, sesudah terlanjur kecebur menikah, ada orang yang menjustifikasi/merasionalisasi kepuasannya, sehingga lebih “murah hati” dalam memilih status puas. Kayak istilah itu loh, “If you can’t be with the one you love, love the one you’re with”. Atau terjemahan Perancisnya: Ya udah lah ya, udah kewong ini, ya harus dipuas-puasin aja ne’…..

Mari kita belajar dulu dari responden yang TIDAK PUAS dengan pasangannya.

Apa saja yang menyebabkan responden TIDAK PUAS dengan pasangannya?

Bagi mereka yang memilih “tidak puas” dan “sangat tidak puas”, maka dilanjutkan dengan pertanyaan diagnostik. Jawaban ini lebih baik dianalisa terpisah antara yang pacaran dan menikah.

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Ada perbedaan penyebab ketidak-puasan antara responden pacaran dan menikah. Bagi yang pacaran, yang terbanyak dipilih adalah: keintiman (ekspresi kasih sayang di luar seks), sebesar 37%. Penyebab kedua terbesar adalah perhatian yang terpecah (pasangan terbagi perhatian dengan pekerjaan, hobi, pacar gelap, dll.) sebesar 29.6%, dan ketiga adalah kepribadian (pemarah, tidak sabaran) dan keuangan (pelit/boros), masing2 sebesar 25.9%. Perhatikan bahwa keuangan (entah itu pelit atau boros) juga menjadi pilihan yang tinggi (25.9%).

Bagi yang pacaran, faktor posesif (sampai boker lebih dari 5 menit aja ditelpon ada di mana), menjadi faktor ketidak-puasan yang jauh lebih tinggi dibanding mereka yang menikah (24.1% vs. 9.1%)

Di antara mereka yang menikah, penyebab ketidakpuasan pada pasangan menjadi sangat berbeda dibanding mereka yang masih pacaran. Ketidakpuasan tertinggi datang dari….SEKS! (kurang bisa memuaskan, atau terlalu napsu, dll), dipilih SEPARUH (50%) responden menikah yang mengklaim tidak puas/sangat tidak puas dengan pasangannya. Waduh, jadi untuk yang sudah menikah, apakah sudah mengevaluasi diri mengenai kinerja di Divisi Seks? Siapa sangka ini adalah penyebab tertinggi ketidak puasan akan pasangan menikah di survey ini? *Minum jamu kuku jempol, eh Bima….*

Penyebab ketidak-puasan kedua dari mereka yang sudah menikah adalah “Ambisi” (pasangan dirasakan kurang atau terlalu tinggi ambisinya dibandingkan responden), dipilih 40.9% responden yang tidak puas. Patut dicatat faktor ambisi ini lebih tinggi dibandingkan mereka yang masih pacaran (27.8%). Jadi untuk mereka yang masih pacaran dan ingin menikah, faktor ambisi pasangan harus mulai dipikirkan, karena jika ambisi pasangan tidak kompatibel, bisa jadi masalah sesudah menikah nanti. Faktor ketidak-puasan ketiga bagi mereka yang sudah menikah adalah faktor keintiman (kemesraan dan kasih sayang), sebesar 31.8%.

Kalau diperhatikan, faktor kepribadian menjadi penyebab ketidakpuasan yang lebih tinggi di antara mereka yang menikah dibandingkan yang masih pacaran. Jadi ini penting bagi mereka yang pacaran serius, bahwa faktor kepribadian (pemarah, temperamental, tidak sabaran, dll) bisa menjadi hal serius saat menikah. Kalau pacar kamu sekarang saat marah berubah menjadi hijau dan mirip Arya Wiguna, mungkin harus dipikirkan lagi masak2.

“Intervensi keluarga” juga menjadi faktor ketidakpuasan yang lebih tinggi di antara yang sudah menikah (22.7% vs 13% di antara yang pacaran). Jadi faktor keluarga pasangan ini harus juga jadi pertimbangan mereka yang sedang persiapan menikah. Apakah keluarga pasangan ikut campur dalam banyak hal, sampai misalnya pilihan warna beha atau jersey bola yang mau dibeli? Coba dipikirkan dulu, karena saat menikah bisa berubah menjadi duri dalam beha, eh, daging.

Yang menarik, faktor fisik (Pasangan jelek, kucel, bau, dll) bagi yang menikah menjadi tidak sepenting saat pacaran (dipilih oleh hanya 9.1% responden menikah dibanding 18.5% yang masih pacaran). Mungkin karena sesudah menikah kita menjadi lebih pasrah menyangkut faktor fisik ya? :D

Beberapa penyebab ketidak-puasan lain yang dicatat di jawaban open-ended:

  • Di moment of truth terakhir kita kemarin eh ternyata dia sempet deket sama cabe2an om! Kurang apa coba gue?!!! Plis deh luuuuhhhh! (Astagaaa….efek cabe2an sudah sampai sini juga??)
  • satu kantor Om! Doi bule ga bisa sama Lokal :( (Makanya cintailah ploduk ploduk Endonesa….)
  • dia selalu pesimis dan tiap ada masalah cepat down (Ayo, bantu agar dia up-up)
  • dia minta gw jd cewe dewasa secara penampilan tp ga ngasi tau dmana krgnya penampilan gw yah emg sih gw ibu 2 anak n ga bs dandan prnamoilan senyaman mungkin n terkesan tomboy rmbt makin cepak makin enak lah kan model jg ya emg dia mau punya istri ribet kaya tante syahrini make up mahal bo kmana2 berat di perhiasan ntar gw sibuk dandan anak gw lupa dikasi makan penampilan kudunya yg nyaman aja simple ga kerincing2 di badan makeup tipis lha dl gw gini lo naksir kan hahaha… (BEGINI, MENURUT GW SEBELUM BELAJAR PENAMPILAN ELU BELAJAR PAKE TANDA YANG BENER AJA DULU GIMANA? INI MANA TITIK KOMA-NYA MBAK?)
  • Perbedaan jam tidur om. Yakali sy bangun dia br mau tidur. Sy plg kantor dia br bgn. Dikira pacaran beda benua kali. Mending sm adam levine aja sekalian. Adam mana adam?? (Apa ini….. -___-)

Bagi yang merasa tidak puas, apakah menyesali berada dalam hubungan ini?

menyesal

Kira-kira separuh (51%) responden yang tidak puas dengan pasangannya mengaku “lumayan menyesal”. Bahkan hampir 20% mengaku “menyesal banget”, menjadikan total responden yang tidak puas dengan pasangan mereka dan menyesali hubungan sekarang menjadi sekitar 70%. Sebesar 22.4% mengaku tetap tidak menyesali hubungan mereka walaupun tidak puas dengan pasangannya.

Saat jawaban di atas kita pisahkan antara yang masih pacaran dan menikah, maka muncul hal menarik:

menyesal pacaran menikah

Di antara mereka yang tidak puas dengan pasangannya, maka proporsi responden yang MENYESALI hubungan mereka sesudah menikah LEBIH TINGGI dibanding dengan yang masih pacaran (88.6% vs. 55.5%)! Ini sebenarnya masuk akal. Untuk yang masih pacaran, justru masih ada harapan pacar berubah (baik sifatnya berubah atau ORANG-nya yang berubah, dengan kata lain, dipecat ganti yang lain). Tetapi mereka yang sudah menikah dan tidak puas, tingkat penyesalannya jauh lebih tinggi, hampir 90%. Artinya, bagi yang akan pacaran, agar benar-benar berhati2 melangkah ke pernikahan, karena penyesalannya jauh lebih tinggi saat sesudah menikah. Jeng jeng!

Apakah pernah terpikir meninggalkan pasangan?

terpikir meninggalkan

Tidak ada perbedaan terlalu signifikan antara yang pacaran dan menikah. Separuh responden mengaku memikirkan serius untuk meninggalkan pasangannya, tetapi masih menahan diri dan berharap keadaan bisa berubah lebih baik. Sebenarnya untuk yang pacaran sih tidak apa-apa, toh pacar bisa ditukar di toko jika masih ada kartu garansi. Tetapi separuh responden menikah yang tidak puas dengan pasangannya mengaku “terpikir serius” untuk meninggalkan pasangan adalah temuan yang, well, serius juga ya. Di sisi lain, 32% responden menikah, atau hampir sepertiganya, mengaku hanya sempat terpikir, tetapi menganggap hubungan masih ada dalam taraf wajar. Yah, namanya juga menikah, mana mungkin mendapat pasangan sempurna gabungan Adam Levine, Rio Dewanto, Joe Taslim, Aryo Bimo, microwave, dan penyimpan beras Cosmos?

Apa yang ingin disampaikan kepada pasangan agar kamu merasa lebih puas?

