Guardian of the Galaxy And Typology of Friends

Standard

It’s probably a bit late to write about Guardian of The Galaxy (GoTG), but a movie that good deserves some writing. Also, this time I do not want to write a “review”, but more of a thought inspired by it.

Guardian of The Galaxy to me, without doubt, is the MOST FUN movie of 2014 (as I write this there is 3.5 months to go. So let’s see what Hollywood still has to offer…). I am not a Marvel reader, and had no knowledge whatsoever about GoTG the comic book. When I saw the poster, I was very skeptical. What a freak ensemble! Why is there a tree? Why is there a walking Raccoon? This gotta be a ridiculous and idiotic movie. But I got invited for free screening, so hell, why not.

I left the cinema with a 5 year-old WIDE smile on my face. I literally felt HAPPY at the end of the movie. There was so much laughter, but also touching moments in the movie. Yes it is not an “art” movie, and probably it won’t win any Oscar beyond special-effects or art-direction (which is very nice), but goddamit, the movie makes me happy, and it is enough for me.

With all its epic space adventures, aerial combat, bone-crunching fighting action, and all that, I couldn’t miss the most beautiful theme of the movie, and that is: friendship.

To me, GoTG joins the list of Hollywood’s great stories of friendship. I personally love friendship movies. Romantic love stories are all nice and beautiful, but we know in real life it’s all crap. Most infatuation and romantic sparks die after some time (I blame it on how the brain chemical for love works). But true friendship endures. An in GoTC, I find several typologies of friends as represented by the ragtag band.

(souce: geek.com)

(souce: geek.com)

[SPOILER AHEAD]

Let’s start with Starlord/Peter Quill. To me he reminds of that funny friend who seems like the sun hangs over him all the time. Never looking sad, always quick to throw wisecracks, the life of the party. But often, funny friends like this actually hide a sadness. In Starlord’s case, he lost his mother at such early age. And worse, he was uprooted from his earth home and raised and grew up in an alien family.

Gamora, the green chick (and still hot!). She represents the friend with a dark past. She/he has done something bad in the past, but she regrets it, and is on the way to redemption.

Drax. He represents the “constantly angry” friend. He/she might have short temper, does not have good sense of humor (as Drax cannot understand metaphors). He/she might have been wronged in the past, which explains his vengeful nature. He/she may not be a very sociable being, and may be intimidating to most people. But he takes friendship seriously, and he will stand by them, and defend them without hesitation.

Rocket. Ah, my favorite character. The quick-witted, street smart friend. He embodies independence and self-sustenance. He has serious trust issue, and probably the most difficult to start new friendship. His ‘best friend’ is practically a mute. But all this ‘tough talk’ actually hides a terrible past. Rocket was ‘created’ in the lab, subject to inhuman (or in-racoon?) experiments, and with virtually no family to grow up in, Rocket was left to fend for himself since young,

Last, everybody’s sweetheart, Groot. To me, he represents that not-so-smart friend. We all have that friend who most consider ‘slow’. But what Groot lacks in intelligence or articulation, he compensates with pure, unquestioning loyalty. And his ultimate demonstration of loyalty to friends is when he was willing to give up his life, so his friends can save theirs.

But here’s the beautiful thing. All the five cast look different, talk different, have different background and different temperament. Yet in the end they all become friends. And this has parallel in our real lives also. Look at your best friends – do they look, talk, behave exactly like us? Some may do, but I think most of them are different. And yet those differences do not really matter when we become friends.

I truly believe we meet one or more, if not all, the cast of Guardians of The Galaxy in our lives, as friends. They are more than meets the eyes. Beneath whatever personality they display outside, the funny, the streetsmart, the angry, the quiet, the ‘dumb’ – there is history, past, and background. The true friends know each other beyond the outer layer. And true friendship stays even with the all the “back stories” – because friends accept each other in complete package.

So here’s to friendship, and all the types of friends we might have. And to the beautiful stories we weave together as friends.

And perhaps along the way, we can save a galaxy.

:)

 

 

“Saya Minta Maaf Kepada Indonesia”

Standard

Akhirnya proses Pemilihan Presiden negeri kita selesai juga kemarin, 22 Juli 2014.

(Oke, tergantung definisi “selesai” apa sih, karena ada yang belum mau menerima hasil kayaknya. Tapi “selesai” di sini adalah sampai tahap pengumuman resmi KPU).

Mau share sedikit aja perspektif pribadi gw selama proses pilpres ini.

Gw mendukung dan memilih Jokowi, dan mungkin banyak teman yang sudah tahu. Tetapi yang mungkin tidak banyak tahu, gw aslinya bukan “fans” Jokowi beneran. Sewaktu pilgub DKI, gw memilih beliau simply karena gw udah bete dengan incumbent Foke dan gak mau dia lanjut lagi. Dan di pilpres ini, yang “mendekatkan” gw kepada Jokowi justru adalah majunya Prabowo sebagai kandidat capres. (Untuk alasan lebih detail, ada di blog post gw sebelumnya “We Get The Leader We Deserve”)

Tetapi yang lebih sedikit lagi orang tahu adalah, bahwa menjelang hari pemungutan suara, gw sudah pesimis bahwa Jokowi akan menang. Gw hanya berani ngomong ini ke beberapa teman dekat saja.

Pesimis? Kok bisa? Bisa banget.

Gw sudah putus asa melihat gempuran black campaign yang sudah absurd, dengan segala isu SARA, sampai PKI segala. Pikir gw, pasti banyak rakyat yang akan termakan fitnah seperti ini, seberapa absurd sekalipun. Apalagi setelah gw mendengar banyak kisah orang sekitar yang percaya dengan fitnah-fitnah tersebut.

Gw sudah putus asa melihat koalisi parpol raksasa yang berkumpul di belakang Prabowo-Hatta. Semuanya “petinju kelas berat” semua. Ketika mendengar bahwa Partai Demokrat pun bergabung, tambah putus asa-lah gw. Mana mungkin ada kans melawan gabungan mesin partai berpengalaman dan besar seperti itu?

Gw sudah putus-asa melihat trend hasil survei yang menunjukkan gap semakin mengecil, bahkan konon banyak undecided voter yang akhirnya memutuskan memilih Prabowo sesudah seri debat capres dimulai.

Gw pesimis, sampai gw bernazar, kalau sampai Jokowi bisa menang juga, gw akan cukur gundul deh.

Dan akhirnya, ketika kemarin resmi diumumkan bahwa Jokowi memenangkan perhitungan suara, gw menyadari bahwa dengan sikap pesimis gw, gw harus minta maaf.

Gw harus minta maaf kepada rakyat Indonesia.

 

Karena dengan sikap pesimis gw, gw sudah meremehkan bangsa ini.

Gw sudah meremehkan kecerdasan bangsa ini dalam menolak fitnah

Gw sudah meremehkan kreativitas bangsa ini dalam menciptakan kampanye kreatif yang menggugah

Gw sudah meremehkan kerelaan bangsa ini dalam mengawal perhitungan suara dengan ribuan relawannya

Gw sudah meremehkan niatan rakyat untuk meninggalkan masa lalu, dan move on ke masa depan

Gw sudah meremehkan keterbukaan bangsa ini untuk bisa menerima seorang jelata menjadi pemimpinnya

 

Untuk semua sikap meremehkan di atas, gw minta maaf kepada Indonesia.

Karena bangsa ini sudah membuktikan bahwa ia layak mendapatkan pemimpin yang lebih baik. “In a democracy, the people get the leader they deserve”.

Terima kasih Indonesia, sudah membuat gw optimis lagi.

Terima kasih Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla, untuk menunjukkan ke gw, bangsa ini jauh lebih hebat dari yang gw pikirkan sebelumnya.

 

Dan sekarang, sesudah pilpres berakhir, maka kita semua yang harus menjaga kelanjutannya. Dan gw sekarang berani optimis, Indonesia akan menjadi lebih baik.

 

Not bad untuk sekumpulan bebek di tanah becek….

 

*tersenyum*

 

Kecil2 Gak Bau. Review Ambi Pur Mini #ad

Standard

Jadi, sebulan lalu gw dikirimin Ambi Pur Mini untuk dicobain. Ambi Pur Mini ini pewangi mobil baru format cair dari Ambi Pur. Sebenarnya awalnya gw bingung juga pas tahu ada yang mini ini, karena sebelumnya sudah memakai Ambi Pur yang biasa dan hepi-hepi aja. Tapi waktu megang sendiri, akhirnya gw ngeliat sih bedanya.

Ambi Pur Mini ini…..Mini beneran.

Ya eyalah ya. Tapi maksudnya, ukurannya keciiiil beneran. Jadi Ambi Pur Mini ini lebih imut nempel di blower AC, dan tidak terlalu memakan tempat.

Ungu, unyu, nyempil

Ungu, unyu, nyempil

Selain itu, nggak seperti Ambi Pur yang biasa yang refill, Mini ini kemasan pake, habiskan, dan buang. Jadi begitu dibeli, tidak perlu ada copot pasang botol, cukup “kaitan”nya diputar dan otomatis segel terbuka dan siap digunakan. Lebih praktis sebenarnya.

Di kemasannya Ambi Pur ini menjanjikan 30 hari efektif membuat mobil wangi. Gw sudah memakai hampir sebulan dan keliatannya memang sesuai dengan yang ditawarkan. Tetapi Ambi Pur Mini lebih dari sekedar “pewangi” mobil. Dia juga pembasmi koruptor, eh, bau gak enak yang sangat mumpuni. Percayalah bahwa naik mobil ditemani bau gak enak itu bahaya banget, dan bisa mengancam keselamatan berkendara maupun percintaan kalau misalnya semobil dengan gebetan. Bukannya apa-apa, masalahnya naik mobil ber-AC itu kan sebenarnya kita kayak “dikurung” di dalam akuarium kecil begitu. Jadi kalo ada bau gak enak, sebenarnya gak enak banget sih. Mau buka jendela, bisa-bisa malah tambah parah karena malah kemasukan asap knalpot kendaraan lain. Pernah gak, ditebengin temen/orang yang menderita masalah BB (Bau Badan)? Mau nangis gak tuh? Ngusir dia gak bisa. Ngejorogin dia di tengah jalan tol risikonya perbuatan kriminal (plus kalo dia selamet kemungkinan dia bakal nyari elu untuk ngegebukin.) Jadi biasanya diterima aja nasib menjalani perjalanan sambil nahan muntah.

Nah, Ambi Pur Mini pede banget sama kemampuannya melawan bau, sampai berani membuat “eksperimen” dengan menggunakan Raditya Dika. Oke, jujur eksperimen ini rada jijay sih. Tetapi saking jijaynya jadinya sangat meyakinkan banget soal kemampuan si Mini ini. Jadi awalnya si Raditya Dika yang dikerjain. Dan sesudah itu, dengan teganya doi ngerjain orang lain.

(Oke, gw harap kalian gak mengulangi eksperimen ini dengan temen kalian. Ini namanya video di atas malah jadi inspirasi jelek. Etapi gak papa ding kalo mau ngerjain temen dengan kejam gitu, asal pastiin pake Ambi Pur Mini).

Syukurlah gw pribadi gak punya temen bau ketek yang maksa masuk mobil gw kayak di video di tas. Lagian kalo ada juga bakal gw tendang ke luar sih! Tetapi dalam pengalaman sehari2, gw udah ngerasain Ambi Pur Mini ini menemani perjalanan di mobil dengan efektif. Gw pribadi milih yang wangi Lavender (warna ungu). Selain karena gw unyu jadi suka warna ungu (Jaka Sembung gak nyambung), tetapi kebetulan Lavender itu aroma pewangi toilet kesukaan gw. Maksudnya bukan gw pengen berasa ada di toilet selama di mobil lho ya. Tetapi Lavender setahu gw punya efek menenangkan. Jadi di tengah kemacetan Jakarta yang keparat dan bikin hipertesi, wangi yang menenangkan kayaknya perlu deh.

Jadi begitu lah review Ambi Pur Mini gw, siapa tahu bermanfaat. Bagi cowok jomblo bermobil kayaknya perlu mempersenjatai diri dengan ini. Siapa tahu elu jomblo karena bau dan cewek2 yang elu anter akhirnya trauma. Pewangi mobil yang tepat, jaminan jodoh cepat! Halah…. :D

Laporan Survei Mahmud & Pahmud Nasional

Standard

Woohoo, akhirnya Laporan Survei Mahmud & Pahmud Nasional rampung juga. Maaf kalau terlambat. Harap maklum, terselingi oleh pemilihan presiden yang heboh itu soalnya. Hihihi.

Survei Mahmud dan Pahmud ini menanyakan berbagai aspek menjadi mamah dan papah, pengalaman, pembelajaran, dan suka-dukanya. Survei menggunakan surveymonkey.com yang dibuka sejak 9 Juni 2014 dan ditutup 16 Juni 2014. Survei ini berhasil mengumpulkan 1,132 responden dengan jumlah survei yang selesai (completed) 691 responden.

Sekedar mengingatkan, hasil dari survei tidak bisa digeneralisasi sebagai gambaran seluruh mahmud dan pahmud yang ada, mengingat survei dilakukan secara online dan representativeness-nya tidak bisa dijamin. Jadi, kalau nanti membaca, misalkan, “17.5% mahmud bahagia karena mantan mereka belum menikah”, maka ini harus dibaca sebagai 17.5% dari mahmud yang mengikuti survei ini saja (bukan 17.5% dari mahmud seluruh Indonesia). Semoga jelas yaaa.