Berikut adalah pesan-pesan open-ended dari mereka yang tidak puas akan pasangannya (gabungan yang pacaran dan menikah) yang ditujukan kepada pasangan mereka:

  • Please lebih care n buruan nikahin aku,,,aku ga masalah gaji aku skrg lebih dr km juga (Yakin? Kalo sudah nikah kadang2 jadi masalah looooh)
  • gw pengen suami gw bisa nerima gw apa adanya. ga demen lirik lirik cewe lain lagi. kerja dong! jangan ngabisin duit terus (Ih, udah gak kerja, ngelirik cewek lain juga…..)
  • Tolong donk jamgen males2ann.. Elo tuh punya anak bini. Mo dikasih makan apaa.. Wake up hellooo. Kapan makmurnyaa
  • Kapan kamu dipanggil yang Maha Kuasa? (Waduh….)
  • Jangan lama lama di kamar mandi nya. Aku telat kerja melulu gara2 kamu (Eaaaa…..karena boker kelamaan bisa merusa hubungan….)
  • Bantuin ngurus anak dong, bikinnya kan bareng, masak bagian repotnya gw sendiri doang? Dan satu lagi, penting mana sih game online dibanding anak dan istri? (Mampus…siapa nih pria gamer yang menelantarkan anak istri?)
  • aku mau dia lebih peka sama hubungan ini. Adanya feedback. Traktir icakali.. masa tiap ketemuan cuma minum teh pait doang. hambar banget hubungan ini, kyak sayur tanpa garam. (Sebenarnya mengurangi konsumsi gula dan garam itu sehat banget loh, mengurangi risiko diabeter dan darah tinggi)
  • Jangan perhitungan bangetlah kalo sm cewenya, gimana nanti gue jd istri coba. Yakali hr gini makan mesti bayar sendiri2? Belanjain gue jg kali nanti klo gue dibelanjain sm org lain, trus ketauan disangka gue selingkuh, php in orang, wanita murahan. padahal kan itu rejeki gue. Klo abis makan sering2 ngaca kek, itu kan nyelip dimana2. Gue jijik klo ngebayangin ciuman sm lo jg keles! (‘Keles’ apaan sik?)
  • plis aku bukan selamat pagi nya indomaret yang ga penting buat ditanggepin :( (Hahaha. Eh, selamat pagi-nya Indomaret juga kudu ditanggepin kali….itu namanya sopan santun!)
  • Mesti gila dikit yeee plg ga di ranjang lah biar betah di rmh (Eh ‘gila dikit’ di sini kayak apa dulu? Melibatkan borgol, gas elpiji 3kg, dan dongkrak kah?)
  • Aduh sayaannggg bisa ga sih sekaliii aja kamu ga mikirin soal selangkangaaann…. (Udah paling bener solusi raket nyamuk. Tiap pasangan horny, disetrum raket nyamuk aja. Bbbzzzzttttt….!!)
  • Plis belajar posisi lain. (Bener nih. Kalo biasanya posisi striker, coba gantian jadi back….)
  • Harus menyadari bahwa suami harus dihormati
  • Jangan cepat down, pesimis, terus berjuang dan berusaha untuk masa depan km dan keluarga, dan juga tolong badannya dikurusin. Hahahahahaa
  • kalo sampe januari 2014 kamu ga perbaikin, kita bye aja deh mas! (Eh, deadlinenya mepet amat, kayak client banget sik #curcol)
  • It takes two to tango. If we were to create a beautiful dance, we got to follow the rythm. Kalau memang ga mau atau ga bisa, I can let you go and dance alone.
  • Please be more patient! And stop buying all the gadget things
  • Cerai dong ama istri loe (Waduh….)
  • kamu kenapa ga mau angkat telepon aku sih? selama hubungan dua tahun lebih ini, tiap brantem kita selalu ‘lari’ dan berakhir tanpa solusi.. aku cinta sama kamu, mau nikah sama kamu, tapi tak beginiii~ *suara anang kita bicarain kamu maunya apa, aku maunya apa… kalo diem2 gini ya ujung2nya kau menggantungkan hubungaaan iniii~ *suara melly i laph you ndut.
  • Pasangan mau toleransi dan gak terlalu memihak keluarganya/ortunya banget
  • Buru kek cari kerja tambahan. Lo kira kita bs kawin pake daon?? Gw kasih wkt 2 hari. Kl ga dpt duit gw cari pacar lain. Hahaha (Ini kenapa pada doyan ngasih deadline mepet banget ya)
  • Bro, urusan kawin nih bro, bukan ngambil rapor. Ga usah bawa2 keluargalah
  • Pls dewasa, mandiri, bs ambil keputusan secara dia kep klrg, jgn trll dingin lama2 ac di kamar gw copot jg nih klo panas tgl nempel lo aja, jaga komunikasi yg baik jgn emosian, pentingin anak istri ketimbang yg laen, pls deh elo jauh lebih baik wkt pacaran dl kok skrg berubah bgt jd cuek tp yg plg ptg tlg perbaiki komunikasi kt..!!
  • Gini yah.. Kamu well planned person sedangkan aku impulsif, ngga bisa satu visi. Dan ini sih remeh temeh yah tp penting bagi aku..aku ngga suka saat ngobrol nyebut lo-gue (Bener nih, sebaiknya sesudah menikah pake ‘ane-ente’)

Belajar dari mereka yang ‘Puas puaaaasssss……’

Mari sekarang kita belajar dari mereka yang mengaku puas/sangat puas dengan pasangan mereka, apakah hal2 yang memuaskan mereka. Inilah responden2 beruntung yang saat ini merasa terpuaskan oleh pasangan mereka. Apa sih rahasianya?

puas alasan

klik untuk memperbesar

Di antara mereka yang masih pacaran, keintiman (perhatian, kasih sayang) menjadi faktor penyebab kepuasan yang terbanyak dipilih (57.4%), disusul kepribadian (orangnya sabar, pengertian, tidak cepat marah) sebesar 53.2%. Tidak posesif/memberi kebebasan juga menjadi penyebab puasnya responden terhadap pasangan, dipilih 52.1% responden.

Di antara mereka yang menikah, tidak posesif/memberi kebebasan menjadi faktor tertinggi kepuasan akan pasangan, dipilih 63.2%, lebih tinggi dari mereka yang masih pacaran. Tampaknya faktor tidak posesif, memberikan ruang kepada pasangan menjadi hal yang penting sesudah menikah untuk membuat pasangan puas. Jadi bagi yang sudah menikah, ada baiknya pasangan tidak terus2an ditempel, diawasi, atau di-stalking. Justru ketika masing-masing punya “ruang sendiri”, sepanjang gak kebablasan, malah bikin kangen loh.

Bagi yang sudah menikah, kepribadian yang oke (tidak pemarah, penyabar, dll) ada di posisi kedua (53.9%), disusul oleh keintiman (memberikan ekspresi sayang dan mesra, di luar seks – 53.7%). Selain itu, partisipasi dalam membesarkan anak menjadi penting sekali agar pasangan merasa puas (dipilih 41.6% responden menikah).

Yang menarik adalah faktor seks. Kalau ingat temuan di atas, bagi responden menikah yang tidak puas, faktor seks menjadi faktor ketidak-puasan nomor satu. Tetapi justru bagi mereka yang puas dengan pasangannya, faktor seks bukan lagi menjadi faktor kepuasan nomor satu (bahkan seks kategori momogi, mou lagi mou lagi!) Salah satu interpretasinya adalah, bagi mereka yang sudah menikah, seks menjadi faktor minimum (hygiene factor) sebuah pernikahan agar bisa dianggap ‘lumayan’, tetapi seks saja tidak cukup untuk membuat responden merasa ‘puas/sangat puas’ dengan pasangannya. Faktor2 lain seperti memberikan kebebasan, kepribadian, dan keintiman, tampaknya berperan lebih penting.

Walaupun sudah puas, adakah area yang bisa di-improve?

puas improve

klik untuk memperbesar

Bagi mereka yang sudah puas dengan pasangannya, area yang bisa diimprove relatif cukup merata, tidak ada yang dominan sekali. Beberapa faktor yang disebutkan, baik mereka yang pacaran/menikah, adalah: urusan waktu, keseimbangan ambisi, agama, campur tangan keluarga (bagi yang menikah), perhatian yang terpecah dengan pekerjaan/hobi, masalah posesif (bagi yang pacaran), keintiman, seks (bagi yang sudah menikah), dan keuangan (terlalu pelit/boros). Tetapi intinya tidak ada yang sangat dominan. Rata-rata area untuk diimprove dipilih dalam kisaran 20%-an.

Apakah pesan-pesan yang ingin disampaikan responden yang sudah puas agar TAMBAH puas?