(udah deh laen kali gw aja yang bikin Quick Count pilpres biar gak pada ribut! :D)

Okay, langsung ke hasilnya saja yaaa….

Siapa yang mengikuti Survei Mahmud & Pahmud ini?

Picture1

Ternyata responden didominasi oleh para mahmud, sebesar lebih dari 76%. Sebenarnya penjelasannya bukan karena para papah muda tidak suka ikut survei, tapi dikarenakan ini menggambarkan profil akun @newsplatter yang kayaknya kebanyakan emak2 daripada bapak2. Survei2 @newsplatter yang dahulu juga konsisten selalu didominasi responden wanita :)

Bagaimana rasanya menjadi seorang mahmud?

Picture3

Kebahagiaan terbesar adalah menjadi ibu itu sendiri (64.7%), kemudian kebahagiaan menjadi seorang istri (44.7%). Dan ternyata sama kuatnya dengan menjadi istri adalah, bahagia karena “masih cantik dan seksi” (44.7%). Bahkan 20.2% mengaku bahagia masih dilirik berondong. Pantes tiap gw ke mal gw pusing, karena sering liat cewek cakep tapi ternyata nenteng balita dan nanny. Memang tampaknya terjadi peningkatan kualitas mahmud Indonesia. Apakah ini salah satu prestasi pemerintahan SBY?

Walaupun bahagia, seperempat mahmud (25%) mengakui merasa capek mengurus anak, dan 11% tidak menyukai mertua yang cerewet dan rempong. Di sisi lain, 17.5% mahmud merasa puas karena mantan mereka belum berkeluarga. Astaga….

Dari jawaban open-ended:

  • bahagia krn masih dibilang “mbak” bukan “bu” sama tkg parkir, eh apa krn gue kasih dia goceng ya, bukan 2 ribu? :)))
  • ga muda lagi sebenenya om. tapi all the troubles and the sleepless nights are worth it at the end of the day
  • mahmud abas sekaligus single parent. Body+muka masih lenceng lohhh! (Halah! No pic = hoax)
  • Appreciative of my own mum. Start to understand why she did what she did. It always started from a loving heart (Bener juga. Kalo jadi ibu jadi tambah sayang ibu sendiri ya katanya?)
  • Sempet nyesel nikah muda sementara temen temen karier nya mulai nanjak
  • Bahagia soalnya bisa pamer sama temen-temen centil ini loh laki gue ganteng, pinter cari duit, takut istri lagi! #eh
  • kadang pengen balik lagi waktu masih single ato belum punya anak, om. Sekarang apa2 terbatas :'( *pagi2 curhat
  • sedih badan susah banget kurusnya abis melahirkan. hiks
  • Punya komunitas baru sesama mahmud kece nan rempong, seruuu! (Boleh ikut gabung sis?)
  • bahagia sih bisa nyium2in anak, tapi akhir2 ini kepikiran, gimana kalo seandainya waktu itu saya memutuskan untuk ga nikah dulu. kejar karir, lanjut sekolah, traveling keliling dunia. what if, what if, what if. om pernah nyesel sama keputusan yg udah diambil? (LOH KOK JADI GW YANG DISURVEI?)
  • bahagia krn gak ditanya2 lagi kapan nikah sm udah punya anak blm sm orang2 keparat itu (eeerrrr….woles mbak)
  • Kadang om anter anak sekolah diblgnya nganter ade
  • masih dlm usia produktif utk berkarir
  • hidup sudah lengkap. seorang istri dan seorang ibu.
  • Kadang sedih, kadang repot, kadang senang sekali, karena harus jadi mahmud single fighter (baca: single mother)
  • Bahagia karena bisa jadi mama-mama biarpun belom pernah ngelahirin. Mama angkat. :D

 

Bagaimana rasanya menjadi pahmud?

Picture2

Kebahagiaan terbesar menjadi pahmud adalah menjadi seorang ayah dan kepala keluarga (45.7%), menjadi seorang suami dari seorang istri yang oke (36.2%). Eh, berarti ada 63% responden tidak memilih “bahagia menjadi seorang suami”? JENG JEEENG!!! *zoom in zoom out*

Lebih dari sepertiga pahmud mengakui kadang merasa stress memikirkan nafkah keluarga, atau apakah bisa menjadi kepala keluarga yang baik (30.5%). Lebih dari seperempat (26.2%) merasa sebagai lakik sejati karena terbukti mampu membuntingi anak orang. 30% bahkan merasa sejak menjadi pahmud tambah dilirik cewek2 lain. Luar biasa!

Yang menarik, hanya 6.7% yang merasa senang bahwa mantan belum berkeluarga. Artinya cuma dua: (1) Pria menikah tidak terlalu perduli dengan status mantan, atau (2) pria menikah bahkan malas mencari tahu soal mantan.

Dari jawaban open-ended:

  • sebenernya gua duda. slightly higher level than average pahmud (He? Kenapa duda derajatnya lebih tinggi??)
  • Setelah perut istri kempes, perut gw yg jadi bunting (HAHAHA)
  • suka aneh saja kenapa tiba2 sy udah jadi pahmud padahal mental belum siap coy (waduh, sesal memang sering datang terlambat…)
  • berasa gagah dan keren kaya beckham gitu (terserah deh mz)
  • dgn menjadi pahmud, mendapat link ke mahmud wkt antar skul, les (OH INI TOH MODUS PAHMUD)
  • semua ini karena….kondom bocor oomm…kondom bocoorrr!! :'((( (Elu pelit sih, gak mau pake yg import….)
  • Tambah sadar penting nya keluarin diluar atau pake kondom kl lagi g ama bini :) (oh….)
  • senang bisa adopsi anak yang dibuang orang tuanya, semoga dia dapat tumbuh dan berkembang di tangankunya Allah (Amiiiin….)

Sudah berapa lamakah menjadi orang tua?

Picture4

Sekitar 60% mahmud dan pahmud yang disurvei sudah menjadi orang tua selama minimal 2 tahun.

 

Berapakah jumlah anak?

Picture5

72.3% responden memiliki satu anak saja, dan 22.5% memiliki dua anak. Jangan lupa KB yaaa, dua anak cukup! :D

 

Apa yang berubah di dalam hidup sejak menjadi mahmud/pahmud?

Picture6

“Mulai memikirkan rencana keuangan” menjadi jawaban paling banyak terpilih (54.8%). “Lebih susah punya me-time”, “jadi jarang nongkrong/hang-out” juga banyak dipilih oleh sekitar separuh responden. Tampaknya banyak responden yang merasa waktu yang tersisa untuk diri sendiri menjadi berkurang begitu menjadi orang tua. Waktu tidur juga terasa berkurang (dipilih 42.5%). Separuh responden mengaku bekerja jadi lebih sabar. (Biarpun bos atau client mengesalkan, mungkin jadi ditahan-tahanin gitu ya?)

Di sisi lain, responden menjadi lebih aktif mencari informasi tentang anak. “Jadi rajin nyari informasi tentang anak”, “sering browsing internet untuk informasi membesarkan anak” juga dipilih oleh hampir separuh responden.

Perubahan lainnya adalah jadi sering menonton acara anak, bahkan sampai khatam Upin & Ipin (40%), jadi tahu tokoh2 mainan seperti Thomas & Friends (31.1%). Berat badan naik juga dilaporkan sekitar sepertiga responden (36%).

Yang menarik, hanya sedikit yang memilih “Dulu tidur di kamar tidak perlu dikunci”. Loh, jadi masih aja kamar gak dikunci? Kalo lagi terjadi pergelutan akbar di ranjang dan si kecil masuk gimana dong? (eh mungkin karena anak2nya masih terlalu kecil juga nih ya….)

Beberapa jawaban open-ended:

  • Kalo makan diluar, nyari tempat yg ada tempat main anak2. Susah menikmati makan klo harus ngejarin anak2
  • Dulu gue gak tahu merk susu formula selain bendera dan dancow (Lho, emang ada lagi?)
  • sekarang tau takaran 1 sendok takaran susu setara dgn 30ml air :)
  • Ada pelipur lara selain suami yaitu anak (apalagi kalo penyebab lara-nya si suami….)
  • Jadi expert dalam hal monolog, tiap hari ngomong sendiri sama baby
  • kayaknya sih nambah sabar soalnya anak pertama gw drama banget. dikit-dikit tereak, dikit-dikit nangis. udah gitu, nangisnya pake tereak ” udah.. udah.. sakit..” padahal gak gw sentuh. ngeri aja disangka pelaku KDRT trus diaduin ke polisi. anak gw emang drama banget. anak siapa sih?! (Saya usul gedenya dia jadi anggota parpol)
  • Semuanya jadi serba salah, mo kerja full time, ga berani ninggalin anak sendirian tiap hari sama babysitter doang, jadi ibu rt bosen banget, skrg kerja part time dari rumah tetep susah ngatur waktunya soalnya suka direcokin anak
  • Dulu kalo mau bepergian tinggal capcus, sekarang mikir harga tiket untuk suami dan anak, plus packing rempong untuk tiga orang hahahaha
  • di hp isinya foto anak semua :D
  • rumah ga pernah rapi, mainan bertebaran
  • jadi bisa nebak mana MahMud, mana janda, mana cabe2an…. (Gw juga pengen skill ini!)
  • sekarang tidurnya bertigaa. sempiiiits bingits!
  • lebih menghargai semua jasa ortu dari gue kecil ampe sekarang ini, krn skrg baru ngerasain sendiri susah-senangnya jadi ortu buat anak gue. Ibu-Bapak..maapkan anakmu ini yaaa hiks *nangis bombay mewek-mewek*
  • Lebih menghargai istri yang punya beban kerja ganda: tetap kerja profesional dan mengurus anak. Karena saya kan gak bisa gantiin istri menyusui Ommmm :_( cediihh
  • bisa ngerasain cinta yg lebih tulus dari apapun setiap liat antusiasme dan bahagianya anak saat main sama kita. oye!
  • om tau berapa biaya sekolah anak, les, mainan anak sekarang ?!? *stress thn ajaran baru*
  • jadi lebih girly (anak gw cewek soalnya), iya, itu gw yg jadi lebih girly … f*k!! (ini pasti bapaknya. Jadi pake dasi Hello Kitty yaaaaa….)
  • belajar menerima hal lain yang menjadi anugerah bagi kami sekeluarga karena anak pertama saya termasuk dalam anak berkebutuhan khusus
  • sex is better
  • dulu doyan junk food. skarang memperhatikan sayur buah dan makanan sehat lainnya yang bagus utk anak.
  • gak bebas berisik om pas lagi you-know-what (OPERASI SENYAP FTW!!!)

 

Dalam membesarkan anak, apa yang paling dikhawatirkan?

Picture7

Kekhawatiran terbesar mahmud pahmud mengenai anak adalah “pergaulan buruk” (narkoba, seks bebas, dll), dipilih oleh 71.4% responden. Berikutnya adalah kekhawatiran “salah mendidik anak” (56.9%), dan ketika anak jatuh sakit (46.9%). Yang menarik hanya 36.3% yang memilih “perkembangan kecerdasan yang tidak optimal”. Mengapa tidak pilih sisanya ya? Entah karena mereka sangat yakin anaknya akan menjadi pintar, atau malah tidak perduli dengan kecerdasan anak? Begitu juga hanya 37.2% yang khawatir bahwa anak mereka “tidak bahagia”.

Beberapa jawaban open-ended:

  • Takut mengulang kesalahan ortu waktu membesarkan gue.
  • Takut anak laki gue sama pengecut dan bajingannya dengan bapaknya. Dasar kamu lelaki tidak bertanggungjawab!!!!!!!! (Eh, iya, mb, kesehatanmu itu loh….)
  • takut anak saya pendek (soalnya bodynya kecil si)
  • Selera musik jelek, jadi alay, suka galau.. amit2 ya Allohhhh..
  • takut kena pelecehan seksual
  • Takut saya sebagai orang tua ga bisa jadi sahabat nomor satu buat anaknya (soalnya bundanya ga suka cerita sama eyangnya dulu)
  • Gw sih gak takut anak gw dibully, takutnya dia ngebully. Masa masih bayi udah suka maen yang ekstrem (Maen yg ekstrem itu gimana sih? Main capres2an gitu?)
  • Bisa ga anak gw melalui semua ini? Tekanan, rintangan, segala macem ujian, dll. Anak gw baru 2 taun dan pemalu banget. Trus kayak ada semacem tekanan kalo anak umur segitu harus bisa bersosialisasi dan ga malu-malu. Anak gw mau koq maen ama anak2 laen kalo dikasih kesempatan. Ini yg bikin gw watir banget mo masukin anak ke sekolah. Can she handle it?
  • diculik (ngisinya sambil nonton debat capres, om) (taek….)
  • preferensi seksualnya. saya mungkin bsa menerima apapun preferensi seksualnya tapi ayahnya tak akan bisa
  • kena karma dari perbuatan jahat saya di masa lalu (*abis katanya begituuuuuu)
  • Kesehatan anak dan kebahagiaannya nanti tetep nomor satu om. Presiden nomor dua! Hahaaa
  • diculik sama mertua, dikasi makanan/snack ga sehat +dimanja berlebihan. mertua kamfret! ngerusak mental dan ngerusak didikan ortu.. cihh
  • takut dia masuk jadi anggota FPI om!!

 

Apa yang dilakukan anak usia prasekolah yang bisa bikin bangga?