Dari mereka yang masih pacaran:

  • Ga usah nurut2 banget sama mamah lah… Mamah kamu posesip parah! Bisa2 kamu ga kawin2..
  • GUE CAPEK DIATUR-ATUR TERUS TAPI GUE SAYAAAANG GIMANA DONG??
  • i love you the way you threat me :) thank you (Ini gimana ya…kamu seneng diancem2 pacar gitu? Maksudnya “the way you TREAT me” kaleeee……)
  • Abaaangg, klo jalan jalan, gandeng donk.. (Ah, modus si abang aja tuh, agar masih dilirik ama yang laen. Biar kamu dikira adiknya… *penghasut*)
  • UDAH PUAS BANGET. KAPAN KITA KAWIN BANGGG!!!???
  • Beb inget yah, nasi Padangku pake sambel yg banyak! (Woy, ini bukan Survey Kepuasan Warung Padang nyet!)
  • jangan overprotektif lah, masa kontak fisik normal dan wajar sama lawan jenis gak boleeeeh (Yaaa, kalo kontak fisiknya sampe guling2 di kolam lumpur agak gak wajar sik)
  • Bok ya jangan nonton bola muluuuu… aku nya di cuekiin ak kesepian mas :( (Wah, gimana nanti Piala Dunia?)
  • Babe, belajar bahasa Indonesia dikit napa? jadi kan gak gue terus yang harus mikir elu itu ngomong apaan (Tsah, yang pacarnya bule!)
  • it wouldn’t hurt to care more about your appearance (Mandi, ayo mandi!)
  • Ga usah deh punya sahabat perempuannn!! Ganggu! (Jangan terlalu ekstrim. Nanti doi punya sahabat cowok tapi suka kontak fisik elu marah2 juga….)
  • KURUS Pleaaaaassseee *jeritan selama bertahun-tahun* (Ya kamu daptarin dia pitness dong makanya)
  • Masku sayang, jgn pernah berhenti mencintai aku ya..jgn pernah berubah..tetap menjadi calon imam yg baik sampai 3 mei nanti dan setelah 3 mei mas mjd imam yg sempurna dunia akhirat..aamiin (Gw diundang gak nih?)
  • Mencari pekerjaan yg lebih baik dan stabil (Jadi caleg aja, gimana?)
  • Sayang…jangan marah klo aku masih suka wasapan sama si m ya.. kan dia cuma teman dekat.. (Wah, siapa nih Tersangka ‘M’? ‘Mario’? ‘Maria’?)

Dari mereka yang sudah menikah:

  • Kamu harus lebih sabaran dan tdk mudah mengeluh. Semangat dalam menjalani hidup
  • Kalau dibangunin sekali gak bangun masih wajar, tapi klo sampe berkali2 dibangunin gak bangun jg keterlaluan, beh… (Masukin kodok ke dalam celananya aja, pasti bangun)
  • Gw bukan bintang bokep,,,jgn ngayal yg macem2,,,!!! (Astaga, ngayalnya apaan nih?)
  • Please, give me some space
  • Semoga suatu saat kamu bisa ditukar tambah sama ari wibowo ya Yah (Oke, masalahnya Ari Wibowo mau gak sama elu?)
  • Jangan sibuk mulu sampe lupa bercinta sih :(
  • Dear kesayangan, kamu tuh udah oke bgt semua2nya (ahiw!) keuangan, kepribadian, kedodolan dlm sehari2, kelucuan dll. Tapi kmu tu genduuuuutt~~ kurusin dong papaah, kalo lg asik d kasur aku susah napas, kamu beraat :’( (Lagi-lagi pesan untuk kurusan….hmmmm….)
  • Do sport regularly hun…
  • Ya istri pengen sekolah lagi biarin aja napa! (Tuh, kan harusnya bangga istrinya pintar?)
  • Keluarga kita itu terdiri dr aku, kamu n anak2 kita.. kita seperti berada didalam botol.. jangan biarkan keluargamu terutama kakakmu yg gila urusan itu masuk ke dalam bot0l kita (Sebenarnya kalau botolnya ukuran gede, kayak botol Absolut vodka, harusnya tidak masalah ya…)
  • Mah… kalo mau kondangan jgn suka ribet sendiri ye… (Ah, ini sih problem klasik semua suami….)
  • Baby I wuff you, but sometimes I feel like I’m the man in this relationship -.- Keputusan yg gede2 biar kamu lah yg ambil, jd kalo ada apa2 judulnya bukan salah aku mehehehe :p
  • Perut kecilin dikit dong :) (Tuh kan lagi…)
  • nunjukin ekspresi bukan berarti gak macho lho. masa lempeng melulu mukanya.. (Suaminya kayak Kristen Stewart gitu yak?)
  • Jangan lupa slalu bilang tolong, maaf dan terima kasih. Juga ‘I love you’ and ‘I’ll pay it’. Hihihi… (Nah, common courtesy lebih penting lagi sama pasangan sendiri)
  • I really miss jaman pacaran dulu beb..our date night needs to happen soon! (Sesudah nikah kadang lupa ngedate lagi)
  • Jauhin gadget loe woyy !! (jleb….)
  • Pa.. beliin rumah atulaah…
  • Tolong kurangi hobi pupnya. Sekian (Jika gejala berlanjut, segera hubungi dokter!)
  • please deh, sekarang loe pilih, gue ato burung2 loe… kalo emang dia lebih cakep,loe kawinin aja tuh burung (Kenapa gw kebayangnya suaminya mas-mas Jawa gitu ya….)
  • Jangan cepet mutung! Nggak semua orang mampu memenuhi ekspektasimu. Jangan cepet marah juga! Serem, tauk! Jangan sering-sering ngetes performa mobil di jalan tol, percaya sih sama kemampuanmu nyetir, tapi keringet dingin yg bermunculan tak mungkin kutahan :((
  • Yuk mulai belajar hemat, apalagi mau ada baby :)
  • Be wild please, seperti dia yang pernah menganggu hubungan kita… She gave me the best sex ever (Wuah….)
  • Lebih rajin cari duit ya Pah, periksa kandungan mahal sekarang Pah! :’)
  • Maaaash lingerie yang kamu beliin 2 set belum dipake looh yuuuk *kode (Lingerie yang kamu dapet itu, belum lunas juga loh *kode juga)
  • Sering sering isiin pulsa aku ya beb (Ini nikah ato cari donor pulsa doang sik?)
  • Kadang kita perlu mengekspresikan bentuk kasih sayang kita..say i love u sekali kali jga dah cukup. (Bener nih, nanti keburu di-I love you-in orang laen loh)
  • Jangan kelamaan di kamar mandi. Ga usah bawa2 hp ke kamar mandi. (Jangan gitu, mungkin dia lagi asik sama chatting sama gebetan di kamar mandi….)
  • Lebih sering bantu2 beresin rumah dan ga lelet
  • Kurangi merokok!
  • Ibumu mmg yg melahirkanmu tp aq akan jadi ibu anak2mu..jd jgn apa2 mamamu terus doonggg
  • Kalo udah maen game udah gak inget kalo dy punya istri yg mau dielus2, punya rumah yg harus diliat apa yg rusak,. Punya kendaraan yang harus dicuci. Maen game nya dikantor aja makanya sih ah.
  • Model2 ku salah apa yank. Ini pure kerja kok. *menatap nanar* (Wah, kerjaannya sama model nih?)
  • i wanna get out from Jakarta, honey… i can’t stand to live here anymore… Please…. please… (Ibukota memang kejam ya?)
  • Bebiiii… Resign gih, cari pekerjaan yg gajinya lebih besar.. Gaji di M*A mah kecill dan ga naik naik hahahahaaa (Hmmm, ini antara kerja di Mal Taman Anggrek atau MRA Group…)
  • INI RAMBUT JANGAN CUMA DIJAMBAK TAPI DIBELAI JUGA DONG!! (Wiiiih, mainnya keras nih)
  • Sayang, i wuff you…tapi mbok ya penampilan diupgrade kerenan lg dikit, kaos robek2 melar bin kusem punyamu itu dibakar aja. Atau jadiin keset WC lah minimal. Apa kata bapak-ibumu nanti..dikirain aku medit amat ga kasih jatah beli baju kamu. Mosok mantu Teladan 2013 se-Jabodetabek gitu? :(( (Tapi mah, kaos robek melar gitu adem banget….)
  • Sayang, lain kali mogu mogu papap jangan diminum ya…. (Wah, sengketa Mogu Mogu)
  • Kalo anaknya udah kriyep2 ya ga usah pake dicium2 lagi dong.. Kebangun lagi tau! Emang gampang apa nidurin anak? Hih! Pusing deh dibilangin ampe 12.673 kali ga ngerti2. (Hahaha….)
  • Kalo gw pulang, dandan yg ca’em kek. Biar gw juga semangat kalo udah di rumah. Trus kalo di ranjang, jangan gw melulu yg buka serangan. Giliran udah “injury time”, baru dah lu beringas. Skali2 gantian napa? …. -_____-” (Ini main bola di ranjang?)
  • Ganti Gaya Dong! Bosen itu2 aja (Yoi, coba sekali2 gaya Gothic gitu, atau Preppy….)
  • Ada, tp males nulisnya, lagi netekin pula, syusyeh (Yang nyuruh ngisi survey sambil netekin lagian siapa mas?)
  • yang, pengen nonton Bruno Mars nih. kamu jaga anak2 semalam aja gak papa ya? jangan jawab “terserah” tapi mukanya kayak Smaug lagi ngamuk dong, beli tiketnya pake gaji sendiri kok, ga pake uang kamu..
  • Please, STOP selingkuh ataupun flirting dengan perempuan mana pun. Semua yg kamu perlu/butuh, bisa kamu dapat di istrimu. Why you’re still can’t see it? :( (Mungkin….dia mendapat grammar yang lebih baik di perempuan lain? Mungkin loh…)
  • Pengennya sih jadi lebih rajin klo lagi ada d rumah.. trs juga jangan terlalu cuek… walooun istrinya tau klo suaminya sayang kn bukan berarti ga mau diperhatiin.. kayak misalnya ngasih kado atau kejutan waktu ulang tahun.. (kasian banget ini orangnya ga pernah dapet kado dari suami klo ulang tahun.. T.T )
  • Bantu2 beres rumah atau ngurus anak itu bikin gw jadi napsu lhoo… ;) (Langsung ambil sapu…)
  • Perempuan bukan saklar lampu, langsung on/off. Perlu diperhatikan, disayang, dibelai & nggak melulu berujung di seks ya! (Hah, serius?)
  • Kanda harus lebih adil sebagai suami, belajarlah dari bung anis matta!!!!!! (Maksudnya suaminya disuruh jalan2 ke Hungaria gitu?)
  • Jangan sering beli sampah pulang ke rumah. itu gelas thor dari xxi buat apa? sampai tiga lagi.. (ADA MASALAH SAMA GELAS THOR???)