Picture8

“Percaya diri, pemberani, berani bertanya, tidak cengeng” menjadi jawaban paling terpilih untuk kelakuan anak prasekolah yang bikin bangga (63.2%). Kecerdasan emosional (bisa menahan diri, jujur), rasa ingin tahu yang kuat, dan sifat mau bersosialisasi juga membuat mahmud dan pahmud bangga (59.3%, 59.1%, dan 58.1%). Kemampuan motorik/fisik juga cukup membuat bangga, dipilih oleh 49.5% responden. Sebaliknya, cerdas (akademis) hanya dipilih oleh 28.1% responden.

“Kelakuan-kelakuan lucu” (meniru orang-tua, mengkritik pemerintah) dipilih oleh kurang dari separuh responden (43.4%). Sayang, padahal kayaknya lucu banget kalo anak prasekolah mengkritik pemerintah….

Beberapa jawaban open-ended:

  • kemampuan dia utk bertanya hal2 yg ajaib: mis; kenapa kumis lele, kumis kucing dan kumis papa beda2?? (apalagi kumis pak polisi. Kalo ditarik bisa ngeluarin pentung…)
  • bertanya pertanyaan cerdas nan menohok seperti, ” Ayah, adek bayi dari mana?”(jawablah dengan jujur: “Dari mantan, nak….”)
  • anak gw bisa ngomong ‘papa’ (masih bayi soalnya). yaah walaupun blom bsa bilang emak tapi gw bahagia bgt hen (apalagi kalo bisa ngomong “BOCHOOR….” ya?)
  • mandiri sesuai umurnya spt : bisa makan sendiri dan rapi, bisa self soothing supaya ibunya bisa ngerjain yg lain (Kayak apa sih self-soothing?)
  • Kalo gw lupa naro barang di mana dan nanya ke anak gw, dia bisa nunjukin om di mana tempatnya :O kayanya gara2 dia kepo, ihihiy (Hati2 koleksi surat mantan….)
  • tadi pagi ikutan mompa roda sepeda motor Oom :)) (SAYA LAPORKAN KAK SETO YA KAMU!)
  • punya radar kapan papa mama mau “hooh” , tau tau bangun/ndusel/ketok pintu sambil teriak KENCENG BANGED (Teriaknya: “MAU BIKIN ADEK UNTUK OTONG YAAAA???”)
  • Gak gampang nangis klo jatoh ato kalah ‘perang’ dg temen2nya. That’s my boy!!
  • aduh mau dipilih semuanya om pilihannya! gw termasuk emak yg perfeksionis ga sih klo gitu? (bukan, kamu delusional aja….)
  • dia kaya dinas kebersihan rumah. ada sampah bececer dikit langsung dibuang ke tong sampah. klo bajunya kotor minta ganti. klo tau pemerintahan kotor mgkn dia langsung lapor kpk
  • anak saya belum tepuk tangan kalo belum disuruh om. #terdebatcapres
  • berani kelahi dgn anak lain yg ngebully
  • saat tampil di panggung menari pas pesta kenaikan kelas kemarin, terlihat paling menguasai gerakan dan dipuji mamah2 yg lain :’) (Padahal semua mamah yg lain juga merasa anaknya seperti itu….)
  • Berani negur preman pasar yg buang bungkus rokok sembarangan. Tinggal gw yg diplototin si preman itu
  • Ketika anak kita yang berkebutuhan khusus bisa mengejar ketertinggalannya dari anak-anak lain seusianya dan bisa cepat beradaptasi
  • Saya disambut setiap pulang kantor, manis gak tuh :’)

 

Seberapa pentingkah aktivitas-aktivitas berikut?

Picture9

Dengan skala 1-7 (1: sangat tidak penting, 7: sangat penting). Tiga aktivitas anak dengan nilai penting tertinggi adalah: Tidur (6.35), mengobrol dengan orang-tua (6.30), dan bermain dengan orang-tua (6.21). Menonton TV menjadi aktivitas paling tidak penting (2.81)

 

Rata-rata, berapa lamakah anak tidur?

Picture10

Bagaimana membuat anak tertidur?

Picture11

Dua teknik menidurkan anak terpopuler adalah digendong sambil diayun (43.3%) dan membacakan cerita (40.6%). 23% memutarkan musik/lagu (misalnya lagu2 Afgan, Metallica, dll). Hanya kurang dari 10% yang menggunakan acara televisi (misalnya pidato kepala negara, dll).

Beberapa teknik menidurkan anak dari jawaban open-ended:

  • Ngajakin nyanyi atau kalo lg di rumah, kita yg nemenin tidur,pura2 tidur ato sekalian tidur beneran aja. Lama2 anak2 ikut tidur juga kan…hehe
  • mengajaknya berdoa sblm tidur (ini juga efektif buat gw. Kalo lagi berdoa di gereja gw jadi ketiduran….)
  • bikinin susu coklat hangat, ngasih guling gajah favoritnya biasanya dalam tempo kurang dari 15menit udah gak sadarkan diri
  • Matikan semua gadget trus garuk-garuk punggungnya. (Garukin dong sis…)
  • Diputerin video fadli zon lagi mark up IQ capresnya (INI BLACK CAMPAIGN!)
  • set rutinitas dan pastikan BAPAKNYA berjarak > 5 m dari si anak
  • bedtime routine: sikat gigi bersih2-solat isya sama2-cerita kejadian hari itu/bedtime story
  • biasanya anakku dikasih susu (masih minum susu di botol) sambil puterin murrotal al quran. sapatau kedepannya bisa jd hafidz (penghafal) al quran. aamiin…
  • muterin video animasi/kartun, ngegendong sambil goyang oplosan, bikin ketawa sampe dia lemas dan tidur sendiri atau nyekokin dengan susu biar dia kekenyangan dan ngantuk (GOYANG OPLOSAN???)
  • kasih asi / bobo sambil peluk dan elus2 (Gw juga ketiduran sih kalo diginiin….)
  • Merelakan tangan jadi bantal, smakin lama direlakan jadi bantal, smakin lama tidurnya.. Ntar emaknya bangun2 sengkle tangannya
  • Mijitin anak. Kecil-kecil pada kecanduan dipijit punggungnya. Pijit pelan ya…bukan pijet refleksi. (Juga jangan shiatsu)
  • bacain cerita, nyanyiin nina bobo. tapi doi gak tidur2. eh eh sebenernya nina itu siapa sih om? emang dia susah bgt yaa tidurnya? kenapa gak dikasih susu aja sih? (Nina itu mantannya si pencipta lagu. Sedih banget cerita aslinya kalo elu tau….)
  • biasanya anak tidur sendiri, kamar juga terpisah dari bayi, saya biasanya cuma nemenin, tapi ibunya main candy crush anaknya megang botol susu
  • biasanya ditemenin bentar juga cepet tidur. tapi kadang harus ngedongeng dulu. dia paling excited kalo gue cerita ttg cara kerja jantung atau organ tubuh lain. buset! (Coba elu cerita tentang cara kerja Quick Count deh)
  • Pasangin AC, Om. Sebelum punya anak, saya dan istri rela hidup dalam rumah tanpa AC demi lingkungan hidup kita. Tapi setelah punya anak, gak tega juga kalau dia kegerahan pas tidur…
  • ya suruh cepet bobo sambil pasang muka serem (Gile loe ndro, metode Orde Baru bangets)
  • yg penting klo tgh malem ngerengek tinggal buka bh, nenen! (Eh ini tentang anaknya kan? Bukan suaminya?)
  • Menyanyikan mazmur. Serius, anak gw ngerequest mazmur buat lagu pengantar tidur! Duh Nak, kamu religius sekali. Mama terharu :’) “Mama. Nyanyik. Mahmur. Mahmur”
  • sad to say. ipad (Nah, solusi berteknologi ini….)
  • wktu kecil paling ampuh diajak muter2 naik mobil, gerakan mobil bikin dia pelor. tp skrg udh gedean, gendongnya repot trs malah kebgn lagj pas mindahin dr mobil ke kasur, jdnya udh ga pake cara ini lagi (metode elu ini boros bahan bakar banget deh)
  • Ajak nonton tv, sinetron “kamu yang dari bintaro” atau “ganteng2 serigala”

 

 

Menurut kamu, apakah manfaat tidur untuk anak?

Picture12

Mayoritas mahmud/pahmud percaya bahwa tidur penting untuk perkembangan otak/kecerdasan anak (dipilih 74.9% responden). Tidur juga dianggap penting untuk perkembangan fisik yang optimal (69.8%) dan juga agar anak bisa beristirahat dari aktivitas (63.6%). Yang menarik, hampir 60% responden juga merasa tidur anak penting agar ortu bisa istirahat juga! Capek! Dan ada hampir 40% yang setuju pentingnya anak bobo agar ortunya punya kesempatan untuk “bobo-boboan”.

[kenapa sih suatu kata kalo didobel maknanya jadi lain? Pijat plus beda dengan pijat plus plus. Bobo jadi beda dengan bobo-bobo. Dan kenapa gw ngebahas beginian....]

Beberapa jawaban open-ended:

  • Biar bisa bebas nonton acara TV yg sekarang banyak adegan ehm-ehmnya. (Apaan sih? Animal Planet?)
  • Supaya gue bisa video call ehem2 sama papinya yang kebetulan lagi tugas di luar beberapa waktu ini (Lah, ehem-ehem lagi….)
  • supaya ortunya bisa gawe, maklum freelancer
  • Supaya orangtuanya bisa pergi on a date, ngopi2 ato nonton midnite gitu.
  • Supaya gw ada waktu online, kaya ngisi kuesioner ini nih
  • supaya gw ama bapaknya bisa pijet pijet mesra setelah hari yg panjang dan melelahkan.. *ambil remason :-P
  • biar emaknya bisa ngasih makan babi hayday (BABIK!)
  • supaya gw bisa beberes rumaahh dan kerjaan (mahmud merangkap inem dan pegawai online)
  • supaya gak minum susu terus. susu mahal looh oom. abisnya anak gue suka bgt minum susu om. susu mahaal bgt oom. mahaaaal. udh pernah beli belom lu om? (Gw juga suka minum susu sampe sekarang. Beneran!)
  • biar bisa beberes rumah. susye ngangkat sofa klo bapake sama anake duduk di sofa itu… :(
  • yg plg penting, jd bisa nonton koreaaaa!!

 

Berapa lamakah rata2 waktu bermain dengan anak?

Picture13

Jawaban terbanyak untuk rata2 waktu bermain anak adalah 4-6 jam tiap harinya, dipilih hampir separuh responden (46.1%)

Bagaimanakah biasanya anak bermain?

Picture14

Mayoritas mengaku bahwa anak bermain dengan mainan non-elektronik (75.9%), dan hanya 12% responden yang mengklaim anaknya bermain dengan mainan elektronik/gadget. Hanya 3.1% yang anaknya bermain dengan “mahluk2 dunia lain” (yakin nih hanya seginiiii…..udah nonton The Conjuring beloooom?)

Beberapa jawaban open-ended:

  • Anak 2,5th tuh kepo banget, pernah dia mau sobekin bungkus kondom papinya. Gawat nanti disangkain balon terus dimainin bareng anak tetangga kan??? (Sebenarnya kondom papinya disimpen di mana sih? Toples kripik melinjo ya?)
  • yang ada di rumah semuanya juga dijadiin mainan, kardus isi minuman, botol bekas sabun atau shampoo mereka, apa aja
  • karena aku mutasi ke kota kecil dan dapet kostan di perkampungan yg masih luas halamannya dengan tetangga yg punya banyak peliharaan, semisal ayam, burung, kambing, sapi, bebek, dll, jadi sambil diajak main sambil belajar juga. anakku emang sengaja dilepas aja untuk main di luar, kotor2an lari2an. dan sampe 22 bulan cuma sekedar tau aja sama gadget, dan tivi juga ga pernah nyala. biar deh disebut kampungan tp dia puas menjelajah alam, dan menjadikan alam sbg taman bermain.
  • main sama pengasuh dan/atau anak tetangga, kadang juga ngegodain mahmud 3 rumah sebelah kanan
  • biasanya anak gw maenan sama panci2 gw tuh om
  • klo sore kadang main di depan rumah sama anak2 tetangga, biar gaul sejak dini
  • main di luar rumah (lari2,playground,main sepak bola,scooter),play pretend (jd gutaris,supir bis,dll),singing snd dancing,playdate sm temannya & tmn saya :P
  • memainkan apapun. APAPUN yang berpotensi mengeluarkan suara keras dan mengganggu istirahat papanya (ini kayaknya jeritan hati terdalam…..)
  • Main diajak ke luar rumah.. ketemu anak-anak yang lain. Sosialisasi tu penting, Om! Camkan itu. Catet! Awas kalau besok lupa atau gak dimasukkan di hasil survey kualitatifnya! Hahaa *evil laugh* (Neh gw masukin)
  • bermain dengan menyanyi dan menari2 sendiri juga bermain kan? (mungkin sebenarnya “menyanyi dan menari dengan teman dari dunia lain”….)\
  • bermain dengan hati wanita om *eh,itu mah bapaknya
  • karena masih berumur 25 hari jadi belum bisa diajak main… paling dia main sama makhluk2 dari dunia lain :))
  • Rules: konversi 1 jam main gadget = 1 jam berkreativitas seperti menggambar, bikin robot dari kardus, dll yg intinya art. Lalu baca 1 buku konversinya = 1 jam nonton tv / nonton 1 film (Keren nih, pake rules)

 

Seberapa seringkah membelikan mainan anak?

Picture15

Separuh responden (53.3%) mengaku hanya sekali2 saja membeli mainan anak, kira2 setiap 3 bulan sekali. 36.5% mengaku cukup sering membeli mainan anak, kira-kira sekali sebulan.

Apakah motivasi utama membeli mainan anak?

Picture16

Mainan dianggap membantu perkembangan kecerdasan kognitif anak (79.3%), perkembangan fisik/motorik (79.1%), dan juga perkembangan emosional anak (72.4%). Hanya 31.9% yang membeli mainan untuk “membuat anak bahagia”. 30% responden membeli mainan anak agar ia sibuk dan tidak merasa bosan.

Saat membeli mainan anak, apakah mahmud/pahmud mengecek kesesuaian usia mainan tersebut?

Picture17

2/3 responden mengaku selalu hanya membelikan mainan yang sesuai dengan usia anak. 30.1% responden mengaku hanya kadang-kadang saja mengecek kesesuaian umur dari mainan tersebut.

Apakah pertimbangan2 dalam memilih mainan anak?

Picture18

Hampir semua responden (81.4%) menempatkan faktor keamanan sebagai yang utama dalam memilih mainan. Keamanan baik dari bahan material yang tidak beracun, atau tidak ada bagian tajam yang berisiko melukai anak, atau bagian yang bisa tertelan, dll.) Faktor-faktor lain adalah: apakah mainan bisa melatih kemampuan motorik (69.6%), sesuai dengan usia anak (68.6%), dan melatih kecerdasan kognitif (65.8%). Mainan yang bisa melatih imajinasi juga dipilih lebih dari separuh responden (57.8%).

Separoh responden merasa penting untuk membeli mainan yang sesuai jenis kelamin anak (ih sexist!) Merek mainan prestis (mungkin mainan cap LV, Hermes, Coach, dll gitu ya) tidak banyak dipilih (hanya 2.8%). Atau mainan yang terlalu “heri” (heboh sendiri) sehingga men-distract si anak, hanya dipilih 8.9% responden.

Beberapa jawaban open-ended:

  • sebetulnya pengen juga nyari mainan yang bisa di silent. Sumpah berisik banget, tapi gimana….
  • Kalo bisa mainannya yg bisa dimainin bareng sama kakak/adik dan mama papanya juga, kan seru main bareng :D
  • Yg lagi in, jadi anaknya ga kuper. Tapi maenannya harus disukain juga sama orang tuanya (ga suka Thomas) (Hiks….apa salah Thomas?)
  • yang juga penting, dia bisa mainin sendiri… hahaha.. biar gw bisa santai bentaarr
  • yg aktif, bukan elektronik
  • Pertimbangkan juga ruang penyimpanannya Om. Jangan sampai beli mainan tiap hari yang ukurannya segede-gede robot transformer skala 1 : 1 tapi tinggal di RSS.
  • Kondisi dompet saat itu. Baru gajian, beli di ELC/ Toys Kingdom, etc. Klo tanggal tua, cukup Pasar Gembrong ato toko maenan pinggir jalan.
  • yang terpenting MURAAHH… mainan anak muahal cuuyy
  • mainan gak harus selalu yg edukatif. kadang dia cuma mau beli mobil2an ya gue kasih mobil2an. yg penting anak have fun. children must get all the fun. edukasi ke anak hrs pelan2. gak usah napsu jejelin anak sama edukasi alademik lah, ntr anak stres dan kita jd terobsesi.
  • harga yang terjangkau. ngapain mahal-mahal minggu depan rusak dibanting juga
  • jarang beli mainan om, soalnya buanyak dapet dari mertua, sampe kadang2 gw berasa lah kok gw sebagai emaknya gak dapet kesempatan beliin maenan lah hampir semuanya ada T.T
  • terus kenapa kalau cowok main rumah boneka? (NAH! SETUJU!)
  • Pengennya sih mainan yang bisa merapihkan diri sendiri abis dimainin anak.. Capek berkali kali beresin mainan :(
  • Yang ga gampang patah, kayak hati gw
  • Harus mainan yang gak menimbulkan keterkagetan dalam lingkungan (ex. Dildo cukup buat maminya aja, kan lagi LDRan sama papi, nak ..) (wah parah nih mahmud yg satu ini….)

Adakah pengalaman lucu dengan mainan anak? (open-ended)

  • dibeliin pistol-pistolan air harga 10rb gara-gara itu sibocah gak berhenti mainan air trus sakit trus masuk rumah sakit, opname. 10rb membawa bencana!
  • Anakku itu kalo udah maunya harus diturutin banget. Kayak misalnya kemaren, minta beliin cat air buat ngecat bathub. Gakpapa sih sebenernya buat ngelatih motorik halus dan perkembangan seninya. Tapi ya jangan kancut bunda di cat juga dong, soleh….mahmud.
  • Dibeliin mobil remote saking senengnya kemana2 dibawa. Pas makan dikekep, pas tidur dikelonin, pas mandi ikut nyelup ember. Wassalam deh..
  • anak gw mainan lego ditaruh hidung. Pas ngupil, dia lupa ada lego dihidungnya. Jadilah tu lego keluar di UGD. Serba salah, lego bikin dia kreatif tapi emang harus didampingi (Buset….horor aja….)
  • ada temen beliin ‘sex toy’ telur-teluran karena hanya baca toy aja (lol) (………)
  • beli mainan pop up jack utk anak gw yg baru staun. lumayan mahal krn import. ga taunya anak gw ketakutan sama pop up badutnya :(
  • Kadang suka naro mainan di dalem tas kerja gw. Trus abis itu nelpon gw minta mainannya dibalikin. Otomatis terpaksa dah ijin pulang buat ngembaliin mainan. Padahal perjalanan dari kantor-rumah itu 1½ jam lho. BAYANGIN COBA! (Astagaaaa, ngerepotin amat ini anak….)
  • anak saya perempuan, umur 6 tahun. saya kekeuh gakmau kasi gadget dan sangat membatasi anak nonton tv. pertama kali saya memperkenalkan anak mainan tradisional (bekel dan congklak) dia amazed bgt, dan skrg dia yg memperkenalkan bekel diantara teman2nya dan tentunya paling jago. am a proud mahmud. :) (apaan sih bekel itu?)
  • Sebenernya kalo boleh jujur, gw cukup sering beliin mainan buat anak gw karena sebagai pelampiasan waktu kecil JARANG BANGET dibeliin mainan. Jadi sekarang begitu ada duit dan pas ketemu mainan yg memenuhi kriteria ‘mainan yg baik’, maka tanpa tedeng aling2 gw langsung beli tu mainan. Gk peduli padahal baru beli mainan seminggu yg lalu..
  • Sebagian besar mainan rusak karena dipretelin anak sesaat setelah dimainkan… (T___T)
  • Kenapa mainan made in china yg ada lagu2nya kok lagunya sama semua??
  • nggak perlu mainan mahal. dikasi botol air mineral kosong, sedotan, ama kantong kresek aja si anak udah happy. bahagia itu sederhana Om…
  • Mainan utk belajar bahasa (Inggris misalnya) pronunciation nya ga jelas mungkin krn made in china :p (YOU LACIST!!!)
  • Boo maenan doi yg ngerusakin knp jd gw yg di omelin itu anakkkk!!
  • Dpt mainan, hadiah ultah dari teman. Keyboard mini yang bisa mengeluarkan suara lagu, org nyanyi dan hewan. Tapi asli, suara org nyanyi nya horor banget. Dan tu keyboard ga punya tombol on/off. Plus, made in china. Jadi malem2 bisa tau bunyi sendiri. (Hiiiii…..mainan dari neraka!)
  • Wktu anak sy cowok 20bulan, mainan mobil2an kecilnya di masukkan ke lubang speaker, akibatnya tengah malam terdengar suara spt ban meledak, ternyata speakernya konslet dan kluar suara keras dan bau gosong menyengat…
  • Ya robot harga 800ribu, rusak dalam 2jam, robot harga 16ribu beli di indomaret, awet sampe berbulan bulan, piye perasaanmu Oom..
  • Pengalaman menarik tepatnya: suatu hari si kecil minta dibelikan clay/play doh, sy menolak krn sy kira dia minta krn tertarik cuman liat warnanya yg ngejreng, setelah akhirnya sy belikan, dia ternyata bisa membuat semua karakter angry bird, dgn bagus dan detil, jadi tau deh bakat lain si kecil.
  • Pernah dia minta mainan tembak-tembakan gede trus iseng gw bilang “itu mahal harganya uang mama cuma sedikit kamu pilih yang kecil aja ya” eeh dia nurut loh ga cranky lagi , terharu gak sih. Mulai saat itu kalau nyebut harga mahal dia gak jadi ambil…egois gak sih? gak kan ya? demi sepasang sepatu kulit bermerk… (mahmud egois nih…)
  • pernah beli mainan bajaj2-an yang bisa jalan sendiri sampe lebih dari 5x…rusak beli..rusak lagi beli lagi…teruusss begitu sampe berkali2 soalnya waktu itu masih favorit banget buat dia…ngga ngerti kenapa harus bajaj..mungkin gegara selama hamil dia diajak naik bajaj terus ke kantor hihihihi….
  • kadang anak lebih tertarik dengan bungkus kemasannya daripada mainannya. kotaknya dibuat gendang dan mainannya malah nggak dilirik
  • Pernah nganterin kakak ke mall buat beliin mainan anaknya.. Eeh si anak sama sekali nggak tertarik sama mainan yg ditawarin mamanya.. Dia tertariknya sama mainan set peralatan masak yang harganya aduhai.. 1,5 juta! Akhirnya pulang lah kita dengan tangan hampa.. Sampe di rumah gw mainin kotak tisu berkarakter boneka binatang yang ada di meja.. Eeeh itu si bocah nyamperin dan kesenengan sendiri.. Akhirnya sejak saat itu tiap berkunjung ke rumah kakak gw itu anaknya selalu ngajak main dan menuntut gw buat menemukan mainan baru lagi “om bikin mainan apa lagi dong” begitu selalu mintanya tiap udah bosen.. Penemuan terbaru gw? Main telpon2an pake balok kayu susun.
  • Anak gue hobi banget beli balon yg bs terbang yg diisi nitrogen itu,Om. Tiap gw ajak ke pasar pasti minta dibeliin balon. Belom lagi mang balonnya yang sengaja ngacung2in balonnya ke anak gue, makin2 lahh anak gue teriak2 ‘bayooon..bayoonn..’. Lo harus liat muka puas mang2 balonnya, Om. Ngeselin abis! Wkwkwk. Padahal tu balon harganya 20 ribuan, yg kempes dalam waktu beberapa hari doang. 20 rebu itu bisa beli ikan sekilo, atau ayam setengah kilo, atau daging sapi seperempat kilo. Sigh. Eh udah mulai lg nih debat capresnya. Udah dulu ya, Om.
  • baru dibeliin gitar-gitaran, 5 menit meleng udah diguntingin senarnya
  • Gakkk bisa matiiii suaranyaaa sampe udah di injekkk injek masih bunyii sampe horooooorrrr jadinyahhh (hahahaha)
  • Gie anakku dibelikan maenan mobil2an yang kalo jalan bunyinya masa Allah berisiknya sampe kedengeran satu cluster! Tp dia seneng banget.. Annoying bgt deh suara mobil2an itu, musiknya dangdut reggae campur house musik. Alhasil drpd ganggu ketentraman umat sekomplek terpaksa gw buang, dan anaknya tiap hari nanya mobilnya. Hik maapkan mimi ya Gie :’)

 

PROFIL RESPONDEN

Chart_Q22_140712

Responden terbanyak datang dari usia 26-35 tahun, yang memang usia mahmud. 11% dari usia 21-25 tahun, dan ada juga yang dari usia 36-40 tahun. Eh ini emang masih mahmud ya?

Picture19

Hampir 60% responden bekerja full time. 24.5% responden tidak bekerja (mahmud/pahmud rumah tangga).

 

Penutup

Demikian Laporan Survei Mahmud Pahmud Nasional. Hasilnya mungkin tidak sedramatis Quick Count pilpres, tetapi semoga memberikan pencerahan bagi pembaca, baik para mahmud/pahmud yang sudah berpengalaman, calon mahmud/pahmud, maupun teman2 yang baru saja menyadari pagi bahwa dia akan menjadi mahmud (tenaaang, tingkat akurasi test pack konon 99.99%). Tujuan dari survei ini tentunya untuk meningkatkan pemahaman mengenai menjadi mahmud, selain memperkuat tali persaudaraan antar mahmud. Karena para mahmud yang bersatu adalah kekuatan nasional melawan para imperialis asing! Merdeka!

Walaupun banyak tantangan dan suka-dukanya, secara keseluruhan tampaknya menjadi mahmud dan pahmud tampaknya adalah pengalaman yang seru dan membahagiakan. Apalagi kalo tetap ditaksir berondong! Semoga laporan Survei ini menjadi penyemangat para mahmud dan pahmud, apalagi yang baru saja keinjek potongan Lego yang sakitnya bukan main itu….

Akhir kata, gw mengucapkan terima kasih untuk SELURUH responden Survei Mahmud Pahmud Nasional atas partisipasinya. Sampai jumpa lagi di #SurveiNewsplatter lainnya yang selalu bermutu dan ngeri-ngeri sedaaap!