Belajar dari mereka yang hubungannya berakhir dan masih jomblo

Selain mereka yang saat ini pacaran/menikah, Survey Kepuasan Pasangan juga menanyakan mereka yang sekarang jomblo tetapi sebelumnya pernah memiliki pasangan (pacar/suami/istri).

Seberapa puaskah kamu dengan pasangan TERAKHIR?

hubungan terakhir

Menarik bahwa mereka yang memiliki hubungan yang gagal, tingkat kepuasan akan pasangan terakhir cukup merata. Bahkan yang mengaku puas (total 48.1%) lebih banyak dari yang mengaku tidak puas (30.1%). Jadi banyak yang hubungan terakhirnya berakhir bukan karena tidak puas dengan pasangan, tetapi sebab-sebab lain.

Bagi responden yang merasa tidak puas dengan pasangan terakhir, hal-hal apa sajakah penyebab ketidak-puasan itu?

klik untuk memperbesar

klik untuk memperbesar

Bagi mereka yang sekarang jomblo dan mengaku tidak puas dengan pasangan terakhir, faktor ketidakpuasan terbesar adalah perhatian yang terpecah, dipilih 38.3%, diikuti faktor keintiman (26.2%), dan ambisi yang tidak cocok (24.3%).\

Beberapa faktor lain dari jawaban open-ended:

  • setelah kenal lebih dalam, ternyata pandangan hidup, taraf pengetahuan, persepsi akan sesuatu terlalu jauh berbeda. misal: dia ga percaya sama sekali sama asuransi, saya mendukung pentingnya asuransi (saya bukan agen asuransi lho)
  • egois, dia boleh cemburu, saia enggak. kalo dia marah, harus dibujukin sampe reda, kalo saia yang marah ditinggal kabur…
  • default chat-nya “lg apa?” BOSENNNNN (Uuummmm….ganti pake stiker aja)
  • dia suka lupa kalo punya pacar. pacaran kok jaim. gak mau ngehubungin deluan, gak mau nyamperin deluan. makanya disangka orang-orang gue yang ngejar-ngejar dia. dasar cowok tai ayam (Duh, kasian ayam dibawa2 ke sini….)
  • doi selingkuh tp kagak ngaku. akhirnya kegep jg dan skrg hamil diluar nikah diusir keluarganya. MAMPUS LOE NYET!!
  • mulutnyaaaaa…. mulutnya udah setajam silet, nyakitin hati gue juga ortu n keluarga gue… udah gtu seneng banget ngeluarin kata2 kebon binatang, kasar sampe sampah.. emang sih ga heran sama lokasi tempat tinggalnya yg “keras” apa jangan2 bisa dibuat penelitian kali yah hubungan lingkungan tempat tinggal sama watak seseorang.. *eh?
  • gw ga cinta sebenernya, gw kirain bakal jd drama klo batalin nikah etauknya uda nikah malah drama banget. Apalagi ngoroknya bikin gw ga tahan banget…
  • terlalu sibuk ama gadget dan teman-temannya

Adakah pesan yang ingin disampaikan kepada mantan terakhir? Beberapa pesan open-ended:

  • Masih ga percaya kamu minta putus karena aku bukan orang jawa demi menuruti permintaan ibu kamu. Pas ngajak pacaran kan udah tau aku bukan orang jawa.
  • emgnya salah gue kalo gue udh lulus dan elu gk lulus”!!! pake ngatain gue gak mau bantuin lu kerjain skripsi. sapa suruh dulu mikirin gue terus gk mau mikirin skrpsi. cinta emg urusan berdua. tapi skripsi urusan sndiri” woy!!!! (Gw setuju! Pacar bukan Bimbel woy!)
  • Pantesan hobi nya bohong. Taunya bagi waktu sama pacar sungguhan nya #SelingkuhanUnite (eeerrrr…..)
  • Kita memang masih saling sayang, Tp mohon pahami aku yang tidak bisa menikah hanya dengan uang bulanan sebesar itu :’( Belum lagi biayain rumah, sekolah anak-anak, beli kondom #eh
  • Kapan kamu mau kaya Satria Baja Hitam, BERUBAH DEMI KEBAIKAN? (Soalnya kamu terlalu jadul…..ganti Satria Bima donk)
  • Kasih tau sama pacar kamu yang mirip karet kolor itu kalo … Kalo … Ah udahlah semoga kalian bahagia.
  • Hambokya nunggu setahun gitu baru lamaran sama yg baru, moso iya baru putus 2 bulan udah heboh lamaran. Yah kentara bangetlah. Situ BRENGSEK..!!!
  • dasar tai ayam. gue cuma dijadiin pelampiasan nafsu. untung gue masih waras gak ngasi keperawanan gue. setan lo (Udah dua kali tai ayam keseret2…)
  • Lebay lo ga usah kebangettan! Pake manas2in gw nge dekettin musuh gw. Silahkan aja lo dekettin musuh gw. Toh gw dah dpt yg LEBIH dari lo. LEBIH BESAR JUGA TENTUNYA (Ini ngomongin besar layar smartphone kan ya?)
  • Kutunggu jandamu.
  • Semoga nanti kalau dapet pasangan lagi cari yang HATINYA TERBUAT DARI BAJA HITAM ANTI KARAT…supaya ga bekarat ngedengerin omongan elu..aamiiien ;’) (Oh, ini toh rahasia Satria Baja Hitam….anti karat)
  • Sana pacaran aja sama selingkuhanmu yg mukanya kayak ulegkan pecel. Camera360 aja ga bisa nyelameytin mukanya yg berantakan. Cih! (Kamu salah. Barusan gw nyoba Camera360 ke ulegan pecel jadi cakep lho. Ulegan cabenya jadi lebih halus kulitnya)
  • maaf ya gue putusin loh tanpa sebab gitu. Padahal gue udah sayang ama lo. Lo baik dan sayang banget ama gue. Tapi nyokap gak suka ama lo :(
  • aku masih sayang, kak. 7 bulan setelah kita putus pun gak mengubah sedikit pun perasaan aku. Katanya kita udah omongin ini? Katanya kita udah tau kurangnya di mana? Kenapa kamu gak mau fight buat aku? Apa karna usia kita beda 7 taun? Kalo karna itu kenapa kamu maksa utk mulai?
  • Saat dulu pendekatan kamu bilang mau cari calon istri yang bisa terima keluarga kamu, yang agamanya bagus. Pas udah pacaran bilangnya, kita ga cocok, kamu masih mau berkarir, keluarga kita beda, aku minder sama kamu soal agama. Ga lama terus punya pacar lagi *BAKAR*
  • Kerjain skripsi aku dong, katanya mau ngelakuin apapun biar udah putus
  • Semoga bahagia ya kembali dengan mantan sebelumnya :)

(Setelah gw pikir2, pesan-pesan kepada mantan ini kok jadi ajang curahan emosi yak…..)

Perbedaan antara Pria dan Wanita

Sedari tadi, analisa perbandingan lebih dilakukan antara responden “pacaran” dan “menikah”. Bagaimana jika antara “pria” dan “wanita”? (tanpa memisahkan status pacaran dan menikah).

Secara total score kepuasan akan pasangan, tidak ada perbedaan berarti. Responden pria memberi skor 3.79, dan wanita 3.73, yang artinya keduanya jatuh di antara “sedang” dan “puas”.

Untuk faktor penyebab ketidak puasan, tidak bisa dilakukan perbandingan karena jumlah responden sub-sample “pria yang tidak puas dengan pasangannya” terlalu kecil untuk analisa statistik (hanya 14 responden).