:D

 

 

Kabar Gembira Untuk Kita Semua (Bukan Kulit Buah)

Standard

OK, ini adalah tulisan terakhir gw sebelum pilpres 9 Juli. Janji gw gak nulis lagi soal pilpres sampai tanggal 9 Juli. Kecuali diminta Raline Shah.

Gw mau share kabar gembira untuk kita semua. Tenang, ini bukan kabar mengenai kulit buah tertentu (kalau yang itu sih sudah menjadi kabar menyebalkan….)

Sabtu malam 5 Juli 2014, saat debat capres-cawapres terakhir dilakukan, gw merasa happy dan bangga banget. Gw happy dan bangga bukan karena salah satu kubu tampil cemerlang. Gw happy dan bangga karena perjalanan demokrasi Indonesia bisa sejauh ini. Rakyat bisa melihat calon pemimpinnya menjelaskan visi-misinya secara langsung, dan bisa diklarifikasi atau dikritik oleh lawan. Bahkan di kawasan Asia Tenggara saja masih banyak negara yang tidak memiliki proses demokrasi setransparan Indonesia.

Debat pilpres terbuka seperti Sabtu malam hanya bisa benar-benar dirasakan hebatnya bagi mereka yang pernah hidup di jaman Orde Baru (iyeee, gw udah cukup tua!) Di jaman orde baru, tidak ada debat terbuka. Presiden tidak boleh dipilih langsung oleh rakyat, tapi dipilihkan oleh “wakil rakyat”. “Pemenang” pemilu sudah bisa diprediksi. Mengkritik lawan politik bisa berakibat kamu ditangkap dan hilang.

(sumber: Tempo.co)

(sumber: Tempo.co)

Tetapi sekarang, jutaan rakyat Indonesia bisa menyaksikan sendiri calon pemimpinnya berbicara, berdebat, mengadu visi, secara beradab tanpa menggunakan golok dan celurit. Sekarang, rakyat Indonesia tidak beli kucing dalam karung. Atau minimal, karungnya mulai lebih transparan. (Karung berbahan apa ya bisa transparan? Karung lingerie?)

Itulah kabar gembira pertama: Pesta demokrasi di Indonesia sudah melangkah jauh.

Kemudian Sabtu siang gw melihat Konser Salam 2 Jari di GBK untuk mendukung Jokowi, dan gw terharu. Walaupun hanya menonton liputan dari televisi, gw terpana melihat begitu banyak artis yang berpartisipasi (dan konon tidak dibayar), dan pengunjung yang datang. Gw bangga, karena kalangan artis yang sering identik dengan dunia gemerlap dan gosip gak penting ternyata bisa beramai-ramai ikut memeriahkan pemilihan presiden. Selain artis yang tampil langsung di acara tersebut, masih banyak artis lain yang dengan terbuka menyatakan pilihannya melalui akun Twitter atau Instagram.

(sumber: merdeka.com)

(sumber: merdeka.com)

Gw bangga, banyak anak muda yang mau hadir di acara konser tersebut. Okelah, pasti ada aja yang bilang: “YA EYALAH, penuh artis keren dan GRATIS, gimana pada gak dateng?” Tapi harus diingat ini adalah bulan puasa, dan Jakarta lagi panas2nya jek, jadi tetap saja it counts for something. Buat gw sih.

Pilpres untuk WNI yang ada di luar negeri yang telah berjalan duluan juga ternyata mengejutkan, karena banyak sekali yang datang hendak berpartisipasi. Bahkan teman istri yang tinggal di kota kecil di Perancis harus melakukan perjalanan selama 2 jam untuk bisa memilih di KBRI di Paris.

 

(sumber: antara)

(sumber: antara)

Itulah kabar gembira kedua: di pilpres 2014, ada kegairahan baru yang menerpa berbagai lapisan masyarakat. Bahkan mereka yang selama ini dianggap tidak perduli, cuek, dan apatis pada proses politik Indonesia. Dari artis, anak muda, mereka yang sedang di luar negeri – banyak dari mereka menunjukkan semangat berpartisipasi dalam pilpres tahun ini.

Dengan kedua kabar gembira di atas, sudah cukup untuk gw merasa bangga menjadi orang Indonesia. Gw sangat yakin, jika Indonesia bisa mempertahankan iklim demokrasi yang sehat seperti ini, ditambah dengan kebhinnekaan rakyat kita, dan korupsi bisa diberantas, maka negeri ini akan jadi powerful banget. Kita adalah bangsa yang masih muda (konon 60 persen di bawah 40 tahun), dan kombinasi energi muda dan kekayaan ide dari kebhinnekaan kita adalah berkah.

Tetapi….

Sebagai seseorang yang naturally pesimis (beneran gw aslinya pesimis banget, tanya aja yang kenal lama sama gw), selain kabar gembira di atas, gw juga melihat kabar sedih bagi bangsa kita (selain kabar merajalelanya ekstrak kulit manggis….)

Yang pertama, pilpres tahun ini akan berjalan penuh kecurigaan. Belum pernah gw merasakan pilpres yang dipenuhi peringatan untuk mengawasi kecurangan, himbauan untuk mengawasi perhitungan suara di TPS, mencegah “serangan fajar” di luar kamar suami-istri, sampai ajakan membuka surat suara segera sesudah diterima untuk memastikan keutuhannya.

(sumber: Twitter)

(sumber: Twitter)

Ada apa ini?

Tidakkah dalam iklim demokrasi yang sehat, seharusnya kita tidak perlu memilih dalam iklim paranoia seperti ini? Tidakkah seharusnya kita bisa melangkah ke bilik dengan santai, menjatuhkan pilihan, dan pulang ke rumah tanpa berprasangka? Mengapa ada krisis kepercayaan, trust, bahwa pemilihan presiden ini bisa dibiarkan berjalan sendiri dengan fair tanpa harus dipelototi rakyat sipil dari subuh?

Inilah kabar duka bagi gw: kenyataan bahwa kita sulit mempercayai pelaksanaan pilpres akan berjalan aman dan fair dengan sendirinya. Bahwa kita mengira masih ada “hantu-hantu” yang akan serius mencurangi pilpres ini, dan akhirnya kita dihantui oleh kecurigaan.

Di mana ada ketidakpercayaan (lack of trust), di situ ada masalah riil. Dan ini menyedihkan.

Kabar duka berikutnya:

Belum pernah juga gw menjalani pilpres dengan kampanye hitam sedahsyat ini.

[Catatan singkat bagi yang tidak tahu bedanya "kampanye negatif" yang normal dalam demokrasi, dan "kampanye hitam". Sederhananya, kampanye negatif berdasarkan fakta yang digunakan pesaing untuk menyerang kita. Tetapi kampanye hitam menggunakan fitnah dan kebohongan)

Contoh kampanye negatif:

- Prabowo diberhentikan dari karir militernya

- Jokowi tidak fasih berbicara di depan umum

Contoh kampanye hitam:

- Ngomongin Prabowo nanti elu "hilang" (emangnya "Prabowo" itu mantra invisible Harry Potter apa?)

- Jokowi keturunan Cina (kalo doi keturunan Cina, gw mengklaim sebagai keturunan langsung Julius Caesar)

Kampanye negatif wajar digunakan dalam persaingan politik. Kita menggunakan fakta negatif tentang pesaing untuk mengurangi elektabilitasnya. Tetapi kampanye hitam adalah tidak etis dan sangat keji]

Sudah bukan rahasia lagi bahwa salah satu kubu digempur kampanye hitam yang luar biasa absurdnya, yang sebenarnya terasa konyol seandainya saja tidak begitu banyak orang yang terpengaruh beneran. Disebut keturunan etnis lain, beragama lain, berafiliasi dengan ideologi komunis, antek asing, boneka, dan tuduhan absurd lain yang semuanya bersifat tuduhan tanpa fakta. Kampanye hitam diluncurkan melalui berbagai saluran: dari konvensional, digital, sampai on ground seperti tabloid gak jelas.

Mengapa hal ini bisa menjadi kabar yang sangat menyedihkan, tidak hanya saat pilpres, tetapi bertahun-tahun ke depan?

Bayangkan situasi ketika kampanye hitam ternyata sukses menghancurkan sasaran, dan si korban kampanye hitam akhirnya berhasil dijegal. Apa yang bisa terjadi ke depan?

Para partisipan politik akan melihat kampanye hitam sebagai opsi yang sah dan efektif dalam perebutan kekuasaan.

Jika kampanye hitam dianggap berhasil, betapa gembiranya para pelakunya, karena mereka mendapatkan case study (studi kasus) yang bisa digunakan untuk mempromosikan cara kerja dan “ahensi hitam” mereka.

Bayangkan jika kampanye hitam menang di pilpres ini, dan beberapa tahun lagi dijalankan pemilihan kepala daerah (entah itu gubernur, walikota, bupati, dan lain-lain). Setiap kandidat akan didekati para “ahensi hitam” dengan tawaran kira-kira seperti ini:

“Sob, mau jadi gubernur? Ngapain susah2 bikin program, visi, dan misi. Kita hancurin aja lawan elu pake kampanye hitam. Lah, calon presiden aja sukses kita ancurin kemaren, apalagi cuma lawan elu. Udeeeh, pake jasa kite aje. Kita sediain paket hemat lhaaaa. Mau paket pake ‘kentang goreng’ aja atau mau komplit pake ‘es duren’?”

Kalau kampanye hitam menang di pilpres ini, gak terbayang mimpi buruk di atas bisa kejadian dalam pilkada2 berikutnya.

Dan kabar gembira pertama di atas tadi akan segera tinggal kenangan.

 

Ini adalah tulisan terakhir gw sebelum pilpres 9 Juli (sekali lagi, kecuali di-request Raline Shah). Dan gw sudah membagikan kabar gembira untuk kita semua. Dan juga kabar duka, untuk kita semua. Sebagai penutup, gw hanya punya satu permintaan kecil bagi pembaca:

Saat kamu mencoblos pilihanmu di bilik suara, ucapkanlah sebuah doa pendek. “Tuhan, lindungilah Indonesia”. Apapun agama dan kepercayaanmu.

 

Selamat memilih,

Selamat mencintai Indonesia,

selamanya.

 

Baca juga:

“Marketing Jokowi Payah!”

“We Get The Leader We Deserve”

 

“We Get The Leader We Deserve”

Standard

Dulu gw pernah baca sebuah quote:

“In a democracy, people get the leader they deserve”

(terj.: dalam sebuah demokrasi, rakyat mendapatkan pemimpin yang memang layak bagi mereka). Karena dalam negara demokrasi, pemimpin dipilih oleh rakyat (dengan asumsi pemilu bersih dan fair). Mungkin kalo bisa gw rephrase, quote tadi bisa dibaca:

“In a democracy, the elected leader reflects the people”

Jadi kalo pemimpin katro yang terpilih, ya memang rakyatnya pantesnya dapet yang seperti itu. Kalo yang terpilih adalah pemimpin cerdas dan bijak, itulah cerminan rakyat pemilihnya. Kalo yang terpilih culas dan buas, itu juga cerminan rakyat pemilihnya.

Gw inget waktu George W. Bush terpilih untuk kedua kalinya menjadi presiden AS (secara tipis), banyak yang kecewa (mengingat periode W. Bush sebelumnya yang dianggap mengecewakan, sampai menginvasi Irak). Dan banyak orang yang komentarnya sama: “Kok bisa bego banget sih orang Amerika?” Bahkan media Inggris Daily Mirror membuat cover “How can 59 million people be so dumb?”

Daily_Mirror

Walaupun saat pertama kali membaca quote “people get the leader they deserve” gw sudah mengerti maksudnya (hey Inggris gw gak bego2 amat. Little-little I can), tetapi belum pernah gw rasakan relevansinya bagi gw sampai pemilihan presiden tahun ini.

Di pilpres ini, kita hanya memiliki dua pilihan. Masing2 memiliki perbedaan yang begitu nyata. Berbeda dalam latar-belakang, gaya berbicara, sampai narasi yang dibawakan.

Di no.1, kita memiliki Prabowo-Hatta. Prabowo tidak disangkal selalu tampil mempesona di publik. Berbicara dengan gagah, naik kuda yang gagah, dengan isi pidato yang berapi2 cetar membahana. Beliau memiliki karir militer di era Orde Baru, dan tidak tanggung2, pernah memimpin pasukan elit. Beliau pernah tersangkut kasus penculikan mahasiswa di Mei 1998 yang sayangnya tidak pernah betul2 clear sampai sekarang (fakta yang ada hanyalah bahwa dia diberhentikan dari dinas oleh mantan presiden Habibie). Bagi gw, Mei 1998 tidak pernah bisa dilupakan dan dimaafkan. Karena gw pernah mengalami ketakutan dianiaya dan dibunuh aparat di negeri sendiri.

Prabowo membawakan narasi yang konsisten. Indonesia dalam ancaman (asing?) sehingga perlu “diselamatkan”. Tentunya beliaulah penyelamat tersebut. Beliau juga mengusung tema2 ultranasionalis yang membakar semangat, seperti “Indonesia bangkit”, dan “Indonesia jadi macan Asia” (walaupun jujur gw gak kagum sama macan karena hampir punah diburu manusia. Kucing justru spesies yang lebih cerdas, karena bisa menundukkan manusia. Tapi ini bahasan melenceng….)