Analisa “pria” vs. “wanita” lebih bisa dilakukan untuk mereka yang mengaku “puas” dan “sangat puas” dengan pasangannya, karena jumlah sub-sample lebih memadai.

Apa perbedaan faktor kepuasan antara “pria” dan “wanita”?

klik untuk memperbesar

klik untuk memperbesar

Ada perbedaan-perbedaan mencolok penyebab kepuasan akan pasangan, antara responden “pria” dan “wanita”. Keuangan jauh lebih memuaskan responden wanita daripada pria. Untuk urusan seks, untuk pria hanya sedikit lebih penting dibanding wanita (33.5% vs. 28.2%). Yang penting di sini adalah tidak ada perbedaan mencolok, berbeda dengan mitos bahwa seks jauh lebih penting bagi pria. Keintiman/kemesraan juga relatif seimbang antara pria dan wanita yang puas dengan pasangannya.

Yang menaril, tidak posesif justru lebih banyak dipilih responden wanita daripada pria. Kepuasan akan ruang kebebasan ternyata lebih banyak dipilih wanita. Begitu juga dengan karir dan pendapatan, lebih banyak responden wanita menganggap aspek ini penting dibanding pria. Mungkin ini wajar di budaya Indonesia di mana pria masih sebagai pencari nafkah utama.

Perbedaan kontras lain justru ada di penampilan. Untuk responden pria yang puas dengan pasangannya, faktor penampilan pasangan mereka dipilih hampir dua kali lipat pilihan responden wanita (37% vs. 19.9%). Jadi untuk wanita, tampil kece, wangi, tidak dilalerin itu relatif lebih penting bagi pria daripada sebaliknya.

Di sisi lain, kepribadian adalah hal yang lebih dianggap penting responden wanita yang puas dengan pasangannya, dibanding pria (57.6% vs 40%). Harus diingat kedua angka tersebut sama-sama tinggi, artinya kepribadian yang baik penting bagi kedua gender.

 

 

Profil Responden

gender

Responden Survey Kepuasan Pasangan 2014 ini didominasi oleh wanita (77%). Hal ini patut diingat untuk mengerti konteks jawaban-jawaban di atas.

status hub

Hampir separuh responden berstatus pacaran (47.3%), diikuti menikah (28.5%). Jomblo pernah pacaran ada 19.2%.

lama hubungan

Lama hubungan responden, hampir sepertiga berada di 1-3 tahun. Sepertiga lagi kurang dari setahun, dan kira2 sepertiga lagi lebih dari 3 tahun.

umur

80% responden datang dari usia 18-24 tahun (kuliah dan bekerja)

Kesan-kesan untuk admin:

  • Tato pipi donk oom (Loe kate gw Mike Tyson?)
  • segini doank nih?
  • Sering-sering ngadain survey kayak gini min! Seneng gue ngisinya :))
  • OmPir tetap adalah The Sexiest Male Tweeps of the year di hati kami :))))) (aaawww, thanks)
  • Kok gak lucu sih om pertanyaannya??
  • om Piring buku keduanya manaaaaa?? (Eh iya, sabar dong. Lagi difinalisasi neh)
  • semoga partai peluk menang pemilu ya bang piring… (amiiiin, terima kasih!)
  • Kalo pacarnya 2 boleh ngisi 2x juga kan yah om? Ini versi ga puasnya, yg gelap ada versi puasnya. Hahahaa… Thankiesss anyway om. Lopyumuah. (Elus dada….)
  • Om @newsplatter, Saya mau nitip doa dong. Doain saya dapet pacar yang ibunya nggak MATA DUITAN!!! Plisss. *transfer duit Rp. 102.014* (Wah, transferannya gak cukup tuh)
  • Hai om umur berapa syi (Tahun ini sih 23….)
  • Oke nih om surveynya, om piring adil deh, ga yg jomblo2 doang yg dipikirin. *kiss* *salim* (Betul, memang itu tujuannya. Pemerataan….)
  • Terimakasih om admin, walau survey ini menyadarkan saya betapa unhappy nya saya thd pasangan..*nangis bombay* (Maksudnya agar bisa diperbaiki dong, jadi happy :))
  • I adore your uban! Please don’t dye ‘em… (Hore ada yang suka uban)
  • Curhat aja yaaaa… Saya tadi jawab “puas”, dan pas ditanya puas kenapa saya sempet bingung. Sebenernya mungkin banyak juga hal-hal yg tidak ideal; keuangan, perhatian, seks, waktu dll. Tapi pada akhirnya saya tetap memilih puas. Bukan karena alasan2 ideal tertentu, tapi karena saya tahu, suami saya sudah berusaha memberikan yang terbaik diantara keterbatasan yang ada. Sekian. Matur thank you :)
  • Akhirnya aku punya pacar bang, buat ngisi survey ini… Aku nembak orang bang… Dan YBS mau bang… Oh bahagianya… (Saya turut bahagia :’))
  • Aku jadi istri simpenan adminnya aja boleh ndakk? (Jangan, lemari penyimpanan saya terbatas)
  • AKHIRNYA SURVEY LO ADA YG BERES YAK MIN!! *SUJUD SUKUR* (Sial, emang kemaren2 gak beres?)
  • Cuma Bang Piring yang bisa ngolah riset jadi paparan fakta seru di social media! Such a great job, lovin’ it! (Makaciiiih)
  • Hai Min, sebelum pacaran sekarang ini saya menjomblo 3 tahun. Saya pikir penting untuk menunggu sampai ada yang benar-benar cocok dan serius (dia lajang, saya divorcee dengan 2 anak – tapi dia mau akrab, mementingkan & menyayangi anak-anak saya). Mungkin kalau saya terburu-buru & berpikir ‘harus punya pacar’, hasilnya tidak akan sememuaskan ini. Jadi intinya saya percaya sikap tidak ngoyo itu lebih baik, karena toh dulu saya ingat saya menikmati hidup biarpun kemana-mana sendiri. Salam. (Tuuuuh, dengerin yang laen…)
  • Om, titip salam buat @tlvi ya. Mirip sama mantanku :*
  • Sebenernya sih mau ngisi statusnya udah pacaran, tapi yg dipacarin lagi mesam mesem jawab iya ke gue *sambil mesam mesem juga* *iya barusan aja gue nyatain cinta ke doi* *dan masih dalam masa tenang sampe beberapa hari ke depan* (Udah kayak UAS aja loe, pake masa tenang…)
  • Jangan sampai tergoda poligami, Oom!! Partai PELUK harus bebas poligami!! MERDEKA!!
  • Om Piring, boleh dishare ga beauty regimenya gimana. Kok mukanya bisa kinclong gitu Oom… (Camera360….)
  • om, si fauzan di survey terakhir itu udah ketemu kah? (HUAHAHA, masih ada yang inget loh)
  • Om pertanyaannya kurang banyak ah oiya waktu itu saya pernah satu lift sama om piring di pacific place seluruh tubuh saya langsung tremor om (Coba periksakan ke dokter…takutnya gejala Parkinson)
  • Segini doang? Lo gak adil deh Hen. Giliran jomblo lo bikin survey panjang, sepanjang waktu mereka jadi jomblo. Buat kepuasan pasangan segini doang??? (Biarpun surveynya pendek tapi kan analisanya masbro….)
  • Kali ini survey nya gak mutu *peace* (Terima kasih untuk masukannya!)

PENUTUP

Demikianlah Laporan Survey Kepuasan Pasangan 2014. Tidak ada harapan admin selain hasilnya bisa membantu mereka yang memiliki pasangan agar bisa lebih bahagia lagi dalam hubungan mereka. Bagi mereka yang belum puas, semoga temuan di survey ini membantu untuk bisa memperbaiki keadaan, dan juga bisa belajar dari mereka yang puas dengan pasangannya. Bagi yang sudah puas, agar bersyukur dan bisa terus meningkatkan kualitas layanan kepada satu sama lain.

Bagi yang sedang pacaran, ada hal-hal yang bisa kamu hindari/lakukan agar pacar bisa lebih puas. Lebih mesra, lebih memberikan perhatian, serta kepribadian (penyabar, tidak pemarah). Tidak pelit/boros juga faktor penting. Soal penampilan, kalau kamu kucel, baju tidak matching, atau dilalerin, ternyata bukan faktor utama.

Bagi yang sudah menikah, hal-hal yang diharus diperhatikan agar mencegah pasangan tidak puas adalah: kinerja seks. Ingat bahwa separuh dari mereka yang tidak puas dalam pernikahan ternyata ada di departemen ini! Bahkan “penampilan” bagi mereka yang menikah tidak sepenting saat pacaran, yang penting “performa” di “anu” (apa sih). Ambisi yang sesuai, dan kepribadian yang cangcing (jangan dikit2 ngamuk, lempar piring, nabrakin mobil ke pagar rumah, dll) juga mengurangi risiko pasangan menikah tidak puas akan kita. Tetapi seletah itu, memberi kebebasan yang sehat, keintiman, partisipasi dalam membesarkan anak, dan lain-lain bisa membuat pasangan menikah kita lebih puas lagi.