Di bawah kepemimpinan beliau, Indonesia dijanjikan akan menjadi negeri yang ditakuti dan disegani. Dalam debat beliau meyakinkan kalau kebocoran Rp 1000 T bisa diatasi, kita akan punya banyak uang untuk menjadi negara besar. (Dan sayangnya belakangan Hatta Rajasa mengkoreksi bahwa 1000 T itu baru “potensi” kebocoran. Lah, jadi nanti dapet uangnya dari mana donk…)

Sampai di sini, jujur gw pribadi senang dengan janji2 kebesaran Indonesia. Walaupun dalam beberapa hal mengingatkan gw kepada naiknya Hitler di Jerman tahun 1930-an (Hitler juga menyalahkan asing dan etnis Yahudi untuk keterpurukan Jerman pasca PD I. Beliau juga memikat rakyat dengan janji kejayaan Jerman sebagai “Kerajaan Ketiga”/The Third Reich), tetapi sebagai orang Indonesia gw pun pengen negeri ini jadi keren. Banyak dari kita yang kecewa dengan kepemimpinan SBY yang dianggap tidak tegas dan lemah, sehingga hadirnya Prabowo bagaikan “kontras” yang sangat mempesona.

Sayangnya, ada beberapa hal yang bikin gw akhirnya ilfil. Ada banyak hal yang bisa gw sebutkan, tetapi gw memilih dua saja yang terutama bagi gw. Yang pertama, adalah pihak2 yang bergabung di belakang beliau, dari partai2 geje, sampai ormas2 yang memiliki reputasi intoleransi dan tindakan anarkistis yang tidak ramah sama sekali. Kedua, saat Prabowo menjanjikan status pahlawan nasional bagi Soeharto (link di sini). Gw pernah merasakan hidup di Orde Baru dan gw ingat ketakutan untuk berbeda pendapat, karena risikonya adalah diciduk, disiksa, dan “hilang”. Memberikan status pahlawan nasional bagi Soeharto artinya sama dengan membenarkan segala ketakutan di masa itu (yang sayangnya tidak dirasakan oleh first time voter sekarang).

Dua alasan di atas sudah cukup bagi gw untuk memutuskan mengecek apa yang ditawarkan oleh nomor 2.

Bagaimana dengan nomor 2 (Jokowi-Jusuf Kalla)?

Sosok Jokowi benar2 berbeda 180 derajat. Lahir dari keluarga sipil biasa, beliau tidak punya karir politik dari awal. Beliau adalah seorang pengusaha mebel yang belakangan menjadi walikota Solo, terpilih untuk kedua-kalinya, dan kemudian dipercaya menjadi Gubernur Jakarta. Sedari dulu pembawaan beliau kalem, tidak berapi-api, yang mungkin membuat banyak orang tidak sabaran. Jokowi bukanlah Raja Leonidas yang bisa berteriak “THIS. IS. SPARTAAAAA…..!!!” Bahkan gw menangkap kesan sebenarnya beliau tidak suka public speaking. Sampai di sini, beliau memang bukan seorang pemmpin yang “keren” untuk dipamerkan cara pidatonya.

Tetapi ada beberapa fakta yang tidak boleh dilupakan. Pertama, beliau benar2 berpengalaman dalam pemerintahan sipil, tidak nol sama sekali. Bahwa beliau terpilih di Solo dua kali juga indikator yang penting. Kemudian dalam waktu yang relatif singkat mengurus Jakarta, sudah banyak prestasi nyata yang bisa dilihat (bisa dilihat di sini). Ada pengalaman nyata di dalam pemerintahan sipil (bukan militer), dan ini saja sebenarnya sudah merupakan faktor kuat tunggal bagi gw. Masak mempercayakan negara 240 juta jiwa kepada pihak yang tidak berpengalaman sama sekali?

Kalau harus memilih fakta kedua yang penting, adalah bahwa beliau bukan bagian dari Orde Baru. Bagi gw, kalau mau benar2 hendak move on dari lembaran kelam Orde Baru yang represif, maka pemimpinnya pun harus datang dari masa depan, bukan dari masa lalu. Apakah beliau adalah juru selamat yang sempurna? Tentu tidak! Dan bego aja kalo ada yang mendewakan beliau seperti itu. Tetapi minimal, beliau mewakili generasi masa depan, dan bukan bagian dari sejarah dulu. Apalagi sejarah yang menakutkan dan berdarah.

Faktor pendukung lain adalah koalisi beliau yang relatif “sepi”, dan minimal bebas dari ormas2 gak jelas yang menakutkan. Pelajaran dari koalisi SBY adalah betapa menyebalkannya posisi2 menteri yang terkesan “bagi jatah” bagi para partai pendukung. Harapan gw, koalisi ramping memberikan ruang bagi Jokowi (jika terpilih) untuk membentuk kabinet yang terdiri dari orang2 yang memang kompeten di bidangnya.

Faktor terakhir bagi gw yang penting adalah narasi yang dibawakan. Jika Prabowo terkesan hendak memperkuat “negara”/state (agar disegani, ditakuti tetangga kalo perlu sampe terkencing2), bagi gw Jokowi memberi pesan untuk memperkuat “rakyat”/people. Dan ini yang menarik gw, karena mencerminkan pola pikir masa depan. Negara kuat, ditakuti tetangga, rasanya adalah mashab era Perang Dunia abad 20. Tetapi rakyat yang punya daya saing, cerdas, hidup dalam rasa aman dalam iklim kebhinnekaan – hal2 ini justru konsep bersaing di masa depan, apalagi ketika Sumber Daya Alam makin berkurang atau makin lemah relevansinya di dalam ekonomi industri dan kreatif.

 

Kalau gw ringkaskan narasi kedua capres ini: Prabowo menjanjikan negara yang kuat, melawan ancaman asing, dan banyak duit (dari kebocoran yang masih potensi). Jokowi menjanjikan rakyat yang dikuatkan, melalui pendidikan, kesejahteraan, dan rasa aman.

 

9 Juli 2014, Indonesia akan memilih pemimpin baru. Siapapun yang akan terpilih, tidak ada yang pilihan yang “benar” atau “salah”.

Karena bangsa ini akan mendapatkan pemimpin yang memang layak didapatkan oleh kita.

In a democracy, the people get the leader they deserve, atau

In a democracy, the elected leader reflects the people

 

Jadi, pemimpin seperti apa yang memang layak kita dapatkan? Bangsa Indonesia seperti apakah yang akan dicerminkan presiden RI berikutnya?

 

Selamat memilih!

:)

 

“Marketingnya Jokowi Payah!”

Standard

Sebagai pelaku dunia advertising, namanya iklan dan kampanye merek apa aja pasti dlilihatin dan dibahas. Bahkan iklan Mastin sekalipun, walaupun akibatnya jingle sialan itu nempel di kepala (“KABAR GEMBIRA UNTUK KITA SEMUA…KULIT MANGGIS, KINI ADA EKSTRAKNYAAAA….” Aaaaaaaargghhh!!!) Kampanye capres pun tidak luput dari perhatian gw. Dan salah satu yang bikin gemes adalah kampanye capres Jokowi-JK. Kenapa?

Karena menurut gw kampanye Jokowi-JK BERANTAKAN BANGET.

Gw melihat bentuk kampanye Jokowi, entah itu di TV atau media sosial, seperti gak berpola. Hestek aja macem2, gak ada satu yang dominan. Ada #JokowiAdalahKita, ada #SalamDuaJari, #RevolusiMental, #JKW4P, #JokowiDay, dll, dll. Heran, hestek aja gak bisa seragam, harus macem2. Begitu juga dengan organisasi relawan, gak karu2an rasanya. Ada Kawan Jokowi, ada JANGKAR, ada Generasi Optimis, Bara JP, dll, dll.

Website pun acakadul. Ada jokowicenter.com, ada gerakcepat.com, ada faktajokowi.com, dan masih banyak lagi. Dan sampai sekarang gw gak tahu yang mana akun Twitter resmi Jokowi-JK yang harus diikuti, karena ada beberapa.

Kemudian urusan grafis. Heran, masalah grafis yang digunakan aja gak ada kesepakatan. Bentuknya macem2. Contohnya:

(ngeselin kan? Gak kompak, pada beda2 sendiri)

Kemudian urusan video YouTube aja. Berasa gak ada pola yang sama. Setiap video dukungan terasa beda-beda pesan dan stylenya, seenak udel yang bikin. Contohnya:

Kenapa sih gw emosi? Karena bagi praktisi komunikasi iklan, brand campaign seperti gw, gak ada yang lebih menakutkan daripada sebuah campaign yang tidak sinkron, tidak kompak, style yang berbeda-beda satu dengan yang lain, slogan yang beragam. Mengapa hal ini umumnya dibenci oleh praktisi iklan dan pemasaran? Karena ada dua hal:

  1. Efektivitas pesan. Sebuah merek yang dalam satu periode tertentu berbicara hal yang berbeda-beda, maka ditakutkan audiens yang ditargetkan akan menjadi bingung. Sebenarnya pesan utamanya apa sih dari merek ini? Kami praktisi iklan biasanya menganjurkan kepada client agar punya pesan yang konsisten dan terintegrasi (bahasa kerennya IMC: Integrated Marketing Communication). Maksudnya, silahkan berkomunikasi dengan berbagai saluran (iklan TV, cetak, radio, billboard, digital, event, dll.), tapi mbok ya pesannya rapih dan sebisa mungkin cukup satu pesan, satu slogan. Agar kemanapun target audiens menoleh, dia melihat pesan yang sama dan konsisten, jadi lebih “nempel” di benak pikiran. Selain pesan, gaya berkomunikasi juga dianjurkan untuk sama. Jangan sampe ada yang alay, ada yang hipster, ada yang dangdut pantura, semua campur aduk jadi satu. Jelek tuh buat brand-nya, kalau kata praktisi komunikasi pemasaran.
  2. Efisiensi biaya. Kampanye iklan bukan hal yang murah. Membeli slot iklan TV itu mahal sekali, apalagi di acara populer seperti YKS, Dahsyat, dll. Apalagi ditambah memasang iklan di koran, di website, dll. Pesan yang berbeda-beda dengan gaya yang beragam membuat kemungkinan audiens menangkapnya menjadi berkurang, sehingga efisiensi biaya dipertanyakan. Karena itu dalam komunikasi pemasaran ditekankan kampanye yang rapi, sinkron, dan terintegrasi agar budget yang dikeluarkan client bisa optimal.

Karena itulah gw gemetz, gemetz, gemetz ngeliat betapa berantakannya komunikasi kampanye Jokowi. Tampak jelas tidak ada koordinasi dan komando yang jelas, sehingga hestek, slogan, tema, dan judul berkembang majemuk tergantung siapa yang membuatnya. Nah, kebetulan dalam dua kesempatan gw berinteraksi dengan pihak-pihak yang terlibat langsung dengan tim kampanye Jokowi-JK, dan gw selalu mengeluhkan hal yang sama:

“Gaes, kenapa sih komunikasi Jokowi gak kompak gitu? Hestek aja gak bisa disatuin, gimana sih? Gak ada koordinasi yang rapi ya di antara kalian”

Dan anehnya, dua kali juga gw mendapat jawaban yang sama:

“Gak pa-pa mas, karena itu inisiatif sukarela pendukung. Kita biarkan mereka berekspresi sendiri2…”

Jujur awalnya gw gak puas banget denger jawaban itu. Sebagai praktisi iklan yang sudah mengerjakan berbagai kampanye brand belasan tahun, rasanya gemas melihat pelanggaran “prinsip-prinsip dasar komunikasi pemasaran” di depan mata. Sebagai simpatisan Jokowi-JK, tentunya tanpa sadar default setting gw adalah berharap “brand” Jokowi-JK bisa dikomunikasikan seefektif dan seefisien mungkin, layaknya brand-brand komersial umumnya. Gak apa-apa sih sukarela pendukung, tapi mbok ya dikomando dengan rapih. Pengennya, hanya ada SATU website untuk seluruh kegiatan kampanye mereka. Cukup satu saja hestek yang digunakan, satu design grafis, satu slogan, dan satu akun Twitter untuk kampanye. Kan enak dilihatnya? Kompak, konsisten, terintegrasi!

Tetapi setelah gw renungkan kemarin (dibantu dengan mencret2 karena keracunan makanan), gw mendapat pencerahan lain.

Komunikasi kampanye Jokowi-JK terkesan “berantakan”, karena diciptakan tulus oleh masyarakat pendukungnya yang juga plural, tanpa komando.

Apa yang dianggap oleh teori text-book komunikasi pemasaran sebagai kesalahan yang harus dihindari, justru menunjukkan sejatinya “brand” Jokowi. Yaitu “brand” yang dilahirkan bersama, dari rahim ide kita semua yang majemuk ini. Mereka yang rapper, mereka yang penulis, mereka yang pembuat film, mereka yang blogger, mereka yang mahasiswa, mereka yang politisi, mereka yang ibu rumah tangga, mereka yang petani, dan sejuta macam “mereka”. Gabungan jutaan “mereka” yang menjadi “KITA” inilah yang menyumbangkan mosaik sosok Jokowi. Dan itulah mengapa sosok Jokowi memiliki komunikasi beragam, “berantakan”, “tidak kompak”, karena dia menjadi milik kita bersama yang beragam juga. “Brand” Jokowi bukan merek yang didesign, di-engineer, dikonstruksi di sebuah kantor mewah perusahaan pemasaran. “Brand” Jokowi lahir dari kita yang Bhinneka.

Secara ilmu marketing, kampanye Jokowi bisa dibilang payah. Tetapi ini mungkin mencerminkan sosok beliau yang memang bukan seorang “marketer” ulung seperti Hermawan Kartajaya. Dia bukan pemasar mimpi, pengobral retorika. Tetapi dia adalah pelaku mimpi itu sendiri. Jokowi memang tidak pandai marketing, karena mungkin dia lebih memilih bekerja nyata daripada berjualan.

Selamat ulang tahun pak Jokowi. Marketing bapak memang payah! Tetapi justru dari situ saya melihat bahwa “brand” bapak memang milik kita. Bukan milik sekelompok elit yang pintar mendesain iklan, tetapi milik jutaan rakyat Indonesia, dengan beragam warna dan mimpinya, dengan segala ragam talentanya, dengan segala ke-Bhinneka-annya.

Tuhan memberkati bapak.

:)

#Hoverfinger, Si Telunjuk Galau #ad

Standard

Jujur, sampe sekarang gw jaraaang banget belanja online. Kecuali untuk transaksi Play Store di Android dan iTunes, praktis gw gak pernah beli barang di website.

Penyebabnya sebenarnya gampang: gw beneran masih takut untuk melakukan transaksi online, baik itu dengan transfer cash maupun (apalagi!) kartu kredit. Kalo Play Store dan iTunes lumayan pede mungkin karena jaminan nama besar Google dan Apple ya, selain itu gw lumayan sudah bertransaksi lama dengan mereka tanpa masalah. Lah, kalo urusannya dengan BisaGedeinDanManjangin.com, mana berani gw ngasih nomor kartu kredit?

Padahal jujur, banyak barang yang sebenarnya gw gak perlu ngecek fisik, dan cukup ngeliat gambar dan deskripsinya di website. Menurut gw barang2 kayak buku, barang2 elektronik yang “simple” (misalnya power bank) dan barang2 lain yang “pabrikan” dan gak perlu diinspeksi langsung/dicoba (misalnya celana. Karena perut gw moody banget, bisa berubah ukuran 3x sehari…) Apalagi tinggal di Jakarta, di mana jalanan ngehek nan macet ini buang2 waktu aja, apalagi untuk urusan beli barang. Online shopping ya sebenarnya paling logis.

Tapi ya itu, gak tau karena faktor umur (ehem!), atau jenis kepribadian yang berhati2 (kan gw Leo. Halah), gw lumayan ragu2 online shopping. Sebenarnya aneh karena gw sudah gak keberatan melakukan online banking, entah itu transfer atau bayar rekening telepon. Tapi ya itu, mungkin karena berurusan dengan “bank” kan jelas ya pihaknya. Kalo macem2 bisa telpon Customer Service atau ngamuk di socmed, biasanya ditanggepin :D. Tapi kalo urusannya dengan situs gak jelas kayak MasukJombloKeluarDinikahkan.com sedikit deg2an. Apalagi udah beberapa kali denger kasus orang beli barang di ol shop ternyata barang gak pernah dikirim, duit tidak direfund, dan status masih jomblo. Malesin banget….

Akhir2 ini di socmed lagi ada kempeyn #hoverfinger. Rupanya orang2 kayak gw yang masih chicken beli barang online dibilang menderita penyakit “hoverfinger”, jadi jarinya galau gak berani ngeclick “beli” karena takut gak percaya traksaksinya aman. Sialan emang dijadiin “jenis penyakit”, tapi emang bener sih, gw masih belom sembuh. Ada tes onlinenya segala untuk tahu kamu menderita penyakit itu ato nggak di website http://id.curehoverfinger.com/

Sebenernya kalo gw bisa diyakinin belanja online itu aman, pengen banget bisa lebih sering. Soalnya beneran mengunjungi toko fisik di kota macet kayak Jakarta ini udah gak manusiawi. Padahal kadang2 gw sering nunggu macet di kantor, kalo bisa sambil belanja online beli kapal selam atau helicopter tempur kayaknya asik. Selain itu, ada seninya juga membeli barang ol. Pas nunggunya itu lho, deg deg seerrrr, kayak nunggu jodoh. Pas barang akhirnya tiba, rasanya seneng banget! :D Tapi ya itu, kayaknya gw masih belom teryakinkan akan keamanannya.

Ada yang sama takutnya kayak gw? :)

Review Awam Samsung Galaxy Grand 2

Standard

Di dalam perang smartphone, berita umumnya didominasi oleh model2 flagship, seperti iPhone 5S, Samsung Galaxy S5, Sony Xperia Z. Tetapi seperti kita, model flagship juga merupakan model ter-MAHAL dari sebuah merek. Di model tersebut spec tertinggi dibenamkan, fitur-fitur inovasi terakhir diperkenalkan, dan design tercantik digunakan. Masalahnya ya itu, harga termahalnya otomatis membuatnya tidak bisa dimiliki banyak orang dengan budget yang terbatas.

Di bawah model flagship, justru terdapat kategori mid-range yang dibeli lebih banyak orang, tetapi biasanya tidak mendapat banyak liputan karena bukan yang TER-sexy, atau yang TER-canggih. Kali ini justru gw pengen mereview (secara awam), salah satu model mid-range tersebut, yaitu Samsung Galaxy Grand 2. Karena menurut gw, model ini layak dikenal banyak orang mengingat faktor value for money yang bagus.

Jadi alkisah, akhirnya gw harus membeli smartphone dengan uang sendiri, setelah sebelumnya menggunakan model flagship tapi gratisan (uhuk, kode nih buat donor…) Awalnya gw semangat mau membeli Galaxy S5, terus pas liat harganya mulai ciut.Bahkan dengan cicilan 12 bulan pun, gw pribadi merasa gak rela membayar segitunya untuk sebuah smartphone.

Terus gw juga consider Galaxy Note 3 Neo, karena versi “lite” dari Note 3 (dan lebih murah). Liat harganya, hmm, oke, mikir2 dulu. Dan kemudian “turun lagi”, gw menemukan si Galaxy Grand 2, “sekuel” dari Galaxy Grand yang cukup populer. Harganya yang mid-range, (Rp 3.99 juta di akhir April 2014) cukup menarik (kurang dari separuhnya S5), dan setelah melihat spec-nya, hmmm kayaknya lumayan banget untuk harganya. Jadilah gw “menikahi” Grand 2 untuk saat ini.

Setelah 2 minggu pemakaian, berikut adalah review awam gw. Sama seperti review2 awam gw sebelumnya, ini murni review sebagai konsumen biasa, jadi tidak akan mendetail dan teknis. Sekali lagi, ingatlah bahwa Grand 2 adalah model mid-range dengan harga kurang dari separuh model2 flagship. Ini penting sebagai konteks.

Spesifikasi dasar

Grand 2 mendapat prosesor Qualcomm Snapdragon Quad Core 1.2 GHz. Denger2, prosesor Snapdragon lebih disukai mereka yang geek banget (dibandingkan Exynos, misalnya). Kalo bener, artinya “otak”nya Grand 2 ini lumayan banget.

RAM 1.5 GB, yang juga lumayan, mengingat S5 masih menggunakan RAM 2GB, sehingga tidak teralu jauh.

Display 5.25 inch. Cukup besar mengingat tradisi Galaxy Grand memang harus layar agak besar. Sebenarnya ukuran segini jadinya sudah tidak besar lagi di antara model-model flagship. Sebagai perbandingan, S5 saja sudah 5.1 inch, Xperia Z2 sudah 5.2 inch. (Hanya iPhone 5S yang aja yang masih basi dengan layar 4.2 inch….)

Resolusi. Nah, di sini baru terlihat feel mid-rangenya. Grand 2 “hanya” memiliki resolusi 720 x 1280, dengan kepadatan pixel 280 ppi (pixel per inch). Bandingkan dengan flagship seperti S5 atau Z2 dengan 1080 x 1920 (dengan kerapatan 440 ppi dan 424 ppi). Grand juga menggunakan layar TFT, sementar S5 Super AMOLEH. Dengan harga separuh model2 tersebut, ya jangan ngarep resolusi sama dong. Tetapi percayalah bahwa 280 ppi milik Grand 2 sudah sangat tajam dengan warna yang sudah mumpuni (16 juta warna) . Gw saranin lihat sendiri di display toko.

Internal storage: 8 GB, versus S5 yang 16 GB. Bagi mereka yang tidak banyak menginstall game2 “berat”, sebenarnya 8 GB sudah cukup. Untuk urusan menyimpan film, foto, jangan khawatir, karena tersedia MicroSD slot untuk ekspansi sampai 64 GB.

Dual SIM Card. Grand 2 menyediakan 2 slot SIM Card. Gw sendiri belum pernah menggunakan fitur 2 nomor di satu handset, dan awalnya gw gak ngerti apa gunanya (selain kalo elu pacarnya dua). Tetapi gw membaca bahwa keuntungan dual SIM Card adalah saat traveling ke luar negeri, karena praktis kita bisa membeli nomor negara tujuan tanpa harus mencopot nomor rumah. Masuk akal juga sih.

Penampilan.

Oke, setelah spesifikasi dasar, kita mulai dari tampang.

Galaxy Grand 2 ya tampangnya…Samsung banget. Dengan body plastik dan design yang sangat khas Samsung, tidak ada hal yang benar2 baru secara design.

IMG_1154

Cover belakang Grand 2 sudah menggunakan motif “mirip kulit” yang pertama kali digunakan di Note 3. Secara fungsi, motif ini lumayan membuat Grand 2 tidak terlalu licin di genggaman.

Motif "mirip kulit", lengkap dengan efek "jahitan" di tepi

Motif “mirip kulit”, lengkap dengan efek “jahitan” di tepi

Sebagai catatan, cover belakang Grand 2 bisa dilepas, dengan baterai yang bisa diganti. Mungkin hal ini penting bagi beberapa orang.

Lumayan tipis (8.9 mm), dengan bezel chrome

Lumayan tipis (8.9 mm), dengan bezel chrome

Grand 2 masih terasa nyaman digenggam satu tangan, walaupun untuk pengoperasian rasanya lebih nyaman dengan dua tangan. Grand2 menyediakan one-hand operation mode, di mana keyboard diperkecil dan diletakkan di pinggir kiri/kanan, tapi gw sendiri tidak tertarik mencoba.

Display 5.2 inch itu sebenarnya terlalu besar, pas, atau malah terlalu kecil? Ini bener2 subyektif jawabannya. Gw pribadi menetapkan zona ideal sebagai antara 4.7 – 5 inch. Sebenarnya pertimbangannya lebih ke nyaman dimasukkan ke kantong celana, karena (kebanyakan) cowok menaruh hape di saku celana (tidak seperti wanita yang ditaruh di tas). Kalau layar besar, body besar, maka tambah susahlah si hape masuk ke dalam celana pria, terutama karena bersaing rebutan tempat dengan “si anu” (KUNCI MOBIL/MOTOR/RUMAH MAKSUDNYA WOY!).

Tetapi di luar isu di atas, layar 5,2 inch yang enak lah. Browsing besar, liat foto di Path jadi tambah gede, liat-liat foto jadi nyaman, dan otomatis keyboard virtual jadi tambah besar untuk mereka yang jempolnya agak bongsor mutan begitu.

IMG_1157

Jadi gimana kesimpulan soal design? Gw adalah orang yang tidak terlalu memperhatikan design, jadi menurut gw Grand 2 ya baik2 saja. Grand 2 bertampang “sangat Samsung”, dan apakah ini bagus atau tidak menjadi selera pribadi. Banyak orang yang mengeluhkan “bodi plastik” Samsung, tetapi gw pribadi tidak pernah merasa ini masalah besar. Jadi ini terpulang ke selera masing2. Gw kebetulan kurang perduli dengan body luar, lah gw pake baju aja masih sering gak matching :D.

Performa

Kalau gw gak perduli body dan design, sebaliknya gw sangat perduli dengan performa. Awalnya gw was-was, apakah produk mid-range bisa memiliki kinerja yang baik, dan ternyata gw puas banget.

Masih menggunakan OS Android Jelly Bean, Grand 2 terasa SANGAT smooth dalam pengoperasian, tidak terasa lagging sama sekali. Prosesor quad-core, dengan RAM yang lumayan tampaknya membuahkan hasil. Menjalankan aplikasi2 populer seperti Facebook, Twitter, Path, WhatsApp, BBM, Line, Google Map, Gmail, dll, terasa mulus..lus…lus. Grand 2 terasa responsif, bahkan saat membuka banyak aplikasi sekaligus Dalam hal performa gw SANGAT puas, mengingat harganya yang bersahabat.

Multi-screen

Grand 2 diberikan kemampuan fitur multi-screen yang pertama kali diperkenalkan Samsung di Galaxy Note 2. Bagi yang belum pernah menggunakan fitur ini mungkin merasa tidak ada gunanya. Tetapi gw yang sudah menggunakannya sangat merasakan kegunaannya. Kita bisa membaca email undangan teman, dan di screen yang sama membuka Google Map untuk mencari lokasi. Atau sambil membaca Twitter kita bisa browsing. Tentunya fitur multi-screen ini hanya makes sense di smartphone layar besar seperti Grand 2.

Screenshot_2014-04-27-11-30-20

Side bar bisa ditampilkan untuk memilih aplikasi kedua yang akan dimasukkan dalam multi screen

Menikmati multiscreen. Misalnya membaca email sambil mengecek Google Map.

Menikmati multiscreen. Misalnya membaca email sambil mengecek Google Map.