Satu catatan penting adalah bagi mereka yang serius pacaran dan mulai memikirkan langkah selanjutnya untuk menikah. Pastikan bahwa keputusan untuk menikah sudah dipikirkan masak-masak, termasuk soal calon. Karena kalau tidak puas sesudah menikah tentunya urusannya lebih ribet, iya gak sih?

Sekali lagi, Survey Kepuasan Pasangan 2014 ini jangan terlalu dibawa serius sampe stres. Ini adalah survey feedback dari teman-teman peserta survey. Yang lebih penting adalah tips2 dan pembelajaran yang bisa diaplikasikan. Ocre?

Akhir kata, terima kasih untuk yang sudah berpartisipasi di dalam Survey Kepuasan Pasangan 2014 ini! Kontribusi anda akan membantu kualitas layanan pasangan Indonesia! Merdeka, dan Salam Kepuasan!

Beberapa Laporan Survey Newsplatter lain yang layak disimak:

Laporan Survey Jomblo Nasional

Laporan Survey Gebet Nasional

Laporan Survey LDR Nasional

Laporan Survey Menyebalkan Nasional

Laporan Survey Mantan Nasional

Review Awam Sony Xperia Z Ultra

Standard

Kembali nih ke review gadget secara awam. Kali ini gw mendapat kiriman Sony Xperia Z Ultra, smartphone-tablet (phablet) terbaru dari Sony. Gw tertarik banget mengulik si bungsu Xperia ini karena sebelumnya juga sudah mereview kakaknya Xperia Z (review gw untuk Xperia ada di sini).

Seperti biasa, catatan dari gw: ini adalah review orang AWAM. Jadi review ini ditulis dari perspektif orang awam saja sebagai pengguna. Gw hanya membahas aspek dan fitur yang menurut gw penting aja. Gw tidak akan membahas teknis terlalu detail  secara keseluruhan. Untuk pembaca yang bener-bener ingin tahu mengenai Xperia Z Ultra sedalam2nya, sebaiknya ke sumber lain (CNet, Engadget, Masgable, dll). Okay?

Latar belakang gw bisa mempengaruhi. Patut dicatat bahwa dalam mereview produk, pastinya review gw tidak lepas dari pengaruh pengalaman gw dengan gadget2 yang pernah gw pakai. Jadi kayaknya gw perlu memberitahu bahwa gw saat ini masih menggunakan BlackBerry Z10 (yang gak sabar pengen dipecat begitu BBM sudah multi-platform) dan juga pengguna berat Samsung Galaxy Note 8 (yang betul2 terpakai sebagai buku notes di pekerjaan). Gw juga pernah menggunakan Note 2 dan Xperia Z. Semua ini pasti mempengaruhi cara gw melihat Xperia Z Ultra. Bagi orang lain yang mungkin fans berat iOS pasti beda lagi cara pandangnya. Jadi ini sebagai disclaimer ringan saja.

(Katanya review ‘awam’, kok ribet banget sih bro? Oke okeee….)

Yo wis, langsung saja dengan reviewnya….

Spesifikasi dasar

Sony Xperia Z Ultra (seterusnya gw sebut ‘Z Ultra’ aja ya. Panjang cyin) ini dibekali prosesor yang gak main2. Ketika kakaknya Xperia Z diberikan quadcore 1.5 GHz, kali ini Z Ultra diberikan prosesor quadcore 2.2 Ghz. Z Ultra ini bukannya hanya bodynya yang gede, tetapi punya jeroan yang jagoan juga. Kebayang Alphard tapi mesin F1 gitu deh.

Layar besar membahana 6.4 inch membuat gw bingung mau mengkategorikan Z Ultra sebagai apa (nanti gw bahas lagi). RAM diberikan 2 GB. Z Ultra sudah memiliki Android Jelly Bean terbaru versi 4.2

Penampilan fisik

Mari kita mulai dengan penampilan fisik. Saat pertama kali gw mengeluarkan Z Ultra dari kotak, komen pertama gw dalam hati:

“GEDE AJA NIH BARANG”

Aseli gede.

Beneran gede.

Gw udah bilang kalo barang ini gede banget?

Z Ultra ini bagaikan Ivan Gunawan dari smartphone. Masih bisa dipegang satu tangan, tapi....GEDE BANGET.

Z Ultra ini bagaikan Ivan Gunawan dari smartphone. Masih bisa dipegang satu tangan, tapi….GEDE BANGET.

Jadi begini….

Alkisah, dahulu kala di Negeri 1001 Gadget, hiduplah dua suku bangsa, suku smartphone dan suku tablet. Kedua suku ini sangat berbeda fisik dan budaya, dan mereka hidup bersama. Satu hari, Putri smartphone bertemu dengan Pangeran tablet secara tidak sengaja. Mereka jatuh cinta, walaupun menyadari cinta mereka terlarang. Dan di suatu malam yang dingin, disertai hujan deras dan badai, hasrat tersebut membuncah tak tertahankan lagi. Dan buah cinta mereka melahirkan….. PHABLET (Phone Tablet), sebuah anak blasteran smartphone dan tablet, dengan ukuran blasteran juga….

Phablet rasanya dipopulerkan pertama kali oleh Samsung Galaxy Note (ukuran layar 5 inch. Walaupun banyak orang merasa Dell sebenarnya adalah yang pertama menciptakan kategori ini). Saat Galaxy Note pertama kali keluar, banyak orang bengong dan mentertawakan. Dan mereka semua terbukti salah. Phablet ternyata diterima dengan baik. Kesuksesan Note diikuti Note 2 sampai Note 3, Galaxy Grand, Galaxy Mega, dan juga merek-merek lain.

Ada definisi “tak resmi” bahwa smartphone itu maksimal ukuran layar adalah 5 inch. Dan tablet adalah yang memiliki ukuran layar minimal 7 inchi. Maka apapun yang berukuran layar antara 5 – 7 inch otomatis dianggap keturunan buah cinta terlarang Putri Smartphone dan Pangeran Tablet tadi, dan disebut “phablet”.

Nah, Z Ultra berukuran layar 6.4 inch. Tidak sampai satu inch lagi sebelum dia dianggap resmi sebagai “tablet”. Coba kita lihat perbandingan berikut:

Kiri-kanan: BB Torch, Xperia Z, Xperia Z Ultra, Galaxy Note 8

Kiri-kanan: BB Torch, Xperia Z, Xperia Z Ultra, Galaxy Note 8

Idealnya di foto di atas harusnya ada tablet ukuran 7 inch, maka akan terlihat betapa Z Ultra sudah jauh lebih dekat ke kategori tablet. Dibandingkan kakaknya Xperia Z sangat jelas perbedaan ukurannya. Dibanding Xperia Z, Z Ultra seperti adik bungsu yang mendapat lebih banyak vitamin, suplemen, sampai radiasi sinar Gamma.

Kakak dan adik bersanding. Xperia Z dan Xperia Z Ultra

Kakak dan adik bersanding. Xperia Z dan Xperia Z Ultra

Ukuran yang besar membuat Z Ultra canggung digunakan sebagai telepon dengan cara ditempelkan di telinga. Coba kita lihat bagan berikut:

"Ya hallo? Bang, bakso tambah dua ya? Apa? Muka saya gak keliatan?"

“Ya hallo? Bang, bakso tambah dua ya? Apa? Muka saya gak keliatan?”

Z Ultra juga tidak bisa masuk ke kantong celana pria. Jadi secara ukuran, gw pribadi lebih merasa Z Ultra sebagai tablet daripada phablet. Selain itu, gw gak yakin Z Ultra bisa muat di “tongsis” (tongkat narsis).

Kalo gw boleh menciptakan kategori baru, maka gw lebih melihat Z Ultra 6.4 inch ini sebagai “ultra compact tablet”. Ketika kita melihat Z Ultra sebagai tablet berukuran compact, maka ukuran Z Ultra justru menjadi daya tarik. Sebagai tablet, Z Ultra sangat nyaman (karena bisa digenggam satu tangan). Untuk mereka yang memiliki tas kecil dan tidak suka membawa tablet terlalu besar, Z Ultra menjadi opsi karena ringan dan tidak makan tempat.

Desain

Gw memilih Z Ultra warna putih karena dua pertimbangan. Pertama, gw sudah punya Xperia Z hitam, jadi ingin mencoba yang berbeda. Kedua, pengalaman dengan Xperia Z, bodi mirip kaca (tempered glass) warna hitam cepat sekali kotor dengan sidik jari., tapi tidak demikian dengan warna putih.

Sama seperti kakaknya Xperia Z, Z Ultra terlihat sangat stylish dan sleek. Walaupun bodynya bongsor, tetapi sangat langsing/slim. Build quality terlihat solid dan premium, dengan seluruh permukaan mengkilap.

Big and beautiful

Big and beautiful

Punggung yang putih mulus, gak tega dikerokin

Punggung yang putih mulus, gak tega dikerokin

Sony seperti berniat agar seri Xperia (Z dan Z Ultra) menunjukkan hubungan darah kekeluargaan, dengan gen minimalis, square, dan sleek. Entah ada hubungannya dengan design slim dan sleek ini adalah casing Z Ultra tidak bisa dibuka, yang artinya batere tidak bisa dicopot-ganti.

Sama seperti Xperia Z, Z Ultra juga berprinsip “Biarpun gw cantik, bukan berarti gw gak berani becek walaupun tidak ada ojek!”. Z Ultra juga tahan air, bahkan tahan terendam sampai 1 meter di dalam air. Gw sendiri sudah merasakan nikmatnya feature tahan air saat menggunakan Xperia Z buat foto2 liburan di hujan deras.

Rahasia tahan air Z Ultra adalah semua lubang yang tertutup rapat.

Slot untuk micro SD dan SIM card ditutup rapat agar bisa tahan air

Slot untuk micro SD dan SIM card ditutup rapat agar bisa tahan air

???????????????????????????????

Slot untuk USB merangkap charger juga diberi penutup

Satu faktor yang penting dibahas dari design Z Ultra adalah ketipisannya. Mengingat dimensi layar yang besar, kita akan kaget dengan kontras ketebalannya yang tipis. Memang harus memegang sendiri baru mengerti mengapa tipisnya Z Ultra ini mengesankan.

Slimmer than anorexic supermodel

Slimmer than anorexic supermodel

Overall, untuk Z Ultra putih, gw merasa overall designnya agak feminin, tapi gak bikin gw yang cowok merasa gak bisa memakainya. Untuk yang hitam, gw merasa gak akan beda jauh dari kakaknya Xperia Z. Maskulin tapi stylish.

Display

Display Z Ultra sangat bagus dan tajam, dengan resolusi 1080 x 1920 pixels. Jumlah pixel ini sama dengan Xperia Z yang memiliki screen lebih kecil (5 inch) artinya pixel per inch (kepadatan pixel) Z Ultra di bawah kakaknya. Tetapi percayalah ketajaman display Z Ultra ini sulit dibedakan dari kakaknya. Teks terlihat SANGAT tajam.

Sony menyebut teknologi screennya “Triluminos, X-Reality Engine bla bla bla” yang gw ngerti maksudnya. Tetapi yang jelas, foto dan film terlihat sangat tajam dan cerah. Warna terlihat kontras dengan saturasi yang lumayan bold. (Bagi yang tidak tahan karena warna dianggap terlalu ‘kuat’, cukup mematikan setting X-Reality-nya). Dengan layar besar 6.4 inch gw bisa melihat Z Ultra sebagai media yang sangat nyaman untuk menonton film, bermain game, dan melihat foto-foto.

Melihat foto high-resolution, semua detil kecil terlihat jelas

Melihat foto high-resolution, semua detil kecil terlihat jelas

Bagi gw, Sony adalah pelopor merek televisi dari jadul (jaman dulu), jadi kayaknya sudah sepantasnya Z Ultra memiliki display yang mumpuni.

Kamera

Buat gw sebuah kamera di sebuah smartphone atau phablet adalah hal yang penting. Bagaimana dengan Z Ultra?

Z Ultra dibekali kamera 8 MP, bisa merekam video HD (1080p) dengan 30 frame/second (jadinya rekaman mulus seperti nonton tipi). Berikut adalah tes foto dari berbagai jarak, tanpa diedit.

Foto lanskap

Foto lanskap

Detil warna di bawah sinar matahari terang tampak jelas dan bagus

Detil warna di bawah sinar matahari terang tampak jelas dan bagus

Surprisingly, untuk foto jarak sangat dekat/hampir makro, hasilnya cukup memuaskan

Surprisingly, untuk foto jarak sangat dekat/hampir makro, hasilnya cukup memuaskan

Sama seperti kakaknya Xperia Z, Z Ultra juga menggunakan Intelligent Auto, yang memutuskan scene mode apa yang paling cocok digunakan. Jika kita ingin memilih scene mode secara manual juga bisa.

Walaupun tidak bisa disebut spektakuler, tetapi hasil foto Z Ultra terlihat “lumayan bagus” untuk sekedar dokumentasi sehari2 dan para banci Path. Tetapi ada satu problem dengan kamera Z Ultra.

Gak ada lampu flash.

Glek.

He eh, tidak ada lampu flash di Z Ultra.

Hey, no flash!

Hey, no flash!

Somehow, tidak adanya flash ini makin menguatkan gw bahwa Z Ultra memang lebih baik dianggap sebagai tablet (dengan ukuran ultra compact) dan bukan smartphone/phablet. Bagi gw, smartphone wajib/phablet wajib memiliki flash karena sewaktu2 kita ingin memotret teman2 di malam hari (misalnya restoran/club). Tidak adanya flash berarti sulit menggunakan Z Ultra saat sedang pergaulan dan percintaan di kala malam/setting gelap.

Tetapi jika Z Ultra dilihat sebagai “tablet”, maka wajar jika tidak ada flash. Sebagai informasi, Galaxy Note 8 juga tidak dilengkapi flash. Untuk kategori tablet, kamera memang bukan fitur utama, tetapi sebagai pelengkap. Karena toh dimensi yang besar menyulitkan tablet untuk dipakai berfoto spontan (ditambah memotret dengan tablet memang agak terlihat aneh. Apalagi kalau memotret konser Metallica pakai baki….)

Jadi bagaimana menyikapi tidak adanya lampu flash di Z Ultra terpulang ke bagaimana kita ingin menggunakan Z Ultra. Jika sebagai “tablet” ya tidak ada masalah. Tetapi jika sebagai handphone utama, di mana kita dikit2 harus update Path, Instagram, dkk, maka ini bisa menjadi masalah bagi beberapa orang.

Kinerja dan kecepatan

Untuk bisa mengapresiasi prosesor quadcore 2.2 Ghz memang harus dengan cara digunakan. Ketika gw mencoba game “berat” seperti Asphalt 7 dan Heroes of Order & Chaos, maka terasa sekali bedanya. Masa loading Asphalt 7 terasa sangat cepat (dibanding Xperia Z), dan loading level juga pendek. Gameplay experience sangat prima, dengan detil graphics yang bagus, dan tidak ada lagging sama sekali saat bermain. Pokoknya kenceng cus cus!

Asphalt 7. Game experience di Z Ultra sekenceng gamenya.

Asphalt 7. Game experience di Z Ultra sekenceng gamenya.

Heroes of Order & Chaos, game RPG. Perhatikan detail environmentnya.

Heroes of Order & Chaos, game RPG. Perhatikan detail environmentnya.

Gw baru menyadari Z Ultra bisa menjadi “gaming pad” dengan ukuran yang pas. Beberapa game membutuhkan level detail grafis yang tinggi, seperti game2 RPG. Di layar 6.4 inchi, game RPG seperti Heroes of Order & Chaos terasa nyaman dimainkan . Ruang untuk jempol kiri cukup, dan detail graphics game bisa dinikmati. Di saat yang sama, ukuran Z Ultra yang tidak terlalu besar dibanding tablet 7 atau 8 inch membuatnya pas untuk dipegang dan dimainkan untuk waktu yang lama.

 

Kemampuan menulis TANPA stylus

Salah satu klaim unik dari Z Ultra adalah kemampuan menulis di layar TANPA memerlukan stylus. Kita bisa menggunakan pensil atau bolpen biasa untuk digunakan menulis di layar Z Ultra (sepanjang ujungnya lebih besar dari 0.5 mm). Selama ini, kemampuan menulis di layar bisa dibilang adalah wilayah dominasi Samsung dengan seri Note-nya. Sony sekarang juga mengikutinya dengan menawarkan kemampuan tersebut TANPA stylus. Bagaimana rasanya?

Sejujurnya, sebagai mantan pengguna Galaxy Note 2 dan sekarang Note 8, fitur menulis di Z Ultra terasa masih inferior. It works, tetapi memang tidak mencapai level sensitivitas seperti Note. Z Ultra tidak bisa membedakan perbedaan tekanan tangan untuk membedakan tipis tebal garis (walaupun bisa diubah secara manual). Satu hal lagi yang agak mengganggu, saat menulis dengan Z Ultra, tidak boleh ada bagian dari tangan kita yang menyentuh layar, kalau tidak Z Ultra malah bingung dan menganggap sentuhan tangan kita sebagai “bolpen”nya.

???????????????????????????????

Menggunakan bolpen biasa di layar Z Ultra. And it works!

Pilihan bentuk pena bisa diubah2, begitu juga ketebalan dan warna

Pilihan bentuk pena bisa diubah2, begitu juga ketebalan dan warna

Jika kita bisa mengatasi masalah di tas (tangan jangan tersentuh layar saat menulis), maka Z Ultra relatif lumayan akurat mengcapture tulisan tangan kita, Hanya “lumayan” saja, karena terasa masih “kasar” dan tidak halus. Jadi untuk keperluan sekedar bisa “menulis tangan” untuk membuat memo/sketsa sederhana, maka Z Ultra cukup kompeten (dan praktis, tinggal nyamber bolpen/pensil terdekat). Tetapi untuk menulis indah, atau menggambar yang sangat detail, rasanya seri Note dengan stylusnya masih jauh lebih superior.