Untuk harga mid-range, fitur multiscreen ini sangat menyenangkan. Ketika sebelumnya fitur ini hanya bisa dinikmati di model2 mahal dari Samsung, sekarang bisa kita jumpai di Grand 2.

Kamera

Bagi gw kamera adalah fitur penting dari smartphone. Grand 2 diberikan kamera belakang 8 MP dan kamera depan 2 MP. 8 MP seharusnya sudah sangat cukup untuk sekedar foto sehari2, liburan, untuk diupload ke social media. Sebagai catatan, Grand 2 sudah memiliki beberapa mode foto yang sebelumnya hanya dimiliki model yang premium. HDR, Best Face, Best Shot sudah tersedia di dalam mode foto Grand 2. Bagi yang merasa kurang kece, sudah ada juga “beauty shot” yang memberi efek botox dan tanam benang gratisan…. :D

Pilihan2 mode foto

Pilihan2 mode foto

Kamera cukup snappy, artinya sesudah menekan shutter kamera sudah siap lagi dalam waktu cepat (bahkan dalam pilihan resolusi tertinggi). Untuk review sesudah memotret terasa ada lag sekitar 2 detik. Memang tidak bisa dibandingkan dengan model2 flagship, tetapi secara umum sudah sangat memadai.

Berikut adalah sample foto Grand 2 di situasi yang berbeda, tanpa editan.

Foto outdoor

Foto outdoor

Foto obyek jarak sangat dekat. Gak tau deh udah macro atau belum.

Foto obyek jarak sangat dekat. Gak tau deh udah macro atau belum.

Foto sunrise

Foto sunrise

Foto indoor, tanpa flash

Foto indoor, tanpa flash

Foto indoor, tanpa flash. Menurut gw lumayan banget warna dan detailnya

Foto indoor, tanpa flash. Menurut gw lumayan banget warna dan detailnya

Foto indoor, low-light, tanpa flash, fungsi HDR aktif

Foto indoor, low-light, tanpa flash, fungsi HDR aktif

Foto indoor, pakai flash. Lumayan warna kulit gw gak jadi aneh :D

Foto indoor, pakai flash. Lumayan warna kulit gw gak jadi aneh :D

Sekali lagi, untuk harganya, gw sangat hepi dengan kamera Grand 2. Tentunya jangan dibandingkan dengan hasil kamera S5 atau Xperia A yang sudah belasan megapixel. Tetapi untuk dokumentasi hidup sehari-hari dan social media, sudah terasa sangat memadai. Gw belum mencoba merekam video, tetapi sebagai informasi Grand 2 sudah bisa mereka Full-HD (1080p) dengan 30 frame per second. Jadi harusnya sudah lumayan banget, yang penting space di SD Card cukup. :)

Bisa main game gak sih?

Membahas game, tentunya kita langsung saja fokus ke kemampuan menjalankan game “berat”, misalnya seri Asphalt. Kalo game2 cerek yang gak menuntut memory, 3D graphics rumit seperti model Flappy Bird sih gak usah dibahas lah ya.

Nah, tadinya gw agak memandang rendah kemampuan Grand 2 menjalankan game Asphalt 8. Pikir gw, duh smartphone mid-range aja ngapain sih main game berat? Nanti crash atau lagging/stutter lagi. Tapi karena penasaran, gw install aja deh Asphalt 8, buat nyobain.

Surprise, surprise! Grand 2 kuat bo’ ngejalanin Asphalt 8. Loading game tidak terasa lama, dan performa gameplay sangat memuaskan. Bener2 hampir tidak ada lagging sama sekali, itu pun harus diniatin dicermatin untuk nangkep kalau ada lag atau tidak. Kalaupun ada hanya cepat sekali dan tidak mengganggu jalannya permainan. Performa smooth ini bahkan bertahan ketika di layar sedang “ramai” sekalipun (obyek2 background ataupun banyak mobil lain). Lagi2 prosesor Snapdragon dan RAM 1.5 GB terbukti mampu menghadapi game 3D berat sekelas Asphalt 8 juga.

Asphalt 8 mulus di Grand 2

Asphalt 8 mulus di Grand 2

Jadi menyangkut aspek gaming, gw cukup puas dengan Grand 2. Gw sudah berprasangka jelek mentang2 hanya smartphone mid-range gak bisa mainin game berat, dan ternyata gw terbukti salah.

Baterai

Bagaimana dengan baterai? Ini adalah pertanyaan yang kerap ditanyakan para fakir colokan. Baterai Grand 2 memiliki kapasitas 2,600 mAh. Bagaimana pengalaman gw menggunakannya? Selama dua minggu ini, dengan ditambah aplikasi penghemat baterai “2x Battery”, rata2 sekali charge sudah cukup untuk kegiatan selama sehari. Rata2 gw cabut colokan jam 6 pagi, dan Grand 2 baru benar2 habis jam 8-9 malam dengan pemakaian yang menurut standar gw “sedang” (yang artinya bertahan 12-15 jam sekali charge, untuk penggunaan cara gw). Soal baterai memang susah menggunakan pengalaman seseorang sebagai standar, karena cara penggunaan yang berbeda2. Tetapi sebagai perbandingan, sebelumnya gw pernah menggunakan Xperia Z (dengan Stamina Mode aktif dan ditambah aplikasi “2x Battery”), dan gw bisa berkata Grand 2 signifikan lebih bertahan lama secara baterai.

Bonus point: Smart case

Saat membeli Grand 2, gw juga tergoda membeli Smart Case resmi untuk Grand 2. Hal ini karena kagum dengan prinsip smart cover dengan “jendela ngintip” yang bisa dioperasikan secara sentuh. Artinya saat telepon masuk, kita bisa menjawab tanpa membuka flip cover tersebut. Selain itu, display saat flip cover ditutup menyesuaikan, dengan menunjukkan jam dan notifications. Bahkan kita masih bisa mengendalikan music player saat flip cover dalam keadaan tertutup.

Selain itu, materi smart cover asli Grand 2 terasa mewah, dengan bahan kulit imitasi yang benar2 terasa seperti kulit. Buat gw selain faktor estetika, cover ini juga membantu melindungi screen. Soalnya gw gak suka pake screen guard yang seperti stiker transparan, karena rasanya kualitas display jadi menurun/sedikit burem.

Oh iya, “jendela” di smart cover ini designnya sedemikian rupa, sehingga saat dilipat ke belakang lensa kamera persis berada di baliknya, Artinya, saat memotret cover bisa dilipat ke belakang dan kita memotret biasa, tidak perlu dilepas “klewer-kleweran” seperti dengan cover yang tidak memiliki jendela. Tentunya pastikan jendela cover dalam keadaan bersih bebas sidik jari, kalau tidak hasil foto jadi terpengaruh.

Pendapat gw, smart cover Grand 2 ini investasi yang bagus banget, baik secara fungsional maupun estetika. Kalau kamu membeli Grand 2, layak dipertimbangkan deh.

Smart cover resmi Grand 2. Perhatikan display berubah menyesuaikan

Smart cover resmi Grand 2. Perhatikan display berubah menyesuaikan

IMG_1162

Dengan smart cover resmi, bagian belakang Grand 2 jadi enak dipegang dan terlihat mahal

Gw suka detailing dari smart cover Grand 2 ini. Good quality

Gw suka detailing dari smart cover Grand 2 ini. Good quality

Kesimpulan

Galaxy Grand 2 adalam sebuah smartphone mid-range. Dengan harga Rp 3.9 juta (akhir April 2014), Grand 2 jauh lebih murah dibandingkan segmen premium seperti S5, Xperia Z, ataupun iPhone 5S. Dengan perbedaan harga seperti itu, tentunya kita tidak bisa mengharapkan spec dan fitur tercanggih untuk Grand 2. Tetapi untuk harganya, buat gw Grand 2 sangat good value for money. Secara keseluruhan, prosesor, memory, kualitas kamera, kinerja OS, daya baterai, dan gaming sudah terpenuhi dengan memuaskan.

 

Jadi Grand 2 cocoknya untuk siapa?

Kalau elu tidak mencari fitur2 ajaib terkini (sensor sidik jari, sensor detak jantung, anti air, kamera 4K, dll), sudah cukup puas bisa browsing, social media, foto yang bagus,main game, dan tidak gengsian harus menggunakan model yang paling top, tipe yang gak memusingkan design, maka Grand 2 bener2 layak dipertimbangkan deh. Dia adalah all-rounder yang sudah memadai. Untuk gw ini semua sudah bikin happy. Dan kebetulan gw tipenya tidak terlalu memusingkan design dari sebuah smartphone, karena buat gw kinerja lebih penting, dan Grand 2 sudah memberikan itu, dengan harga yang sangat reasonable.

Oh iya, kalo elu pengguna dual SIM card, mungkin untuk urusan kerjaan, bisnis, atau manajemen gebetan, maka Grand 2 juga kandidat yang kuat.

Sebaliknya, kalo elu mencari smartphone dengan design yang unik, modern, atau body yang harus metal, maka kemungkinan tidak akan cocok dengan Grand 2. Atau kamu mencari inovasi, spec, dan fitur tercanggih, ya memang sebaiknya memilih model flagship. Tentunya dengan konsekuensi harga yang tinggi juga.

 

Sekian review awam gw. Semoga membantu yang lagi mencari smartphone! :)

 

A Frozen Morality from The Winter Soldier

Standard

Some movies are interesting to be discussed as a “movie”. Some others are more interesting for the questions they raise. Captain America: The Winter Soldier may seem like another money-making installment from the great Marvel/Disney machine, but look underneath, the movie raises a serious question to both Gen-X and Millenials alike. If anything, the movie’s theme is far from the innocent boyscout face of Captain America.

But let’s first give a quick review as a movie. I can say that TWS (The Winter Soldier) delivers beyond my expectation. I was ready for another “kiddy” entertainment, and I was proven wrong. Don’t get me wrong, I do enjoy kiddy entertainment. I love Tangled, Wreck-It-Ralph, Frozen, etc. I love The Avengers for its kiddy quality. It’s fun, it’s family “clean”, it’s entertaining. But TWS took me by surprise. The opening ship mission is no less thrilling than the opening sequence of a Bond movie. The fighting scenes are serious mortal combat, you almost didn’t see “superpower” being used. In the middle of the movie, I swear TWS could have been a “24” episode, with Jack Bauer on steroid and blonde bleach. I was so thrilled by the plot, I wonder if kids below 12 could actually enjoy TWS. To me, TWS took a completely different route from The Avengers, and it’s AWESOME.

Source: businessinsider.com.au

Source: businessinsider.com.au

But the greatest hidden treasure of TWS is the question it poses to our generation. And only a frozen hero like Captain America can raise this question with credibility.

Captain is a unique character in the superhero universe. Unlike the Batman who is a contemporary, or Superman who is an alien, Captain is a human being from another era, with different sets of values back then, who was “forced” to live half a century later, in times of new, alien values. He represented what is called The Greatest Generation in the US. This is the generation that ended Nazi insanity, and put a stop to Japanese ambition. Captain is not only of that generation, he was the HERO of it. He is the embodiment of his generation’s ideal values. And those values were pretty much black & white.

The WWII was almost a black & white global conflict. Two countries went berserk, dead people started to pile up, and somebody must stop them. Simple.

But then Captain got frozen, and he was thawed in post 9-11 era.

Times have changed now. Back in Cap’s days, we smacked offenders after offense was comitted. Now, we live comfortaby with the term popularized by W. Bush as “preemptive strike”. We read about drones hovering above the sky, raining death to people down there without due trial, and we just shrugged.

60 years after Captain America’s era, the world seems to punish offense before it is even committed.

These conflicting morale values, between Cap’s black & white generation, and today’s complex “war on terror” dilemma, couldn’t be captured better by the dialogue between Cap and Nick Fury, upon inspecting the latest technology of terrorism prevention:

Fury: “We’re gonna neutralize a lot of threats before they even happen”

Cap: “I thought the punishment usually came after the crime”

The filmmaker beautifully raised this important question to today’s generation in Captain’s naive retort.

This is a classic “security vs. freedom” dilemma. Complete security, safe from terrorists and “bad guys”, requires giving up your freedom, completely. You want a totally safe world? Then let the government watch everybody’s move, install surveillance camera in all corners, tap everybody’s phones and emails. Evil doer will be detected and can be dealt with before they even leave their bed to carry their plan. Domestic terrorism and crime will disappear, and so will your freedom.

TWS may feature impossible, ridiculous looking heli-carriers, but to me they are just symbols. A symbol of drones delivering pre-emptive (pre-offense) punishment with impunity. Or a symbol of NSA freely eavesdropping our conversation in the name of “security”. In TWS, the land of the free is ready to exchange its freedom with extreme security measures. Captain America didn’t buy into all these. He chose to stick with his naivety. And this time he did not fight foreign Nazi. This time he fought his fellow countrymen.

(Of course, just to prevent TWS being accused of supporting home-grown terrorists, Marvel Studios smoothly inserted “Hydra” as an evil organization. The US government couldn’t be evil. They were just “infiltrated” by evil elements. Good job scriptwriters! :))

TWS may be a superhero movie, but its true message is not a kid’s material. How far are we willing to trade our freedom with security? Until what point?

And if you think this question only applies to the US, think again. The people of Indonesia are about to choose their leader this year. Some candidates may offer you a secure and strong state on the menu, and God knows I want to taste it more than anything else. But before you place your oder, do check the price. It may spell “freedom”.

:)