Menggambar dengan bolpen biasa

Menggambar dengan bolpen biasa

Lho, ada pilihan kumis, wig, sampai aksesoris?

Lho, ada pilihan kumis, wig, sampai aksesoris?

Ya udah si botak ini kita kasih kumis saja

Ya udah si botak ini kita kasih kumis saja

Baterai

Ah ya, penderitaan semua pengguna smartphone, masalah baterai. Z Ultra diberikan baterai besar 3050 mAh. Sama seperti Xperia Z, Z Ultra juga dilengkapi Stamina Mode untuk memperpanjang daya pakai baterai. Cara kerja Stamina Mode adalah mematikan koneksi data (termasuk wifi) saat layar padam (locked screen), sehingga menghemat baterai. Kerugiannya ya saat screen masih mati maka akun social media kita tidak terupdate (karena sinyal dimatikan). Begitu kita mengunlock screen, maka koneksi data langsung dipulihkan.

Pengalaman gw menggunakan Z Ultra ini belum cukup lama jadi belum berani mengevaluasi kinerja baterai. Tetapi sebagai referensi, kemarin baterai bertahan lebih dari 18 jam, dengan penggunaan sedang dan Stamina Mode diaktifkan.

 

Layanan My Xperia

Di dalam Xperia Z Ultra juga sudah ada layanan My Xperia, yang bisa diakses dari web (myxperia.sonymobile.com) untuk mengetahui posisi Xperia kita, dan bahkan bisa menguncinya jika hilang/dicuri.

Layanan My Xperia yang bisa diakses dari web

Layanan My Xperia yang bisa diakses dari web

Kesimpulan

Jadi bagaimana kesimpulan gw tentang Sony Xperia Z Ultra?

Pertama2, untuk bisa menilai Z Ultra kita harus memutuskan dulu, makhluk ini mau dikategorikan sebagai apa, smartphone/phablet atau tablet. Sebagai smartphone/phablet, maka ukuran Z Ultra bagi gw terlalu besar. Dia tidak bisa masuk ke dalam kantong celana pria. Digunakan di telinga agak menarik perhatian (walaupun katanya ada aksesori bluetoothnya dijual terpisah). Kamera yang tidak dilengkapi flash juga menjadi faktor “kurang” bagi gw sebagai sebuah phablet. Kemampuan menulis tangan-nya relatif “basic” dan tidak memuaskan mereka yang butuh menulis banyak catatan atau menggambar dengan bagus, walaupun salut untuk kemampuan menggunakan pensil/bolpen biasa sebagai stylus.

Tetapi jika melihat Z Ultra sebagai tablet ultra compact, maka tiba2 Z Ultra menjadi lebih make sense. Sebagai tablet mini, dia sangat nyaman dipegang. Modelnya juga sangat stylish untuk sebuah tablet. Kalo ditaroh di meja pasti diajak kenalan sama gadget2 jomblo yang lain. Ukuran layar 6.4 inch sudah memadai untuk menonton film/browsing, dan sangat portable untuk dimasukkan di dalam tas. Display yang sangat tajam dan engine warna Sony membuatnya enak untuk menonton film, melihat foto,, dan bermain game. Prosesor super ngebutnya memungkinkan Z Ultra untuk menjalankan game-game “berat” yang memerlukan kecepatan prosesor prima. Dan jangan lupa kemampuan tahan air-nya yang bisa sangat berguna bagi banyak orang.

Mengulik Z Ultra membuat gw terbayang ini adalah tablet ultra compact yang sangat ideal untuk mereka yang senang traveling. Karena ukurannya yang compact, dia bisa dibawa traveling dengan nyaman, gampang masuk ke tas. Fitur tahan airnya juga membuat Z Ultra bisa dibawa ke pinggir kolam renang, pantai, atau bahkan kehujanan. Ini adalah tablet yang nggak ganggu mereka yang aktif gak bisa diem, doyannya jalan ke sana ke mari.

Sekian review awam gw untuk Sony Xperia Z Ultra. Semoga berguna! :)

Mengapa Gw Terusik Dengan “Tes Keperawanan”

Standard

Kemarin saya membaca berita tentang rencana melakukan tes keperawanan di SMA (link berita di kompas.com: http://regional.kompas.com/read/2013/08/19/2212178/Siswi.SMA.di.Prabumulih.Wajib.Tes.Keperawanan). Alasannya karena marak praktik mesum atau prostitusi oleh siswa.

Bahwa pemerintah (pusat atau daerah) sering mengeluarkan ide-ide absurd dan bodoh mungkin bukan sesuatu yang baru. Ada ide-ide aneh yang memang lahir dari keterbatasan fungsi otak pejabat tertentu. Tetapi ada juga ide-ide yang sebenarnya sangat “logis” dari perspektif mereka (misalnya, bisa memperkaya kantong sendiri atau kantong partai). Saking seringnya mendengar soal ide-ide kebijakan bodoh atau licik ini, gw sampai udah terbiasa. Dengan kata lain, sudah kebal/baal, sampai tidak merasakan apa-apa lagi.

Tetapi entah mengapa untuk wacana yang satu ini, jujur gw merasa terusik. Mengapa? Beberapa alasan:

  1. Asimetri gender. Lagi-lagi, wanita berada dalam posisi dipojokkan. Mengapa hanya status keperawanan yang harus diuji? Mengapa tidak keperjakaan? Mengapa wanita wajib menjaganya, tetapi pria tidak? Gw yang pria aja merasa marah mendengarnya. Ini hampir sama dengan kasus perkosaan tetapi yang disalahkan wanita (dengan alasan: karena busananya “mengundang”, atau gerak-geriknya “genit”). Wanita ditempatkan dalam posisi yang lebih rendah karena dia wajib menjadi obyek “pemeriksaan”, tetapi pria tidak.
  2. “Tetapi pria kan tidak bisa dites keperjakaannya?” Betul! Supaya fair, jangan juga mengetes keperawanan wanita dong?
  3. Violation (gw gak ketemu terjemahan yang pas buat kata ini) dari bagian terprivat wanita. Keperawanan dan kemaluan wanita adalah hal terpribadi milik wanita tersebut, dan tidak selayaknya dilihat, diobok-obok oleh orang lain tanpa seijinnya. Jika ini dilakukan oleh agen negara, maka seharusnya sudah masuk pelanggaran HAM.
  4. Terkait dengan poin di atas, adalah dampak humiliation (mempermalukan) dan discomfort (ketidak-nyamanan) dari prosedur tes keperawanan. Begini deh, gw yang cowok pernah tes hernia, di mana gw mau gak mau harus mencopot celana di depan dokter. Untuk prosedur medis saja gw sudah merasa tidak sangat nyaman, padahal prosedur ini dilakukan seijin gw sebagai pasien (dan prosedur lebih diarahkan pada dinding perut bawah/dekat testikel, bukan penis). Nah bagaimana perasaan anak remaja putri yang harus menjalani ini?
  5. “Dana tes akan diambil dari APBD 2014″. Entah ini akal-akalan untuk memperkaya partai, tetapi seharusnya pembayar pajak marah karena pajak mereka digunakan untuk hal seperti ini. Bagi pembayar pajak yang memiliki anak remaja putri, sama saja anda telah membiayai orang asing untuk bisa mengintip alat vital putri anda sendiri. Nggak marah ya?
  6. Daripada tes keperawanan, lebih baik modul pendidikan seks (termasuk resiko2 kesehatan dari aktivitas seks dini). Buat gw ini adalah pendekatan yang intelek, preventatif, dan menghormati pelajar sebagai manusia. Selain itu, tidak ada pembedaan putra dan putri. Kedua gender harus tahu risiko dan konsekuensi dari hubungan seks di usia dini. Jika masih ingin ditambahkan ancaman neraka, silahkan dilakukan di forum yang lebih tepat, misalnya kelas agama.

Apakah gw mengabaikan adanya masalah praktik mesum atau prostitusi di sekolah yang disinggung dalam artikel di atas? Tidak sama sekali. Itu bisa jadi isu riil dan perlu pembahasan tersendiri untuk mencari solusi atau pencegahannya. Tetapi buat gw pribadi, konsep “tes keperawanan” tidak bisa diterima untuk alasan-alasan di atas.

Gw bukan ahli pendidikan, atau psikolog, atau pakar apapun. Jadi semua yg gw tulis ini hanya opini awam saja, yang berusaha berempati dengan siswi SMA jika tes keperawanan ini benar-benar diterapkan. Jika sekolah konon adalah tempat mempersiapkan siswa menjadi “manusia” dewasa, mengapa sekolah justru melakukan hal-hal yang merendahkan ke-manusia-an (dehumanize) mereka? Tidakkah ini absurd?